Learning from a game ;)

Untitled-1

Those are some scenes from Brave Story game. Never did I imagine to get these sentences from a game. You know, I was fail in my job recruitment and I blamed myself for it. If I have tried harder, maybe I would have got the job. Nevertheles, I can’t change the fact that I was fail.

I was mad at myself for sometime, but it wouldn’t get me better. It just made me tortured indeed. Finally, my friend told me that I had a choice to weep myself or to leave everything behind and take a step forward.  I know, it is not easy. At first, it was really hard for me to stop weeping myself, but in the end I chose to move on.

Sometimes I still feel sad for my failure, but on the other hand I have to convince myslef that everything will be ok. I believe everything happens for my sake. That’s why I have to continue my life with a big smile.

Wanita itu #3

Kupelankan laju motorku saat mataku menangkap pemandangan yang tak biasa. Di tepi jalan sana kulihat seorang wanita paruh baya, mungkin usianya sekitar 30 hingga 40 tahun, berjalan dengan cara yang tak lazim. Alih-alih berjalan dengan kedua kakinya, wanita itu justru menggunakan seluruh tubuhnya untuk berjalan. Ya dia berjalan dalam posisi duduk. Sepintas kuamati cara berjalan wanita itu, tapi aku tak bisa berlama-lama mengamatinya. Ada banyak kendaraan lain di sekitarku dan akan sangat berbahaya bagiku dan bagi pengendara lainnya kalau aku kehilangan fokus pada jalanan di depanku.

Singkat cerita aku meninggalkan wanita itu dengan pergulatan nya dan tiba di tujuan. Ya, tujuanku hari itu adalah memotong rambut di salon. Entah berapa lama sudah aku menanti giliran, rasanya lama sekali. Untuk mengusir rasa bosan aku melayangkan pandangan keluar jendela. Wanita itu, aku kembali melihat wanita itu berjalan dalam duduknya. Kuamati wanita itu lebih seksama. Dia berjalan dengan mengangkat bagian bawah tubuhnya ke depan sedangkan kedua tangan bertumpu ke tanah untuk menopang tubuh ringkihnya. Setelah dia mendaratkan tubuh bagian bawahnya barulah dia mengangkat tangannya maju. Sungguh sebuah perjuangan untuk bisa bergerak dengan cara seperti itu. Aku tak tahu berapa lama waktu yang dibutuhkan bagi wanita itu untuk berpindah tempat dari satu tempat ke tempat lain.

Aku terus mengamati wanita itu. Kini dia berhenti sejenak. Dia melepaskan sandal japit yang digunakan di tangan untuk melindungi tangannya ketika menyentuh jalanan yang panas, kemudian dia menyeka peluh yang membasahi dahinya dengan tangan yang telanjang. Aku tahu pasti berat sekali berjalan seperti itu di bawah matahari yang bersinar terik seperti saat ini. Beberapa menit wanita itu berisitirahat. Kini dia memasang kembali sandal jepit ke tangannya, siap melanjutkan perjalanan. Aku terus mengamati wanita itu hingga dia hilang dari pandanganku.

Dalam jangka waktu yang selama itu dia hanya bergerak sejauh beberapa meter. Hatiku terenyuh memikirkannya. Ada rasa kasihan, sedih, bercampur syukur dan kekaguman. Melihat wanita itu aku bersyukur karena nasibku jauh lebih beruntung. Aku masih memiliki tubuh yang lengakp. Namun, aku juga merasa kasihan dan sedih melihat apa yang dialami oleh wanita itu. Dalam hati kecil aku ingin membantu mengantarkan wanita itu, tapi apa yang dapat kulakukan? Membantunya berdiri saja aku pasti tak sanggup. Lagipula untuk orang seperti itu, maksudku mereka yang memiliki keterbatasan tapi tak mau menyerah, sebuah bantuan dapat saja dipandang sebagai sebuah bentuk meremehkan mereka. Di situlah aku merasa kagum atas tekad dan perjuangan wanita itu.

