On the way 4

Dalam suatu perjalanan meeting, biasa namanya juga karyawan sok sibuk, meeting ke sana ke mari hehehe. Ceritanya waktu itu aku lagi duduk manis di KRL, bagi yang nggak tahu KRL tu kereta commuter line yang baru tersedia di JABODETABEK. Maklum namanya juga karyawan, buruh, nggak sanggup kalau nyicil motor gede, jadi ke mana-mana cukup naik angkutan umum. Nah di KRL itu aku mendengar dan melihat sesuatu yang agak unik. Seorang anak kecil yang kebetulan duduk di depanku sedang makan permen dan membuang bungkusnya ke lantai. Melihat hal itu, seorang ibu paruh baya yang duduk di sebelahku menegur anak itu agar mengambil bungkus permennya dan membuangnya nanti di tempat sampah, jika sudah turun dari KRL. Anak itu dengan patuh, dan dengan wajah nggak enak memungut kembali bungkus permennya dan menggenggamnya erat-erat. Beberapa menit kemudian, beberapa sobekan bungkus itu terjatuh dan ketika anak itu berniat memungut kembali, ibunya, ibu si anak itu berkata, “Sudah biarkan saja!”

Ironis bukan, justru orang tua si anak itu mengajarkan anaknya untuk tidak melakukan hal yang benar, sementara orang lain yang mengajarkan apa yang benar, eh malah oleh orang tuanya sendiri ajaran itu dipatahkan. Yah itu adalah salah satu bentuk wajah di negeri ini, yang aku yakin dimiliki oleh hampir semua orang.

Kemudian perhatianku beralih ke telingaku, aku mendengarkan, untuk dicatat ya mendengarkan bukan menguping, meskipun sebenarnya sama saja sih intinya hahaha… Aku mendengarkan ibu paruh baya yang menegur anak itu berbincang-bincang dengan ibu yang duduk di sebelahnya. Ibu itu menjelaskan bahwa dia suka mengajar anak kecil, dan bahwa pendidikan anak itu harus dimulai sedini mungkin supaya ketika mereka dewasa, mereka menjadi orang yang benar.

Kedua ibu itu melanjutkan perbincangan mereka dengan mengambil contoh orang Indonesia ketika berada di Singapura, orang itu bisa taat hukum, mereka menyeberang di zebra cross yang disediakan, tidak seperti di negaranya sendiri, menyeberang seenaknya saja, melanggar rambu-rambu lalu lintas. Ibu itu mengatakan dia bisa tahu bahwa mereka adalah orang Indonesia karena mereka bercakap-cakap dalam bahasa Indonesia. Mereka menyimpulkan bahwa orang itu patuh kepada hukum, karena di luar negeri hukum diberlakukan dengan tegas, tidak seperti di Indonesia. Tragis bukan, itulah salah satu wajah negeri ini yang dikenakan oleh hampir seluruh penghuni negeri ini.

Advertisements

Rainy day…

Aku berdiri di emperan ruko yang sudah tutup, tubuhku mengigil kedinginan. Malam ini hujan turun deras sekali. Sejak tadi aku berlari ke sana kemari mencoba mencari tempat berteduh, akhirnya aku berhasil mendapatkan tempat ini. Aku berharap kali ini aku tidak diusir, seperti tempat-tempat yang barusan kudatangi. Aku selalu mendapatkan bentakan dan usiran. Aku hanya ingin berteduh, apakah orang-orang itu tak tahu. Aku bukan maling, aku tidak berniat mencuri dari toko mereka. Barangkali mereka menganggap kehadiranku menganggu, menganggu calon pembeli yang akan datang. Memang aku hanya anak jalanan, yang berpakaian kumal. Tapi aku juga manusia sama seperti mereka.

 Aku duduk menekuk kakiku, kupeluk lututku berharap mendapatkan sedikit kehangatan. Dari balik pintu besi ruko ini kudengar suara-suara tawa ceria. Aku iri. Aku ingin merasakan kehangatan, kehangatan keluarga. Kutendang pintu besi ruko itu keras-keras beberapa kali, melampiaskan kekesalanku. Tapi rupanya tindakanku ini menganggu pemiliknya. Pintu itu terbuka. Kuharap aku akan mendapat sedikit belas kasihan. Namun apa yang kudapati, yang kudapati hanyalah tatapan mata tajam seorang ibu paruh baya. Kemudian dia menutup pintu itu dengan kasar.

Apa salahku? Apakah aku salah mengharapkan segelas susu hangat untuk menghangatkan tubuhku yang mengigil kedinginan. Sejak tadi pagi aku belum makan, perutku keroncongan, bahkan kini tubuhku menggigil karena kehujanan. Kembali kutendang pintu ruko itu. Aku ingin berteriak, beriakan aku sedikit makanan. Aku lapar, aku kedinginan, tidakkah kalian peduli kepadaku.

Kembali pintu itu terbuka, aku bergegas mendekat, berharap akan mendapatkan setidaknya sedikit makanan, biarpun mereka melemparnya aku akan tetap memakannya seperti seekor anjing yang kelaparan. Aku memang kelaparan, dan kedinginan. Tapi apa yang kudapati, kali ini ibu itu tak sendirian, di sampingnya muncul sesosok laki-laki paruh baya, kuduga dia adalah suami ibu itu, dan di tangan laki-laki itu ada sebuah balok kayu. Apakah orang ini berniat memukulku? Aku sudah pernah merasakan pukulan dan aku tidak mau merasakannya lagi. Kulihat ibu itu tampak berusaha menahan suaminya yang menggenggam kayu itu erat. Sepertinya aku sudah bisa me nduga apa yang akan terjadi. Tanpa pikir panjang aku segera berlari meninggalkan tempat itu.

