Whether it was good or bad, it’s only God who knows…

Once upon a time, there was an old farmer that lived with his only son. They lived in a village near a forest. Beside the farm, they also had a horse. The farmer’s son used it to help him plowed the farm. One day, the farmer’s horse ran into the forest because the farmer’s son forgot to close its stall. Knowing what happened, the farmer’s neighbor come to console him. They said, “We feel sorry for your house. It was a bad thing for losing your only horse. Now, you and your son have to work harder without a horse for helping.” Listening his neighbor, the old farmer only said, “Whether it was good or bad, it’s only God who knows…”

Few days later, the farmer’s horse came back from the forest. Of course the farmer and his son very happy for getting their horse back. But this time, it didn’t come back alone. The horse brought three wild horses back with it. The farmer’s neighbor came again when they heard the sound of horses was running on the farm. They said, “It was a bad thing when your horse ran into the forest, but now you get four horses. You’re very lucky. Maybe losing your horse brought you good sake. If it didn’t run, you will only have one horse.” Again, the old farmer said, “Whether it was good or bad, it’s only God who knows…”

The day after it, the old farmer asked his son to tame the wild horses, so they can use them to plow the farm. Taming wild animal was the farmer’s son ability. But when taming the last horse, it ran wildly and throw the farmer’s son. Fell from the horse made his arm broke and he had to take a rest for a while until his arm healed. The farmer was so sad. His son couldn’t help him worked on the farm. After heard the accident that happened to the farmer’s son, his farmer neighbor came again. They said, “Your horse came back and brought wild horse was a horrible thing. Look at your son, now he gets his arm broke. It was a bad thing happened to you and your family.” The farmer, for the third time said, “Whether it was good or bad, it’s only God who knows…”

One week later, the soldiers from palace come to their village. The soldiers took the village boys and sent them to warfare, because that time their country was in war and they had already lost many soldiers. When the soldiers came into the old farmer house, they found a young man on the bed because his arm was not yet healed. The farmer’s son condition made the soldiers left him in his house. They didn’t need the sick people. The farmer’s neighbor came and crying because the soldiers brought their sons. They said, “You are very lucky. It was a good sake when a wild horse throw your son and the accident brought his arm broke. If your son is healthy now, the soldier will take him and send him to war.” The old farmer, as usual said, “Whether it was good or bad, it’s only God who knows…”

Well, the story just simply teach us not to judge the condition that we get base on our mind. Actually, we never know where will live bring us. Whether it is a bad thing or good one, we get no idea at all. It is only God who create everything knows. And I believe everything happened in our life is for our sake.

4 years – 4 tahun

Suara detuk sepatu high heels Ratna beradu dengan lantai terdengar saat wanita cantik itu melangkah memasuki kafe. Denggan anggun dia melepas kacamata hitamnya dan mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kafe, mencari sosok yang dikenalnya. Seulas senyum tipis menghiasi wajah wanita berambut pendek itu saat matanya menangkap seorang wanita berambut ikal dengan make up tebal menghiasi wajahnya melambaikan tangan. Tanpa membuang waktu lebih lama lagi, Ratna bergegas menghampiri meja di mana wanita itu sedang duduk bersama seorang laki-laki.

“Maaf ya, aku telat…” kata Ratna begitu dia meletakkan pantatnya di samping wanita bermake up tebal yang melambaikan tangannya tadi. “Sudah lama kalian di sini?”

“Aku juga barusan kok Na,” sahut wanita yang duduk di sebelah Ratna. “Roy yang nongol duluan.” Wanita itu mengarahkan pandangannya ke arah laki-laki berambut cepak yang duduk di seberang mereka.

“Ya ya ya… sudah biasa aku nunggu kalian…” jawab Roy dengan nada sebal.

“Apa kabar Roy? Wah kamu nggak berubah ya, tetep sama seperti dulu…” Ratna menyapa laki-laki itu. Belum sempat Roy membuka mulutnya, wanita bermake up tebal itu sudah terlebih dulu menyabotase Ratna, “Ya ampun Na, kamu nggak berubah ya, masih cantik seperti dulu…” ujar wanita bermake up tebal itu kepada Ratna, “Gimana kabarmu? Kapan kamu kembali ke Indo? Kamu sudah resign? Terus sekarang kamu kerja apa?” tanpa henti dia mencerca Ratna dengan berbagai pertanyaan, seakan tidak mengacuhkan Roy yang duduk di depan mereka.