Aku tak sanggup membayangkan jika aku menjadi wanita itu. Bagaimana aku dapat berjalan dengan cara yang berat seperti itu? Bagaimana jika hujan lebat turun sedangkan aku tak memiliki tangan yang bebas untuk memegang payung? Aku juga tak mampu membayangkan bagaimana jika ada orang yang berniat jahat kepadaku. Aku tak dapat bergerak dengan cepat. Aku tak dapat berlari atau melindungi diri jika ada orang yang berniat merampokku. Entahlah aku tak sanggup berpikir lebih jauh lagi. Namun aku tahu satu hal bahwa wanita itu memiliki tekad yang kuat dan tak mudah menyerah meski hidup yang dijalaninya sangat berat.

Wanita yang kulihat hari ini mengajarkanku untuk tak mudah menyerah. Setiap orang pasti memiliki kesulitan dalam hidupnya masing-masing. Apa pun bentuk kesulitan yang kita alami, aku percaya Tuhan pasti menyediakan kekuatan untuk menanggungnya. Jangan mudah menyerah dalam hidup ini. Di luar sana ada orang lain yang mungkin menanggung beban hidup yang jauh lebih berat tapi mereka tak menyerah.

Stop being a glass

A teacher comes to his student. He is wonder because his student always has been sad recently. “Why are you sad, son? There are a lot of beautiful things in this world, aren’t they? Where has been your happy face gone?”

“Teacher, my life has been full of problems recently. It has been hard for me to smile. The problems seems always come to me. They have never ended.” The student answers him.

Listens his student answer, the teacher suddenly laughs. “Son, bring me a glass of water and two spoons of salt. I will make your heart calms.”

The student goes and does as his teacher asks him. He comes back with the glass and salt.

“Please take a spoon of salt and put it into the glass,” the teacher orders him. “Then you can drink the water.”

The student does it. His face changes when he drinks the salt water.

“How was it?” the teacher asks him.

“It was salty,” the student answers him.

“Now, follow me!” The teacher walks to the nearby lake.

“Take the rest of salt and sow it to the lake.”

The student sows the salt to the water. The salty taste in his mouth is still there. Even he wants to spit it, he can’t do it. Doing such thing in front of his teacher is impolite.

“Now, you can drink water from the lake,” the teacher orders him. The he looks for a big stone for sitting on the lakeside.

The student cups his hands and takes water from the lake then he drinks it. When the fresh water flows through his throat, the teacher asks him, “How is it?”

“It’s very fresh,” the student answer him while he wiping his mouth. The water flows from the top of hill and it goes to the river below. It also gets ride of the salty taste in his mouth.

“Do you taste the salt that you have just sowed?”

“Not at all,” the student answers his teacher. Then he takes water again and drinks it. Seeing his student’s behavior makes the teacher smiles.

“Son,” the teacher says to his student after he finished drink. “All of your problems are like a spoon of salt. It’s only a little. The problems and sufferings that you have to face have been arranged by God for your sake. Each of us has to face our own problems. No one frees from it.

The student listens quietly. “But son, the salty taste of the sufferings is depends on your heart. You can choose to be a glass or a lake. I hope you can make your heart as wide as a lake…”

Whether it was good or bad, it’s only God who knows…

Once upon a time, there was an old farmer that lived with his only son. They lived in a village near a forest. Beside the farm, they also had a horse. The farmer’s son used it to help him plowed the farm. One day, the farmer’s horse ran into the forest because the farmer’s son forgot to close its stall. Knowing what happened, the farmer’s neighbor come to console him. They said, “We feel sorry for your house. It was a bad thing for losing your only horse. Now, you and your son have to work harder without a horse for helping.” Listening his neighbor, the old farmer only said, “Whether it was good or bad, it’s only God who knows…”

Few days later, the farmer’s horse came back from the forest. Of course the farmer and his son very happy for getting their horse back. But this time, it didn’t come back alone. The horse brought three wild horses back with it. The farmer’s neighbor came again when they heard the sound of horses was running on the farm. They said, “It was a bad thing when your horse ran into the forest, but now you get four horses. You’re very lucky. Maybe losing your horse brought you good sake. If it didn’t run, you will only have one horse.” Again, the old farmer said, “Whether it was good or bad, it’s only God who knows…”

