Lelaki tua di counter HP…

Aku melirik jam tangan yang melingkar di pegelangan tangan kiriku, jam 11 lewat 15 menit. Andi terlambat lagi, padahal katanya dia berniat membicarakan proyek yang penting. Gelas minuman yang ada di depanku sudah hampir habis. Aku mulai mempertimbangkan untuk memesan segelas minuman lagi saat mataku menangkap pemandangan yang cukup menarik.

Seorang laki-laki tua mengendarai sepeda kuno berwarna hitam berhenti beberapa meter dari kafe tempat aku menunggu Andi. Sepeda hitam itulah yang menarik perhatianku. Pit kebo, istilah untuk menyebut sepeda model itu. Ayahku pernah memiliki sepeda seperti itu, tapi sekarang sudah tidak lagi. Ayah menjual sepeda itu dan menggantinya dengan sepeda motor lima tahun lalu, padahal bagiku sepeda itu keren. Dulu Ayah sering mengantarku ke sekolah dengan sepeda itu.

Ah, untuk apa aku mengenang masa kecilku di desa. Kembali aku mencari sosok lelaki tua itu. Rupanya lelaki itu mengunjungi sebuah counter HP. Dari tempatku berada, aku bisa melihat ekspresi wajah lelaki itu dengan sangat jelas. Wajahnya yang berkerut menampakkan ekspresi cemas ketika berbicara dengan penjaga counter HP itu.  Beberapa menit mereka bercakap-cakap, dan ekspresi cemas yang menyelimuti wajah lelaki tua itu kina telah hilang, berganti dengan wajah sedih.

Dengan senyum yang dipaksakan dia melambaikan tangan rentanya kepada penjaga counter itu lalu melangkah keluar, menghampiri sepeda kunonya. Aku masih bisa menyaksikan kesedihan di wajahnya saat dia mengayuhkan sepedanya lewat di depan kafe tempatku duduk. Dalam hati aku bertanya, ada apa gerangan dengan lelaki tua itu? Apakah dia memiliki masalah dengan HP nya, ataukah dia berniat membeli HP baru tapi tidak memiliki cukup uang?

Tiba-tiba HP ku berbunyi. Sebuah pesan singkat kuterima dari Andi. Sial, dia membatalkan pertemuan ini. Istrinya sakit, dia harus mengantarkannya ke rumah sakit, dan baru ingat kalau dia sudah membuat janji denganku. Tanpa membuang waktu lebih lama lagi, segera aku menghampiri kasir dan membayar minumanku, untung saja aku belum memesan segelas lagi.

Melangkah keluar dari kafe, rasa penasaran masih menghantuiku. Wajah sedih lelaki tua itu masih terngiang di ingatanku. Tak apa sedikit kepo, batinku. Beberapa menit kemudian aku sudah berdiri di counter HP yang didatangi lelaki tua tadi.

“Mas Jon, bapak tua yang barusan datang kemari, ada masalah apa ya dengan HP nya?” tanyaku sok akrab. Aku memang sering membeli pulsa di tempat ini, dan sudah cukup mengenal pemiliknya.

“Oh bapak yang tadi,” sahut Mas Joni, “kasihan Mas bapak itu…” katanya semakin membuatku penasaran.

“Lho memangnya kenapa?”

“Tadi bapak itu minta tolong saya ngecek HP nya, apa HP nya ada yang rusak. Apa bisa dibuat telpon? Terus Mas, saya lihat HP nya baik-baik saja. Ya saya bilang HP nya nggak ada masalah. Terus bapak itu malah jadi sedih gimana gitu…”

“Loh kok aneh, HP nya nggak rusak kok malah sedih?” selaku tak sabar.

“Sebentar to Mas, saya kan belum selesai cerita. Kata bapak itu kalau HP nya nggak rusak, kok anak-anaknya nggak pernah telpon dia. Kasihan kan?”

