Belakang Hotel…

Belakang Hotel

ketika  kaum marginal

melawan kata adil

Kemarin saya mengikuti acara pemutaran film ‘Belakang Hotel’ sebuah kampanye terselubung untuk memperhatikan lingkungan hidup, khususnya air sebagai komponen abiotik. Film itu mendokumentasikan warga kampung yang sumurnya kering dan warga menuduh hotel yang ada di dekat kampung mereka sebagai pencuri air yang seharusnya ada di sumur mereka. Menurut warga sebelum ada pembangunan hotel-hotel dulu air sumur mereka tidak pernah kering. Penjelasan singkatnya terjadi perebutan air tanah antara sumur warga yang berteknologi sederhana dengan sumur bor hotel yang berteknologi mutakhir, dan sudah bisa diduga hasilnya bahwa warga kalah. Oleh karena itu wajar jika banyak warga yang menentang pembangunan hotel, apartemen maupun bangunan-bangunan komersil yang dianggap tidak ramah lingkungan. Yah sudah rahasia umum kalau IMB bangunan semacam itu banyak yang pake ilmu sulap, meskipun ada juga yang menempuh prosedur yang benar.

Jika ditinjau ulang, sebenarnya menuduh hotel sebagai satu-satunya penyebab masalah keringnya sumur warga rasanya kurang bijak. Dalam pembangunan infrastruktur banyak pihak yang bermain di sana. Ada owner, pengguna/ konsumen, perencana dan pelaksana, yang tentunya terdiri dari  orang-orang yang ahli di bidangnya, dan pengambil kebijakan, dalam hal ini mereka yang memiliki wewenang untuk menandatangi ijin pembangunan tersebut. Bisa dikatakan semua orang memiliki sumbangsih dalam permasalahan tersebut. Dari kacamata seorang mantan buruh proyek, ketika mendesain sebuah proyek entah apa pun itu, hotel, apartemen, mall seharusnya memperhatikan dampaknya terhadap lingkungan. Orang yang mengaku sebagai arsitek harus bisa membuat bangunannya ramah lingkungan, kalau nggak ngapain pake arsitek, kalau cuma asal bikin semua orang juga bisa, suruh tukang aja juga bisa kok. Nilai plus seorang arsitek adalah ketika bisa menciptakan desain yang menguntungkan semua orang dan lingkungan, bukan cuma owner aja tapi mencekik leher orang lain secara tidak langsung. Personally, saya percaya ketika kita membuat sesuatu yang baik dan benar akan mendatangkan kebaikan bagi sesama, mereka akan mendoakan kita juga, demikian juga sebaliknya perbuatan yang egois akan mendatangkan kutukan dari orang lain.

Lalu sebagai orang awam, tentu juga memiliki andil. Kan sudah saya tulis semua orang memiliki andil. Tindakan siapa pun kita memiliki dampak. Orang sudah mati aja juga masih bisa berdampak buat lingkungan dan orang lain. Buktinya, meskipun orang nya sudah tidak ada tapi keluarga masih tetap harus mengurusi jasadnya, istilah kasarnya masih ngrepotin orang lain, dan jasad orang itu ketika dikuburkan akan terurai dan menjadi komponen-komponen organik yang selanjutnya diterima oleh tanah. Ok kembali ke topik, ketika kita memanen air, maksudnya menggambil dan menggunakan air untuk kepentingan kita, apakah kita sudah menanam air sebelumnya? Kalau ada yang dipanen seharusnya ada yang ditanam. Kalau semua orang tidak mau menanam dan hanya mau memanen wajar saja jika air kita habis. Memang ada siklus hidrologi yang mengatakan bahwa jumlah air di muka bumi akan kekal. Masalahnya apakah komponen yang berwujud air bersih itu juga selamanya kekal? Dulu orang bisa minum air dari kran, sekarang kalau mau minum beli aqua. Dulu orang bisa mandi di pinggir kali (sungai). Sekarang jadi seperti apa sungai kita?