The day after it, the old farmer asked his son to tame the wild horses, so they can use them to plow the farm. Taming wild animal was the farmer’s son ability. But when taming the last horse, it ran wildly and throw the farmer’s son. Fell from the horse made his arm broke and he had to take a rest for a while until his arm healed. The farmer was so sad. His son couldn’t help him worked on the farm. After heard the accident that happened to the farmer’s son, his farmer neighbor came again. They said, “Your horse came back and brought wild horse was a horrible thing. Look at your son, now he gets his arm broke. It was a bad thing happened to you and your family.” The farmer, for the third time said, “Whether it was good or bad, it’s only God who knows…”

One week later, the soldiers from palace come to their village. The soldiers took the village boys and sent them to warfare, because that time their country was in war and they had already lost many soldiers. When the soldiers came into the old farmer house, they found a young man on the bed because his arm was not yet healed. The farmer’s son condition made the soldiers left him in his house. They didn’t need the sick people. The farmer’s neighbor came and crying because the soldiers brought their sons. They said, “You are very lucky. It was a good sake when a wild horse throw your son and the accident brought his arm broke. If your son is healthy now, the soldier will take him and send him to war.” The old farmer, as usual said, “Whether it was good or bad, it’s only God who knows…”

Well, the story just simply teach us not to judge the condition that we get base on our mind. Actually, we never know where will live bring us. Whether it is a bad thing or good one, we get no idea at all. It is only God who create everything knows. And I believe everything happened in our life is for our sake.

A little thing in my head…

As a human being, worrying is part of my life. Do not know what will be happened tomorrow get me really fear. I’m categorized to man who always plans everything perfectly before doing something. That’s why do not know what is going to come really makes me powerless. I don’t know what will I do tomorrow, what kind of job will I get, will I be able to get job that I wanted, will I get my dream comes true, and there are still many things that I get in my head, the things that I have no idea at all.

You know, it is true that as human being, we have many things we worry. We worry much about the future. I think it’s ok. Everyone has their own struggle about their life and their future. But something that suddenly slips into my head is what I need, the Lord will provide them. Wherever it is according with our will or not, it’s a different case, but I’m totally believe Lord will give the best for us. There’s nothing that He won’t give to us. Even His life, it was granted for us. Jesus gave everything He had. He left His throne in heaven for us. Whatever He did, He did it for us. Until the end of His life, He gave His life for us, for saving us from eternal death. I think it’s more than everything we ever asked and imagine.

That consciousness makes me realized that there is nothing in this world worthy enough to be worried. The Lord will provide us, everything we need, it has be given to us. You just need to believe and trust Him. Job, livelihood, money, husband/ wife, kids, all of them are small matters for God. Since He has given His life, the most precious one for us, there is nothing that He will not give to us, but we have to remember as long as it’s for our own sake.

Finishing my writing, I want to give thanks to Jesus for His love. And one another thing, try not to worry too much. He’s here with us and He will help us and provide us. Have a meaningful Good Friday…

good-friday-poster-2011-color

My daughter

“Mom, today Miss Clara told us about what would we do when we grow up…” said Diana, my daughter when we are going to home for her school.

“Aha. Mommy is wondering what is it…” I said to her without release my eyes from the street in front of me. I’m not a good driver and I have to drive carefully.

“I said that I want to be a nurse. She answer me happily, “and Laura could be the doctor…” she added it.

Her answer disturbs me. I go along the side of road and stop my car. I’m not a good driver, I repeat it and I can’t speak seriously while driving.

“Baby, why did you want to be nurse since Laura be doctor. I think you could be a doctor too.”

“But Mom, why should I be a doctor?”

“Dear, look at Laura. She wanted to be doctor. It’s ok for you to be doctor. You know, doctor is greater than nurse. Doctor can heal wounded person. It’s so cool…”

“But Mom, there is no job that greater than the other. I think all of them are same. Nurse is cool too. If everyone wants to be doctor, then who will be the nurse, since we need her to.” Said Diana calmly.

For the second time, her answer makes me really uncomfort. Honestly, she is right. All of jobs are same and we need them. Ok, maybe we think that one job is greater than the other one, in my daughter’s case it is doctor greater than nurse, but we can’t erase nurse. Instead, we need her too.

“Mom…” Diana calls me.

