Tentang orang tua…

Hari ini aku mengikuti pertemuan untuk pengajar Kali Code. Sedikit sharing, kondisi anak-anak yang kami ajar di sana benar-benar jauh dari sempurna. Kali Code adalah daerah yang terkenal dengan tingkat kekumuhan dan kemiskinan yang tinggi. Dengan kondisi yang seperti itu, bisa ditebak bahwa anak-anak yang tinggal di daerah itu seperti apa. Hidup mereka jauh dari kelimpahan dan kecukupan menurut ukuran kita. Hal yang terlihat jelas dari setiap pertemuan dengan anak-anak itu adalah sikap mereka yang menurut kami susah diatur, tidak mau belajar, hanya mau bermain dan suka bikin onar, bahkan beberapa diantara mereka ada yang kemampuannya kurang. Selama ini hanya hal-hal itu yang menjadi identitas para anak-anak di Kali Code.

Namun hari ini aku belajar hal yang lain, melalui cerita seorang teman, aku memandang anak-anak itu dari sisi yang berbeda. Temanku itu bercerita bahwa dia melihat seorang anak didiknya mengemis, bahkan di jam sekolah. Ketika ditanya, orang tuanya yang menyuruh dia mengemis. Sungguh menyedihkan ketika mendengarnya. Orang tua yang seharusnya mengusahakan masa depan anak malah mengeksploitasi anak-anak mereka bahkan membuat masa depan mereka menjadi suram. Memang sih kondisi mereka kurang mampu, tetapi tidak seharusnya orang tuanya melakukan hal itu. Kasarannya, kalau menurutku sih kalau kamu orang tua tidak bisa memelihara anakmu dengan baik, JANGAN pernah jadi orang tua, JANGAN pernah melahirkan anak-anak jika tak mampu mengurus mereka!! Well, soal peran orang tua biarlah itu menjadi bahasan lain, aku hanya ingin membahas mengenai anak-anak mereka dan dampak perlakuan orang tua terhadap mereka.

Di balik sikap mereka yang liar, ternyata sebagian besar dari mereka tumbuh tanpa pengawasan dan didikan dari orang tuanya. Memang ada orang tua yang tidak mengeksploitasi anaknya dan menyuruh anak-anak mereka belajar, akan tetapi karena kesibukan orang tua mencari uang, si anak menjadi tidak mendapat waktu dan perhatian yang cukup. Sering saat kami datang ke sana, kami hanya menjumpai anak-anak saja, orang tuanya bekerja entah apa yang dilakukan dan baru pulang malam hari. Jika demikian, kapan orang tua mereka punya waktu untuk memperhatikan anaknya, padahal anak butuh figur orang tuanya. Sungguh memperihatinkan bukan. Selama ini aku tidak menyadari bahwa keadaan anak-anak itu ternyata sudah segawat itu. Karena latar belakang keluarga dan lingkungan mereka itulah yang membentuk mereka jadi seperti itu, liar dan tak terkendali.

Well, akhirnya sampailah di poin yang ingin aku bagikan. Aku merasa bersyukur memiliki orang tua yang memarahi, memaksa untuk belajar, menyekolahkan dan memaksa untuk ikut les. Belajar tentunya merampas kebahagiaan dan waktu untuk bermain, tetapi hal itu sangat penting bagi masa depan kita. aku sadar betul bahwa saat ini aku tidak akan menjadi aku yang sekarang jika sewaktu kecil dulu orang tuaku tidak mendidikku dengan cara yang demikian. Ketika disuruh belajar dan mengerjakan PR rasanya pasti sebal. Ketika dimarahi karena mendapat nilai jelek rasanya pasti tidak enak. Tapi itu semua dilakukan demi kebaikan kita, karena orang tua ingin supaya kita menjadi orang yang lebih baik daripada mereka dan masa depan kita lebih cemerlang daripada mereka.

