Maaf ya, alam…

Menjelang lebaran tahun ini, berita di TV selain dipenuhi oleh sajian mobil yang berderet di sepanjang jalan tol, juga disajikan ratusan orang yang terbengkalai di bandara. Erupsi Gunung Raung, itulah penyebab banyaknya calon pemudik yang sampai saat ini masih belum jelas nasibnya. Di tengah bencana erupsi tersebut, masih ada berita lain mengenai banjir di Aceh yang menenggelamkan pemukiman penduduk, lagi-lagi menghambat penduduk yang berniat mudik. O ya, jangan lupakan erupsi Gunung Sinabung yang sampai saat ini masih belum jelas bagaimana nasibnya.

Menyedihkan, itulah hal pertama yang terpikirkan begitu mendengar berbagai berita tersebut. Momen lebaran yang seharusnya dinikmati oleh keluarga harus dilalui dalam perasaan yang entah bagaimana menggambarkannya, saya sendiri juga tidak tahu. Satu hal yang saya pelajari dari kejadian tersebut adalah bagaimana alam membalas perlakuan manusia terhadapnya. Jika mau ditilik lebih lanjut, semua hal itu pasti ada sebab akibatnya. Memang tidak semua bencana alam terjadi akibat ulah manusia, tetapi manusia juga memiliki andil atas bencana yang menimpanya. Katakanlah, sudah tahu daerah gunung itu berbahaya, tetapi ya masih juga nekad bikin rumah di sana. Akhirnya mau tak mau harus menelan resiko kehilangan rumahnya.

Well, terlepas dari hal-hal yang tidak bisa kita kontrol, setidaknya masih ada yang masih dapat kita lakukan, yaitu meminta maaf kepada alam. Terdengar konyol bukan, tapi memang itulah yang seharusnya dilakukan. Manusia, disadari atau tidak mengeksploitasi alam demi memenuhi kepentingannya sendiri. Pernahkan terpikirkan, apa yang sudah kita berikan kepada alam yang telah menyediakan berbagai kebutuhan hidup kita. Salah satu contoh yang paling sederhana, apakah anda sudah membuang sampah pada tempatnya, atau asal lempar saja?

Melalui momen lebaran kali ini, ijinkanlah diri kita untuk bersilaturahmi tidak hanya dengan Tuhan maupun dengan keluarga, tetapi juga dengan seluruh ciptaan yang lain, termasuk alam. Alam juga diciptakan sama seperti manusia, dan memiliki hubungan timbal balik dengan manusia. Atas semua keegoisan manusia terhadap alam, saya rasa tidak ada salahnya meminta maaf. Perlu diingat bahwa bencana alam yang terjadi itu semua di luar kontrol manusia.

Selamat merayakan Idul Fitri, mohon maaf lahir dan batin. Atas tulisan-tulisan saya yang menyinggung, mengkritik, saya mohon maaf. Tidak ada maksud buruk, hanya sekadar berefleksi dan menunjukkan bahwa masih banyak kekurangan dalam diri manusia.

Mencintaimu itu…

Akhirnya sempat juga menuliskan lanjutan cerita yang sempat kutulis hampir dua tahun yang lalu. Yah hanya sekadar coretan waktu luang di tengah himpitan kesibukan…

**

Dona duduk terdiam sambil memandangi jari-jarinya yang terus bergerak-gerak di atas lututnya. Sepanjang perjalanan ke rumah Doni dia sudah mempersiapkan kata-kata yang akan dilontarkannya kepada cowok itu. Tapi kini mulutnya terasa kelu. Lima belas menit sudah Dona duduk diam di bangku taman. Sepeda motor gede berwarna hitam dengan dua helm tergantung pada kedua sisi stangnya terparkir rapi beberapa meter dari bangku itu.

Doni yang duduk mematung di samping Dona sepertinya juga tidak menunjukkan tanda-tanda akan membuka mulutnya. Dipandanginya beberapa pasang muda-mudi lain yang tengah menghabiskan waktu di taman itu. Sepasang muda-mudi tersenyum saat lewat di depannya. Mau tak mau Doni membalas senyum mereka, lalu kembali sibuk terdiam dengan pikirannya.

“Don…” ucap Dona dan Doni bersamaan. Persis seperti sketsa FTV ketika sepasang muda-mudi ingin mengungkapkan perasaan mereka.

“Emm kamu aja dulu…” kata Dona mempersilakan. Dalam hati dia mulai ragu, jangan-jangan Doni ingin mengakhiri hubungan mereka, meskipun sebenarnya mereka juga tidak pernah mengatakan secara resmi berhubungan. Lantas jika Doni ingin menginginkan hal itu untuk apa dia memakai kemeja berwarna biru yang dulu dibelikannya, pikir Dona. Seingat Dona, Doni sama sekali belum pernah memakai kemeja itu setiap kali mereka jalan bersama. Mungkin hanya kebetulan saja dia mengenakannya.