Kini aku tahu aku takkan pernah mendapatkan belas kasihan. Tak ada yang namanya belas kasihan di dunia ini. Tak ada manusia yang masih memiliki hati. Aku benar-benar diperlakukan seperti binatang. Kehadiranku tak diinginkan, bahkan aku hampir saja dipukul. Cara mereka mengusirku sama seperti mengusir anjing, atau kucing, bukan seorang anak manusia. Aku tak tahu harus ke mana lagi. Aku tak punya tempat untuk dituju. Aku hanya berlari menerobos hujan dengan tubuh mengigil kedingina dan perut kelaparan, tanpa menyadari sepasang mata sedang mengawasiku dari balik pintu besi yang dingin…

Salahkah aku…

Salahkah aku jika aku tak memiliki tempat untuk kusebut ‘rumah’, bagiku bangunan yang mereka sebut rumahku adalah medan pertempuran ayah dan ibu…

Salahkah aku jika laki-laki yang kupanggil ‘ayah’ mencari daun muda karena daun yang bertahun-tahun menemaninya tidak sehijau saat pertama kali dipetik…

Salahkah aku jika perempuan yang mereka bilang melahirkanku rela meninggalkanku demi emas dan berlian buah tangan dia yang bernama ‘ketenaran’… 

Salahkah aku jika otakku telah tewas dalam rumah medan pertempuran yang senantiasa kuhadapi sehingga tinta semerah darah mengucur membasahi kertas-kertas ujianku…

Salahkah aku jika guru-guruku memberikan alamat palsu kepadaku sehingga tiap kali kucari mereka yang kutemui hanyalah kursi kosong di ruang guru…

Salahkah aku jika sekumpulan orang-orang yang menyebut diri mereka ‘teman’ hanyalah orang-orang yang bermulut manis namun berhati pahit…

Salahkah aku jika dia yang kau katakan sahabatku ternyata tak ubahnya manusia bermuka dua yang mengirisku tipis-tipis di belakangku…

Salahkah aku jika orang yang bersamanya aku berharap untuk menghabiskan sisa hidupku mencampakkanku begitu saja karena aku belum siap menghadapi orangtuanya…

Salahkah aku jika aku menikmati perhatian yang kudapatkan di luar gerbang sekolah dari mereka yang kau sebut gembel, anak jalanan…

Salahkah aku jika sebatang rokok menjadi teman yang setia di kala suka dan duka, selalu menghiburku lewat kesunyian yang kunikmati…

Salahkah aku saat kukembalikan dompet yang kutemukan di jalan namun ibu pemiliknya malah meneriakiku ‘maling’ dan hampir saja aku mampus di tangan sekelompok orang yang mengatasnamakan hukum demi memuaskan hasrat mereka menghajar tubuh kurusku…

Salahkah aku saat kutemukan sebuah dompet namun tak kukembalikan meskipun identitas pemiliknya masih tertinggal di sana karena aku tak ingin bernasib naas seperti waktu itu…

Salahkah aku karena aku memilih menikmati hidup yang kujalani sekarang, bebas, lepas, tak peduli pada mereka yang bernama ‘norma’ dan ‘hukum’…

Katakan kepadaku apakah salahku sehingga kau memandangku seolah-olah aku adalah pelaku kejahatan kelas kakap, padahal aku hanyalah seorang korban…

Aku adalah satu dari sekian banyak korban situasi yang tak bersahabat, keluarga yang tak harmonis, dan kehidupan yang kejam…

I’m crazy

Aku orang gila, barangkali itulah anggapan orang-orang semua saat melihatku..

Orang-orang itu mencibir saat berjalan melewatiku, dan aku berani bertaruh dalam hati mereka mengataiku..

Tapi apakah aku benar-benar gila, siapakah yang sesungguhnya benar-benar gila?

Orang-orang berdompet tebal yang rela menghabiskan uang ratusan ribu demi sepiring nasi di sebuah kafe bernama, yang seringkali tak pernah dilahap sampai habis…

Orang-orang bermobil mewah dengan banyaknya rumah mewah yang tertulis atas namanya namun berstatus kredit…

Orang-orang berjas yang duduk di kursi-kursi empuk pemerintahan yang korupsi dan memakan hak rakyat kecil sepertiku…

Orang-orang bergelar sarjana hukum yang menggunakan hukum untuk mempermainkan rakyat kecil dan miskin…

Anak-anak sekolah putus asa yang rela menyerahkan perjuangannya selama ini kepada selembar kertas yang berstatus bocoran soal UAN…

Tante-tante pengangguran yang rela menghabiskan waktunya berjam-jam di salon demi mencari cara untuk mengelabuhi usia mereka yang semakin mendekati penghujung…

Om-om paruh baya yang rela menukarkan kebahagiaan rumah tangganya selama puluhan tahun dengan petulangan sex semalam di hotel berbintang dengan perempuan tak bernama…

Gadis-gadis remaja yang dengan senang hati menjual keperawanannya yang tak ternilai demi memuaskan keinginan mereka akan barang-barang yang sedang trend…

Para orangtua yang tega membiarkan anaknya mencari sesuap nasi di jalanan bersama ratusan kendaraan yang bisa melindas tubuh mungil mereka…

Orang-orang kehilangan harapan yang memilih jalan pintas memutuskan benang kehidupan mereka sementara ada ribuan orang yang berusaha keras berjuang untuk menang melawan kematian…

Orang-orang yang rela membunuh saudaranya karena perbedaan di antara mereka dan tak sejalan dengan kepentingan pribadinya…

Siapakah yang benar-benar gila sekarang? Aku ataukah salah seorang dari kalian? Bisa jadi sebenarnya aku lebih waras dari kalian…