Mungkin hari ini masih ada yang memendam kepahitan kepada orang tua nya karena waktu kecil pernah dimarahin munkin juga dipukul karena tidak mau belajar atau bermasalah dengan pendidikan. Orang tua kita, mereka juga tidak sempurna. Kadang mereka tidak tahu bagaimana memperlakukan anaknya. Tidak ada sekolah menjadi orang tua bukan. Tapi aku percaya bahwa orang tua, sebagian besar, pasti menginginkan, mengharapkan dan mendoakan anaknya menjadi orang yang sukses. Hanya saja, mungkin mereka tidak tahu bagaimana caranya membawa anak mereka ke arah sana, seperti orang tua di Kali Code. Aku tidak bisa menghakimi cara mereka mengeksploitasi anaknya, karena aku tidak berada di posisi mereka. Tapi ada hal yang masih aku syukuri dan pandang baik dari mereka. Setidaknya mereka masih menyuruh anak-anak mereka untuk datang mengikuti pelajaran tambahan yang kami adakan meski waktunya di malam hari.

Kiranya sekian dulu tulisanku malam ini. jangan lupa bersyukur atas orang tuamu dan marilah kita mengingat hal ini untuk menjadi orang tua yang lebih baik bagi anak-anak kita, saat ini atau di kemudian hari.

Advertisements

Kita dan Mereka

Untitled-1

Kita dan mereka, seharusnya kata-kata itu tetaplah sebatas kata

Bukan untuk menjadi pembenaran atas tembok-tembok yang kita bangun

Atau untuk menyebut sesama manusia yang hidup bersama kita

Apalagi sebagai dasar pembenaran atas tindakan kita yang egois

Hanya mementingkan diri sendiri dan menutup mata atas apa yang mereka alami

 

Mengapa kita senang membangun tembok yang memisahkan kita dan mereka

Apakah yang membuat kita menjadi kita sedangkan mereka tetap mereka

Apakah karena warna kulit mereka tidak sama dengan kita

Apakah mereka lahir di tempat yang berbeda dengan kita

Ataukah karena bahasa yang mereka ucapkan tidak kita mengerti

Atau justru karena mereka menghalangi kita dalam mencapai apa yang kita inginkan

 

Adakah kita senang karena membuat mereka tetap menjadi mereka

Adakah seorang manusia yang dapat memilih siapa dirinya ketika dilahirkan

Adakah seorang bayi dapat menolak kehadirannya di dunia ini

Menolak mereka yang telah melahirkannya, karena mereka bukan kita

Tidak ada seorang pun dapat memilih hidup yang telah dianugerahkan

 

Bayi itu hanyalah bayi, yang tidak mengenal kita atau mereka

Kita sendiri yang mengajarkan kata-kata itu kepadanya

Membuatnya menjadi seperti kita yang tidak peduli terhadap mereka

Meracuninya dengan kosakata kita dan mereka yang tak serupa meski sama

Hingga dia piawai membedakan kita dari mereka

 

Bukankah sang pencipta yang sama menciptakan kita dan mereka

Ataukah memang kita dan mereka diciptakan oleh pribadi yang berbeda

Hingga kita menjadi demikian berbeda dengan mereka

Tidak, kita sama dengan mereka

Kita tertawa tertawa ketika merasa senang, juga menangis ketika merasa sedih

Mereka menjerit ketika takut, merintih ketika sakit, dan menitikkan air mata ketika terharu

Lantas mengapa kita membiarkan mereka sebagai mereka

 

Daripada sibuk mencari alasan untuk tetap membuat mereka berada di luar

Lebih baik kita mencari kunci untuk menghancurkan tembok itu

Apakah yang dapat menyatukan kita dan mereka

Sanggupkan kasih menjadi jembatan yang mampu merekatkan kita dengan mereka

Hanya kita yang mampu menjawabnya

Three seconds – tiga detik

“Kamu habis ngomong sama siapa sih Lol?” tanya seorang anak perempuan kepada temannya saat mereka berjalan beriringan menuju ke kelas. Kawat gigi yang terpasang rapi terlihat jelas di giginya saat dia membuka mulutnya.

“Oh, nggak tahu,” jawab temannya yang bernama Lola. Gadis berkacamata itu menaikkan kacamatanya yang agak turun dengan jari tengah tangan kanannya. Sedangkan tangan kirinya memegang buku ‘Harry Potter and The Sorcerer Stone’.

“Lho kok? Kamu ngobrol sama orang yang nggak kamu kenal gitu aja?” tanya anak perempuan dengan kawat gigi itu.

