Pilihan dalam hidup..

Masih berkaitan dengan tulisan saya sebelumnya Kenapa hidup penuh dengan pilihan sulit jika pada akhirnya semua akan mati? hari ini saya sedikit membagikan percakapan singkat dengan seorang teman.

Pada intinya adalah apa yang manusia lakukan endingya adalah sama saja. Semua kehidupan, tak peduli sebesar apa pun pencapaian yang telah anda miliki akan berakhir dengan kematian. Dan bukankah semuanya itu tidak akan dibawa mati. Harta, kekayaan, nama baik, jabatan, semuanya itu akan hilang pada akhirnya seiring dengan ketiadaan hidup manusia. Jika demikian untuk apa kita harus bersusah payah mulai dari sekolah, kuliah, bekerja, membangun perusahaan? Bukankah pada akhirnya akan sama saja, berakhir dengan kematian. Kita yang menempuh pendidikan tinggi dengan mereka yang tidak bersekolah sama-sama berakhir dengan kematian.

Memang pada akhirnya semua manusia akan mati. Tapi hal yang membedakan adalah value kita dalam menjalani hidup. Dan kalau kita beriman, bukankah di akhirnya nanti kita harus mempertanggung jawabkan hidup kita. Well, itu sih tergantung keyakinan masing-masing, tapi setidaknya ketika masih hidup, kita tetap merasakan perbedaan dalam memaknai hidup. Ketika kita tidak memperjuangkan kehidupan kita maka hidup itu seakan tidak punya makna, tetapi ketika kita memperjuangkan hidup kita dan sesame maka saya percaya hidup itu terasa lebih indah.

Sebagai contoh, katakanlah presiden kita yang sekarang, Pak Jokowi. Beliau seorang pengusaha mebel dan sering keluar negeri. Bukankah bisa dibilang hidup beliau sudah nyaman. Tetapi mengapa beliau repot-repot menjadi walikota, bahkan menjadi presiden. Bukankah masalah yang dihadapi seorang pengusaha mebel jauh lebih ringan daripada presiden? Mengapa beliau repot-repot menjadi presiden? Bukankah seorang presiden dan pengusaha mebel akan berakhir sama dengan kematian. Presiden tidak akan hidup selamanya bukan? Ketika waktunya tiba, baik presiden maupun orang biasa tak bisa mengingkari suratan takdir. Jika demikian halnya mengapa tidak memilih hidup yang mudah saja sebagai pengusaha mebel. Toh beliau juga sudah mapan dan sukses.

Argument teman saya, bukan murni pendapat saya, adalah seorang Jokowi, jika beliau hanya menjadi pengusaha mebel maka beliau hanya bisa mensejahterakan karyawan dan segelintir orang yang berhubungan secara langsung dengan usaha beliau. Sedangkan dengan menjadi presiden, beliau bisa menelurkan kebijakan-kebijakan yang berdampak bagi kesejahteraan seluruh bangsa Indonesia. It’ s about impact and value. Seberapa besar dampak yang bisa anda berikan bagi orang-orang di sekeliling anda itulah yang menurut saya harus dan wajib diperjuangkan. Di situlah bedanya hidup kita dengan hidup orang lain yang mungkin memilih jalan hidup yang mudah.

Sekali lagi, hidup itu memang pilihan. Anda bisa memilih hidup yang mudah dan nyaman, tapi mungkin anda akan merasa hampa dan kehilangan makna, atau sebaliknya anda bisa memilih hidup yang berat dan target-target tertentu untuk dicapai karena anda tahu benar apa yang anda lakukan itu akan membawa kebaikan bagi sesame sehingga perlu dan layak untuk diperjuangkan. it’s your choice…

pelatihan-meningkatkan-motivasi-kerja-42-638

 

Kenapa hidup penuh dengan pilihan sulit jika pada akhirnya semua akan mati?