Salah satu hal yang bisa dilakukan oleh semua orang adalah menanam air, yaitu dengan membuat sumur resapan di masing-masing rumah. Dengan membuat sumur resapan maka kita mengembalikan air yang kita pakai kembali ke bumi. Masalahnya apakah selama ini kita melakukan hal itu, menanam air atau hanya membuang air ke selokan? Hal lain yang bisa dilakukan adalah mencuci air. Apa itu mencuci air? Mencuci air dalam hal ini adalah mengembalikan air yang dibuang ke bumi dalam keadaan bersih. Hal ini terkait erat dengan pengolahan limbah, baik limbah domestik maupun limbah industri. Apakah kita membuang air bekas cucian yang masih mengandung deterjen langsung saja ke selokan atau ke tanah? Bukankah air bekas cucian itu berbahaya, kalau tidak percaya coba diminum itu airnya, masih hidup nggak. Banyak cara yang bisa dilakukan untuk mencuci air salah satunya adalah dengan menggunakan bak penampungan air untuk menyaring dan mengendapkan kotoran sehingga kualitas air yang keluar bisa lebih baik. Satu cara lagi yang saya yakin pasti bisa dilakukan oleh semua orang adalah mengehemat air, mematikan kran yang tidak terpakai, tidak mandi berlama-lama dan tidak membuang-buang air.

Ketika anda memperlakukan lingkungan dengan baik, maka lingkungan juga akan memperlakukan anda dengan baik. Selamat bersahabat dengan lingkungan.

Senja hari di kampung asapan

IMG20141008164607

Senja hari di kampung asapan

Ketika langit mulai menampakkan rona wajah kemerahan

Dan matahari mulai menghilang ke balik peraduan

Asap putih pekat membumbung tinggi menyapa awan

Meninggalkan sketsa wajah pemandangan yang rupawan

Senja hari di kampung asapan

Ketika anak-anak kecil bermain berlarian

Menampakkan wajah ceria seolah tiada beban

Tak pernah pikirkan hari-hari kelam di masa depan

Terus jalani waktu bersama tawa dan harapan

Senja hari di kampung asapan

Ketika masjid dipenuhi lelaki berdatangan

Tak pernah lupa tuk menyapa Sang Pemberi Kehidupan

Ataupun sekedar mencurahkan perasaan

Tak kuasa menanggung beratnya hidup yang menekan

Senja hari di kampung asapan

Ketika ibu-ibu sibuk berceloteh memainkan peran

Membawa berbagai topik tuk dikabarkan

Mulai dari tetangga nelayan hingga mereka yang duduk di kursi dewan

Memandang sinis hidup yang telah mempermainkan

Senja hari di kampung asapan

Senantiasa menjadi penantian

Sebuah semangat untuk terus bertahan

Menghadapi hidup yang tak kenal belas kasihan

Meskipun tiada daya untuk melawan

Senja hari di kampung asapan

Sebuah oase di tengah himpitan pekerjaan

Meskipun hanya sesaat namun membawa kelegaan

Sebuah siluet kesempatan di tengah kesempitan

Tuk sejenak melambung bersama angan

Senja hari di kampung asapan

Senantiasa dilewati oleh masyarakat dalam kesederhanaan

Menapaki barang sejenak ruang kerinduan

Akan banyaknya mimpi yang tak mampu diwujudkan

Namun bersyukur selalu menjadi pilihan

Senja hari di kampung asapan

Tak pernah terpikir oleh mereka yang hidup dalam kemewahan

Indahnya hidup kaum marginal dalam perjuangan

Bergelut bersama keringat yang bercucuran

Demi wujudkan asa yang kini tinggal kepingan

Senja hari di kampung asapan

Jika saja sang waktu dapat ku bekukan

Tak ingin ku terus membiarkannya berjalan

Meninggalkanku dalam kelam bersama rembulan

Namun putaran roda kehidupan tak dapat ku hentikan

Senja hari di kampung asapan

Suatu panorama yang tak terlupakan

Tentang sketsa kehidupan masyarakat pinggiran

Yang membuahkan banyak nilai-nilai pengajaran

Dalam memandang lika-liku kehidupan

Indonesia dalam penjajahan BBM

211032_antrian-bbm-di-spbu-menjelang-kenaikan-harga_663_382

Mungkin kalimat saya tersebut terdengar lebai, alay, atau terlalu puitis malah, tapi sesungguhnya saya hanya mengutip pernyataan Bapak Dahlan Iskan dalam kuliah beliau di kampus saya. Mencermati kondisi kelangkaan BBM akhir-akhir ini, dan sesungguhnya tidak hanya akhir-akhir ini tapi menurut saya kelangkaan BBM telah menjadi masalah klasik yang terus menerus terulang, mau tak mau saya menyetujui pernyataan tersebut. Kelangkaan BBM yang terus terjadi, saya tidak tahu bagaimana persisnya hal itu bisa terjadi. Ada yang mengatakan konsumsi BBM bersubsidi terlalu tinggi, ada juga yang mengatakan harga minyak internasional melambung tinggi sehingga membuat subsidi membengkak, sampai ada pula yang mengatakan sebagai ulah mafia migas.

