Menyikapi intoleransi

Akhir-akhir ini berita intoleransi menjadi topik yang sangat hot di berbagai media, terutama media sosial. Orang saling membenci satu sama lain atas dasar perbedaan. SARA kembali diangkat sebagai bahan bakar untuk menyalakan api intoleransi. Tak perlu rasanya saya mengungkit-ungkit berbagai kisah tentang intoleransi, toh berita-berita semacam itu marak lalu lalang di sekitar kita.
Berbicara tentang intoleransi, saya rasa tak perlu jauh-jauh mencari contoh di mana persengketaan terjadi atas dasar perbedaan. Persengketaan bisa juga muncul tanpa ada perbedaan, bahkan di komunitas yang homogen. Lihat saja keadaan di sekitar kita dan hidup kita sehari-hari. Bukankah perselisihan antar sahabat atau antar saudara yang notabene 99% seragam dengan kita sendiri juga sering terjadi. Memang sih hal-hal tersebut sifatnya tidak seekstrim berita-berita yang sedang marak sekarang, tetapi tetap saja terjadi perselisihan, konflik yang berakibat timbulnya kebencian satu sama lain.
Suka atau tidak, pada kenyataannya akan selalu ada orang yang tidak suka dengan kita. Tak perlu jauh-jauh mencari perbedaan, kita mulai dari hal yang sederhana, yaitu perbedaan pendapat. Setiap orang berhak memiliki pendapat masing-masing dan perbedaan pendapat adalah hal yang biasa. Yang terjadi selanjutnya adalah perbedaan tersebut menjadi dipermasalahkan. Kembali lagi, hal ini juga wajar. Anda liat polanya? Ada perbedaan yang biasa lalu dijadikan masalah dan menimbulkan konflik yang berujung pada hubungan yang tidak baik, katakanlah saling membenci satu sama lain.
Kembali soal menyikapi konflik dan ketidaksukaan orang lain. Menurut saya, tak perlu membalas permusuhan dengan permusuhan. Hal itu tak ada habisnya dan justru membuat hubungan yang sudah rusak menjadi semakin rusak. Jika memang karena permasalahan yang sepele lalu membuat orang lain memusuhi kita, tak perlu balik memusuhinya, melainkan tetaplah bersikap baik kepadanya. Dengan melalukan hal itu kita telah menunjukkan kedewasaan yang tidak dimiliki oleh orang itu. Orang yang dewasa mampu membedakan mana hal yang penting dan yang tidak penting untuk dikerjakan.
Memang sih, kadang tidak mudah menahan diri dan emosi, tetapi bukankah hal itu merupakan proses menuju pribadi yang dewasa. Finally, menurut saya dalam menyikapi intoleransi atau konflik apa pun tak perlu tersulut oleh tindakan orang lain. Tetaplah bersikap baik dan membagikan kebaikan kepada sesama. Selamat menjadi orang dewasa…

Advertisements

Not about Tolikara

Menyedihkan, itulah yang terlintas di pikiran saya saat mendengar berita tentang kericuhan yang terjadi di Tolikara, Papua. Sampai saat ini telah berkembang banyak versi mengenai kejadian tersebut, mulai dari berita yang intens ditayangkan di TV maupun yang beredar di sosial media.

Anyway, I don’t want to comment. Skeptis dan tidak mudah percaya adalah salah satu sikap yang harus dipegang oleh scientist. Mengenai berita yang beredar, saya tidak tahu yang mana yang dapat dipercaya. Harus dibuktikan dulu kebenarannya, dan kebenaran itu tidak boleh diputarbalikkan. Well, seorang teman yang memang bergerak di bidang media pernah memberitahu salah satu peran media adalah menggiring opini publik. That’s why I choose not to believe.

Sudahlah, bukan poin itu yang mau kubahas. Hal yang memprihatinkan adalah kejadian tersebut terjadi saat hari raya Idul Fitri. Entah apa motif dan siapa pelaku intelektualnya, biar yang berwenang saja yang berkomentar. Hanya saja, apa ya, sungguh kasihan orang-orang yang menggunakan hal itu, agama sebagai alat untuk memuaskan kepentingan pribadinya. Banyak terjadi kekerasan atas nama agama yang sebenarnya dilatarbelakangi oleh motif yang tidak jelas dan ujung-ujungnya hanya menimbulkan pertikaian dan kebencian antar umat beragama. Jujur saja ya, memangnya kalau berbeda agama apakah berarti selalu tidak sejalan, dan apakah kalau seagama selalu seiya sekata. I don’t think so. Pengalaman dan pengamatan berkata lain. Konflik itu terjadi karena perbedaan kepentingan dan hal-hal lain hanya dipakai sebagai senjata dalam menarik dukungan atau pembenaran atas egoisme pribadi.

Sempat terlintas dalam pikiran, bagaimana jika yang namanya agama itu tidak diadakan, barangkali dunia akan jadi lebih baik. Tapi hal itu tidak menjadi jaminan. Sebenarnya bukan agama nya yang salah tapi manusianya yang harus diperbaiki. Kemarin secara tidak sengaja saya menonton scene film Assalamualaikum Beijing, nggak sengaja nonton sih, pas pencet tombol remote control muncul adegan itu di layar TV, ketika Revalina ngobrol dengan Morgan, membicarakan masalah agama. Bukan agamanya yang salah, tetapi manusianya. Kalau tidak ada agama, bisa jadi keadaannya akan jauh lebih buruk. Kurang lebih seperti itu isi dialog dan poin yang kutangkap. Personally, I’m totally agree. Cuma nggak tahu gimana membenahinya lagi, secara alat yang seharusnya dipakai untuk membenahi malah dimanfaatkan sebagai mainan untuk membuat tambah rusak.

Kembali lagi mengenai kejadian di Tolikara, aku nggak tahu yang mana yang bener, bagaimana kejadian sebenarnya dan siapa aktor intelektualnya. Saling menyalahkan dan membenci adalah jerat yang sengaja dipasang. Tidak perlu terjebak. Justru orang yang menebar itu patut dikasihani dan semoga diampuni karena telah bermain-main dengan hal yang sakral.