Wanita itu #3

Kupelankan laju motorku saat mataku menangkap pemandangan yang tak biasa. Di tepi jalan sana kulihat seorang wanita paruh baya, mungkin usianya sekitar 30 hingga 40 tahun, berjalan dengan cara yang tak lazim. Alih-alih berjalan dengan kedua kakinya, wanita itu justru menggunakan seluruh tubuhnya untuk berjalan. Ya dia berjalan dalam posisi duduk. Sepintas kuamati cara berjalan wanita itu, tapi aku tak bisa berlama-lama mengamatinya. Ada banyak kendaraan lain di sekitarku dan akan sangat berbahaya bagiku dan bagi pengendara lainnya kalau aku kehilangan fokus pada jalanan di depanku.

Singkat cerita aku meninggalkan wanita itu dengan pergulatan nya dan tiba di tujuan. Ya, tujuanku hari itu adalah memotong rambut di salon. Entah berapa lama sudah aku menanti giliran, rasanya lama sekali. Untuk mengusir rasa bosan aku melayangkan pandangan keluar jendela. Wanita itu, aku kembali melihat wanita itu berjalan dalam duduknya. Kuamati wanita itu lebih seksama. Dia berjalan dengan mengangkat bagian bawah tubuhnya ke depan sedangkan kedua tangan bertumpu ke tanah untuk menopang tubuh ringkihnya. Setelah dia mendaratkan tubuh bagian bawahnya barulah dia mengangkat tangannya maju. Sungguh sebuah perjuangan untuk bisa bergerak dengan cara seperti itu. Aku tak tahu berapa lama waktu yang dibutuhkan bagi wanita itu untuk berpindah tempat dari satu tempat ke tempat lain.

Aku terus mengamati wanita itu. Kini dia berhenti sejenak. Dia melepaskan sandal japit yang digunakan di tangan untuk melindungi tangannya ketika menyentuh jalanan yang panas, kemudian dia menyeka peluh yang membasahi dahinya dengan tangan yang telanjang. Aku tahu pasti berat sekali berjalan seperti itu di bawah matahari yang bersinar terik seperti saat ini. Beberapa menit wanita itu berisitirahat. Kini dia memasang kembali sandal jepit ke tangannya, siap melanjutkan perjalanan. Aku terus mengamati wanita itu hingga dia hilang dari pandanganku.

Dalam jangka waktu yang selama itu dia hanya bergerak sejauh beberapa meter. Hatiku terenyuh memikirkannya. Ada rasa kasihan, sedih, bercampur syukur dan kekaguman. Melihat wanita itu aku bersyukur karena nasibku jauh lebih beruntung. Aku masih memiliki tubuh yang lengakp. Namun, aku juga merasa kasihan dan sedih melihat apa yang dialami oleh wanita itu. Dalam hati kecil aku ingin membantu mengantarkan wanita itu, tapi apa yang dapat kulakukan? Membantunya berdiri saja aku pasti tak sanggup. Lagipula untuk orang seperti itu, maksudku mereka yang memiliki keterbatasan tapi tak mau menyerah, sebuah bantuan dapat saja dipandang sebagai sebuah bentuk meremehkan mereka. Di situlah aku merasa kagum atas tekad dan perjuangan wanita itu.

Aku tak sanggup membayangkan jika aku menjadi wanita itu. Bagaimana aku dapat berjalan dengan cara yang berat seperti itu? Bagaimana jika hujan lebat turun sedangkan aku tak memiliki tangan yang bebas untuk memegang payung? Aku juga tak mampu membayangkan bagaimana jika ada orang yang berniat jahat kepadaku. Aku tak dapat bergerak dengan cepat. Aku tak dapat berlari atau melindungi diri jika ada orang yang berniat merampokku. Entahlah aku tak sanggup berpikir lebih jauh lagi. Namun aku tahu satu hal bahwa wanita itu memiliki tekad yang kuat dan tak mudah menyerah meski hidup yang dijalaninya sangat berat.

Wanita yang kulihat hari ini mengajarkanku untuk tak mudah menyerah. Setiap orang pasti memiliki kesulitan dalam hidupnya masing-masing. Apa pun bentuk kesulitan yang kita alami, aku percaya Tuhan pasti menyediakan kekuatan untuk menanggungnya. Jangan mudah menyerah dalam hidup ini. Di luar sana ada orang lain yang mungkin menanggung beban hidup yang jauh lebih berat tapi mereka tak menyerah.

Wanita itu 2

IMG20160103143630.jpg

Untuk kesekian kalinya wanita itu datang ke kantor. Setiap kali dia datang, dia hanya duduk diam memasang wajah datar tanpa ekspresi, menunggu bosku datang. Namun, hari ini ada yang tampak berbeda. Wanita itu tidak lagi duduk diam tetapi mulai bertanya-tanya kepada Mas Alex, seniorku. Mungkin bos yang menyuruh wanita itu bertanya. Setahuku wanita itu bernama Mbak Nuri, salah satu mahasiswi pasca sarjana bimbingan bosku, yang kebetulan juga mengajar sebagai dosen. Ditilik dari usianya, wanita itu tidak lagi muda, mungkin sudah di atas 30 tahun. Analisaku terhenti ketika Mas Alex melibatkanku dalam pembicaraan mereka. Lebih tepatnya mengalihkan lawan bicara wanita itu sehingga kini akulah yang menjadi lawan bicaranya.