Konsumsi BBM bersubsidi terlalu tinggi, ya saya menyetujuinya. Dalam jangka waktu selama sepuluh tahun ini, perkembangan pengguna kendaraan bermotor naik luar biasa banyaknya. Jumlah motor dan mobil berkembang pesat. Saya masih ingat ketika saya sekolah dulu, setiap hari bus kota dipenuhi oleh para penumpang, sehingga tak jarang saya harus menunggu dua tiga bus lagi untuk dapat naik bus. Tapi kini, orang-orang yang dulunya ada di dalam bus itu telah berpindah turun ke jalan dengan menaiki bebek roda dua maupun kendaraan roda empat. Hal ini tentunya tidak dapat lepas dari perkembangan industri otomotif, apalagi teman-teman saya yang bekerja sebagai marketing baik motor maupun mobil mengaku dikejar target penjualan. Masalahnya seiring dengan perkembangan kendaraan bermotor, apakah jumlah BBM dan luas jalan ikut meningkat, tentu jawabannya tidak bukan. Saya rasa pelaku industri otomotif tidak memperhitungkan hal tersebut, yang penting target penjualan mereka tercukupi dan kebutuhan perut mereka terpenuhi. Apakah salah? Saya tidak bisa mengatakan hal itu sebagai suatu kesalahan karena mereka juga berjuang untuk hidupnya, meskipun menimbulkan masalah sosial baru. Lalu, bagaimana cara mengatasinya? Apakah lantas menutup industri otomotif? Mungkin bisa saja hal itu dilakukan sebagai salah satu opsi untuk menghemat konsumsi BBM, tapi hal itu tidak menyelesaikan masalah jumlah BBM yang memang semakin lama semakin menyusut. Lagipula, apakah kita semua siap dengan kehidupan tanpa transportasi?

Terkait dengankonsumsi BBM pula, ketika saya tinggal di Jakarta, kondisi jalan yang macet tentunya ikut andil dalam membakar bensin kita. Kemacetan mengakibatkan mobil-mobil berhenti namun mesin tetap menyala sehingga pembakaran terus terjadi. Meskipun belum ada survey yang jelas, saya yakin bahwa peringkat konsumsi BBM paling tinggi ditempati oleh Jakarta. Sama halnya ketika saya tinggal di Bali, kemacetan yang terjadi juga berperan dalam memakan bensin kita. Hal yang uni di Bali adalah masyarakat local menyediakan persewaan motor dan mobil, dan tentu saja para penyewanya mayoritas adalah turis-turis asing. Oleh karena itu saya menyimpulkan bahwa BBM di Indonesia turut menjadi konsumsi orang asing.

Kenaikan harga minyak internasional tentunya berpengaruh pada besarnya subsidi BBM. Ketika biaya yang dikeluarkan untuk subsidi BBM tetap maka kuota BBM akan menjadi lebih sedikit daripada sebelumnya. Saya pernah menengar pembicaraan tukang ojek dan orang-orang yang dapat dikategorikan sebagai masyarakat lapisan bawah. Mereka berpendapat bahwa lebih baik harga BBM dinaikkan saja daripada mereka harus antri seperti itu. Mendengarkan pendapat mereka, saya rasa semua orang sudah tahu bahwa memang kenyataannya kenaikan harga BBM tidak dapat terhindarkan, tapi mereka memilih untuk tidak mau tahu, mereka hanya ingin agar kebutuhan hidup mereka terpenuhi. Kembali lagi apakah hal ini salah? Tidak juga, karena saya yakin anda dan saya juga demikian. Menolak kenyataan. Parahnya lagi, kondisi tersebut ditumpangi oleh kepentingan politis yang mengatas namakan kesejahteraan rakyat tapi sesungguhnya hanya mengutamakan kepentingan segelintir elit politik tertentu.

Berkaca dari pengalaman selama ini, pada kenyataannya memang kita harus mengurangi konsumsi BBM, tapi masalahnya apakah kita bersedia. Telah banyak wacana untuk mengubah konsumsi BBM ke BBG, tapi banyak juga kendala untuk mewujudkan hal itu. Sebenarnya masalahnya bukan kepada kebersediaan kita atau tidak, tapi mau tidak mau toh suatu ketika BBM akan habis karena BBM bukanlah sumber daya alam terbarukan. Masalahnya mau sampai kapan kita menutup mata terhadap kenyataan tersebut. Kelangkaan BBM, konsumsi bahan bakar, masalah kendaraan bermotor hanyalah percikan-percikan yang timbul atas suatu masalah pokok, yaitu keterbatasan BBM sebagai SDA tidak terbarukan. Satu-satunya jawaban dari masalah ini memang mau tak mau harus dicari bahan bakar lain untuk menggantikan BBM.