“Nggak apa-apa, ladies first,” sahut Doni santai, meskipun dadanya berdebar juga menebak apa yang kira-kira akan dikatakan Dona. Dona menarik nafas panjang. Doni memang seperti itu, dia selalu berusaha mengalah dan memprioritaskan Dona. Biasanya Dona senang diperlakukan seperti itu. Tapi kali ini lain ceritanya. Dona tidak mau mengungkapkan perasaannya kalau ujung-ujungnya Doni menghendaki hal yang berbeda.

“Emmm… gini Don…” Belum sempat Dona menyelesaikan kalimatnya, terdengar suara petir menggelegar. Langit sore itu yang tadinya cerah mendadak hitam pekat. Tak berapa kemudian hujan deras pun tiba-tiba datang tanpa diundang. Segera Doni melepas jaketnya dan meletakkannya ke atas kepala Dona. “Kamu lari dulu ke warung di depan sana, nanti aku susul. Aku urus motor dulu!” ujar Doni setengah berteriak di tengah derasnya hujan sambil menunjuk warung kaki lima yang berada tak jauh di depan mereka. Tanpa beradu mulut lagi, Dona segera mengikuti perintah lelaki itu.

“Sepertinya hujan ini akan lama. Deras sekali,” ujar Doni begitu dia selesai memarkirkan motornya di seberang warung. Tubuhnya basah kuyup, juga kemejanya basah di bagian bahu. Dengan tangannya lelaki itu berusaha menyeka air yang membasahi lengannya.

“Terima kasih, maaf jadi basah,” ujar Dona sambil menyerahkan tissue dan jaket Doni yang basah. Doni menerima tissue itu dan kembali menyeka lengannya, “Bisa tolong bawain dulu jaketnya?” Dona menangguk sambil kembali memegang jaket itu.

“Makan dulu yuk…” sahut Doni cepat. Dia segera menempati kursi di sudut warung. “Bang, nasi gorengnya dua, yang satu nggak pedes. Minumnya teh hangat sama jeruk hangat…” ujar Doni memesan makanan. Dia sudah hafal betul kalau Dona tidak suka makanan pedas.

“Sini aja Don…” ajak Doni menuju ke meja yang masih kosong. Dona pun mengekor lalu duduk di depan Doni. Kembali mereka terdiam beberapa saat lamanya, sementara gemuruh derasnya hujan di luar sana menjadi saksi kebisuan yang melanda pemuda pemudi itu.

“Romantis ya Don,” kata Dona mengomentari sepasang muda-mudi yang duduk di meja sebelah mereka, mencoba membuka pembicaraan. Penghuni meja sebelah itu tengah menyantap mie goring dalam sebuah piring bersama-sama. “Makan sepiring berdua…”

“Romantis apanya? Itu namanya kantung tipis…” sahut Doni datar seperti biasanya sambil sibuk mengeringkan bajunya. Kini tubuhnya sudah agak kering. Beberapa lembar tissue yang basah tergelak rapi di atas meja. Dona pun menarik nafas panjang sambil tersenyum simpul. Memang itulah Doni yang dia kenal. “Oh ya tadi gimana, mau ngomong apa?” pancing Doni membuat dada Dona yang telah rileks mulai kembali berdebar.

“Emmm… kamu… pantes kan pakai baju itu…” kata Dona sambil mengutuki kebodohannya dalam hati. Seharusnya bukan kalimat itu yang hendak diucapkannya.

“Oh… iya, bagus sih. Makasih ya sudah beliin… Sayang jadi basah begini,” ujar Doni sambil meletakkan tissue yang barusan digunakannya di atas meja bersama tissue-tissue lainnya.

“Kenapa kamu kasih jaketmu ke aku? Kan kamu yang jadi basah. Mana kamu masih bawa motor lagi…” omel Dona tiba-tiba. Sayangnya omelan itu terputus oleh datangnya pesanan mereka.

Doni menyodorkan jeruk hangat ke depan Dona sedangkan dia sendiri mengambil gelas teh hangat. “Ya masa aku biarin kamu kehujanan,” jawab Doni singkat dan lirih, selirih kehangatan yang tiba-tiba menyeruak di dalam dada Dona.

“Sudah, makan dulu Don…” kata Doni lalu memasukkan sesendok nasi ke mulutnya. Dona pun mengekor tingkah Doni. “Don, maafin aku ya…” kata Dona lirih pada suapan kesekian kalinya.

“Uhukkk!!!” Doni tersedak mendengar ucapan Dona, meletakkan sendok dan garpunya, lalu segera meraih gelas tehnya dan meneguk habis isinya.

“Nggak apa-apa Don?” tanya Dona khawatir.

“Hahaha… Don, Don…” Doni terbahak setelah mulutnya kosong. Dona pun memandang cowok di depannya itu dengan tatapan kesal. Rasanya tak ada yang lucu dengan kata-katanya.

“Sorry, sorry…” kata Doni yang mulai menangkap gelagat kesal Dona. “Aku nggak nyangka aja kamu akan ngomong seperti itu. Kupikir kamu mau ngomong hal lain. Ya aku jadi seneng aja…” jawab Doni spontan. Kegembiraan jelas terpancar di wajahnya. Mendengar hal itu dada Dona terasa lega. “Jadi aku dimaafin?” tanya Dona lagi.