“Sabar kenapa sih Des…” sahut Roy menyela rentetan kalimat yang keluar dari mulut Desi, wanita berambut ikal dengan make up wajah tebal itu. “Biar Ratna pesan dulu.”

Ratna tersenyum melihat tingkah kedua sahabatnya itu. “Kalian bener-bener nggak berubah ya, masih sama seperti dulu. Kamu masih tetap cerewet Des, dan kamu Roy, masih tetap sering berantem sama Desi …”

“Sudah kamu pesen minum dulu sana, sekalian lunch aja? Kami sudah pesen kok, tinggal kamu yang belum…” sahut Roy sambil melambaikan tangannya, memanggil pramusaji.

“Dan masih suka ngatur orang lain…” timpal Desi yang disambut gelak tawa Ratna. Senang sekali rasanya dia berkumpul dengan sahabat lamanya. Mereka bertiga sudah bersahabat sejak SMP. Namun ketika SMA Ratna melanjutkan sekolahnya di luar kota dan berpisah dengan kedua sahabatnya itu. Demikian juga dengan saat kuliah, Ratna mengambil kuliah di Singapura, sedangkan kedua sahabatnya itu memilih kuliah di Indonesia. Bisa dibilang ini adalah pertemuan pertama mereka secara langsung.

“Apa kabarnya kamu sekarang? Ayo dong cerita ke mana saja kamu selama ini. Pasti asyik ya kuliah di Singapur, tinggal di sana. Kamu di Indo sampai kapan? Mau balik Singapur lagi? Eh lalu suamimu gimana kabarnya? Kamu kok berani sih Na merit muda. Aku saja masih pikir-pikir kalau diajak pacaran serius, yah masih sibuk menikmati masa muda…” serbu Desi dengan suara cemprengnya begitu pramusaji meninggalkan meja mereka setelah mencatat pesanan Ratna.

“Pelan-pelan tanya nya, satu-satu napa?” tegur Roy memotong ucapan Desi.

“Hahaha…” Ratna tergelak menyaksikan ulah kedua sahabatnya itu. “Minggu depan aku balik ke Singapur. Ya gimana ya… dijalani saja sih Des. Nggak tahu juga. Semuanya terjadi begitu saja. Kalian sendiri gimana? Kamu bikin kue ya Des sekarang? Lalu Roy kerja apa?”

“Iya bikin kue, aku titip ke kenalan-kenalan. Lumayan sih. Banyak pesanan juga,” jawab Desi. “Kalau Roy tuh sekarang sibuk pacaran sama temen kantornya. Sudah naik pangkat makin sibuk dia kerja nyambi pacaran…”

“Wow Roy, kamu sudah punya pacar?” tanya Ratna kagum. Dia tahu betul untuk urusan memilih pacar, Roy sangat selektif. Waktu sekolah dulu cukup banyak gadis yang mendekatinya, tapi Roy sama sekali tidak melayani mereka. Mau fokus belajar, alasannya waktu itu.

“Cuma temen aja,” jawab Roy santai. “Si Desi yang lebai…”

“Temen tapi sering dianter jemput….” sindir Desi. Celoteh mereka terhenti saat pramusaji kafe menghidangkan pesanan mereka.

“Makan dulu,” ajak Roy tidak mengacuhkan Desi. Laki-laki itu mulai menyantap nasi goreng pesanannya. Ratna dan Desi pun mulai menyibukkan diri dengan makanan mereka masing-masing.

“Kamu gimana Na, nggak bareng sama suami?” tanya Desi begitu Ratna meletakkan sendok dan garpunya.

“Ohhh… nggak kok. Sendiri saja,” jawab Ratna setelah meminum jus jeruk yang dipesannya. Dia menarik nafas panjang sebelum membuka mulutnya, “Aku sudah pisah kok…”

“Ha??? Kok bisa Na? Gimana ceritanya?” tanya Desi spontan. Wanita berambut ikal itu menghentikan urusannya dengan piring dan sendok-garpunya lalu menatap tajam Ratna, sementara Roy masih tetap tenang meneguk teh manisnya. Roy memang sudah pernah mendengar hal itu dari Ratna saat mereka berbincang via BBM beberapa saat lalu.

“Yah memang mungkin lebih baik begini. Kami sudah nggak cocok. Sekarang hubungan kami sebagai teman jauh lebih baik daripada saat kami menikah,” jawab Ratna diplomatis.

“Kalian sudah menikah empat tahun kan?” kali ini Roy yang membuka mulutnya. “Apa nggak bisa dipertahanin?”