Beberapa menit kami berbincang, ternyata wanita itu cukup ramah. Wajah datarnya seketika berubah ketika dia mulai berbicara. Awalnya dia menceritakan bagaimana dia tertarik untuk meminta bosku menjadi dosen pembimbingnya. Tak ada yang menarik dari ceritanya, hingga akhirnya dia mulai menceritakan bagaimana perjalanannya mengerjakan tesis.

“Dulu saya nggak bisa apa-apa, Mas. Nggak ngerti apa-apa. Dulu saya hampir tiap hari datang ke kantor, nunggu berjam-jam buat belajar. Kalau ada yang lagi nganggur saya tanyain,” katanya dengan ceria. “Jadi kadang datang tiga jam cuma buat belajar sepuluh menit, nunggu dulu kalau ada yang bisa diganggu. Soalnya kan anak-anak yang di sini juga pada sibuk…” Mendengar ceritanya mau tak mau aku sedikit terpancing, benarkah dia sesabar dan sekuat itu? Pantas saja ketika dia datang ke kantor, hal yang dilakukannya hanyalah duduk berjam-jam menunggu kedatangan bosku.

“Saya sempat cuti dulu, waktu bapak saya meninggal,” lanjutnya lagi. “Terus saya kembali lagi ke kampus, tapi saya kena begal. Laptop, HP hilang semua. Stress saya, sempat masuk rumah sakit juga. Terus keluar dari rumah sakit, saya kembali lagi. Saya bilang ke bapak kalau saya mau lanjutin tesis, tapi saya nggak punya apa-apa. Bapak bilang pakai komputer kantor saja nggak apa-apa, kalau ada yang kosong,” lanjutnya lagi menceritakan perjuangannya. “Terus saya pakai komputer ini,” katanya sambil menunjuk komputer yang sedang kupakai. Aku mengangguk-angguk. Tak pernah kusangka wanita yang awalnya kuanggap sombong itu menyimpan cerita yang begitu menyentuh.

Tak berapa lama kemudian, bosku pun tiba. Segera wanita itu menghilang di balik pintu ruangan bos. Ketika wanita itu berdiskusi dengan bosku, aku memikirkan pembicaraan singkat kami. Kesanku tentang wanita itu berubah 180 derajat. Ternyata dia bukanlah wanita sombong yang berwajah datar, melainkan wanita tegar yang berani melawan kerasnya kehidupan. Aku tak sanggup membayangkan bagaimana rasanya ketika kehilangan orang tua, lalu kehilangan barang-barang berharga. Di tengah berbagai masalah yang datang silih berganti dia masih bisa menceritakan semuanya itu dengan penuh canda tawa, seakan semua itu tidak berarti apa-apa baginya.

“Gimana Mbak?” tanyaku ketika wanita itu keluar dari ruangan bos.

“Masih harus dianalisa lagi…” katanya santai, masih dengan wajah ceria. “Aduh, saya harus segera selesaikan ini tesis, biar cepat lulus, sudah lama molornya…” Aku hanya mengangguk-angguk sambil sesekali tersenyum melihat ulah wanita itu.

“Tapi memang benar sih Mas, kata siapa itu… oh Ridwan Kamil. Mewujudkan cita-cita itu butuh waktu yang lama dan uang yang banyak. Siapa sangka saya kuliah selama ini. Dulu mikirnya S2 cuma 2 tahun, tapi sampai sekarang belum lulus juga. Ya sudah Mas, saya pulang dulu…” katanya sambil berlalu. Wanita itu benar-benar membuatku kagum. Keceriannya, kepolosannya, kesabarannya, ketegarannya menghapi segala permasalahan, dan semangatnya untuk terus belajar dan tidak mudah menyerah benar-benar patut diapresiasi.

Memandang kepergian wanita itu, dalam hati aku berjanji bahwa aku harus bisa lebih baik dari wanita itu. Jika dia saja mampu melakukan hal itu, menghadapi masalah yang begitu berat dengan keceriaan, maka aku juga harus mampu melebihi wanita itu. Permasalahan hidup seberat apa pun harus dijalani dengan penuh perjuangan, semangat dan tawa. Hari ini aku belajar sesuatu dari wanita itu…

 

Three seconds – tiga detik

“Kamu habis ngomong sama siapa sih Lol?” tanya seorang anak perempuan kepada temannya saat mereka berjalan beriringan menuju ke kelas. Kawat gigi yang terpasang rapi terlihat jelas di giginya saat dia membuka mulutnya.

“Oh, nggak tahu,” jawab temannya yang bernama Lola. Gadis berkacamata itu menaikkan kacamatanya yang agak turun dengan jari tengah tangan kanannya. Sedangkan tangan kirinya memegang buku ‘Harry Potter and The Sorcerer Stone’.