Mendengar penuturan Mas Joni, seketika aku teringat pada Ayah, bukan pada pit kebonya, tapi kepada ayahku. Sudah hampir seminggu ini aku tidak menelponnya, padahal tadi aku menghabiskan waktu hampir setengah jam menunggu Andi tanpa melakukan apa pun. Segera kuraih HP ku dan kucari nomor telepon Ayah…

IMG_20150505_193347

Advertisements

Sebuah cerita untuk direnungkan

Sebuah kapal pesiar mengalami kecelakaan di laut dan segera tenggelam. Sepasang suami istri berlari menuju ke skoci untuk menyelamatkan diri. Sampai di sana, mereka menyadari bahwa hanya ada tempat untuk satu orang yang tersisa. Segera sang suami melompat mendahului istrinya untuk mendapatkan tempat itu. Sang istri hanya bisa menatap kepadanya sambil meneriakkan sebuah kalimat sebelum skoci menjauh dan kapal itu benar-benar tenggelam.

Guru yang menceritakan kisah ini bertanya pada murid-muridnya, “Menurut kalian, apa yang istri itu teriakkan?”

“Aku beci kamu!” jawab seorang murid.

“Kamu tau aku buta!!” sahut murid lainnya.

“Kamu egois!” beberapa murid yang lain tak mau kalah.

“Nggak tau malu!” jawab seorang murid malu-malu.

Tapi guru itu kemudian menyadari ada seorang murid yang diam saja. Guru itu meminta murid itu menjawab. Kata si murid, “ Guru, saya yakin si istri pasti berteriak: Tolong jaga anak kita baik-baik”.

Guru itu terkejut dan bertanya, “Apa kamu pernah mendengar cerita ini sebelumnya?”

Murid itu menggeleng. “Belum. Tapi itu yang dikatakan mama saya sebelum dia meninggal karena penyakit kronis.”

Guru itu menatap seluruh kelas dan berkata, “Jawaban ini benar.”

Kapal itu kemudian benar-benar tenggelam dan sang suami membawa pulang anak mereka sendirian. Bertahun-tahun kemudian setelah sang suami meninggal, anak itu menemukan buku harian ayahnya. Di sana dia menemukan kenyataan bahwa, saat orang tuanya naik kapal pesiar iru, mereka sudah mengetahui bahwa sang ibu menderita penyakit kronis dan akan segera meninggal. Karena itulah, di saat darurat itu, ayahnya memutuskan mengambil satu-satunya kesempatan untuk bertahan hidup. Dia menulis di buku harian itu, “Betapa aku berharap untuk mati di bawah laut bersama denganmu. Tapi demi anak kita, aku harus membiarkanmu tenggelam sendirian untuk selamanya di bawah sana.”

Cerita itu selesai dan seluruh kelas pun  terdiam

Guru itu tahu bahwa murid-murid sekarang. Mengerti moral dari cerita tersebut, bahwa kebaikan dan kejahatan di dunia ini tidak sesederhana yang kita sering pikirkan. Ada berbagai macam komplikasi dan alasan di baliknya yang kadang sulit dimengerti.

Karena itulah kita seharusnya jangan melihat hanya di luar dan kemudian langsung menghakimi, apalagi tanpa tahu apa-apa.

Mereka yang sering membayar untuk orang lain, mungkin bukan berarti mereka kaya, tapi karena mereka menghargai hubungan daripada uang.

Mereka yang bekerja tanpa ada yang menyuruh, mungkin bukan karena mereka bodoh, tapi karena mereka menghargai konsep dan tanggung jawab.

Mereka yang meminta maaf duluan setelah bertengkar, mungkin bukan karena mereka bersalah, tapi karena mereka menghargai orang lain.

Mereka yang mengulurkan tangan untuk menolongmu, mungkin bukan karena mereka merasa berhutang, tapi karena menanggap kamu adalah sahabat.