Pertanyaan selanjutnya, apakah kita semua bersedia memerdekakan diri dari jeratan konsumsi BBM???

Penghapusan agama dalam KTP

Beberapa hari lalu twitter saya sempat ramai membicarakan tentang penghapusan agama dalam KTP. Cukup menarik juga membaca twit para netizen, tentunya ada yang pro maupun kontra.  Pendapat saya secara pribadi, well menurut saya agama itu merupakan identitas seseorang. Jadi wajar saja kalau agama dicantumkan dalam KTP, bukankah fungsi KTP sebagai kartu identitas juga? Tapi hal yang tidak saya setujui adalah ketika agama yang tercantum dalam KTP digunakan sebagai alat diskriminasi oleh pihak-pihak yang memiliki kepentingan tertentu.

Apapun agamanya selama orang itu menganut salah satu dari sekian agama yang diakui oleh republik ini seharusnya tidak perlu dipermasalahkan. Yang kemudian menjadi masalah adalah adanya kepentingan-kepentingan sekelompok orang yang berbenturan dengan kelompok lain dan menggunakan agama sebagai salah satu alat untuk memuluskan kepentingan mereka. Saya rasa dari situlah asal muasalnya timbul wacana penghapusan agama dari KTP.

Saya analogikan jika sesoerang memiliki kepentingan untuk menjaga berat tubuhnya tetap terjaga apakah lantas dia membuang semua makanan dan mengharamkan semua makanan. Tentu tidak bukan. Orang itulah yang harus mengatur pola makanannya dan mengontrol dirinya agar tidak melanggar batas ketentuan berat badan yang diinginkan.

Demikian juga dengan wacana penghapusan agama dalam KTP. Bukan tulisan agamanya yang salah, tetapi pola pikir mayarakat yang perlu dibenahi. Saya masih ingat ketika saya masih kanak-kanak, saya tidak membedakan dengan siapa saya bermain. Saya tidak memandang apa agama anak tetangga yang saya ajak main setiap hari. Saya juga tidak mempermasalahkan apa suku teman-teman sekelas saya. Lingkunganlah yang telah membentuk manusia, mencemari pola pikir manusia dengan konten-konten negatif sehingga pola pikir yang murni berubah menjadi penuh prasangka dan pertikaian.

Jangan salahkan apa pun atau siapa pun, karena sesungguhnya manusia, kita sendirilah yang menyebabkan segala sesuatunya terjadi…

Rainy day…

Aku berdiri di emperan ruko yang sudah tutup, tubuhku mengigil kedinginan. Malam ini hujan turun deras sekali. Sejak tadi aku berlari ke sana kemari mencoba mencari tempat berteduh, akhirnya aku berhasil mendapatkan tempat ini. Aku berharap kali ini aku tidak diusir, seperti tempat-tempat yang barusan kudatangi. Aku selalu mendapatkan bentakan dan usiran. Aku hanya ingin berteduh, apakah orang-orang itu tak tahu. Aku bukan maling, aku tidak berniat mencuri dari toko mereka. Barangkali mereka menganggap kehadiranku menganggu, menganggu calon pembeli yang akan datang. Memang aku hanya anak jalanan, yang berpakaian kumal. Tapi aku juga manusia sama seperti mereka.

 Aku duduk menekuk kakiku, kupeluk lututku berharap mendapatkan sedikit kehangatan. Dari balik pintu besi ruko ini kudengar suara-suara tawa ceria. Aku iri. Aku ingin merasakan kehangatan, kehangatan keluarga. Kutendang pintu besi ruko itu keras-keras beberapa kali, melampiaskan kekesalanku. Tapi rupanya tindakanku ini menganggu pemiliknya. Pintu itu terbuka. Kuharap aku akan mendapat sedikit belas kasihan. Namun apa yang kudapati, yang kudapati hanyalah tatapan mata tajam seorang ibu paruh baya. Kemudian dia menutup pintu itu dengan kasar.

Apa salahku? Apakah aku salah mengharapkan segelas susu hangat untuk menghangatkan tubuhku yang mengigil kedinginan. Sejak tadi pagi aku belum makan, perutku keroncongan, bahkan kini tubuhku menggigil karena kehujanan. Kembali kutendang pintu ruko itu. Aku ingin berteriak, beriakan aku sedikit makanan. Aku lapar, aku kedinginan, tidakkah kalian peduli kepadaku.