“Lho kok? Kamu ngobrol sama orang yang nggak kamu kenal gitu aja?” tanya anak perempuan dengan kawat gigi itu.

“Iya,” jawab Lola singkat. “Aku lupa tanya siapa namanya,” lanjutnya lagi.

“Ya ampun Lola…” anak perempuan berkawat gigi itu mengacak-acak rambutnya yang pendek.

“Sudah nggak usah dipikirin Rin,” jawab Lola. Kini mereka sudah tiba di depan pintu kelas mereka. “Nanti sore aku batal ke rumahmu. Ayah ulang tahun, dan Bunda berencana bikin makan malam special.”

“Ooo…” Rini membulatkan mulutnya. “Ya sudah lain kali saja…”

Lola meletakkan buku nya di antara barisan buku seri Harry Potter lainnya. Dia tersenyum simpul mengingat pertemuannya siang tadi di sekolah dengan seorang kakak yang dia bahkan tak tahu siapa namanya. Sepertinya kakak itu juga suka membaca, batin Lola dalam hati sambil jari tengahnya menaikkan bingkai kacamatanya yang merosot.

“Lola, kalau sudah ganti baju ayo cepat bantu Bunda!” teriak Bunda dari dapur. Suara Bunda terdengar sangat nyaring.

“Iya Bun, sebentar!” sahut Lola tak kalah nyaringnya. Gadis berambut panjang itu segera menanggalkan seragam putih abu-abunya. Tak lama kemudian Lola sudah muncul di dapur dengan kaos berwarna pink polos dan celana kolor sepaha yang juga berwarna pink lengkap dengan celemek yang masih juga berwarna pink. Hari itu adalah hari ulang tahun Ayah, dan Lola berencana memasak pai apel kesukaan Ayah.

“Bahan-bahannya sudah lengkap, ada di kulkas,” kata Bunda memberitahu. Bunda sendiri sedang sibuk menyiapkan nasi tumpeng beserta lauk pauknya. “Kamu bisa masak sendiri kan.”

“Iya Bun,” jawab Lola. Sebelumnya dia pernah memasak pai bersama Nenek. Tidak sulit sebenarnya, hanya saja harus berhati-hati saat membuat pinggiran pai nya supaya tidak rusak. Bagian itulah yang paling sulit, dan juga yang paling disukai Ayah.

Pertama-tama Lola harus membuat pinggiran pai itu terlebih dahulu. Dengan cekatan Lola mulai mengocok telur, kemudian mencampur tepung untuk membuat adonan. Setelah jadi, Lola memasukkan adonan pinggiran pai itu ke dalam lemari es. Adonan itu memang harus didinginkan dahulu selama kurang lebih 30 menit. Sembari menunggu adonan kulit pai, Lola mulai membuat bagian isinya. Dia memotong apel, mencampurkannya dengan margarine dan bahan-bahan lain kemudian mengaduknya hingga kental. Menit demi menit berlalu, hingga akhirnya Lola mengeluarkan adonan kulit pai dan memasukkannya ke oven. Lola mengusap peluh yang membasahi keningnya. Membuat pai cukup merepotkan juga, batin Lola.

Bunyi oven yang berdentang membuat Lola kembali ke dapur setelah beristirahat sejenak di ruang depan. Lola mengeluarkan pai apel yang masih setengah jadi itu dari oven. Pinggiran pai nya terlihat sempurna, bentuknya bagus dan tidak pecah. Kini Lola mulai melanjutkan mengisi bagian tengah pai sebelum memasukkan pai itu kembali ke oven. Lola melirik jam dinding yang tergantung di atas kulkas. Sudah jam empat lebih lima belas menit. Tak lama lagi Ayah akan segera pulang. Bunda sudah selesai memasak dan mulai menata makanan di meja makan.

Beberapa menit menunggu, akhirnya oven kembali berdentang. Pai apel Lola sudah matang. Dengan hati-hati Lola mengeluarkan pai yang masih panas itu. Bau nya yang harum menggelitik hidung Lola.

“Harus sekali baunya Lola! Tercium dari sini lho!” seru Bunda dari ruang makan.

“Iya Bun,” sahut Lola. Pai ini pasti lezat. Lola meletakkan pai nya itu di atas meja, kemudian dia berbalik mencari potongan-potongan apel untuk menghiasi bagian atas pai. Di sana rupanya. Lola melihat beberapa potongan apel di atas meja.

Dan tiba-tiba kejadian itu terjadi. Detik pertama, Lola menaikkan kacamata dengan jari tengah tangan kanannya, yang lagi-lagi entah untuk yang keberapa kalinya merosot turun. Kemudian dia berusaha meraih potongan apel yang ada di sebelah kanannya itu dengan tangan kanannya. Tiba-tiba saja tangan kiri Lola tanpa sadar menyenggol pai apel yang ada di atas meja. Detik selanjutnya terdengarlah suara gaduh di dapur diiringi teriakan histeris Lola. Semuanya itu terjadi begitu cepat, hanya dalam waktu tiga detik.