Mereka yang sering mengontakmu, mungkin bukan karena mereka tidak punya kesibukan, tapi karena kamu ada dalam hatinya…

Taken from a friend…

Surat cinta dari ibu

Dear my son,

Anakku, apa kabarmu? Sekarang usiamu 13 tahun bukan? Hari ini Ibu ingin membawa kue tar dan menyanyikan lagu ‘Selamat ulang tahun’. Ibu benar-benar merindukanmu. Bagaimana keadaanmu? Dalam ingatan Ibu, kau adalah bayi kecil mungil yang selalu menangis dalam dekapan Ibu. Ibu sangat penasaran bagaimana dirimu sekarang? Apakah wajahmu seperti wajah ayahmu, atau seperti wajah Ibu? Apakah kau memiliki mata seindah mata ayahmu? Apakah kau memiliki mulut lebar seperti Ibu? Ibu sangat ingin melihat wajahmu…

Anakku, apakah kau marah kepada Ibu? Tolong maafkan Ibu karena Ibu tidak bisa menemani hari-harimu. Kau tahu, Ibu ingin membimbingmu belajar berjalan saat kau, mendengar kau mengucapkan kata pertamamu, Ibu ingin kata pertama yang kau ucapkan adalah ‘ibu’, dan ibu sangat ingin mendengarnya, meskipun kini Ibu yakin kata pertamamu adalah ‘ayah’. Tak apa, meskipun Ibu tak akan pernah mendengarmu memanggilku ‘ibu’ tapi Ibu sudah cekup senang bisa membawamu ke dunia ini. Ibu ingin menemanimu pada hari pertamamu masuk sekolah, menghadiri pertemuan orang tua murid, datang ke sekolah saat perayaan Hari Ibu bersama ibu-ibu lainnya dan mendukung anaknya saat pentas seni.

Ibu ingin menemanimu tidur di malam hari. Maafkan Ibu karena tidak ada di sampingmu saat kau terbangun karena mimpi buruk. Maafkan Ibu karena Ibu tak datang menenangkanmu saat kau menangis ketakutan di malam hari yang gelap. Maafkan karena setiap malam Ibu tidak pernah menyelinap ke dalam kamarmu diam-diam ketika kau sedang terlelap dan Ibu tidak bisa mengecup keningmu, membetulkan letak selimutmu dan mematikan lampu kamarmu jika kau lupa mematikannya.

Maafkan Ibu karena tidak bisa membangunkanmu tiap pagi, memandikanmu, menyiapkanmu sarapan dan bekal untuk kau bawa ke sekolah. Maafkan Ibu karena tidak menunggumu saat kau pulang sekolah, menemanimu makan siang, dan membantumu mengerjakan pekerjaan rumah. Jujur Ibu sangat ingin melakukan itu semua. Ibu ingin mendengarmu bercerita tentang hari-harimu di sekolah, tentang teman-temanmu, tentang gurumu. Ibu ingin memarahimu saat kau mendapatkan nilai jelak di sekolah, dan ibu juga ingin memujimu saat kau mendapatkan nilai bagus. Ibu ingin membanggakanmu saat bercerita bersama teman-teman Ibu, bahwa anak laki-laki Ibu luar biasa.

Maafkan Ibu karena tak merawatmu saat kau sakit, mengingatkanmu agar selalu minum obat, menemanimu ke dokter dan menenangkanmu saat kau menangis karena takut terhadap jarum suntik. Apakah kau takut terhadap jarum suntuk? Semoga tidak. Ibu tidak ingin anak laki-laki ibu menjadi seorang penakut.

