Wanita itu #5

Wanita itu… Dia kini berdiri di hadapanku. Tiba-tiba saja tubuhku terasa membatu. Beberapa saat lamanya kami berdiam diri, hanya mampu saling menatap.

“Siapa Nduk?” tanya Eyang yang tiba-tiba muncul di belakangku.

“Kamu…” Eyang tak melanjutkan perkataannya saat melihat wanita itu.

“Sasa masuk dulu Yang…” kataku kepada Eyang lalu segera berlari menuju ke kamarku dan menutup pintu.

Wanita itu, yang selama ini hanya kulihat wajahnya dari foto, mengapa sekarang dia muncul di hadapanku, setelah lima belas tahun lamanya dia menghilang? Ke mana saja dia pergi selama ini?

Di mana dia saat aku membutuhkannya? Di mana dia saat aku menginginkannya membacakan dongeng sebelum tidur di malam hari? Di mana dia saat aku terbangun dan menangis karena bermimpi buruk? Di mana dia saat aku demam dan menyebut-nyebut namanya? Di mana dia saat aku berulangtahun dan berharap bertemu dengannya saat aku meniup lilin ulang tahunku?

Setiap kali aku menanyakan keberadaannya kepada Eyang, beliau hanya berkata wanita itu bekerja di tempat yang jauh. Lambat laun aku mulai terbiasa menjalani hari-hariku tanpanya. Aku memasak dan menyiapkan sendiri sarapanku sebelum berangkat ke sekolah. Aku mengerjakan sendiri PR ku. Aku mencuci sendiri pakaianku. Aku bahkan menulikan telingaku saat anak-anak nakal di sekolahku memanggilku anak yanti piatu. Memang aku memiliki Eyang, tapi aku tidak mau membebani beliau. Di usianya yang senja, beliau masih harus bekerja membuka warung.

Sedangkan wanita itu? Entah sejak kapan, aku mulai tak mempedulikannya lagi. Bagiku dia bukan siapa-siapa. Dia hanyalah sebuah nama yang meskipun aku ingin tapi aku tak mampu membuang nama itu dari hidupku. Dan aku benar-benar tidak berharap melihat wajahnya lagi.

“Nduk, kamu di dalam?” tanya Eyang sambil mengetuk pintu kamarku. Eyang pasti ingin aku keluar dan bertemu dengan wanita itu. Maafkan aku Eyang, tapi aku tidak mau. Aku berdiam diri dan tidak menjawab. Beberapa menit berlalu hingga akhirnya Eyang menyerah dan meninggalkan pintu kamarku.

Aku tak tahu berapa lama aku berdiam diri di dalam kamar, hingga akhirnya aku memberanikan diri membuka pintu dan beranjak keluar. Tak kutemui tanda-tanda keberadaan wanita itu. Semoga dia benar-benar sudah pergi.

“Nduk, duduk sini…” panggil Eyang saat melihatku. Aku pun menghampiri Eyang yang duduk sendiri di meja makan. “Wanita itu sudah pergi Eyang?” tanyaku.

“Kamu belum makan to? Ayo makan dulu…” kata Eyang tanpa menjawab pertanyaanku. Dengan tanpa nafsu makan aku mengambil nasi dan ikan goreng yang disiapkan Eyang. Tak tega aku melihat Eyang sedih karena makanan yang disiapkan beliau tidak kusentuh sama sekali.

“Nduk, Eyang tahu kamu ndak suka sama wanita itu. Tapi kamu ndak boleh begitu. Maafkan Eyang, Nduk. Selama ini Eyang ndak jujur sama kamu. Wanita itu… kamu selalu bertanya ke mana dia pergi…” kata Eyang dengan sangat berhati-hati, Eyang bahkan meniruku, menyebut dia wanita itu. “Dan Eyang selalu bilang dia bekerja di tempat yang jauh. Saat itu kamu masih kecil. Kamu ndak akan ngerti dan Eyang juga ndak mampu cerita. Lagipula, wanita itu yang minta supaya Eyang jangan cerita sama kamu.” Aku mendengarkan perkataan Eyang tanpa ekspresi.