“Lola, ada apa?” tanya Bunda yang segera berlari menuju ke dapur begitu mendengar keributan itu. Bunda menutup mulutnya dengan kedua tangannya saat melihat pai apel buatan Lola telah ada di atas lantai. Sebagian isinya berceceran di atas lantai. Sedangkan Lola hanya bisa berdiri terisak memandangi pai buatannya yang kini sudah hancur berantakan.

“Aku menghancurkan semuanya…” ujar Lola lirih sambil menangis. Tangisan Lola semakin keras, dan dia pun jatuh terduduk lemas. Kedua kakinya tak mampu menahan tubuh kecil Lola yang tiba-tiba terasa begitu berat.

“Sayang…” Bunda menghampiri Lola lalu memeluk gadis kecil itu. Tangis Lola tak kunjung berhenti.

“Aku menghancurkan semuanya… Bunda… aku menghancurkan pai untuk Ayah…” ujar Lola di sela-sela isakannya. “Aku nggak bisa bikin lagi… waktunya nggak cukup… bahannya juga sudah habis…”

Bunda mengamati sejenak pai yang telah jatuh itu. “Sayang, nggak apa-apa. Tanpa pai itu, Ayah tetap ulang tahun kok,” ujarnya sambil memandang Lola dengan penuh kasih. Bunda mengapus air mata yang membanjiri wajah Lola dengan kedua tangannya. “Tenanglah. Pai mu nggak hancur semua. Masih ada yang bisa kita berikan untuk Ayah.” Pelan-pelan Bunda membimbing Lola untuk bangkit berdiri, kemudian Bunda menghampiri pai yang masih dalam cetakan itu. Sebagian isinya masih berada dalam cetakan, tapi sudah berantakan. Kulit pai nya sudah rusak semua.

“Ini masih ada sedikit,” ujar Bunda. Bunda meletakkan sisa pai itu di atas meja, kemudian mengambil mangkuk dan sendok. Bunda menyendok sedikit pai yang masih tersisa itu lalu memasukkan ke dalam mulut. “Lola sayang, ini enak kok. Enak sekali,” hibur Bunda.

“Tapi kulit painya sudah rusak. Ayah paling suka kulit pai nya…” isak Lola.

“Sayang, nggak masalah pai mu itu nggak ada pinggirannya. Kamu tahu, meskipun tanpa pinggiran, Bunda yakin Ayah akan tetap menyukai pai mu itu.” Bunda meletakkan mangkuk itu di samping sisa pai Lola, lalu berdiri menghap Lola. “Karena pai itu adalah buatan Lola, yang dibuat Lola dengan penuh cinta kasih untuk Ayah,” ujar Bunda kembali menghapus air mata Lola yang masih tersisa di wajah gadis  kecil itu. “Sekarang, Lola bisa memilih untuk terus menangis, atau Lola ambil sisa pai yang masih ada lalu Lola taruh di atas mangkuk. Lola tetap ingin Ayah merasakan pai apel di hari ulang tahunnya kan?”

Perlahan Lola mulai bergerak mendekati meja, lalu memindahkan isi cetakan pai itu ke dalam mangkuk. Lola juga menaruh beberapa keping pinggiran kulit pai yang masih bisa diselamatkan. Sesekali Lola terisak, tapi kemudian disekanya air matanya dengan kedua tangannya. Sementara itu, Bunda mulai membersihkan ceceran pai yang mengotori lantai dapur.

Malam itu mereka merayakan ulang tahun Ayah dengan makan malam sederhana. “Lola, ini enak sekali,” ujar Ayah saat menyantap sisa pai apel buatan Lola.

“Maafin Lola, Yah. Lola merusak semuanya. Seharusnya Lola nggak ngejatuhin pai itu.” Wajah Lola masih diselimuti kesedihan.

“Lola, kamu tahu? Pai ini enak sekali. Dan Ayah bangga sama kamu. Kamu sudah berusaha membuatkan Ayah pai apel. Meskipun ada hal-hal yang terjadi dan itu tidak kita inginkan, tapi kamu tetap berusaha menyajikan pai ini untuk Ayah. Ini adalah pai yang paling enak, tentunya setelah buatan Nenek…” ujar Ayah jenaka. Seulas senyum tipis menghiasi bibir Lola.

“Itu semua juga karena Bunda. Terima kasih ya Bun. Bunda terus nyemangatin Lola,” ujar Lola menatap Bunda lalu berganti menatap Ayah. “Dan terima kasih Ayah. Lola tahu pai Lola nggak seenak buatan Nenek. Lola senang Ayah suka pai apel Lola, meskipun tanpa pinggiran yang renyah…”

“Lola, Sayang, bukan hanya pinggiran yang membuat pai ini lezat, tapi karena cinta kasih Lola untuk Ayah, dan ditambah lagi semangat Lola dalam membuatkan pai untuk Ayah. Pai ini terasa benar-benar lezat…” Ayah menguatkan Lola. “Terima kasih ya Sayang, puteri Ayah…”

Inspired from Audrey MasterChef Jr 2

Saat nasi telah menjadi bubur, kau bisa memilih untuk menyesalinya lalu membuangnya