Anakku, Ibu ingin mendengarmu bercerita tentang gadis yang menarik perhatianmu. Percayalah Ibu sangat ingin kau mengenalkan gadis yang berhasil menaklukkan hatimu kepada Ibu saat kau dewasa nanti. Ibu ingin melihatmu berjalan bersama gadis itu menuju ke pelaminan. Ibu ingin melihatmu membawa anakmu, mengenalkannya sebagai cucu Ibu. Ibu ingin bisa menggendong anakmu seperti saat Ibu pernah membuaimu dalam gendongan Ibu. Ibu ingin bermain bersama cucu-cucu Ibu. Ah anakku seandainya semua itu bisa terwujud, tentunya Ibu akan merasa sangat bahagia. Tidak, sekarang pun Ibu sudah cukup merasa bahagia, memandangi wajah kecilmu yang terlelap.

Anakku, bagaimana hubunganmu dengan ayahmu? Semoga kalian tidak sering bertengkar. Ibu tahu ayahmu adalah orang yang keras, dan Ibu menebak pasti kalian sering bertengkar. Anakku, tolong dengarkan nasehat Ibu, turutilah kata-kata ayahmu. Meskipun ayahmu bersikap keras, tapi sangat mencintaimu. Ibu ingin berbagi sedikit rahasia tentang ayahmu. Kau tahu, ketika kau masih dalam kandungan Ibu, setiap malam ayahmu mengelus perut Ibu dan menyanyikan lagu untukmu. Ini rahasia kita, Ok.

Anakku, tolong Ibu untuk menjaga dan merawat ayahmu. Ayahmu adalah seorang pekerja keras, tolong bantu Ibu untuk selalu mengingatkannya makan. Ayahmu sering melupakan jam makannya.  Ibu khawatir bagaimana keadaan ayahmu tanpa ada Ibu di sisinya. Tapi Ibu bisa merasa tenang karena ada kau di sisinya.

Anakku, masih banyak hal yang Ibu ingin katakan kepadamu, tapi Ibu tak tahu lagi bagaimana menuliskannya. Satu hal yang perlu kau tahu, Ibu mencintaimu. Ibu menyayangimu dan ayahmu. Maafkan Ibu sekali lagi karena tak bisa menemani kalian. Percayalah jika Ibu memiliki banyak waktu, Ibu ingin menghabiskannya bersama kalian. Anakku terima kasih karena telah memberikan Ibu anugerah yang terindah bagi setiap wanita, yaitu menjadi seorang Ibu. Ibu menyayangimu. Jaga dirimu dan ayahmu. Dan ibu akan selalu menjagamu dari tempat Ibu berada…

Segelas susu…

Aku berjalan memasuki ruang tengah rumahku dengan langkah gontai, tubuhku terasa kurang sehat, entah ada apa denganku, mendadak kepalaku pusing dan tubuhku terasa lemas. Kurasa aku sakit, apakah karena kemarin aku nekat menerobos hujan dengan sepeda motorku? Entahlah yang pasti saat ini aku merasa sangat tidak nyaman. Kulemparkan tas kerjaku entah ke mana bertepatan dengan kuhempaskan tubuhku ke atas sofa. Aku ingin berbaring sejenak, menutup mata barang semenit dua menit.

“Mama sudah pulang!” Kudengar suara riang puteri kecilku yang berusia empat tahun menyambut kedatanganku seperti biasanya, tapi kali ini dia tak mendapat peluk cium dariku, aku sedang sakit dan kuharap dia menyadarinya. Aku hanya memandangnya dengan tatapan lemah sambil memberikan senyum manis sebagai pengganti peluk cium untuknya.

“Mama sakit?” Tanyanya begitu melihatku tetap tergolek tak berdaya di sofa. Aku hanya mengangguk lemah, lidahku terasa kelu, tak sanggup aku berkata-kata. Perlahan dia mendekatiku, lalu naik ke sofa tepat di sebelahku, lalu berdiri di atas sofa untuk bisa mencapai dahiku. Kurasakan tangan mungilnya menyentuh dahiku sedang sebelah tangannya yang lain diletakkan di atas dahinya, rupanya dia sedang mengukur suhu tubuhku, meniru caraku mengukur suhu tubuhnya ketika dia sedang demam.