“Iya,” jawab Lola singkat. “Aku lupa tanya siapa namanya,” lanjutnya lagi.

“Ya ampun Lola…” anak perempuan berkawat gigi itu mengacak-acak rambutnya yang pendek.

“Sudah nggak usah dipikirin Rin,” jawab Lola. Kini mereka sudah tiba di depan pintu kelas mereka. “Nanti sore aku batal ke rumahmu. Ayah ulang tahun, dan Bunda berencana bikin makan malam special.”

“Ooo…” Rini membulatkan mulutnya. “Ya sudah lain kali saja…”

Lola meletakkan buku nya di antara barisan buku seri Harry Potter lainnya. Dia tersenyum simpul mengingat pertemuannya siang tadi di sekolah dengan seorang kakak yang dia bahkan tak tahu siapa namanya. Sepertinya kakak itu juga suka membaca, batin Lola dalam hati sambil jari tengahnya menaikkan bingkai kacamatanya yang merosot.

“Lola, kalau sudah ganti baju ayo cepat bantu Bunda!” teriak Bunda dari dapur. Suara Bunda terdengar sangat nyaring.

“Iya Bun, sebentar!” sahut Lola tak kalah nyaringnya. Gadis berambut panjang itu segera menanggalkan seragam putih abu-abunya. Tak lama kemudian Lola sudah muncul di dapur dengan kaos berwarna pink polos dan celana kolor sepaha yang juga berwarna pink lengkap dengan celemek yang masih juga berwarna pink. Hari itu adalah hari ulang tahun Ayah, dan Lola berencana memasak pai apel kesukaan Ayah.

“Bahan-bahannya sudah lengkap, ada di kulkas,” kata Bunda memberitahu. Bunda sendiri sedang sibuk menyiapkan nasi tumpeng beserta lauk pauknya. “Kamu bisa masak sendiri kan.”

“Iya Bun,” jawab Lola. Sebelumnya dia pernah memasak pai bersama Nenek. Tidak sulit sebenarnya, hanya saja harus berhati-hati saat membuat pinggiran pai nya supaya tidak rusak. Bagian itulah yang paling sulit, dan juga yang paling disukai Ayah.

Pertama-tama Lola harus membuat pinggiran pai itu terlebih dahulu. Dengan cekatan Lola mulai mengocok telur, kemudian mencampur tepung untuk membuat adonan. Setelah jadi, Lola memasukkan adonan pinggiran pai itu ke dalam lemari es. Adonan itu memang harus didinginkan dahulu selama kurang lebih 30 menit. Sembari menunggu adonan kulit pai, Lola mulai membuat bagian isinya. Dia memotong apel, mencampurkannya dengan margarine dan bahan-bahan lain kemudian mengaduknya hingga kental. Menit demi menit berlalu, hingga akhirnya Lola mengeluarkan adonan kulit pai dan memasukkannya ke oven. Lola mengusap peluh yang membasahi keningnya. Membuat pai cukup merepotkan juga, batin Lola.

Bunyi oven yang berdentang membuat Lola kembali ke dapur setelah beristirahat sejenak di ruang depan. Lola mengeluarkan pai apel yang masih setengah jadi itu dari oven. Pinggiran pai nya terlihat sempurna, bentuknya bagus dan tidak pecah. Kini Lola mulai melanjutkan mengisi bagian tengah pai sebelum memasukkan pai itu kembali ke oven. Lola melirik jam dinding yang tergantung di atas kulkas. Sudah jam empat lebih lima belas menit. Tak lama lagi Ayah akan segera pulang. Bunda sudah selesai memasak dan mulai menata makanan di meja makan.

Beberapa menit menunggu, akhirnya oven kembali berdentang. Pai apel Lola sudah matang. Dengan hati-hati Lola mengeluarkan pai yang masih panas itu. Bau nya yang harum menggelitik hidung Lola.

“Harus sekali baunya Lola! Tercium dari sini lho!” seru Bunda dari ruang makan.