Atau menambahkan ayam hingga bubur itu menjadi bubur ayam special

Jangan pernah menyerah dalam keadaan apa pun, selalu ada cara untuk memperbaikinya

Yang kau butuhkan hanyalah semangat untuk terus berjuang dan cinta untuk orang-orang yang kau kasihi

nasi telah menjadi bubur

One day – suatu hari

Siska meremas kertas yang ada di depannya lalu melemparkan kertas tak bersalah itu yang kini telah menjadi sebuah bola tak beraturan ke keranjang sampah di samping mejanya, menambah satu lagi bola kertas yang menghuni keranjang itu. Gadis berkamata itu menyembunyikan wajahnya di atas meja. “Kenapa sulit sekali…” ujarnya lirih.

“Sedang apa kamu Sis?” seorang gadis lain berambut pendek muncul dari balik pintu kamar kos Siska yang memang dibiarkan terbuka.

“Stress…” jawab Siska asal tanpa mengangkat kepalanya. Dia malah sengaja menarik ikat rambutnya sehingga rambutnya yang panjang terurai berantakan di atas meja.

“Oh, lagi nulis?” tebak gadis yang baru saja muncul itu setelah melirik keranjang sampah yang dipenuhi bola-bola kertas. “Siska Siska, aku heran deh jaman sekarang orang kalau nulis sudah pakai laptop, sedangkan kamu masih nulis di atas kertas pakai bolpoin lagi…” sindir gadis berambut pendek itu beranjak duduk di atas kasur Siska.

“Kamu diam aja San!” ujar Siska tegas. “Kalau nggak ada yang mau diomongin keluar sana!”

Sandra, gadis berambut pendek itu seperti tidak menghiraukan kata-kata Siska. Dia malah asyik berbaring di atas kasur Siska sambil membuka beberapa bola-bola kertas yang diambilnya dari keranjang sampah Siska. Mereka berdua, Siska dan Sandra adalah sepasang sahabat karib. Persahabatan mereka telah terjalin sejak mereka masih duduk di bangku SMP.

“Kenapa? Cerpen kamu ditolak lagi?” tanya Sandra setelah matanya menelusuri isi kertas-kertas korban kekejaman Siska. Sandra terlalu mengenal Siska hingga dia merasa perlu untuk tak mendengarkan kata-kata yang baru saja terlontar dari mulut pedas Siska.

“Ini sudah yang ke 20 kalinya cerpenku ditolak!” teriak Siska frustasi saat membalikkan badannya. Mata bulat di balik kacamata berbingkai merah itu menampilkan tatapan penuh kebencian kepada Sandra seakan-akan dialah satu-satunya orang yang harus bertanggung jawab atas kegagalan yang dideritanya. “Kamu tahu gimana rasanya? Gagal dan gagal lagi!”

“Ceileh baru 20 kali, belum 2000 kali juga. Santai saja. Tinggal nulis lagi kan…” jawab Sandra santai. Dia kembali meremas kertas yang barusaja dibacanya lalu melemparkannya ke keranjang sampah. Sekali lempar, bola kertas itu segera mendarat cantik di dalam keranjang bersama bola-bola kertas lainnya. “Lagipula kan kamu sendiri yang mutusin kuliah sastra, nggak mau ikut aku masuk ekonomi…”

“Kamu itu temen aku bukan sih? Temennya lagi susah, nggak ngasih semangat…” nada suara Siska sedikit melunak.

“Hahaha… besok aku mau ke SMA, kamu mau ikut nggak?” bukannya menjawab pertanyaan Siska, Sandra malah balik bertanya.

“Ngapain?” tanya Siska.

“Biasa, Tania bikin masalah lagi di sekolah. Aku dipanggil Pak Budi…” ujar Sandra sambil beralih posisi dari telentang menjadi tengkurap, masih di atas kasur Siska.

“Wali kelasnya Tania Pak Budi?” tanya Siska. Mata bulatnya berputar saat menyebutkan nama mantan guru mereka. Pak Budi bukanlah guru yang menyenangkan, meskipun murid-murid juga tidak membenci guru matematika yang satu itu.

“Kalau mau ikut jam sembilan kita berangkat. Kamu nggak ada kuliah kan besok. Kalau telat aku tinggal,” ujar Sandra tegas lalu bangkit berdiri dan berjalan dengan cantik keluar dari kamar Siska, tanpa maju mundur tentunya.

“O… ke…” jawab Siska meskipun dia yakin Sandra sama sekali tidak mendengarkan satu-satunya kata yang keluar dari mulutnya itu. Harus diakui, dibandingkan dengan Siska, Sandra memang lebih kejam dalam memperlakukan segala sesuatu yang ada di sekitarnya.

Jam sembilan lebih tiga puluh menit Siska dan Sandra telah berdiri di depan gedung bercat putih yang pernah menjadi saksi perjuangan mereka selama tiga tahun menuntut ilmu dalam balutan seragam putih abu-abu.