“Aku juga yang salah sih…” tukas Doni. “Maafin aku ya Don…” kata Doni tulus. “Harusnya aku lebih memperhatikan kamu. Aku juga harusnya bisa lebih ngertiin kamu…”

“Nggak Don, aku juga harusnya nggak marah kayak gitu ke kamu. Padahal kamu sudah berusaha menjadi cowok yang baik buat aku. Aku tahu kamu memang seperti itu. Seharusnya aku lebih sabar menghadapi kamu. Kita memang berbeda. Aku juga nggak seharusnya memaksa kamu jadi seperti aku. Biar bagaimana pun aku tahu kalau kamu tetap care sama aku. Bahkan tadi kamu rela hujan-hujanan…” sahut Dona sambil menatap Doni. Sinar matanya memancarkan ketulusan.

“Yah, kita memang berbeda. Aku janji mulai sekarang nggak akan mentingin egoku sendiri. Aku juga akan berusaha berubah menjadi lebih baik lagi dan… Ah sudahlah, buat apa ngobral janji, kamu lihat saja nanti deh gimana aku ke depannya,” ujar Doni kembali seperti biasa. Memang itulah dirinya, dia tidak suka berbicara hal-hal yang muluk-muluk dan memang itu bukan keahliannya.

Mendengar ucapan Doni, wajah Dona memerah seketika. Memang ucapan Doni itu tidak romantis sama sekali, tetapi Dona bisa menangkap kesungguhan Doni. “Aku juga akan berusaha menerima dirimu apa adanya dan nggak akan menuntut yang macam-macam, Don…”

“Jadi…?” tanya Doni sambil memainkan sendoknya.

“Apa?” Dona menatap lelaki yang duduk di depannya itu.

“Kita jadian kan…” ujar Doni dengan nada datar seperti biasanya, meskipun sebenarnya dada lelaki itu berdegup sangat kencang. Dona hanya memandang Doni lalu menangguk pelan.

“Thanks ya Don…” ucap Doni, kali ini terselip sedikit nada kegirangan.

“Makan dulu, habisin dulu… Sebentar aku antar pulang…”

“Don, ini masih hujan, ngapain cepat-cepat…”

“Oh masih hujan… ya sudah tunggu sampai reda dulu ya…”

“Makannya santai aja…”

Sambil menyantap makanan mereka, celoteh riang sepasang pemuda pemudi itu terdengar sayup-sayup di antara sela-sela derasnya gemuruh hujan.

Screenshot_2015-05-22-16-09-01

Tetanggaku, Tante Lina…

“Brakkk!!!” Aku segera berlari keluar saat mendengar bunyi keras itu, bahkan aku belum sempat melepas sebelah kaos kakiku. Di halaman depan kudapati pot-pot bunga Mama yang ditata bertingkat telah berantakan, beberapa buah pot bahkan jatuh pecah dan menumpahkan isinya. Sempat kulihat sekelebat bayangan menghilang di balik tembok perbatasan rumah kami dan tetangga. Memang sih tembok rumah kami tidak terlalu tinggi, sekitar satu setengah meter saja.

“Ada apa Nin?” tanya Mama yang menyusul di belakangku.

“Lihat tuh Ma, pot-pot bunga kesayangan Mama!” tunjukku ke arah pot-pot bunga itu.

“Ya ampun, kenapa bisa begini?” Mama menghampiri pot-pot bunga itu lalu berjongkok dan mulai membersihkan kekacauan itu.

“Pasti Tante Lina pelakunya,” ujarku sambil membantu Mama memungut pecahan pot yang tercecer.

“Hush! Jangan asal nuduh kamu,” tegur Mama.

“Ini nih Ma buktinya!” Aku menyodorkan sebuah batu yang berukuran besar. “Tadi Nina sempat lihat ada orang menghilang di balik tembok tetangga sebelah. Siapa lagi coba kalau bukan Tante Lina. Lagipula dari rumahnya Tante Lina bisa saja melemparkan batu ini. Terus Mama ingat kemarin lusa halaman rumah kita juga penuh sampah-sampah plastik waktu Nina pulang sekolah. Pasti Tante Lina yang sengaja mengotori halaman rumah kita. Nina dengar dari pembicaraan ibu-ibu kompleks kalau Tante Lina itu orangnya aneh, nggak suka bergaul, suaminya sering nggak pulang, anaknya bermasalah di sekolah, pokoknya keluarga mereka nggak beres deh Ma…”

“Sudah, sudah…” Mama menyela ucapanku. “Kita baru beberapa hari menempati rumah ini, nggak baik menilai Tante Lina seperti itu. Lagipula kalau kamu sempat bergosip dengan ibu-ibu kompleks tentunya kamu juga sempat dong bantuin Mama bikin kue.” Aku yakin Mama pasti menyindirku karena aku selalu beralasan sibuk saat Mama minta dibantu bikin kue pesanan pelanggan.