“Iya Bun,” sahut Lola. Pai ini pasti lezat. Lola meletakkan pai nya itu di atas meja, kemudian dia berbalik mencari potongan-potongan apel untuk menghiasi bagian atas pai. Di sana rupanya. Lola melihat beberapa potongan apel di atas meja.

Dan tiba-tiba kejadian itu terjadi. Detik pertama, Lola menaikkan kacamata dengan jari tengah tangan kanannya, yang lagi-lagi entah untuk yang keberapa kalinya merosot turun. Kemudian dia berusaha meraih potongan apel yang ada di sebelah kanannya itu dengan tangan kanannya. Tiba-tiba saja tangan kiri Lola tanpa sadar menyenggol pai apel yang ada di atas meja. Detik selanjutnya terdengarlah suara gaduh di dapur diiringi teriakan histeris Lola. Semuanya itu terjadi begitu cepat, hanya dalam waktu tiga detik.

“Lola, ada apa?” tanya Bunda yang segera berlari menuju ke dapur begitu mendengar keributan itu. Bunda menutup mulutnya dengan kedua tangannya saat melihat pai apel buatan Lola telah ada di atas lantai. Sebagian isinya berceceran di atas lantai. Sedangkan Lola hanya bisa berdiri terisak memandangi pai buatannya yang kini sudah hancur berantakan.

“Aku menghancurkan semuanya…” ujar Lola lirih sambil menangis. Tangisan Lola semakin keras, dan dia pun jatuh terduduk lemas. Kedua kakinya tak mampu menahan tubuh kecil Lola yang tiba-tiba terasa begitu berat.

“Sayang…” Bunda menghampiri Lola lalu memeluk gadis kecil itu. Tangis Lola tak kunjung berhenti.

“Aku menghancurkan semuanya… Bunda… aku menghancurkan pai untuk Ayah…” ujar Lola di sela-sela isakannya. “Aku nggak bisa bikin lagi… waktunya nggak cukup… bahannya juga sudah habis…”

Bunda mengamati sejenak pai yang telah jatuh itu. “Sayang, nggak apa-apa. Tanpa pai itu, Ayah tetap ulang tahun kok,” ujarnya sambil memandang Lola dengan penuh kasih. Bunda mengapus air mata yang membanjiri wajah Lola dengan kedua tangannya. “Tenanglah. Pai mu nggak hancur semua. Masih ada yang bisa kita berikan untuk Ayah.” Pelan-pelan Bunda membimbing Lola untuk bangkit berdiri, kemudian Bunda menghampiri pai yang masih dalam cetakan itu. Sebagian isinya masih berada dalam cetakan, tapi sudah berantakan. Kulit pai nya sudah rusak semua.

“Ini masih ada sedikit,” ujar Bunda. Bunda meletakkan sisa pai itu di atas meja, kemudian mengambil mangkuk dan sendok. Bunda menyendok sedikit pai yang masih tersisa itu lalu memasukkan ke dalam mulut. “Lola sayang, ini enak kok. Enak sekali,” hibur Bunda.

“Tapi kulit painya sudah rusak. Ayah paling suka kulit pai nya…” isak Lola.

“Sayang, nggak masalah pai mu itu nggak ada pinggirannya. Kamu tahu, meskipun tanpa pinggiran, Bunda yakin Ayah akan tetap menyukai pai mu itu.” Bunda meletakkan mangkuk itu di samping sisa pai Lola, lalu berdiri menghap Lola. “Karena pai itu adalah buatan Lola, yang dibuat Lola dengan penuh cinta kasih untuk Ayah,” ujar Bunda kembali menghapus air mata Lola yang masih tersisa di wajah gadis  kecil itu. “Sekarang, Lola bisa memilih untuk terus menangis, atau Lola ambil sisa pai yang masih ada lalu Lola taruh di atas mangkuk. Lola tetap ingin Ayah merasakan pai apel di hari ulang tahunnya kan?”

Perlahan Lola mulai bergerak mendekati meja, lalu memindahkan isi cetakan pai itu ke dalam mangkuk. Lola juga menaruh beberapa keping pinggiran kulit pai yang masih bisa diselamatkan. Sesekali Lola terisak, tapi kemudian disekanya air matanya dengan kedua tangannya. Sementara itu, Bunda mulai membersihkan ceceran pai yang mengotori lantai dapur.