“Aku ke ruangannya Pak Budi dulu ya, kamu terserah mau ngapain. Nanti kalau sudah selesai aku calling kamu.” Tanpa menunggu jawaban dari Siska, Sandra melangkahkan kakinya menuju ke kantor guru diiringi bunyi medu sepatu high heels warna hitamnya yang beradu dengan lantai. Siska hanya bisa menatap punggung Sandra yang mulai menjauh. Apakah dia mengajakku ke sini hanya untuk ditelantarkan, batin Siska.

Berjalan tanpa tujuan, Siska mulai menelusuri koridor menuju ke kantin. Namun, langkah kakinya terhenti saat matanya menemukan anak-anak SMA yang memenuhi meja-meja taman di depan kantin, sepertinya sedang berdiskusi dalam kelompok.  Hal yang menarik perhatian gadis berambut panjang itu adalah seorang anak perempuan berkacamata yang duduk sendirian di meja paling ujung.

“Halo, sedang pelajaran apa?” tanya Siska sambil duduk di seberang anak itu. Tentunya setelah memastikan tak ada guru yang mengawasi kelas tidak jelas ini.

“Oh…” anak itu nampak terkejut melihat kehadiran Siska. Dengan jari telunjuknya dia menaikkan bingkai kacamatanya yang merosot. “Bahasa Indonesia, Bu Marni…” dengan sopan dia menjawab pertanyaan yang dilontarkan Siska.

“Bu Marninya mana?” tanya Siska. Matanya mulai menyapu setiap sudut taman yang memang difungsikan sebagai ruang diskusi outdoor itu, tetapi wanita bertubuh kurus yang pernah diingatnya itu tidak menampakkan batang hidungnya.

“Nggak masuk. Sakit katanya. Kami dikasih tugas…” ujar anak perempuan itu melenyapkan keingintahuan Siska.

“Kamu suka baca buku ini?” tanya Siska tiba-tiba saat melihat sebuah buku tebal di atas meja. Matanya menangkap tulisan Harry Potter and The Sorcerer Stone yang tertera di cover buku itu.

“Iya Kak…” jawab anak itu sekilas sambil melirik buku tebal itu. “Buku lama sih, tapi bagus kok isinya. Aku suka baca buku itu, makanya aku pakai buku itu untuk tugas bikin sinopsis buku…” jelas anak itu.

“Ooo…” Siska membulatkan mulutnya. Buku Harry Potter seri pertama itu kini berada di tangannya. Dia mulai membuka lembar demi lembar. Siska ingat saat pertama kali dia membaca buku itu, belasan tahun silam. Buku Harry Potter yang begitu fenomenal, bahkan sampai diangkat ke layar kaca itu sukses merebut perhatiannya. Sejak pertama kali membaca buku itu, Siskalangsung jatuh cinta kepada sosok Harry Potter, dan dia tak pernah melewatkan seri-seri berikutnya. Siska lebih suka membaca buku daripada menonton film, karena dengan membaca buku dia dapat menciptakan dunia Harry Potter sesuai imajinasinya. Bisa dikatakan Harry Potter adalah salah satu alasan di balik sepak terjang Siska di dunia tulis menulis.

“Suatu hari nanti, aku akan menjadi seorang penulis terkenal…” jawab anak itu antusias. Siska bisa melihat matanya yang berbinar meskipun berada dibalik kacamata. “Seperti JK Rowling. Lalu aku akan menulis buku yang bagus juga…” lanjutnya lagi menyebut nama penulis buku Harry Potter itu.

Mendengar kata-kata anak itu, ingatan Siska kembali melayang jauh ke tahun-tahun yang telah lampau, ketika dia masih menggunakan seragam putih abu-abu.

“Suatu hari nanti, aku akan jadi seorang penulis terkenal…” kata Siska remaja kepada teman-temannya saat mereka duduk di taman, “Aku akan nulis banyak buku dan ratusan cerita yang bisa menginspirasi orang lain.” Sandra yang kala itu nampak lebih muda dan teman-temannya yang lain hanya mengangguk-anggukan kepala mereka sambil mengunyah jajanan yang mereka beli dari kantin. Pada jam istirahat Siska dan teman-temannya biasanya berkumpul di kantin meskipun mereka berasal dari kelas yang berbeda.

Siska memandangi teman-temannya satu per satu yang nampaknya tak menganggap serius tekadnya. “Beneran!” tegasnya lagi.

“Kamu yakin?” tanya Tata. Suaranya yang renyah sama sekali tidak menunjukkan nada meremehkan. Siska memandang gadis remaja bertubuh kurus dengan wajah lonjong itu dan menganggukkan kepala.

“Kalau aku pilih kerja kantoran aja. Lebih keren. Pakai baju rapi, kerja di kantor ber AC…” tukas Silvia cepat. “Tiap bulan dapet gaji gede. Kalau jadi penulis, terus bukunya nggak laku, dapet duitnya dari mana?”

Siska hanya mengangkat bahu mendengar celoteh gadis berwajah pucat itu. Silvia memang selalu berbicara apa adanya, ceplas ceplos. “Makanya, aku harus bisa nulis buku yang bagus supaya orang-orang suka. Kalau aku nulis cerita yang bagus, pasti buku ku laku.” Tekad Siska semakin bulat.