Sebuah status dari seorang teman cukup membuatku berpikir sejenak. Is it true? Emang sih final destination dari kehidupan adalah kematian. Dan itu juga adalah satu-satunya hal yang pasti dalam hidup ini. Lantas, jika demikian bisa disimpulkan bahwa manusia itu dilahirkan untuk mati bukan?

I don’t think so. Pilihan-pilihan yang sulit itu justru dibuat agar manusia tetap bertahan hidup.  Pertama, orang yang tidak memilih sama artinya dengan orang mati. Bukankah orang mati tidak bisa memilih. Tidak bisa memilih akan dikubur dengan cara apa. Mungkin sewaktu hidup nya sih masih bisa memilih, tapi setelah mati tidak ada kesempatan untuk protes bila ternyata kehendaknya tidak dilaksanakan. Orang mati tidak punya pilihan selain pasrah mengikuti perlakuan orang yang masih hidup terhadap jasadnya. Sorry to say, jika anda hidup tapi hanya mengikuti keadaan alias hidup anda ditentukan oleh orang lain, apa bedanya dengan orang yang sudah mati?

Kedua, orang yang menjalani pilihan sulit sehingga bisa tetap eksis. Contohnya, Bung Karno dan para pahlawan. Mereka berjuang demi kemerdekaan dan masa depan bangsa. Bukankah itu pilihan yang sulit. Bisa saja mereka tidak perlu melakukan hal itu. Memang pada akhirnya mereka tetap mati, tetapi semangat mereka tetap hidup dalam jiwa bangsa ini. Contoh lain adalah penulis buku text book. Well, menelurkan buku yang berbobot tidaklah mudah, pasti penuh perjuangan dan waktu yang tidak sebentar, bisa bertahun-tahun. Tapi orang-orang itu mengabdikan dirinya untuk ilmu pengetahuan. Dan melalui tulisan-tulisannya mereka tetap menyapa para pembaca, membagikan ilmu kepada orang lain.

Setidaknya itulah pemikiranku mengenai status orang tersebut. anyway setiap orang terus dan selalu membuat pilihan dalam hidupnya. Pilihan apapun yang anda buat hendaknya membuat anda lebih hidup dengan mendayagunakan diri untuk sesama.

4 years – 4 tahun

Suara detuk sepatu high heels Ratna beradu dengan lantai terdengar saat wanita cantik itu melangkah memasuki kafe. Denggan anggun dia melepas kacamata hitamnya dan mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kafe, mencari sosok yang dikenalnya. Seulas senyum tipis menghiasi wajah wanita berambut pendek itu saat matanya menangkap seorang wanita berambut ikal dengan make up tebal menghiasi wajahnya melambaikan tangan. Tanpa membuang waktu lebih lama lagi, Ratna bergegas menghampiri meja di mana wanita itu sedang duduk bersama seorang laki-laki.

“Maaf ya, aku telat…” kata Ratna begitu dia meletakkan pantatnya di samping wanita bermake up tebal yang melambaikan tangannya tadi. “Sudah lama kalian di sini?”

“Aku juga barusan kok Na,” sahut wanita yang duduk di sebelah Ratna. “Roy yang nongol duluan.” Wanita itu mengarahkan pandangannya ke arah laki-laki berambut cepak yang duduk di seberang mereka.

“Ya ya ya… sudah biasa aku nunggu kalian…” jawab Roy dengan nada sebal.

“Apa kabar Roy? Wah kamu nggak berubah ya, tetep sama seperti dulu…” Ratna menyapa laki-laki itu. Belum sempat Roy membuka mulutnya, wanita bermake up tebal itu sudah terlebih dulu menyabotase Ratna, “Ya ampun Na, kamu nggak berubah ya, masih cantik seperti dulu…” ujar wanita bermake up tebal itu kepada Ratna, “Gimana kabarmu? Kapan kamu kembali ke Indo? Kamu sudah resign? Terus sekarang kamu kerja apa?” tanpa henti dia mencerca Ratna dengan berbagai pertanyaan, seakan tidak mengacuhkan Roy yang duduk di depan mereka.