“Wah, Mama panas sekali!” Serunya sambil melepaskan tangannya dari dahiku. Dia nampak tertegun sebentar, seperti sedang memikirkan sesuatu. Melihat tingkahnya aku hanya tertawa dalam hati. Aku ingin meraihnya dengan tangan kiriku tapi dia bergerak lebih cepat, dan sebelum aku sempat menggerakkan tanganku dia sudah meloncat turun dari sofa, aku menahan nafas sejenak, hampir saja dia terjatuh, tapi dia mampu menjaga keseimbangannya dan berlari meninggalkanku entah ke mana. Kubiarkan saja dia pergi, barangkali dia kembali bermain. Lagipula aku terlalu lemah untuk bangkit dan meninggalkan sofa yang nyaman ini.

Aku hampir menutup mataku saat kudengar suara cadelnya memanggilku, “Mama bangun, ayo minum ini dulu!” Kulihat dia membawa segelas susu dalam gelas plastik, disodorkannya susu itu kepadaku. Ternyata dia meniruku yang selalu membuatkan segelas susu hangat saat dia sakit. Aku menatap sesaat susu yang diberikannya, masih ada bubuk susu yang menggumpal, tidak sepenuhnya larut. Rupanya dia membuatkanku susu dengan air dingin, karena dia tahu dia tidak boleh menyentuh air panas. Aku memang melarangnya bermain-main dengan air panas, itu bisa melukainya.

Tanpa berpikir panjang segera kuambil gelas palstik itu dari tangannya lalu kehabiskan susu itu dalam sekali teguk. Jangan tanya seperti apa rasanya, kurasa semua orang tahu bagaimana rasanya susu dingin yang tidak larut seluruhnya.

“Mama, bagaimana rasanya? Enak ya, enak ya? Fany buat sendiri khusus untuk Mama. Mama cepat sembuh ya…” Suara riang puteri kecilku terdengar di telingaku. Dan ketika aku meletakkan gelas itu di atas meja kulihat mata bulatnya menatapku menunggu jawaban yang keluar dari mulutku.

***

Sebuah sharing dari Ibu Mercy Matakupan saat beliau berkotbah di gerejaku. Sejujurnya aku lupa kotbahnya berbicara tentang apa, namun sharing beliau membuatku berpikir. Ibu Mercy menutup sharingnya dengan melontarkan sebuah pertanyaan, bagaimana dia harus menjawab pertanyaan puterinya itu, apakah menjawab dengan jujur meskipun hal itu akan melukai hati puterinya ataukah berbohong untuk menghargai tindakan yang dilakukan puterinya. Dan aku sendiri tak tahu harus memilih jawaban yang mana…

Salahkah aku…

Salahkah aku jika aku tak memiliki tempat untuk kusebut ‘rumah’, bagiku bangunan yang mereka sebut rumahku adalah medan pertempuran ayah dan ibu…

Salahkah aku jika laki-laki yang kupanggil ‘ayah’ mencari daun muda karena daun yang bertahun-tahun menemaninya tidak sehijau saat pertama kali dipetik…

Salahkah aku jika perempuan yang mereka bilang melahirkanku rela meninggalkanku demi emas dan berlian buah tangan dia yang bernama ‘ketenaran’… 

Salahkah aku jika otakku telah tewas dalam rumah medan pertempuran yang senantiasa kuhadapi sehingga tinta semerah darah mengucur membasahi kertas-kertas ujianku…

Salahkah aku jika guru-guruku memberikan alamat palsu kepadaku sehingga tiap kali kucari mereka yang kutemui hanyalah kursi kosong di ruang guru…

Salahkah aku jika sekumpulan orang-orang yang menyebut diri mereka ‘teman’ hanyalah orang-orang yang bermulut manis namun berhati pahit…

Salahkah aku jika dia yang kau katakan sahabatku ternyata tak ubahnya manusia bermuka dua yang mengirisku tipis-tipis di belakangku…