“Semoga suatu hari nanti impianmu terwujud,” kata Sandra lengkap dengan nada sinisnya sambil mengibaskan rambut panjangnya.

Siska tertawa menanggapi sahabat karibnya itu. “So pasti. Nanti aku traktir kalian semua kalau buku ku laku keras…” ujarnya sambil memeluk teman-temannya.

Kejadian itu seperti baru saja terjadi kemarin. Dalam hati Siska menertawakan dirinya sendiri. Seorang remaja yang belum mengenal kerasnya kehidupan tetapi berani bermimpi.

“Kakak…” panggilan anak perempuan itu menarik Siska dari lamunannya. Rupanya tanpa sadar buku Harry Potter itu telah berada dalam pelukan Siska.

“Oh,” kata Siska. Segera dia meletakkan buku itu di atas meja. “Kamu yakin mau jadi penulis? Jadi penulis itu nggak gampang lho. Ada saatnya tulisanmu ditolak.”

“Ya tinggal nulis lagi…” jawab anak perempuan itu sambil tersenyum. “JK Rowling juga. Sebelum Harry Potter sukses, dia sering mengalami banyak penolakan. Bahkan dia sempat hidup menggelandang. Aku nggak bisa bayangin gimana rasanya jadi JK Rowling saat itu. Tapi dia nggak nyerah, dan terus berusaha. Andai kala itu dia nyerah, buku ini nggak akan ada,” ujar anak itu panjang lebar sambil menunjuk buku Harry Potter itu. Kembali dia menaikkan kacamata yang agak merosot dengan jari telunjuknya. Siska hanya mengangguk-anggukan kepala menyetujui ucapan anak itu.

“Aku masuk kelas dulu ya Kak, sudah bel.”

“Oh. Ok. Semoga impianmu tercapai,” ujar Siska tulus.

“Terima kasih,” kata anak perempuan itu lalu mulai membereskan peralatannya. Siska terus memandangi anak itu saat dia berlalu dan bergabung dengan teman-teman sekelasnya. Apa yang dikatakan anak itu memang benar. JK Rowling pernah mengalami masa-masa yang sulit sebelum berhasil menelurkan buku Harry Potter. Tapi dia tidak menyerah. Banyak orang-orang sukses lain yang juga mengalami nasib serupa. Hal yang sama adalah mereka tidak menyerah, tetapi terus berjuang dan semakin giat berusaha.

Bukan waktunya untuk menyerah, perjuanganku belum selesai dan aku tak boleh menyerah sebelum aku berhasil. Siska menyemangati dirinya sendiri. Menjadi penulis sudah menjadi cita-citanya sejak dulu. Dia ingin bisa menjadi penulis yang menghasilkan tulisan-tulisan dan berbagai cerita yang berbobot dan menginspirasi orang lain. Saat ini, dia memang belum menjadi siapa-apa. Tak masalah orang lain meragukannya, Siska hanya perlu melakukan satu hal, membuktikan bahwa dia mampu dan akan berhasil. Memang untuk meraih hal itu tidaklah mudah. Namun, justru banyaknya kesulitan yang dialaminya akan membuktikan bahwa dia memang pantas meraih kesuksesan. Suatu hari aku akan menjadi seorang penulis, ujar Siska sekali lagi dalam hati. Ketika orang lain mengingatku sebagai Siska yang tak pernah menyerah meskipun mengalami berbagai kesulitan, saat itu aku tidak hanya berhasil meraih kesuksesan tetapi juga sanggup menginspirasi orang lain.

“Di sini kau rupanya,” tegur Sandra yang tiba-tiba sudah berdiri di belakang Siska. “Aku cari ke mana-mana,” omelnya.

“Maaf, maaf… kamu udah selesai?” tanya Siska.

“Udah, yuk pulang…” Sandra segera berbalik tanpa menunggu Siska.

“Suatu hari nanti, aku akan menjadi seorang penulis terkenal…” kata Siska saat mereka berjalan bersama.

“Semoga suatu hari nanti impianmu terwujud,” kata Sandra masih dengan nada sinisnya.

“Thanks ya San…” Siska tersenyum penuh arti. Dan terima kasih juga adik yang aku tak tahu namanya, katanya dalam hati.