“Ok sweetie, you are right. I was wrong. You can be nurse. Nurse is wonderful too. Let’s continue our journey to home…”

**

Realized it or not, parents teach their kids to be greater than others. As parents, we want our kids be the number one, have many skills, be the winner. Maybe it is not absolutely our fault. We are the product of our parent’s will. That’s why we do the same to our kids.

Everyone is unique. Each of us has a certain place in the universe. Like a puzzle, each piece is part of the big picture. No piece that is better than the others. Each of them is same. No matter how bad its shape, still it is needed to make the puzzle perfect.

Inspired from my friend’s sharing post..

 

4 years – 4 tahun

Suara detuk sepatu high heels Ratna beradu dengan lantai terdengar saat wanita cantik itu melangkah memasuki kafe. Denggan anggun dia melepas kacamata hitamnya dan mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kafe, mencari sosok yang dikenalnya. Seulas senyum tipis menghiasi wajah wanita berambut pendek itu saat matanya menangkap seorang wanita berambut ikal dengan make up tebal menghiasi wajahnya melambaikan tangan. Tanpa membuang waktu lebih lama lagi, Ratna bergegas menghampiri meja di mana wanita itu sedang duduk bersama seorang laki-laki.

“Maaf ya, aku telat…” kata Ratna begitu dia meletakkan pantatnya di samping wanita bermake up tebal yang melambaikan tangannya tadi. “Sudah lama kalian di sini?”

“Aku juga barusan kok Na,” sahut wanita yang duduk di sebelah Ratna. “Roy yang nongol duluan.” Wanita itu mengarahkan pandangannya ke arah laki-laki berambut cepak yang duduk di seberang mereka.

“Ya ya ya… sudah biasa aku nunggu kalian…” jawab Roy dengan nada sebal.

“Apa kabar Roy? Wah kamu nggak berubah ya, tetep sama seperti dulu…” Ratna menyapa laki-laki itu. Belum sempat Roy membuka mulutnya, wanita bermake up tebal itu sudah terlebih dulu menyabotase Ratna, “Ya ampun Na, kamu nggak berubah ya, masih cantik seperti dulu…” ujar wanita bermake up tebal itu kepada Ratna, “Gimana kabarmu? Kapan kamu kembali ke Indo? Kamu sudah resign? Terus sekarang kamu kerja apa?” tanpa henti dia mencerca Ratna dengan berbagai pertanyaan, seakan tidak mengacuhkan Roy yang duduk di depan mereka.

“Sabar kenapa sih Des…” sahut Roy menyela rentetan kalimat yang keluar dari mulut Desi, wanita berambut ikal dengan make up wajah tebal itu. “Biar Ratna pesan dulu.”

Ratna tersenyum melihat tingkah kedua sahabatnya itu. “Kalian bener-bener nggak berubah ya, masih sama seperti dulu. Kamu masih tetap cerewet Des, dan kamu Roy, masih tetap sering berantem sama Desi …”

“Sudah kamu pesen minum dulu sana, sekalian lunch aja? Kami sudah pesen kok, tinggal kamu yang belum…” sahut Roy sambil melambaikan tangannya, memanggil pramusaji.

“Dan masih suka ngatur orang lain…” timpal Desi yang disambut gelak tawa Ratna. Senang sekali rasanya dia berkumpul dengan sahabat lamanya. Mereka bertiga sudah bersahabat sejak SMP. Namun ketika SMA Ratna melanjutkan sekolahnya di luar kota dan berpisah dengan kedua sahabatnya itu. Demikian juga dengan saat kuliah, Ratna mengambil kuliah di Singapura, sedangkan kedua sahabatnya itu memilih kuliah di Indonesia. Bisa dibilang ini adalah pertemuan pertama mereka secara langsung.

“Apa kabarnya kamu sekarang? Ayo dong cerita ke mana saja kamu selama ini. Pasti asyik ya kuliah di Singapur, tinggal di sana. Kamu di Indo sampai kapan? Mau balik Singapur lagi? Eh lalu suamimu gimana kabarnya? Kamu kok berani sih Na merit muda. Aku saja masih pikir-pikir kalau diajak pacaran serius, yah masih sibuk menikmati masa muda…” serbu Desi dengan suara cemprengnya begitu pramusaji meninggalkan meja mereka setelah mencatat pesanan Ratna.