Malam itu mereka merayakan ulang tahun Ayah dengan makan malam sederhana. “Lola, ini enak sekali,” ujar Ayah saat menyantap sisa pai apel buatan Lola.

“Maafin Lola, Yah. Lola merusak semuanya. Seharusnya Lola nggak ngejatuhin pai itu.” Wajah Lola masih diselimuti kesedihan.

“Lola, kamu tahu? Pai ini enak sekali. Dan Ayah bangga sama kamu. Kamu sudah berusaha membuatkan Ayah pai apel. Meskipun ada hal-hal yang terjadi dan itu tidak kita inginkan, tapi kamu tetap berusaha menyajikan pai ini untuk Ayah. Ini adalah pai yang paling enak, tentunya setelah buatan Nenek…” ujar Ayah jenaka. Seulas senyum tipis menghiasi bibir Lola.

“Itu semua juga karena Bunda. Terima kasih ya Bun. Bunda terus nyemangatin Lola,” ujar Lola menatap Bunda lalu berganti menatap Ayah. “Dan terima kasih Ayah. Lola tahu pai Lola nggak seenak buatan Nenek. Lola senang Ayah suka pai apel Lola, meskipun tanpa pinggiran yang renyah…”

“Lola, Sayang, bukan hanya pinggiran yang membuat pai ini lezat, tapi karena cinta kasih Lola untuk Ayah, dan ditambah lagi semangat Lola dalam membuatkan pai untuk Ayah. Pai ini terasa benar-benar lezat…” Ayah menguatkan Lola. “Terima kasih ya Sayang, puteri Ayah…”

Inspired from Audrey MasterChef Jr 2

Saat nasi telah menjadi bubur, kau bisa memilih untuk menyesalinya lalu membuangnya

Atau menambahkan ayam hingga bubur itu menjadi bubur ayam special

Jangan pernah menyerah dalam keadaan apa pun, selalu ada cara untuk memperbaikinya

Yang kau butuhkan hanyalah semangat untuk terus berjuang dan cinta untuk orang-orang yang kau kasihi

nasi telah menjadi bubur

Sekelumit kata tentang Raeni

Abis nonton Hitam Putih dengan bintang tamunya Raeni, seorang anak tukang becak yang berhasil menjadi wisudawan dengan IPK tertinggi dari Unes. Wow, personally, aku kagum sama dia, dengan segala keterbatasannya, dia tidak menyerah, tetapi justru berusaha keras meraih apa yang diinginkannya. Dan kini, kelulusannya membuktikan buah dari kerja kerasnya.

Raeni berasal dari keluarga yang ekonominya tidak bagus. Bahkan kuliahnya pun didanai oleh beasiswa. Ketika mengetahui hal itu, aku berpikir bahwa anak ini tahu betul keterbatasannya, tetapi di sisi lain dia juga tahu betul kemampuannya. Dia yakin pada dirinya dan percaya bahwa dengan usaha dan kerja keras akan membuahkan kesuksesan. Aku mencoba membayangkan bagaimana rasanya mencoba untuk kuliah sementara dana yang kita miliki pas-pas an, bahkan tidak ada jaminan kita akan mampu menyelesaikan kuliah itu. Dalam kasus Raeni, memang biaya kuliahnya sudah dijamin, tapi bagaimana dengan biaya-biaya lainnya, kebutuhan hidupnya sehari-hari, lalu kebutuhan biaya untuk mengerjakan tugas, dan masih banyak lagi pengeluaran-pengeluaran yang tentunya tidak sedikit. Butuh keberanian, tekad yang gigih, dan kenekatan untuk mengambil langkah tersebut, nekat dalam hal ini bukan berarti asal maju, tapi aku yakin Raeni nekat karena dia percaya bahwa Tuhan akan membantunya.