“Ketika kamu masih kecil, wanita itu, dia bekerja sebagai TKW ke luar negeri. Eyang sudah melarangnya, tapi dia ndak mau nurut. Waktu itu dia beralasan menjadi TKW bisa menghasilkan banyak uang dengan cepat. Kita hidup hanya bertiga, kalau bukan dia yang mencari uang, siapa lagi? Lagipula, hanya dua tiga tahun saja, setelah dapat cukup uang untuk modal usaha, dia mau pulang dan buka warung.” Eyang mulai bercerita sambil memutar memorinya.

“Tapi nasibnya sungguh malang. Setelah dapat uang dan Eyang berhasil buka warung, waktu mau pulang, dia malah dituduh membunuh majikannya…” air mata mulai membasahi mata Eyang. “Eyang ndak tahu bagaimana ceritanya, untung saja dia ndak sampe dihukum mati. Pemerintah berusaha membebaskannya, tapi ndak berhasil. Dia harus tetap dihukum penjara.”

Mendengar cerita Eyang aku semakin tak ingin melanjutkan makan siangku. Ada perasaan tidak nyaman di hatiku. Aku teringat kisah-kisah TKI dan TKW yang meregang nyawa di negeri orang. Mereka yang dihukum mati karena kesalahan yang aku sendiri tak tahu apakah benar demikian atau tidak. Dan membayangkan wanita itu mengalami nasib yang sama, aku tak tahu aa yang harus kulakukan.

“Eyang seharusnya cerita sejak dulu. Maafkan Eyang ya Nduk. Melihat sikapmu tadi, Eyang sedih sekali. Kamu jangan benci sama dia ya Nduk…” ujar Eyang sambil berlinang air mata.

“Wanita itu… di mana dia Eyang?” tanyaku terbata-bata.

“Dia baru saja pergi. Katanya dia ndak mau kamu marah dan sedih. Dia lebih baik pergi saja…” kata Eyang lemah.

Tanpa menunggu lebih lama lagi, aku segera berlari keluar rumah. Di kejauhan masih kulihat sosok wanita itu yang mulai menghilang. Aku segera berlari dan berteriak sekencang-kencangnya, memanggil wanita itu, ”Ibuuu!!!”

Advertisements

Lelaki tua di counter HP…

Aku melirik jam tangan yang melingkar di pegelangan tangan kiriku, jam 11 lewat 15 menit. Andi terlambat lagi, padahal katanya dia berniat membicarakan proyek yang penting. Gelas minuman yang ada di depanku sudah hampir habis. Aku mulai mempertimbangkan untuk memesan segelas minuman lagi saat mataku menangkap pemandangan yang cukup menarik.

Seorang laki-laki tua mengendarai sepeda kuno berwarna hitam berhenti beberapa meter dari kafe tempat aku menunggu Andi. Sepeda hitam itulah yang menarik perhatianku. Pit kebo, istilah untuk menyebut sepeda model itu. Ayahku pernah memiliki sepeda seperti itu, tapi sekarang sudah tidak lagi. Ayah menjual sepeda itu dan menggantinya dengan sepeda motor lima tahun lalu, padahal bagiku sepeda itu keren. Dulu Ayah sering mengantarku ke sekolah dengan sepeda itu.

Ah, untuk apa aku mengenang masa kecilku di desa. Kembali aku mencari sosok lelaki tua itu. Rupanya lelaki itu mengunjungi sebuah counter HP. Dari tempatku berada, aku bisa melihat ekspresi wajah lelaki itu dengan sangat jelas. Wajahnya yang berkerut menampakkan ekspresi cemas ketika berbicara dengan penjaga counter HP itu.  Beberapa menit mereka bercakap-cakap, dan ekspresi cemas yang menyelimuti wajah lelaki tua itu kina telah hilang, berganti dengan wajah sedih.