“Iya. Aku aja sampe kaget denger kamu merit Na,” sahut Desi. “Lulus kuliah kamu langsung merit. Muda banget. Aku aja sampai sekarang belum rencana merit.”

“Ya mungkin dulu aku terlalu cepat mengambil keputusan. Suamiku sering berbuat kasar,” jawab Ratna. “Dia suka memukulku saat kami bertengkar. Dia posesif dan suka mengekangku. Bayangin aja, kalau keluar sama teman, misalnya nih seperti sekarang saat aku jalan sama kalian, dia sering menelpon menanyakan aku sedang apa, dengan siapa, di mana, bahkan dia selalu minta bukti. Kadang aku sampai minta tolong temenku ngomong sama dia, untuk membuktikan kalau aku bener-bener jalan sama mereka. Dan nggak cuma berhenti sampai di situ saja, dia juga selalu ingin tahu apa yang aku omongin. Dia sampai minta aku cerita apa yang aku obrolin. Parah banget kan? Aku sampai malu sama temenku,” curhat Ratna panjang lebar.

“Ya ampun Na, kok bisa sih suamimu seperti itu?” tanya Desi singkat. Kali ini dia tidak mampu melontarkan kalimat yang panjang.

“Memangnya waktu kalian pacaran kamu nggak tahu kalau dia seperti itu?” selidik Roy.

“Ya aku tahu sih dia temperamental. Tapi selama kami pacaran, dua tahun kami pacaran, dia sama sekali nggak pernah mukul aku. Setelah menikah baru aku tahu kalau dia seperti itu. Dia itu selain suka mukul juga males banget. Pernah aku sakit dia sama sekali nggak mau nganter aku ke dokter. Akhirnya aku sampai berangkat sendiri. Katanya dia capek pulang kerja…” Ratna bercerita sambil mengingat masa lalunya.

“Ya ampun Na, sedih banget ceritamu. Kenapa kamu nggak langsung pisah aja sih kalau tahu dia nya seperti itu?” Desi menatap Ratna sedih.

“Ya, awalnya aku berharap dia akan berubah. Dua tahun setelah menikah, aku cerita ke orangtuaku, dan mereka pernah marahin dia. Setelah itu dia nggak pernah mukul aku lagi, tapi setiap kali dia marah dia masih saja ngancam aku. Bukannya aku nggak ingin pisah, tapi dia nggak mau. Aku selalu bilang kalau hubungan kita seperti ini lebih baik kita pisah saja, tapi dia berjanji mau memperbaiki diri. Tapi ya sama sekali nggak ada perubahan. Sampai akhirnya tahun keempat dia sendiri yang minta pisah. Itu pun aku yang ngurus semuanya. Bahkan aku yang keluar uang. Dia sama sekali nggak mau keluar uang. Katanya uangku lebih banyak. Gajiku lebih besar daripada dia…”

“Hebat ya Rat, kamu bisa bertahan sampai empat tahun…” hanya itu yang bisa keluar dari mulut Roy.

“Ya mau gimana lagi? Aku harus kuat ngejalanin semuanya itu…” jawab Ratna sambil tersenyum.

“Ya ampun Na, kalau aku jadi kamu, aku sudah minta pisah langsung!” kata Desi tegas.

“Tapi kamu nggak ada pikiran gimana gitu, pisah dari suami, jadi janda?” tanya Roy lagi.

“Ya ada sih. Aku juga mikir gimana nanti kalau aku pisah. Jadi janda pasti aku akan dicap negatif. Tapi ya ini hidupku. Aku yang ngejalanin, bukan orang lain. Selama empat tahun hidup sama suamiku aku belajar banyak, hingga aku berani mutusin untuk pisah. Terserah orang mau ngomong apa, mereka nggak tahu apa yang aku jalanin. Mereka nggak tahu rasanya jadi aku.” Ratna meneguk jus jeruknya. “Yang penting aku bahagia dengan hidupku sekarang dan aku nggak ngerugiin orang lain.”

“Aku salut sama kamu Na,” sahut Desi.

“Terus langkah kamu ke depan gimana?” tanya Roy. “Kamu masih mau balik ke Singapur?”

“Nggak. Aku mau ke Eropa. Aku mau sekolah lagi dan kerja di sana. Aku mau berusaha mengejar mimpiku. Aku punya mimpi untuk bisa sukses. Aku pernah berlibur ke sana, waktu aku stress dengan pernikahanku, dan aku punya beberapa teman yang baik. Di sana orang dihargai sesuai dengan kemampuannya, dan aku ingin membuktikan diriku, kalau aku bisa sukses.”