Hal yang menyentuh adalah ketika sang ayah, demi membelikan laptop untuk putrinya sampai rela mengambil pension dini, guna mendapatkan pesangon yang nantinya akan digunakan untuk membayar hutang akibat membeli laptop. Pasti tidak mudah melepaskan pekerjaan, yang dapat kukatakan telah menjadi pendamping hidup selama puluhan tahun, bukankah pekerjaan juga dapat diibaratkan pasangan hidup kita. Ketika kehilangan pekerjaan berarti beliau juga otomatis kehilangan sumber penghidupan. Bagaimana dengan kehidupan sehari-hari keluarga mereka? Lha wong secara masih kerja saja susah apalagi sekarang sudah tidak bekerja lagi. Gimana coba? Aku yakin butuh iman yang besar untuk dapat menghadapai hal tersebut, kenyataan tersebut dengan senyuman. Tapi itulah cinta orangtua pada anaknya, yang memampukan mereka untuk mengorbankan apapun demi sang anak. Aku tidak tahu bagaimana perasaan orang tua Raeni pada anak mereka, tapi aku yakin pasti mereka percaya dan meletakkan harapan yang tinggi pada anak mereka.

Di sisi lain, Raeni cukup mengerti dan memahami kesulitan orang tuanya. Dia kuliah sambil melakukan usaha apapun yang dapat dikerjakannya untuk memenuhi kebutuhannya, bahkan dia sampai menyisihkan uang minimal 50.000 per bulannya, jumlah yang bagi kita mungkin tidak seberapa. Tapi hal itu menunjukkan keuletan dan kegigihannya dalam berjuang menghadapi kesulitan hidup. Raeni juga tidak malu terhadap pekerjaan orang tuanya, yang kemudian menjadi tukang becak. Sungguh suatu sikap yang patut diteladani, tatkala banyak anak-anak yang merasa minder dengan kondisi orang tuanya dan bersikap seperti Malin Kundang.

Belajar dari kisah Raeni, menurutku yang istimewa bukanlah IPK nya yang mencapi 3,96 atau beasiswa presidensil yang diterimanya, melainkan perjuangannya untuk meraih itu semua, bagaimana dia tidak mudah menyerah menghadapi kenyataan hidup dan terus berjuang untuk meraih apa yang diyakininya, bagaimana orang tuanya mendukung Raeni, dan aku percaya bahwa doa dan dukungan orang tua itulah yang akan melapangkan jalan putera puteri mereka. Mungkin banyak orang terpukau pada hasil yang diraih Raeni, tapi di balik itu semua ada sebuah gunung es besar perjuangan yang dibayar dengan kerja keras dan keringat, mungkin juga air mata tatkala dia melihat perjuangan orang tuanya namun tak bisa melakukan apa pun untuk meringankan hal itu selain dengan mempersembahkan kesuksesan. Semoga sedikit apa yang aku tuliskan ini bisa menjadi sarana untuk mendorong kita dalam menghadapi hidup ini.

sepenggal doa

Tuhan jangan biarkan aku menjadi orang jahat,

 

Orang yang tertawa di atas penderitaan orang lain,

Melainkan ikut menangi bersama mereka yang menangis

 

Orang yang menyingkirkan mereka yang menghalagi jalanku,

Melainkan menjadi pembuka jalan bagi mereka di sekitarku.

 

Orang yang membalas perlakuan orang lain dengan lebih kejam,

Melainkan mampu memberikan pipi kiri kepada yang menampar pipi kananku.

 

Orang yang mengingikan apa yang dimiliki sesamaku,

Melainkan selalu mengucap syukur atas pemberianMu

Dan mau berbagi dengan mereka yang membutuhkan

 

Orang yang memandang diriku lebih tinggi daripada orang lain,

Melainkan menganggap yang lain lebih tinggi daripadaku.

 

Jangan biarkan aku menjadi orang yang jahat,

Menghadirkan perang, iri hati dan perpecahan bagi sesama,

Melainkan jadikanku juru damai yang membawa kedamaian.

Justice

Tuhan, apakah keadilan itu?

Ada orang yang makan sampai sakit perut dan membuang-buang makanan

Namun ada juga yang tidak makan berhari-hari, mengais-ngais mencari sisa makanan yang dibuang

Apakah ini keadilan? Apakah yang seorang harus makan berlebihan lalu membuangnya agar dapat dimakan oleh yg lain? Mengapa tidak dengan rela membaginya saja?