Dengan senyum yang dipaksakan dia melambaikan tangan rentanya kepada penjaga counter itu lalu melangkah keluar, menghampiri sepeda kunonya. Aku masih bisa menyaksikan kesedihan di wajahnya saat dia mengayuhkan sepedanya lewat di depan kafe tempatku duduk. Dalam hati aku bertanya, ada apa gerangan dengan lelaki tua itu? Apakah dia memiliki masalah dengan HP nya, ataukah dia berniat membeli HP baru tapi tidak memiliki cukup uang?

Tiba-tiba HP ku berbunyi. Sebuah pesan singkat kuterima dari Andi. Sial, dia membatalkan pertemuan ini. Istrinya sakit, dia harus mengantarkannya ke rumah sakit, dan baru ingat kalau dia sudah membuat janji denganku. Tanpa membuang waktu lebih lama lagi, segera aku menghampiri kasir dan membayar minumanku, untung saja aku belum memesan segelas lagi.

Melangkah keluar dari kafe, rasa penasaran masih menghantuiku. Wajah sedih lelaki tua itu masih terngiang di ingatanku. Tak apa sedikit kepo, batinku. Beberapa menit kemudian aku sudah berdiri di counter HP yang didatangi lelaki tua tadi.

“Mas Jon, bapak tua yang barusan datang kemari, ada masalah apa ya dengan HP nya?” tanyaku sok akrab. Aku memang sering membeli pulsa di tempat ini, dan sudah cukup mengenal pemiliknya.

“Oh bapak yang tadi,” sahut Mas Joni, “kasihan Mas bapak itu…” katanya semakin membuatku penasaran.

“Lho memangnya kenapa?”

“Tadi bapak itu minta tolong saya ngecek HP nya, apa HP nya ada yang rusak. Apa bisa dibuat telpon? Terus Mas, saya lihat HP nya baik-baik saja. Ya saya bilang HP nya nggak ada masalah. Terus bapak itu malah jadi sedih gimana gitu…”

“Loh kok aneh, HP nya nggak rusak kok malah sedih?” selaku tak sabar.

“Sebentar to Mas, saya kan belum selesai cerita. Kata bapak itu kalau HP nya nggak rusak, kok anak-anaknya nggak pernah telpon dia. Kasihan kan?”

Mendengar penuturan Mas Joni, seketika aku teringat pada Ayah, bukan pada pit kebonya, tapi kepada ayahku. Sudah hampir seminggu ini aku tidak menelponnya, padahal tadi aku menghabiskan waktu hampir setengah jam menunggu Andi tanpa melakukan apa pun. Segera kuraih HP ku dan kucari nomor telepon Ayah…

IMG_20150505_193347

Sebuah cerita untuk direnungkan

Sebuah kapal pesiar mengalami kecelakaan di laut dan segera tenggelam. Sepasang suami istri berlari menuju ke skoci untuk menyelamatkan diri. Sampai di sana, mereka menyadari bahwa hanya ada tempat untuk satu orang yang tersisa. Segera sang suami melompat mendahului istrinya untuk mendapatkan tempat itu. Sang istri hanya bisa menatap kepadanya sambil meneriakkan sebuah kalimat sebelum skoci menjauh dan kapal itu benar-benar tenggelam.

Guru yang menceritakan kisah ini bertanya pada murid-muridnya, “Menurut kalian, apa yang istri itu teriakkan?”

“Aku beci kamu!” jawab seorang murid.

“Kamu tau aku buta!!” sahut murid lainnya.

“Kamu egois!” beberapa murid yang lain tak mau kalah.

“Nggak tau malu!” jawab seorang murid malu-malu.

Tapi guru itu kemudian menyadari ada seorang murid yang diam saja. Guru itu meminta murid itu menjawab. Kata si murid, “ Guru, saya yakin si istri pasti berteriak: Tolong jaga anak kita baik-baik”.