“Tapi Ma, Nina yakin pasti Tante Lina pelakunya!” Aku mulai ngotot.

“Ya sudah, nanti sore kita ke rumah Tante Lina. Kamu ganti baju dulu, makan, lalu bantuin Mama bikin kue! Tolong ambilin pot-pot baru yang ada di dekat garasi!”

“Kenapa nggak sekarang saja Ma kita ke rumah sebelah. Pasti Tante Lina ada di rumah.” Ujarku sambil membawa beberapa pot yang masih baru.

“Nanti sore saja. Sekrang kita bikin kue dulu!” ujar Mama sambil memindahkan tanah beserta tanaman dari pot yang pecah ke pot yang baru.

“Memang ada pesanan dari siapa Ma? Kelihatannya mendesak banget.”

“Nggak ada pesanan dari siapa-siapa. Kuenya buat Tante Lina.”

“Hah??? Mama nggak salah?”

“Sudah, kamu turutin saja apa kata Mama! Tolong kamu sapu dulu ya sisa-sisa tanah yang masih tercecer!” Perintah Mama sambil beranjak masuk ke rumah setelah menata pot-potnya kembali. Aku hanya mampu angkat bahu lalu mengambil sapu. Tak ada gunanya menentang Mama.

**

“Permisi, selamat sore!” Mama mengucapkan salam sambil mengetuk-ngetukkan gembok ke pintu gerbang.

Tak berapa lama kemudian muncullah sang pemilik rumah, Tante Lina, dengan wajah yang amat sangat tidak ramah. “Ada perlu apa?” tanyanya tak bersahabat.

“Sore Bu Lina, kami mau berkunjung sekalian berkenalan,” jawab Mama dengan ramahnya. Aku heran bisa-bisanya Mama tetap bersikap ramah kepada orang itu. Dengan enggan Tante Lina membukakan gerbang dan mempersilakan kami masuk.

“Silakan duduk! Sebentar saya ambilkan minum,” ujar Tante Lina saat kami berada di ruang tamu rumahnya, masih saja dia menampakkan wajah tak bersahabatnya.

“Nggak usah repot-repot Bu. Kami cuma sebentar. Hanya mau berkenalan saja. Saya Santi dan ini Nina, anak saya. Maaf ya Bu sudah hampir seminggu hari kami tinggal di rumah sebelah, baru kali ini kami mampir ke rumah Ibu. Ini ada sedikit kue, mohon diterima.” Mama menyodorkan kresek berisi kue yang kami buat tadi siang.

“Terima kasih…” jawab Tante Lina singkat.

“Oh ya Bu, tadi siang ada yang melempari pot-pot bunga kami dengan batu. Kata Nina dia sempat melihat sosok orang dari rumah Ibu. Apakah barangkali sempat Ibu melihat pelakunya?” tanya Mama lembut. Tak ada nada menuduh sedikit pun.

Tante Lina diam beberapa saat lalu kemudian dia terisak. Perempuan paruh baya itu mengakui bahwa dialah yang melempari pot-pot bunga Mama. Juga dia yang mengotori rumah kami kemarin lusa. Semua itu dilakukannya karena dia iri kepada keluarga kami yang nampak harmonis. Tante Lina meminta maaf atas semua perbuatannya itu, kemudian dia bercerita tentang kondisi keluarganya, tentang suaminya yang jarang pulang dan mereka sering bertengkar, bahkan kini suaminya menuntut untuk bercerai, lalu tentang anak pertama mereka yang hamil di luar nikah, dan anak bungsu mereka yang sering membuat masalah di sekolah. Mama hanya mendengarkan dan sedikit memberikan nasehat untuk menguatkan Tante Lina. Tak terasa hampir dua jam kedua ibu itu saling bercerita, hingga akhirnya Mama mohon diri karena sebentar lagi Papa pulang kerja.

“Sekarang kamu tahu kan mengapa Mama membawa kue untuk Tante Lina? Jangan membalas kejahatan dengan kejahatan. Tante Lina itu membutuhkan teman dan sahabat. Tidak ada orang yang tidak melakukan sesuatu tanpa alasan. Dan sekali lagi, tidak baik menjudge orang tanpa mendengarkan mengapa mereka melakukan hal itu…” kata Mama saat kami sampai di rumah.

Aku hanya mengangguk-anggukkan kepalaku. “Tapi Ma, apa itu artinya Mama juga sempat mencurigai Tante Lina?”

“Mama tidak hanya mencurigai Tante Lina. Pelakunya bisa siapa saja. Tetapi sekarang Tante Lina sudah mengaku dan meminta maaf. Ya sudah. Tidak ada lagi yang perlu diperdebatkan…” Mama mengakhiri pembicaraan kami sambil berjalan menuju dapur. Dalam hati aku mengagumi kebaikan hati Mama dan kecerdasannya dalam bertindak. Aku akan selalu mengingat pesan Mama.