Salahkah aku jika orang yang bersamanya aku berharap untuk menghabiskan sisa hidupku mencampakkanku begitu saja karena aku belum siap menghadapi orangtuanya…

Salahkah aku jika aku menikmati perhatian yang kudapatkan di luar gerbang sekolah dari mereka yang kau sebut gembel, anak jalanan…

Salahkah aku jika sebatang rokok menjadi teman yang setia di kala suka dan duka, selalu menghiburku lewat kesunyian yang kunikmati…

Salahkah aku saat kukembalikan dompet yang kutemukan di jalan namun ibu pemiliknya malah meneriakiku ‘maling’ dan hampir saja aku mampus di tangan sekelompok orang yang mengatasnamakan hukum demi memuaskan hasrat mereka menghajar tubuh kurusku…

Salahkah aku saat kutemukan sebuah dompet namun tak kukembalikan meskipun identitas pemiliknya masih tertinggal di sana karena aku tak ingin bernasib naas seperti waktu itu…

Salahkah aku karena aku memilih menikmati hidup yang kujalani sekarang, bebas, lepas, tak peduli pada mereka yang bernama ‘norma’ dan ‘hukum’…

Katakan kepadaku apakah salahku sehingga kau memandangku seolah-olah aku adalah pelaku kejahatan kelas kakap, padahal aku hanyalah seorang korban…

Aku adalah satu dari sekian banyak korban situasi yang tak bersahabat, keluarga yang tak harmonis, dan kehidupan yang kejam…

Kamu tetap adikku…

Aku pulang dengan wajah kusut. Kubiarkan Bobby, adikku, berjalan mendahuluiku masuk dan mengucapkan salam. Aku malas membuka mulutku yang kutekuk ke bawah. Aku melenggang masuk ke kamarku melewati Mama yang hanya diam memperhatikanku. Tak kupedulikan teriakan Mama yang menyuruhku keluar untuk makan siang. Aku hanya berbaring telentang di atas kasur, seragam putih biruku saja belum kulepas. Air mataku mengalir membasahi pipiku. Aku marah. Aku marah, kepada anak-anak di depan sekolah yang mengataiku dan adikku, aku marah kepada Bobby karena dia yang menyebabkan anak-anak itu mengataiku, aku marah kepada diriku sendiri yang tak bisa merima Bobby, aku marah kepada Mama dan Papa, aku marah kepada semua orang.

Kudengar ketukan lembut di pintu kamarku. Beberapa menit kemudian Mama muncul membuka pintu yang memang tidak kukunci. Dari raut wajahnya, aku bisa melihat kekhawatiran, kecemasan dan kesedihannya. Sebagai seorang ibu tentu saja Mama menyayangi anak-anaknya, aku dan Bobby.

“Bella, kamu kenapa?” Mama duduk di kasurku memulai pembicaraan, tangannya mengelus lembut kepalaku. “Sayang, kamu sakit?” tanyanya masih dengan suara lembut.

Aku hanya mengeleng lemah. “Nggak ada apa-apa Ma…” Aku tidak mau memberitahu Mama apa yang terjadi hari ini. Aku tidak mau membuat Mama sedih. Aku ingin menghapus suara anak-anak brengsek itu dari kepalaku, tapi suara mereka telah terekam dalam otakku.

Bagaimana aku bisa tak kudengarkan suara-suara mereka, hinaan-hinaan mereka, aku tidak tuli, telingaku masih bisa mendengar dengan jelas teriakan mereka saat mereka meneriaki kami. “Pincang, pincang!!!” Sebuah kata-kata yang tentunya ditujukan kepada Bobby, adikku. Ah, seandainya saja dulu Bobby tidak mengalami kecelakaan yang mengakibatkan kakinya menjadi pincang. Seandainya saja dia tidak mencuri-curi mengendarai sepeda motor di jalan raya padahal dia masih belum lancar, seandainya saja waktu itu Mama menyimpan kunci motor di tempat tersembunyi tentunya kaki Bobby masih normal dan aku tidak perlu malu berjalan bersamanya. Sebenarnya Bobby cukup tampan dan gagah, tentu saja aku kakaknya juga berwajah cantik, sayang kakinya yang pincang merusak semuanya. Sekarang kalian tahu kan mengapa aku sangat marah kepada Bobby, dan aku juga marah kepada diriku sendiri, karena seharusnya sebagai kakak aku tidak boleh berpikiran demikian, aku harus bisa menerima Bobby apa adanya, termasuk kakinya yang tidak sempurna.