Guru itu terkejut dan bertanya, “Apa kamu pernah mendengar cerita ini sebelumnya?”

Murid itu menggeleng. “Belum. Tapi itu yang dikatakan mama saya sebelum dia meninggal karena penyakit kronis.”

Guru itu menatap seluruh kelas dan berkata, “Jawaban ini benar.”

Kapal itu kemudian benar-benar tenggelam dan sang suami membawa pulang anak mereka sendirian. Bertahun-tahun kemudian setelah sang suami meninggal, anak itu menemukan buku harian ayahnya. Di sana dia menemukan kenyataan bahwa, saat orang tuanya naik kapal pesiar iru, mereka sudah mengetahui bahwa sang ibu menderita penyakit kronis dan akan segera meninggal. Karena itulah, di saat darurat itu, ayahnya memutuskan mengambil satu-satunya kesempatan untuk bertahan hidup. Dia menulis di buku harian itu, “Betapa aku berharap untuk mati di bawah laut bersama denganmu. Tapi demi anak kita, aku harus membiarkanmu tenggelam sendirian untuk selamanya di bawah sana.”

Cerita itu selesai dan seluruh kelas pun  terdiam

Guru itu tahu bahwa murid-murid sekarang. Mengerti moral dari cerita tersebut, bahwa kebaikan dan kejahatan di dunia ini tidak sesederhana yang kita sering pikirkan. Ada berbagai macam komplikasi dan alasan di baliknya yang kadang sulit dimengerti.

Karena itulah kita seharusnya jangan melihat hanya di luar dan kemudian langsung menghakimi, apalagi tanpa tahu apa-apa.

Mereka yang sering membayar untuk orang lain, mungkin bukan berarti mereka kaya, tapi karena mereka menghargai hubungan daripada uang.

Mereka yang bekerja tanpa ada yang menyuruh, mungkin bukan karena mereka bodoh, tapi karena mereka menghargai konsep dan tanggung jawab.

Mereka yang meminta maaf duluan setelah bertengkar, mungkin bukan karena mereka bersalah, tapi karena mereka menghargai orang lain.

Mereka yang mengulurkan tangan untuk menolongmu, mungkin bukan karena mereka merasa berhutang, tapi karena menanggap kamu adalah sahabat.

Mereka yang sering mengontakmu, mungkin bukan karena mereka tidak punya kesibukan, tapi karena kamu ada dalam hatinya…

Taken from a friend…

Surat cinta dari ibu

Dear my son,

Anakku, apa kabarmu? Sekarang usiamu 13 tahun bukan? Hari ini Ibu ingin membawa kue tar dan menyanyikan lagu ‘Selamat ulang tahun’. Ibu benar-benar merindukanmu. Bagaimana keadaanmu? Dalam ingatan Ibu, kau adalah bayi kecil mungil yang selalu menangis dalam dekapan Ibu. Ibu sangat penasaran bagaimana dirimu sekarang? Apakah wajahmu seperti wajah ayahmu, atau seperti wajah Ibu? Apakah kau memiliki mata seindah mata ayahmu? Apakah kau memiliki mulut lebar seperti Ibu? Ibu sangat ingin melihat wajahmu…

Anakku, apakah kau marah kepada Ibu? Tolong maafkan Ibu karena Ibu tidak bisa menemani hari-harimu. Kau tahu, Ibu ingin membimbingmu belajar berjalan saat kau, mendengar kau mengucapkan kata pertamamu, Ibu ingin kata pertama yang kau ucapkan adalah ‘ibu’, dan ibu sangat ingin mendengarnya, meskipun kini Ibu yakin kata pertamamu adalah ‘ayah’. Tak apa, meskipun Ibu tak akan pernah mendengarmu memanggilku ‘ibu’ tapi Ibu sudah cekup senang bisa membawamu ke dunia ini. Ibu ingin menemanimu pada hari pertamamu masuk sekolah, menghadiri pertemuan orang tua murid, datang ke sekolah saat perayaan Hari Ibu bersama ibu-ibu lainnya dan mendukung anaknya saat pentas seni.