IMG_20150129_163204

Keep try

“Huh… apakah aku akan berhasil melewati tes TOEFL ini?” Aku menghempaskan tubuhku pada sofa yang tersedia di kafe itu. Kepalaku benar-benar terasa berat karena setengah isi buku TOEFL setebal 10 cm sudah berpindah tempat, tentunya kupindahkan ke dalam kepalaku.
“Makanya belajar!” sahut orang yang duduk di sebelah kiriku. Dua kata yang diucapkannya benar-benar terasa menampar pipiku. Aku mengelus pipi kiriku. Tidak sakit. “Kalau kamu nggak belajar ya kamu sudah pasti nggak lulus.” Ingin aku memasukkan gumpalan tanganku ke mulutnya, jika saja aku belum kehilangan kewarasanku.
“Kamu nggak tahu sih, susah tahu…”
“Makanya belajar!” Kembali dia mengulangi kalimat itu. “Tunggu sebentar ya!” Dia bangkit berdiri, menuju ke counter. Aku menyandarkan punggungku ke bantalan sofa sembari mencoba memutar kembali deretan kata-kata yang kuhafalkan tadi, tentunya dalam Bahasa Inggris.
“Nih, punyamu!” Dia menyodorkan cup berisi coffe milk tea pesananku sembari mengambil tempat duduk di sebelahku.
“Kenapa kamu nggak duduk di depanku saja?” tanyaku sambil memainkan topping buble pada minumanku itu.
“Kursinya keras. Enakan di sofa. Empuk.”
“Dasar!”
“Shall we practise?” Dia sengaja memancingku dengan berkata-kata dalam Bahasa Inggris.
“Ohhh… can’t we just have vacation today? It’s Saturday night…”
“Practise makes you better!”
“Whatever. I’m not sure about my English skill. Can I pass the TOEFL test, I mean can I get highest score?” Aku mulai menghisap minumanku. Beberapa topping buble berdesakan saat mereka melewati sedotan menuju ke mulutku.
“I don’t know.” Dia menghisap minumannya. Dalam hati aku bertanya apakah milk latte pesanannya enak. Setidaknya warna putihnya memberiku first impression yang buruk. Aku tidak suka warna putih. Terlalu pucat. “You never know until you try.”
“But, how if I fail?” Aku memperhatikan sepasang remaja yang duduk tak jauh dari kami. Menurutku mereka pasangan yang aneh. Mereka nampak sedang berkencan, maksudku berkencan dengan gadget mereka masing-masing.
“The one thing I know is you will certainly fail if you never try.” Katanya sambil memutar cup minumannya dan mendorong cup itu beberapa centi ke arahku. “You’ve got message from Mr. Calais. Read it!”
Mau tak mau mataku pun bergerak menuju ke cup itu. Seulas senyum mengembang di bibirku saat membaca tulisan yang terpampang di situ. “Ok, you win.”
Liekeas

Bagaimana ini? Aku stress. Rasanya nggak mungkin aku bisa lolos tes TOEFL dengan skor setinggi itu. Kukirimkan BBM singkat kepadanya sambil berbaring di atas kasur. Buku TOEFL setebal 10 cm itu tergeletak di lantai, masih terbuka.
I think you’ve got enough spirit for study. Dia membalas BBM ku dalam Bahasa Inggris. Oh, not again. Kurasa otakku sudah cukup kenyang setelah hampir dua jam melahap buku TOEFL.
I think it’s imposible. I know my skill. I can’t do it. I think I’ll give up.
I think we spoke about it yesterday.
But it’s really hard. I’m not smart enough.
Kutunggu beberapa menit sambil terus melirik blackberry hitam yang tergelat di samping kepalaku. Tak ada jawaban. Aku pun bangkit dari tempat kasurku dan mulai merapikan buku TOEFL yang kutelantarkan di atas lantai saat kudengar suara dari blackberry ku dan kulihat lampunya berkelap-kelip. Dia membalas BBM ku.
What’s this? Dia mengirimkan sebuah gambar yang membuat mulutku terkunci.
Krismint Liem林玉敏qas
Keep study. You’ll find a way. The fact that you’re afraid is add more reason for you study hard. Dia menambahkan kalimat itu tak lama kemudian.
You win… again. Balasku.

masih ada

Bukan suatu kebetulan jika anda membuka halaman web ini. Entah kenapa aku tidak tahu hanya saja aku merasa perlu menuliskan ini. Barangkali jika anda membuka halaman ini tentunya anda sedang mengalami saat-saat yang sangat sulit. Well, aku tidak tahu harus menuliskan apa. Tidak ada kata-kata yang dapat melukiskan bagaimana kesulitan yang barangkali anda hadapi. Dan jujur aku tidak tahu harus menuliskan apa.

Well, aku hanya ingin mengatakan bahwa sesulit apa pun hidup anda, dalam segala permasalahan kehidupan, ada Tuhan yang tetap memegang kendali. Anda bukan satu-satunya orang yang merasa demikian. Aku juga pernah mengalami saat-saat yang mengerikan dan kadang rasanya ingin melarikan diri. Melarikan diri terdengar begitu mudah dan seakan-akan dapat membebaskan diri. Tapi tidak demikian. Itu bukanlah jalan keluar. Percayalah.

Tetaplah bersemangat. Jangan menyerah. Anda tidak sendirian menghadapi hidup ini. Hidup ini keras. Hidup ini mengerikan. Hidup ini kejam. Tapi hidup ini juga indah. Hidup ini menyenangkan. Hidup ini anugerah. Jangan sia-siakan hidup ini.

Setiap orang punya ceritanya masing-masing. Dan tiap orang punya kebutuhan untuk bercerita, untuk didengar. Jika anda tidak keberatan untuk membagi sedikit cerita anda, aku bersedia membacanya untuk anda.