Aku masih mencintainya (his version)

Doni membuka pintu kulkas, mengambil botol air dingin lalu menuangkannya ke gelas. Jam dinding sudah menunjukkan pukul 9.00. Diteguknya gelas itu, terasa segar saat air dingin membasahi kerongkongan Doni. Hari ini Doni malas melakukan apa-apa, ingin rasanya dia kembali naik ke atas kasur. Tapi bermalas-malasan bukanlah gaya Doni, meskipun saat ini dia sedang menjalani liburan semester.

Hari ini Doni kembali sendirian di rumah. Orang tuanya sudah pergi bekerja. Bik Ijah, pembantu Doni sedang pulang kampung. Diliriknya HP nya yang tergeletak di sofa. Ada beberapa SMS. Doni membuka satu persatu SMS itu, ada tiga SMS dari Yuda. Namun tak ada SMS dari Dona, pacar Doni. Atau mungkin lebih tepat jika disebut mantan pacar. Hmmm, apakah aku dan Dona bisa dibilang pacaran, pikir Doni. Seingatnya dia maupun Dona tak pernah mengikrarkan janji untuk berpacaran, tapi toh hubungan mereka memang dekat. Rasanya mereka sama-sama sudah tahu perasaan masing-masing, maka rasanya tak perlu ada acara penembakan ala ABG, pikir Doni sambil merebahkan tubuhnya ke sofa, di samping Si Manis, kucing anggora berbulu putih peliharaan Mamanya.

“Meow…” Si Manis mengeong saat Doni mengelus-elus bagian bawah leher kucing itu. Dengan sebelah tangannya, Doni  membuka satu persatu SMS dari Yuda. Sohibnya itu menanyakan keadaannya. Memang kemarin Doni merasa kurang sehat sehingga membatalkan janjinya dengan Yuda. Doni segera membalas SMS Yuda, mengatakan kalau pagi ini dia sudah merasa sehat. Tak ada balasan. Diletakkannya benda hitam itu di meja, saat dia berlalu ke kamar mandi. Tentu saja, pasti Yuda tengah sibuk bekerja, saat liburan Yuda membantu orang tuanya menjaga counter HP mereka.

Doni meraih kunci kontak motornya. Dia memutuskan untuk mengunjungi Indah, kakaknya yang telah tinggal dengan suaminya. Doni telah siap berdiri di hadapan motornya, saat dia hendak mengambil helm berwarna hitam yang tergantung di stang motor, dilihatnya helm berwarna biru langit masih tergantung di sisi lain stang motor itu, helm Dona. Doni memandang helm itu sejenak lalu mengambilnya dan meletakkannya ke rak helm. Kini helm itu tak lagi bertuan, kata Doni dalam hatinya.

“Hei Don, apa kabar kamu? Kok nggak bilang kalau mau datang,” sambut Indah saat Doni mengetuk pintu rumah kakaknya.

“Baik Kak. Iya nih nggak ada kerjaan, jadi main aja ke sini.” Doni tersenyum nakal sambil menggaruk-garuk kepalanya.

“Hai Tito, apa kabar jagoan kecil Om?” Doni segera menyambar keponakannya yang baru berumur lima tahun itu saat Tito menjulurkan wajahnya dari belakang tubuh ibunya. Tidak seperti biasanya, Tito tidak tersenyum lebar menyambut kedatangan Doni, melainkan segera berlalu kembali duduk di sofa.

“Tito kenapa Kak?”

“Oh, Tito habis Kakak marahin,” kata Kak Indah sambil mengambil gelas dan mengisinya dengan air putih. “Nih minum dulu, pasti kamu haus kan.”

“Thanks Kak.” Doni meraih gelas tersebut lalu meneguk isinya dalam sekali tegukan. “Memangnya Tito nakal Kak, kok dimarahin?” Doni melirik Tito yang duduk di sofa sambil memasang tampang cemberut, membuat Doni merasa geli dan ingin mencubit pipi keponakannya itu.

“Biasa, berkelahi dengan anak tetangga…” jawab Indah sambil berlalu ke dapur.

“Namanya juga anak-anak Kak…” Ujar Doni sambil meletakkan gelas yang dipegangnya ke atas meja. Dirogohnya saku celananya, mencari HP nya. Tak ada. Doni merogoh saku celananya yang sebelah lagi. Masih tetap tak ada. Di mana aku taruh HP itu ya, tanya Doni dalam hati. Dia nampak berpikir sejenak. Terakhir kali dia memegang benda hitam itu adalah saat membalas SMS Yuda. Setelah itu Doni meletakkan HP nya di meja dan dia bergegas mandi. Doni menepuk jidatnya, dia benar-benar pelupa, bahkan sampai HP nya saja tertinggal di rumah. Biarlah, batin Doni. Lagipula saat ini libur semesteran, siapa orang kurang kerjaan yang hendak mencarinya?

“Tito kenapa, Tito nakal lagi ya?” tanya Doni yang mengambil tempat duduk di sebelah Tito.

“Nggak Tito nggak nakal. Rio yang nakal.” jawab Tito sambil tetap memasang wajah masam. Doni tersenyum geli melihat tingkah keponakannya itu.