Ibu ingin menemanimu tidur di malam hari. Maafkan Ibu karena tidak ada di sampingmu saat kau terbangun karena mimpi buruk. Maafkan Ibu karena Ibu tak datang menenangkanmu saat kau menangis ketakutan di malam hari yang gelap. Maafkan karena setiap malam Ibu tidak pernah menyelinap ke dalam kamarmu diam-diam ketika kau sedang terlelap dan Ibu tidak bisa mengecup keningmu, membetulkan letak selimutmu dan mematikan lampu kamarmu jika kau lupa mematikannya.

Maafkan Ibu karena tidak bisa membangunkanmu tiap pagi, memandikanmu, menyiapkanmu sarapan dan bekal untuk kau bawa ke sekolah. Maafkan Ibu karena tidak menunggumu saat kau pulang sekolah, menemanimu makan siang, dan membantumu mengerjakan pekerjaan rumah. Jujur Ibu sangat ingin melakukan itu semua. Ibu ingin mendengarmu bercerita tentang hari-harimu di sekolah, tentang teman-temanmu, tentang gurumu. Ibu ingin memarahimu saat kau mendapatkan nilai jelak di sekolah, dan ibu juga ingin memujimu saat kau mendapatkan nilai bagus. Ibu ingin membanggakanmu saat bercerita bersama teman-teman Ibu, bahwa anak laki-laki Ibu luar biasa.

Maafkan Ibu karena tak merawatmu saat kau sakit, mengingatkanmu agar selalu minum obat, menemanimu ke dokter dan menenangkanmu saat kau menangis karena takut terhadap jarum suntik. Apakah kau takut terhadap jarum suntuk? Semoga tidak. Ibu tidak ingin anak laki-laki ibu menjadi seorang penakut.

Anakku, Ibu ingin mendengarmu bercerita tentang gadis yang menarik perhatianmu. Percayalah Ibu sangat ingin kau mengenalkan gadis yang berhasil menaklukkan hatimu kepada Ibu saat kau dewasa nanti. Ibu ingin melihatmu berjalan bersama gadis itu menuju ke pelaminan. Ibu ingin melihatmu membawa anakmu, mengenalkannya sebagai cucu Ibu. Ibu ingin bisa menggendong anakmu seperti saat Ibu pernah membuaimu dalam gendongan Ibu. Ibu ingin bermain bersama cucu-cucu Ibu. Ah anakku seandainya semua itu bisa terwujud, tentunya Ibu akan merasa sangat bahagia. Tidak, sekarang pun Ibu sudah cukup merasa bahagia, memandangi wajah kecilmu yang terlelap.

Anakku, bagaimana hubunganmu dengan ayahmu? Semoga kalian tidak sering bertengkar. Ibu tahu ayahmu adalah orang yang keras, dan Ibu menebak pasti kalian sering bertengkar. Anakku, tolong dengarkan nasehat Ibu, turutilah kata-kata ayahmu. Meskipun ayahmu bersikap keras, tapi sangat mencintaimu. Ibu ingin berbagi sedikit rahasia tentang ayahmu. Kau tahu, ketika kau masih dalam kandungan Ibu, setiap malam ayahmu mengelus perut Ibu dan menyanyikan lagu untukmu. Ini rahasia kita, Ok.

Anakku, tolong Ibu untuk menjaga dan merawat ayahmu. Ayahmu adalah seorang pekerja keras, tolong bantu Ibu untuk selalu mengingatkannya makan. Ayahmu sering melupakan jam makannya.  Ibu khawatir bagaimana keadaan ayahmu tanpa ada Ibu di sisinya. Tapi Ibu bisa merasa tenang karena ada kau di sisinya.