“Wow, kamu hebat Rat. Semoga kamu bisa sukses ya. Aku cabut dulu ya, mau balik kantor,” pamit Roy setelah melihat jam tangannya.

“Oh ya sudah. Aku juga masih ada urusan kok,” jawab Ratna. “Semoga kita bisa ketemu lagi dan ngobrol-ngobrol di lain waktu.” Dengan langkah tegap Ratna berjalan meninggalkan kafe, berpisah dengan sahabat-sahabatnya. Ya, ini hidupnya dan dia merasa senang dengan apa yang dijalaninya hari ini, termasuk bercengkrama dengan kedua sahabatnya. Jalan di depannya masih panjang dan dia harus terus melanjutkan hidupnya, menebus waktu empat tahun yang telah dihabiskannya bersama suaminya dan yang telah memberikannya pelajaran untuk menjadi wanita yang kuat, dirinya sendiri. Karena masa depannya ada di tangannya, dan dia sendiri yang memilih jalan mana yang akan ditempuhnya.

Inspired from true story of my friend…

dont-judge-me-for-my-choices-when-you-dont-understand-my-reasons

A story to be thought…

I write it in English because some people like it. I think it must be good enough so I have to write it in English. But pardon me for my so-so English. Hope you can get it.

A cruise got an accident and would go down in the sea soon. There were husband and wife running to the lifeboat for saving themselves. But when they got there, only one seat left. Didn’t wait any longer, the husband jumped into the lifeboat, left his wife alone. Seeing her husband left her, the wife couldn’t do anything but shouted to him, before the cruise brought her into the deep of sea.

The teacher, who tells the story, asks his students, “According to you, what was the wife shouted to her husband?”

“I hate you!” a student answers him.

“You know that I’m blind!” says another one.

“You’re selfish!” the others open their mouth.

“You’re not a man,” a shy girl answers slowly.

The teacher listens his students’s answer, but suddenly, he realizes there is a boy who don’t open his mouth. “What do you think?” he asks the boy.

“I’m sure that the wife shouted: Honey, please take care our son!” says the boy.

The teacher is startled and asks him, “Have you listened this story?”

The boy shakes his head. “Not yet. But it was my mom said to my dad before she gone. She had a chronic disease.”

The teacher sees all of his students. “It is true.”

The cruise went down into the sea and the husband brought his son alone. Years after it, the son that was be a man found his dad’s diary. He found that his parents knew about the wife chronic disease before they went with the cruise. She couldn’t be cured. That’s why her husband took the only chance to save himself. He wrote in his diary, “You know I want to die with you. But I can’t do it. I have to take car our son.”

The story ends.

The teacher thinks that his students have been understood the message of his story. It tells us life is not as simple as we thing, for the goodness and the bad one are complicated. Even sometimes we can’t understand why it’s happened.

That’s why we should not judge someone base on what we see only. In addition, we know nothing about it.

They always pay for the others, maybe are not rich at all, but more treasure their relationship rather than money.

They work voluntary, maybe are not stupid, but take account a responsibility.

They say sorry first after argued, maybe are not wrong, but honor their partner.

They give you a hand, maybe not in a debt with you, but accept you as a friend.

They call you many times, maybe not have nothing to do, but put you in their heart.

Taken from a friend…

Sebuah cerita untuk direnungkan

Sebuah kapal pesiar mengalami kecelakaan di laut dan segera tenggelam. Sepasang suami istri berlari menuju ke skoci untuk menyelamatkan diri. Sampai di sana, mereka menyadari bahwa hanya ada tempat untuk satu orang yang tersisa. Segera sang suami melompat mendahului istrinya untuk mendapatkan tempat itu. Sang istri hanya bisa menatap kepadanya sambil meneriakkan sebuah kalimat sebelum skoci menjauh dan kapal itu benar-benar tenggelam.

Guru yang menceritakan kisah ini bertanya pada murid-muridnya, “Menurut kalian, apa yang istri itu teriakkan?”

“Aku beci kamu!” jawab seorang murid.

“Kamu tau aku buta!!” sahut murid lainnya.

“Kamu egois!” beberapa murid yang lain tak mau kalah.

“Nggak tau malu!” jawab seorang murid malu-malu.

Tapi guru itu kemudian menyadari ada seorang murid yang diam saja. Guru itu meminta murid itu menjawab. Kata si murid, “ Guru, saya yakin si istri pasti berteriak: Tolong jaga anak kita baik-baik”.