“Kok Tito bilang gitu? Memangnya Rio kenapa?”

“Rio rusakin mobil-mobilan Tito.”

“Tapi nggak berarti kamu boleh pukul Rio…” sela Indah yang datang dari arah dapur sambil membawa piring berisi kue yang telah dipotong-potong. “Makan Don!”

“Iya Kak,” kata Doni sambil mengambil sepotong kue.

“Mama belain Rio, nggak belain Tito!” seru Tito dengan nada jengkel, mulutnya masih saja cemberut.

“Tito, Mama nggak pernah ajarin Tito buat mukul orang…” kata Indah tegas Indah sambil mengambil sepotong kue lalu menyodorkannya kepada anaknya. Tito membuka mulutnya lalu menrima suapan dari ibunya. “Sudah nggak ngambek lagi?” goda Indah. Sedikit banyak Doni mulai mengerti permasalahan yang menimpa keponakan kecilnya itu.

“Tito pengen main sama Rio kan? Sekarang Tito ke rumah Rio terus minta maaf sama Rio,” suruh Indah sambil membelai kepala puteranya itu.

“Nggak!” teriak Tito tegas.

“Tito, minta maaf itu nggak berarti Tito salah dan Rio benar…” belum selesai Indah mengucapkan kalimatnya, terdengar suara bel berbunyi. “Mama buka pintu dulu ya,” pamit Kak Indah.

“Gimana kalo Tito main sama Om Doni saja?” goda Doni kepada keponakannya yang masih cemberut itu.

“Tito, ada tamu untuk kamu!” teriak Indah. Rupanya Rio yang datang. “Tito, maapin aku ya.”

Tito membuang muka, tapi Indah segera menyuruh puteranya itu berbaikan dengan Rio. Doni hanya tertawa geli melihat tingkah keponakannya saat kakaknya menyuruh kedua anak itu berjabat tangan. Diambilnya sepotong kue lagi, lalu dimasukkannya ke mulutnya. Doni beranjak ke dapur, mengambil segelas air. Tak berapa lama kemudian terdengar celoteh canda mereka dari ters depan. Kini kedua anak itu kembali bermain bersama. Doni hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah kedua anak itu. Andai aku dan Dona bisa seperti itu, gumam Doni. Tidak, Doni segera menggeleng-gelengkan kepalanya, membuang jauh-jauh bayangan Dona.

 “Makan dulu Don, sudah siang. Kamu belum makan siang kan?” Indah mengajak Doni ke meja makan.

“Anak-anak, tadi bertengker sekarang sudah akur lagi,” kata Kak Indah yang memperhatikan kedua anak itu bermain. “Kamu gimana kabarnya? Sebenarnya Kakak agak heran sih kamu tiba-tiba saja datang kemari. Biasanya kamu selalu jalan sama siapa teman cewek kamu, Dona ya?” tanya Indah sambil mengambil piring, dan menyodorkannya ke Doni. “Ambil sendiri ya, udah gede!”

Doni menarik nafas panjang sembari mengambil nasi dan ayam, kakaknya memasak ayam goreng kesukannya, entah itu disengaja atau tidak. Kembali bayangan Dona menari-nari dalam kepalanya. “Dona lagi marah sama Doni Kak. Sepertinya kali ini kami benar-benar selesai. Doni juga capek sama Dona. Apa yang Doni lakuin selalu salah di mata Dona. Tiap kali kami marahan, selalu Doni yang minta maaf duluan. Padahal nggak seutuhnya itu salah Doni. Kalau memang Dona nggak mau pertahanin hubungan kami ya sudah. Buat apa Doni capek-capek usaha.”

“Memangnya kali ini kenapa?” tanya Kak Indah sambil memasukkan sesuap nasi ke mulutnya.

“Kemarin Doni telat jemput Dona ke ultahnya Maya. Doni lupa sih. Tapi Dona nya juga nggak ingetin Doni, biasanya Dona selalu ingetin Doni satu hari sebelumnya jika kami ada acara,” Doni berusaha membela diri. Dia mengambil segelas air, lalu meneguknya. “Maya nya nggak apa-apa. Tapi Dona nya yang marah. Terus katanya Doni nggak ngejaga muka dia, masa dateng ke pesta pakai kaos sama celana jeans. Bukan salah Doni dong. Doni kan habis dari tempatnya Yuda, nggak sempat pulang, ganti baju. Itu saja Doni sudah ngebut. Dona itu yang nggak ngertiin Doni.”

“Sebenarnya nggak kali itu saja Dona bersikap seperti itu. Dona sering komplain karena Doni telatan, sering lupa janjian sama dia. Terus dia juga sering komplain soal sikap Doni yang menurut dia cuek. Yah ini Doni apa adanya, Doni sih berusaha sabar saja, tapi kesabaran orang tu ada batasnya kan Kak. Kalau dia nggak suka sama Doni ya sudah. Lagian kalau dipikir-pikir kami belum resmi jadian. Doni belum pernah nembak Dona. Jadi nggak masalah kalau memang Dona maunya seperti itu Silakan saja dia cari cowok lain. Doni juga bukan siapa-siapanya Dona.” Doni terengah-engah, mulutnya hampir saja berbusa karena mengeluarkan uneg-unegnya selama ini. Kedua tangannya telah memegang sendok dan garpu, namun makanan di atas piringnya sama sekali belum terjamah.