Anakku, masih banyak hal yang Ibu ingin katakan kepadamu, tapi Ibu tak tahu lagi bagaimana menuliskannya. Satu hal yang perlu kau tahu, Ibu mencintaimu. Ibu menyayangimu dan ayahmu. Maafkan Ibu sekali lagi karena tak bisa menemani kalian. Percayalah jika Ibu memiliki banyak waktu, Ibu ingin menghabiskannya bersama kalian. Anakku terima kasih karena telah memberikan Ibu anugerah yang terindah bagi setiap wanita, yaitu menjadi seorang Ibu. Ibu menyayangimu. Jaga dirimu dan ayahmu. Dan ibu akan selalu menjagamu dari tempat Ibu berada…

Segelas susu…

Aku berjalan memasuki ruang tengah rumahku dengan langkah gontai, tubuhku terasa kurang sehat, entah ada apa denganku, mendadak kepalaku pusing dan tubuhku terasa lemas. Kurasa aku sakit, apakah karena kemarin aku nekat menerobos hujan dengan sepeda motorku? Entahlah yang pasti saat ini aku merasa sangat tidak nyaman. Kulemparkan tas kerjaku entah ke mana bertepatan dengan kuhempaskan tubuhku ke atas sofa. Aku ingin berbaring sejenak, menutup mata barang semenit dua menit.

“Mama sudah pulang!” Kudengar suara riang puteri kecilku yang berusia empat tahun menyambut kedatanganku seperti biasanya, tapi kali ini dia tak mendapat peluk cium dariku, aku sedang sakit dan kuharap dia menyadarinya. Aku hanya memandangnya dengan tatapan lemah sambil memberikan senyum manis sebagai pengganti peluk cium untuknya.

“Mama sakit?” Tanyanya begitu melihatku tetap tergolek tak berdaya di sofa. Aku hanya mengangguk lemah, lidahku terasa kelu, tak sanggup aku berkata-kata. Perlahan dia mendekatiku, lalu naik ke sofa tepat di sebelahku, lalu berdiri di atas sofa untuk bisa mencapai dahiku. Kurasakan tangan mungilnya menyentuh dahiku sedang sebelah tangannya yang lain diletakkan di atas dahinya, rupanya dia sedang mengukur suhu tubuhku, meniru caraku mengukur suhu tubuhnya ketika dia sedang demam.

“Wah, Mama panas sekali!” Serunya sambil melepaskan tangannya dari dahiku. Dia nampak tertegun sebentar, seperti sedang memikirkan sesuatu. Melihat tingkahnya aku hanya tertawa dalam hati. Aku ingin meraihnya dengan tangan kiriku tapi dia bergerak lebih cepat, dan sebelum aku sempat menggerakkan tanganku dia sudah meloncat turun dari sofa, aku menahan nafas sejenak, hampir saja dia terjatuh, tapi dia mampu menjaga keseimbangannya dan berlari meninggalkanku entah ke mana. Kubiarkan saja dia pergi, barangkali dia kembali bermain. Lagipula aku terlalu lemah untuk bangkit dan meninggalkan sofa yang nyaman ini.

Aku hampir menutup mataku saat kudengar suara cadelnya memanggilku, “Mama bangun, ayo minum ini dulu!” Kulihat dia membawa segelas susu dalam gelas plastik, disodorkannya susu itu kepadaku. Ternyata dia meniruku yang selalu membuatkan segelas susu hangat saat dia sakit. Aku menatap sesaat susu yang diberikannya, masih ada bubuk susu yang menggumpal, tidak sepenuhnya larut. Rupanya dia membuatkanku susu dengan air dingin, karena dia tahu dia tidak boleh menyentuh air panas. Aku memang melarangnya bermain-main dengan air panas, itu bisa melukainya.