“Bella sayang, makan yuk. Bobby sudah selesai makan, sekarang giliran kamu.” Mama membujukku untuk keluar kamar. Aku hanya mengangguk pelan. Aku tidak mau membuat Mama sedih. Tentu saja kondisi Bobby sudah cukup membuat Mama sedih, apalagi kalau ditambah lagi dengan penolakanku terhadapnya, pasti Mama akan sangat sedih sekali. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan Mama. Sebagai seorang ibu yang mengandung anaknya selama sembilan bulan, lalu melahirkan dengan penuh perjuangan, bangga karena anaknya lahir dengan selamat, merawat dan menjaganya sehingga tumbuh sehat, namun sekarang anaknya cacat. Hati ibu mana yang tidak terluka, barangkali Mama juga menyesali kejaidan yang menimpa Bobby, tapi tak pernah sekalipun kulihat Mama marah kepada Bobby, bahkan ketika Bobby mengalami kecelakaan itu Mama tidak memarahinya, malahan Mama menangis mengkhawatirkan keadaan Bobby. Ketika Mama tahu kaki Bobby cacat, Mama juga tidak menyalahkan Bobby, Mama malah memberi Bobby semangat untuk menghadapi hari-harinya. Oh Mama, seandainya saja aku bisa seperti dirimu, namun maafkan kau karena aku tidak bisa, setidaknya aku belum bisa.

“Ma, besok Bobby pulang sendiri saja. Kak Bella nggak usah jemput Bobby….” kata Bobby saat kami sedang nonton TV bersama.

“Lho kenapa Bob?” tanya Mama sambil mengarahkan pandangannya kepadaku. Aku berani bertaruh pasti Mama berpikir aku melakukan sesuatu yang membuat Bobby mengatakan kalimat itu. Tapi benar kok aku tidak melakukan apa-apa, sepanjang perjalanan pulang tadi mulutku terkunci rapat karena aku menahan panasnya amarah dalam hatiku. Jujur dalam hati aku senang karena Bobby yang mengatakannya. Memang sih jarak SMAku dan SMPnya tidak terlalu jauh, hanya saja aku harus sedikit berjalan memutar untuk menuju ke SMPnya, mantan SMPku.

“Nggak ada apa-apa Ma, biar aku nggak perlu ngunggu Kak Bella dan Kak Bella bisa langsung pulang. Jadi kami bisa lebih cepat sampai di rumah.” Bobby memang anak yang cerdas dan alasan yang dikemukakannya sangat masuk akal, dalam hati aku membeli nilai seratus untuk alasannya. “Lagipula aku bisa pulang bareng Iwan, kan rumahnya di depan sana, dan Kak Bella bisa pulang bareng Sinta, anaknya Tante Santi itu.”

“Hmmm, baiklah kalau itu maumu. Yakin kalian nggak sedang berantem?” Mama masih memandangiku sekan-akan berusaha menyelidiki ada apa antara aku dan Bobby.

“Nggak kok Ma.” Jawabku cepat sambil mengacak-acak rambut Bobby. Aku paling suka mengacak-acak rambut adikku itu karena setelah itu pasti Bobby berteriak dan berusaha memukul tanganku. “Kalau sekarang kami benar-benar berantem…” kataku sambil melarikan diri sebelum Bobby bisa membalasku. Sekilas kulirik Mama yang hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kelakuan anak-anaknya yang sudah remaja tapi masih seperti anak kecil saja.