Indah tertawa melihat tingkah adiknya yang berbicara panjang lebar tanpa henti itu. “Don… Don… gaya bicara kamu itu menunjukkan kalau kamu itu sebenarnya care banget sama Dona. Kalau menurut Kakak, kamu juga salah. Kamu itu sering memandang enteng segala sesuatunya, nyepelein lah istilahnya. Seharusnya kalau memang kamu ada janji dengan Dona, ya kamu yang inget-inget sendiri dong, jangan jadikan Dona kambing hitamnya. Terus kamu itu juga nggak peduli sama orang-orang di sekitar kamu, Kakak setuju sama Dona, menurut Kakak kamu terlalu cuek, bahkan sama diri kamu sendiri. Contohnya lihat tuh baju yang kamu pakai. Pakai baju yang bagus dikit kenapa? Jangan gayanya kayak berandalan gitu.”

“Kakak ini nggak belain Doni malah belain Dona.”

“Dengerin dulu kenapa!” sergah Indah sambil meletakkan sendok dan garpunya, gaya lembutnya yang tadi seakan-akan menguap begitu saja. Dia kembali lagi menjadi Indah yang dulu, Indah kakak Doni yang tomboi dan tegas.

“Kakak nggak belain Dona, hanya Kakak berusaha membuka mata kamu tentang diri kamu sendiri. Don, ada kalanya kita harus berubah semakin dewasa.” Indah menurunkan nada bicaranya sambil menatap mata Doni tajam.

Doni balas memandang balik kakaknya. Kak Indah nampak sangat berubah. Dulu dia tomboi, keras kepala, sering berkelahi dengan Doni. Dan seingat Doni, setiap kali mereka berkelahi Indah yang selalu menang, mungkin karena dia lebih besar, meskipun dia juga perempuan. Tapi setelah menikah dan punya anak, Doni tak menyangka kakaknya akan mengeluarkan kata-kata teguran seperti itu.

“Kamu sayang kan sama dia?”

“Iya Kak, tapi kalau Dona nya nggak bisa menerima Doni ya sudah. Doni males minta maaf seperti yang sudah-sudah. Biarin saja.”

“Ya ampun Don, nggak kamu nggak Tito sama saja. Nggak ada salahnya kan minta maaf duluan. Meskipun bukan kita yang salah. Orang minta maaf itu nggak berarti dia salah, dan orang lain yang benar, hanya saja dia memandang hubungan itu lebih penting dari ego pribadi.” Indah kembali mengulangi kalimat yang tadi hendak disampaikannya kepada Tito, tapi kali ini dia berhasil menyelesaikannya, tanpa ada interupsi.

Doni terdiam, tak mampu membalas kata-kata kakaknya, diakuinya kakaknya memang benar. “Dimakan Don, jangan dilihatin saja!” kembali Indah bersuara, membuyarkan lamunan Doni.

Jam dinding menunjukkan pukul 5.30 saat Doni tiba di rumahnya. Tidak ada orang, sepertinya orang tua Doni kembali pulang malam hari ini. Hal itu tidak aneh bagi Doni, kehidupan di kota besar memang menuntut para pekerja bekerja hingga larut malam. Doni telah selesai mandi saat didengarnya telepon rumahnya berdering. Hampir saja Doni mengangkat telepon itu, tapi sudah dimatikan. Biarlah, batin Doni sambil menyeka rambutnya yang masih basah. Kalau memang penting nanti pasti dia telepon lagi.

Tiba-tiba Doni teringat HP nya yang tertinggal di meja ruang tengah. Dilihatnya benda hitam itu berkelap-kelip. Ada yang mencoba menghubungiku, siapa ya, tanya Doni dalam hati. Diraihnya HP itu, ada berpulu-puluh missed call dari Dona. Doni berniat menelpon balik Dona saat Si Manis mengagetkannya. Kucing itu menggosok-gosokkan tubuhnya ke kaki Doni. Alhasil Doni melepaskan genggaman tangannya hingga HP itu terjatuh dan benda hitam itu memuntahkan isinya, casing HP itu dan baterainya terlepas. Giliran Si Manis yang terkejut, kucing itu segera berlari ke balik sofa.