 

Ada orang yang memiliki banyak mobil bermerk dan hanya dijadikan pajangan garasi

Namun ada juga yang tidak punya kendaraan dan harus berjalan kaki kesana kemari

Apakah ini juga keadilan? Saat yang seorang pergi kesana kemari naik mobil sementara banyak orang yang harus berjalan berkilo-kilo meter? Mengapa tidak memberikan tumpangan kepada yang lain?

 

Ada orang yang bekerja keras siang dan malam untuk menghidupi dirinya dan keluarganya

Namun ada juga yang mencari jalan pintas, merampok orang lain bahkan membunuh hanya demi beberapa rupiah tanpa berpikir bagaimana keluarga yang bergantung kepadanya

Apakah ini juga keadilan? Apakah mereka bekerja keras untuk diambil, dirampok oleh orang lain? Mengapa tidak bekerja bersama, bukankah pekerjaan yang dilakukan bersama akan lebih ringan dan hasilnya juga dapat dibagi?

 

Ada orang yang tertawa sementara ada juga yang menangis.

Apakah ini juga keadilan? Perlukah sesorang tertawa di atas tangisan orang lain?

 

Keadilan macam apakah ini? Apakah keadilan berpihak kepada mereka yang berkuasa, mampu dan punya segalanya, dan melupakan mereka yang tersingkir, terlantar dan tak dianggap?

Apakah mereka yang tersingkir harus benar-benar disingkirkan?

Ada yang mengatakan apa yang kamu tabur, itulah yang kamu tuai. Tapi pada realitanya banyak orang menuai dari apa yang tidak dia tabur. Sekali lagi, apakah ini yang namanya keadilan?

 

Ketika berpikir tentang keadilan dan bertanya kepada Tuhan, “Keadilan macam apa ini Tuhan?”

Dia hanya menjawab, “Keadilan yang penuh kasih.”

 

Ya, itulah keadilan Tuhan. Jalan Tuhan berbeda dengan jalan kita dan pikiranNya tak dapat dimengerti oleh manusia.

Keadilan yang ada dalam bayangan kita adalah apa yang kita pikir itu adil. Namun jika ditelaah lebih lanjut seharusnya yang dinamakan keadilan itu adalah ketika kita mendapatkan apa yang seharusnya kita dapatkan. Dan seharusnya manusia mendapatkan maut karena dosa.

 

Karena kasihNya maka kita masih beroleh anugerah hidup. Dan sekarang kita masih mau memprotes Sang Pemberi Hidup? Tidak salah memang untuk menanyakan segalah sesuatunya kepada Tuhan dan Dia pasti memberikan jawabannya. Dengan bertanya kita dapat lebih memahami jalan pikirannya.

 

Kembali pada keadilan, jika mau adil sehrusnya semua orang menerima hal yang sama. Tidak ada perbedaan dan diskriminasi. Itulah keadilan, sama rata sama rasa. Namun apakah hal itu benar-benar keadilan yang sesungguhnya? Bukankah tidak adil jika mereka yang berusaha keras untuk mendapatkan sesuatu mendapatkan bagian sama dengan mereka yang sama sekali tidak berusaha.

 

Lalu harus seperti apakah keadilan itu?

Keadilan yang sebenarnya hanya dapat diberikan oleh Sang Pemberi Keadilan. Keadilan yang penuh kasih. Keadilan yang mengampuni dosa dan kejahatan. Keadilan yang memberikan apa yang seharusnya tidak layak dan tidak pantas didapatkan oleh manusia.

 

Mungkin masih ada dalam piiran kita bagiamana dengan mereka yang mendapat dan merasa tidak diperlakukan dengan adil? Tidak perlu khawatir dan cemas. Ada Sang Hakim Adil yang senantiasa mengetahui dan menjaga kita dari segala ketidak adilan. Dan perlu diingat, Dia juga memberikan keadilan yang penuh kasih.

 

Bersyukurlah atas apa yang kamu dapatkan karena tidak semua orang seberuntung dirimu. Dan bagikanlah kasihNya kepada mereka yang kurang beruntung. Itulah keadilan  Tuhan, keadilan yang penuh kasih. Tidak memaksa, namun penuh kelemahlembutan. 

Tulisan yang kupublish di facebook ku dua tahun lalu…