Tanpa berpikir panjang segera kuambil gelas palstik itu dari tangannya lalu kehabiskan susu itu dalam sekali teguk. Jangan tanya seperti apa rasanya, kurasa semua orang tahu bagaimana rasanya susu dingin yang tidak larut seluruhnya.

“Mama, bagaimana rasanya? Enak ya, enak ya? Fany buat sendiri khusus untuk Mama. Mama cepat sembuh ya…” Suara riang puteri kecilku terdengar di telingaku. Dan ketika aku meletakkan gelas itu di atas meja kulihat mata bulatnya menatapku menunggu jawaban yang keluar dari mulutku.

***

Sebuah sharing dari Ibu Mercy Matakupan saat beliau berkotbah di gerejaku. Sejujurnya aku lupa kotbahnya berbicara tentang apa, namun sharing beliau membuatku berpikir. Ibu Mercy menutup sharingnya dengan melontarkan sebuah pertanyaan, bagaimana dia harus menjawab pertanyaan puterinya itu, apakah menjawab dengan jujur meskipun hal itu akan melukai hati puterinya ataukah berbohong untuk menghargai tindakan yang dilakukan puterinya. Dan aku sendiri tak tahu harus memilih jawaban yang mana…

Salahkah aku…

Salahkah aku jika aku tak memiliki tempat untuk kusebut ‘rumah’, bagiku bangunan yang mereka sebut rumahku adalah medan pertempuran ayah dan ibu…

Salahkah aku jika laki-laki yang kupanggil ‘ayah’ mencari daun muda karena daun yang bertahun-tahun menemaninya tidak sehijau saat pertama kali dipetik…

Salahkah aku jika perempuan yang mereka bilang melahirkanku rela meninggalkanku demi emas dan berlian buah tangan dia yang bernama ‘ketenaran’… 

Salahkah aku jika otakku telah tewas dalam rumah medan pertempuran yang senantiasa kuhadapi sehingga tinta semerah darah mengucur membasahi kertas-kertas ujianku…

Salahkah aku jika guru-guruku memberikan alamat palsu kepadaku sehingga tiap kali kucari mereka yang kutemui hanyalah kursi kosong di ruang guru…

Salahkah aku jika sekumpulan orang-orang yang menyebut diri mereka ‘teman’ hanyalah orang-orang yang bermulut manis namun berhati pahit…

Salahkah aku jika dia yang kau katakan sahabatku ternyata tak ubahnya manusia bermuka dua yang mengirisku tipis-tipis di belakangku…

Salahkah aku jika orang yang bersamanya aku berharap untuk menghabiskan sisa hidupku mencampakkanku begitu saja karena aku belum siap menghadapi orangtuanya…

Salahkah aku jika aku menikmati perhatian yang kudapatkan di luar gerbang sekolah dari mereka yang kau sebut gembel, anak jalanan…

Salahkah aku jika sebatang rokok menjadi teman yang setia di kala suka dan duka, selalu menghiburku lewat kesunyian yang kunikmati…

Salahkah aku saat kukembalikan dompet yang kutemukan di jalan namun ibu pemiliknya malah meneriakiku ‘maling’ dan hampir saja aku mampus di tangan sekelompok orang yang mengatasnamakan hukum demi memuaskan hasrat mereka menghajar tubuh kurusku…

Salahkah aku saat kutemukan sebuah dompet namun tak kukembalikan meskipun identitas pemiliknya masih tertinggal di sana karena aku tak ingin bernasib naas seperti waktu itu…

Salahkah aku karena aku memilih menikmati hidup yang kujalani sekarang, bebas, lepas, tak peduli pada mereka yang bernama ‘norma’ dan ‘hukum’…

Katakan kepadaku apakah salahku sehingga kau memandangku seolah-olah aku adalah pelaku kejahatan kelas kakap, padahal aku hanyalah seorang korban…

Aku adalah satu dari sekian banyak korban situasi yang tak bersahabat, keluarga yang tak harmonis, dan kehidupan yang kejam…