Sudah beberapa hari ini aku tidak lagi menjalankan tugasku menjemput Bobby sepulang sekolah. Sebenarnya Mamalah yang memberikanku tugas itu, sejak kecil kami memang selalu berangkat dan pulang sekolah bersama, apalagi setelah Bobby mengalami kecelakaan, Mama jadi sedikit lebih khawatir sehingga memaksaku untuk menjaganya baik-baik, memangnya aku babby siternya. Kadang aku menyempatkan diri berjalan memutar mampir ke sekolahnya untuk memastikan dia baik-baik saja. Beberapa kali kulihat dia berjalan bersama Iwan, menunggu angkot bersama. Kadang aku sedikit mencemaskannya karena dia sering bercanda dengan Iwan, bagaimana kalau saat menyeberang jalan mereka bercanda lalu kurang memperhatikan keadaan, bukankah sekarang ini banyak pengendara kendaraan beroda empat maupun dua yang tidak tahu bagaimana caranya berlalu lintas.

Tak terasa sebulan sudah aku dan Bobby tidak lagi pulang bersama. Hari ini hujan turun dengan derasnya. Sudah lama kutunggu tapi hujan tak kunjung reda. Sinta ada pelajaran tambahan jadi aku memutuskan pulang sendiri. Tiba-tiba pikiranku tertuju kepada Bobby, aku jadi ingin melewati sekolahnya, meskipun hujan masih deras. Tanpa menunggu lebih lama lagi kubuka payungku dan aku melangkah maju menerjang jutaan titik-titik air yang turun membasahi bumi.

Hmmm, tidak ada orang di sini, pasti Bobby sudah pulang bersama Iwan. Aku melangkah menuju ke bawah pohon sambil menunggu angkot yang lewat. Tunggu, kulihat di sebelah sana seseorang berjalan menembus hujan, sendirian, tanpa payung, dan caranya berjalan tidak sempurna. Aku segera mengenalinya sebagai adikku. Mengapa dia berjalan sendiri, di mana Iwan, di mana payungnya? Aku bergegas berlari menghampirinya.

“Bob, kamu kok sendirian, hujan-hujan lagi. Mana Iwan, mana payung kamu?” tanyaku begitu aku tiba di dekatnya dan menempatkan payungku untuk melindungi kami berdua dari serangan hujan yang tampaknya masih belum menunjukkan tanda-tanda akan berhenti.

Bobby nampak terkejut mendapatiku yang berada di sampingnya. “Iwan tadi dijemput kakaknya naik motor, aku lupa bawa payung.” Jawabnya polos sambil menggigil kedinginan.

“Yuk kita pulang!” ajakku sambil menggandeng tangannya berjalan menuju ke bawah pohon untuk menunggu angkot yang lewat. “Mulai besok kamu pulangnya bareng Kakak lagi!” kataku tegas, tak kupedulikan tatapan aneh orang-orang yang lalu lalang, aku juga pura-pura tak melihat mereka yang berbisik-bisik sambil menatap kami.

“Bener Kak, Kakak mau jalan bareng aku? Apa Kakak nggak malu?” tanyanya polos.

“Bobby, mereka itu hanya orang lain, tapi kamu adalah adikku, bagaimanapun juga kamu tetap adikku.” Bisa kulihat mata Bobby berbinar saat dia mendengar kata-kataku dan kurasakan tangannya semakin erat menggegam tanganku.

**

Sebuah cerita yang pernah kubaca sewaktu aku masih kecil, kutulis ulang dengan sedikit modifikasi, tentu saja aku tak ingat detail ceritanya dan siapa pengarangnya, yang jelas bukan aku. Hanya saja pesan cerita yang disampaikan masih tersimpan jelas di kepalaku. Karena itulah cerita ini kutulis kembali.