“Pelan-pelan tanya nya, satu-satu napa?” tegur Roy memotong ucapan Desi.

“Hahaha…” Ratna tergelak menyaksikan ulah kedua sahabatnya itu. “Minggu depan aku balik ke Singapur. Ya gimana ya… dijalani saja sih Des. Nggak tahu juga. Semuanya terjadi begitu saja. Kalian sendiri gimana? Kamu bikin kue ya Des sekarang? Lalu Roy kerja apa?”

“Iya bikin kue, aku titip ke kenalan-kenalan. Lumayan sih. Banyak pesanan juga,” jawab Desi. “Kalau Roy tuh sekarang sibuk pacaran sama temen kantornya. Sudah naik pangkat makin sibuk dia kerja nyambi pacaran…”

“Wow Roy, kamu sudah punya pacar?” tanya Ratna kagum. Dia tahu betul untuk urusan memilih pacar, Roy sangat selektif. Waktu sekolah dulu cukup banyak gadis yang mendekatinya, tapi Roy sama sekali tidak melayani mereka. Mau fokus belajar, alasannya waktu itu.

“Cuma temen aja,” jawab Roy santai. “Si Desi yang lebai…”

“Temen tapi sering dianter jemput….” sindir Desi. Celoteh mereka terhenti saat pramusaji kafe menghidangkan pesanan mereka.

“Makan dulu,” ajak Roy tidak mengacuhkan Desi. Laki-laki itu mulai menyantap nasi goreng pesanannya. Ratna dan Desi pun mulai menyibukkan diri dengan makanan mereka masing-masing.

“Kamu gimana Na, nggak bareng sama suami?” tanya Desi begitu Ratna meletakkan sendok dan garpunya.

“Ohhh… nggak kok. Sendiri saja,” jawab Ratna setelah meminum jus jeruk yang dipesannya. Dia menarik nafas panjang sebelum membuka mulutnya, “Aku sudah pisah kok…”

“Ha??? Kok bisa Na? Gimana ceritanya?” tanya Desi spontan. Wanita berambut ikal itu menghentikan urusannya dengan piring dan sendok-garpunya lalu menatap tajam Ratna, sementara Roy masih tetap tenang meneguk teh manisnya. Roy memang sudah pernah mendengar hal itu dari Ratna saat mereka berbincang via BBM beberapa saat lalu.

“Yah memang mungkin lebih baik begini. Kami sudah nggak cocok. Sekarang hubungan kami sebagai teman jauh lebih baik daripada saat kami menikah,” jawab Ratna diplomatis.

“Kalian sudah menikah empat tahun kan?” kali ini Roy yang membuka mulutnya. “Apa nggak bisa dipertahanin?”

“Iya. Aku aja sampe kaget denger kamu merit Na,” sahut Desi. “Lulus kuliah kamu langsung merit. Muda banget. Aku aja sampai sekarang belum rencana merit.”

“Ya mungkin dulu aku terlalu cepat mengambil keputusan. Suamiku sering berbuat kasar,” jawab Ratna. “Dia suka memukulku saat kami bertengkar. Dia posesif dan suka mengekangku. Bayangin aja, kalau keluar sama teman, misalnya nih seperti sekarang saat aku jalan sama kalian, dia sering menelpon menanyakan aku sedang apa, dengan siapa, di mana, bahkan dia selalu minta bukti. Kadang aku sampai minta tolong temenku ngomong sama dia, untuk membuktikan kalau aku bener-bener jalan sama mereka. Dan nggak cuma berhenti sampai di situ saja, dia juga selalu ingin tahu apa yang aku omongin. Dia sampai minta aku cerita apa yang aku obrolin. Parah banget kan? Aku sampai malu sama temenku,” curhat Ratna panjang lebar.

“Ya ampun Na, kok bisa sih suamimu seperti itu?” tanya Desi singkat. Kali ini dia tidak mampu melontarkan kalimat yang panjang.

“Memangnya waktu kalian pacaran kamu nggak tahu kalau dia seperti itu?” selidik Roy.