Kembali pintu itu terbuka, aku bergegas mendekat, berharap akan mendapatkan setidaknya sedikit makanan, biarpun mereka melemparnya aku akan tetap memakannya seperti seekor anjing yang kelaparan. Aku memang kelaparan, dan kedinginan. Tapi apa yang kudapati, kali ini ibu itu tak sendirian, di sampingnya muncul sesosok laki-laki paruh baya, kuduga dia adalah suami ibu itu, dan di tangan laki-laki itu ada sebuah balok kayu. Apakah orang ini berniat memukulku? Aku sudah pernah merasakan pukulan dan aku tidak mau merasakannya lagi. Kulihat ibu itu tampak berusaha menahan suaminya yang menggenggam kayu itu erat. Sepertinya aku sudah bisa me nduga apa yang akan terjadi. Tanpa pikir panjang aku segera berlari meninggalkan tempat itu.

Kini aku tahu aku takkan pernah mendapatkan belas kasihan. Tak ada yang namanya belas kasihan di dunia ini. Tak ada manusia yang masih memiliki hati. Aku benar-benar diperlakukan seperti binatang. Kehadiranku tak diinginkan, bahkan aku hampir saja dipukul. Cara mereka mengusirku sama seperti mengusir anjing, atau kucing, bukan seorang anak manusia. Aku tak tahu harus ke mana lagi. Aku tak punya tempat untuk dituju. Aku hanya berlari menerobos hujan dengan tubuh mengigil kedingina dan perut kelaparan, tanpa menyadari sepasang mata sedang mengawasiku dari balik pintu besi yang dingin…

Salahkah aku…

Salahkah aku jika aku tak memiliki tempat untuk kusebut ‘rumah’, bagiku bangunan yang mereka sebut rumahku adalah medan pertempuran ayah dan ibu…

Salahkah aku jika laki-laki yang kupanggil ‘ayah’ mencari daun muda karena daun yang bertahun-tahun menemaninya tidak sehijau saat pertama kali dipetik…

Salahkah aku jika perempuan yang mereka bilang melahirkanku rela meninggalkanku demi emas dan berlian buah tangan dia yang bernama ‘ketenaran’… 

Salahkah aku jika otakku telah tewas dalam rumah medan pertempuran yang senantiasa kuhadapi sehingga tinta semerah darah mengucur membasahi kertas-kertas ujianku…

Salahkah aku jika guru-guruku memberikan alamat palsu kepadaku sehingga tiap kali kucari mereka yang kutemui hanyalah kursi kosong di ruang guru…

Salahkah aku jika sekumpulan orang-orang yang menyebut diri mereka ‘teman’ hanyalah orang-orang yang bermulut manis namun berhati pahit…

Salahkah aku jika dia yang kau katakan sahabatku ternyata tak ubahnya manusia bermuka dua yang mengirisku tipis-tipis di belakangku…

Salahkah aku jika orang yang bersamanya aku berharap untuk menghabiskan sisa hidupku mencampakkanku begitu saja karena aku belum siap menghadapi orangtuanya…

Salahkah aku jika aku menikmati perhatian yang kudapatkan di luar gerbang sekolah dari mereka yang kau sebut gembel, anak jalanan…

Salahkah aku jika sebatang rokok menjadi teman yang setia di kala suka dan duka, selalu menghiburku lewat kesunyian yang kunikmati…

Salahkah aku saat kukembalikan dompet yang kutemukan di jalan namun ibu pemiliknya malah meneriakiku ‘maling’ dan hampir saja aku mampus di tangan sekelompok orang yang mengatasnamakan hukum demi memuaskan hasrat mereka menghajar tubuh kurusku…

Salahkah aku saat kutemukan sebuah dompet namun tak kukembalikan meskipun identitas pemiliknya masih tertinggal di sana karena aku tak ingin bernasib naas seperti waktu itu…

Salahkah aku karena aku memilih menikmati hidup yang kujalani sekarang, bebas, lepas, tak peduli pada mereka yang bernama ‘norma’ dan ‘hukum’…

Katakan kepadaku apakah salahku sehingga kau memandangku seolah-olah aku adalah pelaku kejahatan kelas kakap, padahal aku hanyalah seorang korban…

Aku adalah satu dari sekian banyak korban situasi yang tak bersahabat, keluarga yang tak harmonis, dan kehidupan yang kejam…