Guru itu terkejut dan bertanya, “Apa kamu pernah mendengar cerita ini sebelumnya?”

Murid itu menggeleng. “Belum. Tapi itu yang dikatakan mama saya sebelum dia meninggal karena penyakit kronis.”

Guru itu menatap seluruh kelas dan berkata, “Jawaban ini benar.”

Kapal itu kemudian benar-benar tenggelam dan sang suami membawa pulang anak mereka sendirian. Bertahun-tahun kemudian setelah sang suami meninggal, anak itu menemukan buku harian ayahnya. Di sana dia menemukan kenyataan bahwa, saat orang tuanya naik kapal pesiar iru, mereka sudah mengetahui bahwa sang ibu menderita penyakit kronis dan akan segera meninggal. Karena itulah, di saat darurat itu, ayahnya memutuskan mengambil satu-satunya kesempatan untuk bertahan hidup. Dia menulis di buku harian itu, “Betapa aku berharap untuk mati di bawah laut bersama denganmu. Tapi demi anak kita, aku harus membiarkanmu tenggelam sendirian untuk selamanya di bawah sana.”

Cerita itu selesai dan seluruh kelas pun  terdiam

Guru itu tahu bahwa murid-murid sekarang. Mengerti moral dari cerita tersebut, bahwa kebaikan dan kejahatan di dunia ini tidak sesederhana yang kita sering pikirkan. Ada berbagai macam komplikasi dan alasan di baliknya yang kadang sulit dimengerti.

Karena itulah kita seharusnya jangan melihat hanya di luar dan kemudian langsung menghakimi, apalagi tanpa tahu apa-apa.

Mereka yang sering membayar untuk orang lain, mungkin bukan berarti mereka kaya, tapi karena mereka menghargai hubungan daripada uang.

Mereka yang bekerja tanpa ada yang menyuruh, mungkin bukan karena mereka bodoh, tapi karena mereka menghargai konsep dan tanggung jawab.

Mereka yang meminta maaf duluan setelah bertengkar, mungkin bukan karena mereka bersalah, tapi karena mereka menghargai orang lain.

Mereka yang mengulurkan tangan untuk menolongmu, mungkin bukan karena mereka merasa berhutang, tapi karena menanggap kamu adalah sahabat.

Mereka yang sering mengontakmu, mungkin bukan karena mereka tidak punya kesibukan, tapi karena kamu ada dalam hatinya…

Taken from a friend…

Gerbong kereta

Di sebuah gerbong kereta api yang penuh, seorang pemuda berusia kira-kira 24 tahun melepaskan pandangannya melalui jendela. Ia begitu takjub melihat pemandangan di sekitarnya. Dengan girang, ia berteriak dan berkata kepada ayahnya, “Ayah, coba lihat pohon-pohon itu… mereka berjalan menyusul kita.” Sang ayah hanya tersenyum sambil menganggukan kepala dengan wajah yang tak kurang cerianya. Ia begitu bahagia mendengar celoteh puteranya itu. di samping pemuda itu ada sepasang suami-istri yang mengamati tingkah pemuda yang kekanak-kanakan itu. mereka berdua merasa sangat risih. Kereta terus berlalu.

Tidak lama pemuda itu kembali berteriak, “Ayah, lihat itu, itu awan kan..? lihat.. mereka ikut berjalan bersama kita juga…” Ayahnya tersenyum lagi menunjukkan kebahagiannya. Dua orang suam-istri di samping pemuda itu tidak mampu menahan diri, akhirnya mereka berkata kepada ayah pemuda itu, “Kenapa anda tidak membawa anak anda ini ke dokter jiwa?”

Sejenak ayah pemuda itu terdiam. Lalu ia menjawab, “Kami baru saja kembali dari rumah sakit. Anak ini menderita kebutaan sejak lahir. Tadi dia baru dioperasi dan hari ini adalah hari pertama dia bisa melihat dunia dengan mata kepalanya.” Pasangan suami-istri itu pun terdiam seribau bahasa…

Setiap orang punya cerita hidup masing-masing, oleh karena itu jangan memvonis seseorang dengan apa yang anda lihat saja. Barangkali saja bila anda mengetahui kondisi sebenarnya, anda akan tercengan. Maka kita perlu berpikir sebelum berbicara…

Don’t just look a book by it’s cover, and also don’t ever judge people by the look, becaus God loves everyone no matter who they are.. It means He loves you too, no mater who you are…

**

A little story from a friend…