Doni melemparkan pandangan tajam ke arah Si Manis yang menghilang di balik sofa, kemudian dia berjongkok membetulkan HP nya, tapi kali ini benda hitam itu tak mau menyala. Doni menarik nafas. HP mu itu sudah jadul, sudah sudah waktunya dikandangkan, terngiang suara Dona saat Doni mengetik SMS ketika mereka jalan minggu lalu. Kala itu Doni hanya tersenyum. Sekarang Doni kembali tersenyum, kamu benar Don, memang sudah waktunya HP ini dikandangkan. Doni mengakui sebenarnya Dona sangat memperhatikannya, terlepas dari komplain-komplain cewek itu. Kini Doni tak tahu bagaimana caranya menghubungi Dona. Dia tidak ingat nomor HP maupun nomor telepon rumah Dona. Semuanya ada di kontak HP nya. Doni mengutuki dirinya, seharusnya dia mendengarkan dan menuruti saran Dona untuk menuliskan kontak-kontak penting di buku tersendiri, untuk berjaga-jaga jika terjadi sesuatu pada HP nya, tapi Doni terlalu malas untuk melakukannya. Kini Doni benar-benar kehilangan kontak Dona dan tak tahu bagaimana caranya menghubungi gadis itu.

Kira-kira untuk apa Dona menghubungiku, bahkan sampai berpuluh-puluh kali, tanya Doni pada dirinya sendiri. Jika saja tadi dia sempat membuka SMS, sepertinya tadi ada juga beberapa SMS. Doni kembali mencoba menyalakan HP nya tapi sepertinya benda hitam itu tidak mau diganggu dari tidur lelap abadinya. Apakah Dona ingin mengatakan bahwa antara mereka tidak ada apa-apa lagi? Tapi apakah harus dengan menelpon berpuluh-puluh kali? Doni mengacak-acak rambutnya. Tiba-tiba sebuah ide terbit dalam otaknya. Tanpa menunggu lebih lama lagi Doni segera berlari ke kamarnya, hampir saja dia menginjak Si Manis, untung saja kucing berbulu putih itu sempat menghindar, barangkali benar kata orang bahwa kucing memiliki sembilan nyawa.

Di kamarnya Doni membuka lemari pakaian, dia nampak mengambil sebuah kaos yang terletak pada tumpukan paling atas, tapi kata-kata kakaknya kembali terngiang, kamu itu terlalu cuek… Doni melemparkan kaos itu ke atas kasur, dia nampak mengacak-acak lemari pakaiannya hingga pandangan matanya terpaku pada sebuah kemeja berwarna biru, kemeja pemberian Dona. Doni masih ingat kala Dona membelikan kemeja itu saat mereka jalan beberapa bulan lalu.

“Bagus sih, tapi mahal sekali Don…” kata Doni saat keluar dari kamar pas sambil memakai kemeja berwarna biru yang dipilihkan Dona saat mereka melihat-lihat kemeja.

“Bagus kok Don, cocok kamu pakai. Kamu tambah keren…” puji Dona.

“Mahal tapi…”

“Aku yang traktir. Sekali-kali. Biasanya kamu yang traktir kalau kita makan bareng.”

“Tapi Don…”

“Nggak ada tapi-tapian. Sudah ambil bajunya!”

Kini Doni mematut dirinya di depan cermin sambil memakai kemeja biru itu. Benar kata Dona, dia nampak keren. Ini pertama kalinya dia mengenakan baju itu. Selama ini dia merasa sayang mengenakan baju itu, selain harganya mahal Doni merasa tidak ada momen yang tepat untuk mengenakannya. Tapi kali ini berbeda. Kali ini Doni akan mengenakan baju itu di hadapan orang yang memberikannya. Doni meraih celana jeans berwarna biru gelap yang juga masih baru, celana ini dia sendiri yang membelinya lalu menyambar jaketnya yang tergantung di bahu kursi.

Doni mengeluarkan motor gedenya, saat dia ingat ada sesuatu yang kurang. Diparkirnya motor itu di samping teras, lalu Doni kembali masuk. Tak berapa lama kemudian dia keluar bersama helm berwana biru langit di tangannya. Bagaimana mungkin dia tidak membawa helm untuk Dona padahal dia tengah berencana mengajak gadis itu pergi, mungkin sebuah kencan. Doni tak tahu apakah Dona akan menerima kedatangannya atau malah justru membanting pintu rumahnya seperti terkahir kalinya mereka berpisah. Doni menggeleng-gelengkan kepalanya, dia tak mau memikirkan hal itu. Siap atau tidak, Doni harus berani menghadapi kenyataan, jika Dona berniat memutuskan hubungan persahabatan mereka. Doni menarik nafas panjang, aku sudah siap untuk menghadapinya. Namun tiba-tiba saja semua pikirannya tentang Dona berlari meninggalkan otaknya kala matanya melihat sesosok orang berdiri di balik pintu pagar rumahnya. Tanpa sadar, Doni bergumam, “Aku masih sangat mencintainya…”

mell!

Belajar…

Ketika kerja kerasmu tidak dihargai, maka saat itu kau sedang belajar tentang KETULUSAN

Ketika usahamu dinilai tidak penting, maka saat itu kau sedang belajar KEIKHLASAN

Ketika hatimu terluka sangat dalam, maka saat itu kau sedang belajar tentang MEMAAFKAN

Ketika kau harus lelah dan kecewa, maka saat itu kau sedang belajar tentang KESUNGGUHAN

Ketika kau merasa sepi dan sendiri, maka saat itu kau sedang belajar tentang KETANGGUHAN