“Ya aku tahu sih dia temperamental. Tapi selama kami pacaran, dua tahun kami pacaran, dia sama sekali nggak pernah mukul aku. Setelah menikah baru aku tahu kalau dia seperti itu. Dia itu selain suka mukul juga males banget. Pernah aku sakit dia sama sekali nggak mau nganter aku ke dokter. Akhirnya aku sampai berangkat sendiri. Katanya dia capek pulang kerja…” Ratna bercerita sambil mengingat masa lalunya.

“Ya ampun Na, sedih banget ceritamu. Kenapa kamu nggak langsung pisah aja sih kalau tahu dia nya seperti itu?” Desi menatap Ratna sedih.

“Ya, awalnya aku berharap dia akan berubah. Dua tahun setelah menikah, aku cerita ke orangtuaku, dan mereka pernah marahin dia. Setelah itu dia nggak pernah mukul aku lagi, tapi setiap kali dia marah dia masih saja ngancam aku. Bukannya aku nggak ingin pisah, tapi dia nggak mau. Aku selalu bilang kalau hubungan kita seperti ini lebih baik kita pisah saja, tapi dia berjanji mau memperbaiki diri. Tapi ya sama sekali nggak ada perubahan. Sampai akhirnya tahun keempat dia sendiri yang minta pisah. Itu pun aku yang ngurus semuanya. Bahkan aku yang keluar uang. Dia sama sekali nggak mau keluar uang. Katanya uangku lebih banyak. Gajiku lebih besar daripada dia…”

“Hebat ya Rat, kamu bisa bertahan sampai empat tahun…” hanya itu yang bisa keluar dari mulut Roy.

“Ya mau gimana lagi? Aku harus kuat ngejalanin semuanya itu…” jawab Ratna sambil tersenyum.

“Ya ampun Na, kalau aku jadi kamu, aku sudah minta pisah langsung!” kata Desi tegas.

“Tapi kamu nggak ada pikiran gimana gitu, pisah dari suami, jadi janda?” tanya Roy lagi.

“Ya ada sih. Aku juga mikir gimana nanti kalau aku pisah. Jadi janda pasti aku akan dicap negatif. Tapi ya ini hidupku. Aku yang ngejalanin, bukan orang lain. Selama empat tahun hidup sama suamiku aku belajar banyak, hingga aku berani mutusin untuk pisah. Terserah orang mau ngomong apa, mereka nggak tahu apa yang aku jalanin. Mereka nggak tahu rasanya jadi aku.” Ratna meneguk jus jeruknya. “Yang penting aku bahagia dengan hidupku sekarang dan aku nggak ngerugiin orang lain.”

“Aku salut sama kamu Na,” sahut Desi.

“Terus langkah kamu ke depan gimana?” tanya Roy. “Kamu masih mau balik ke Singapur?”

“Nggak. Aku mau ke Eropa. Aku mau sekolah lagi dan kerja di sana. Aku mau berusaha mengejar mimpiku. Aku punya mimpi untuk bisa sukses. Aku pernah berlibur ke sana, waktu aku stress dengan pernikahanku, dan aku punya beberapa teman yang baik. Di sana orang dihargai sesuai dengan kemampuannya, dan aku ingin membuktikan diriku, kalau aku bisa sukses.”

“Wow, kamu hebat Rat. Semoga kamu bisa sukses ya. Aku cabut dulu ya, mau balik kantor,” pamit Roy setelah melihat jam tangannya.

“Oh ya sudah. Aku juga masih ada urusan kok,” jawab Ratna. “Semoga kita bisa ketemu lagi dan ngobrol-ngobrol di lain waktu.” Dengan langkah tegap Ratna berjalan meninggalkan kafe, berpisah dengan sahabat-sahabatnya. Ya, ini hidupnya dan dia merasa senang dengan apa yang dijalaninya hari ini, termasuk bercengkrama dengan kedua sahabatnya. Jalan di depannya masih panjang dan dia harus terus melanjutkan hidupnya, menebus waktu empat tahun yang telah dihabiskannya bersama suaminya dan yang telah memberikannya pelajaran untuk menjadi wanita yang kuat, dirinya sendiri. Karena masa depannya ada di tangannya, dan dia sendiri yang memilih jalan mana yang akan ditempuhnya.

Inspired from true story of my friend…

dont-judge-me-for-my-choices-when-you-dont-understand-my-reasons