“Sabar kenapa sih Des…” sahut Roy menyela rentetan kalimat yang keluar dari mulut Desi, wanita berambut ikal dengan make up wajah tebal itu. “Biar Ratna pesan dulu.”

Ratna tersenyum melihat tingkah kedua sahabatnya itu. “Kalian bener-bener nggak berubah ya, masih sama seperti dulu. Kamu masih tetap cerewet Des, dan kamu Roy, masih tetap sering berantem sama Desi …”

“Sudah kamu pesen minum dulu sana, sekalian lunch aja? Kami sudah pesen kok, tinggal kamu yang belum…” sahut Roy sambil melambaikan tangannya, memanggil pramusaji.

“Dan masih suka ngatur orang lain…” timpal Desi yang disambut gelak tawa Ratna. Senang sekali rasanya dia berkumpul dengan sahabat lamanya. Mereka bertiga sudah bersahabat sejak SMP. Namun ketika SMA Ratna melanjutkan sekolahnya di luar kota dan berpisah dengan kedua sahabatnya itu. Demikian juga dengan saat kuliah, Ratna mengambil kuliah di Singapura, sedangkan kedua sahabatnya itu memilih kuliah di Indonesia. Bisa dibilang ini adalah pertemuan pertama mereka secara langsung.

“Apa kabarnya kamu sekarang? Ayo dong cerita ke mana saja kamu selama ini. Pasti asyik ya kuliah di Singapur, tinggal di sana. Kamu di Indo sampai kapan? Mau balik Singapur lagi? Eh lalu suamimu gimana kabarnya? Kamu kok berani sih Na merit muda. Aku saja masih pikir-pikir kalau diajak pacaran serius, yah masih sibuk menikmati masa muda…” serbu Desi dengan suara cemprengnya begitu pramusaji meninggalkan meja mereka setelah mencatat pesanan Ratna.

“Pelan-pelan tanya nya, satu-satu napa?” tegur Roy memotong ucapan Desi.

“Hahaha…” Ratna tergelak menyaksikan ulah kedua sahabatnya itu. “Minggu depan aku balik ke Singapur. Ya gimana ya… dijalani saja sih Des. Nggak tahu juga. Semuanya terjadi begitu saja. Kalian sendiri gimana? Kamu bikin kue ya Des sekarang? Lalu Roy kerja apa?”

“Iya bikin kue, aku titip ke kenalan-kenalan. Lumayan sih. Banyak pesanan juga,” jawab Desi. “Kalau Roy tuh sekarang sibuk pacaran sama temen kantornya. Sudah naik pangkat makin sibuk dia kerja nyambi pacaran…”

“Wow Roy, kamu sudah punya pacar?” tanya Ratna kagum. Dia tahu betul untuk urusan memilih pacar, Roy sangat selektif. Waktu sekolah dulu cukup banyak gadis yang mendekatinya, tapi Roy sama sekali tidak melayani mereka. Mau fokus belajar, alasannya waktu itu.

“Cuma temen aja,” jawab Roy santai. “Si Desi yang lebai…”

“Temen tapi sering dianter jemput….” sindir Desi. Celoteh mereka terhenti saat pramusaji kafe menghidangkan pesanan mereka.

“Makan dulu,” ajak Roy tidak mengacuhkan Desi. Laki-laki itu mulai menyantap nasi goreng pesanannya. Ratna dan Desi pun mulai menyibukkan diri dengan makanan mereka masing-masing.

“Kamu gimana Na, nggak bareng sama suami?” tanya Desi begitu Ratna meletakkan sendok dan garpunya.

“Ohhh… nggak kok. Sendiri saja,” jawab Ratna setelah meminum jus jeruk yang dipesannya. Dia menarik nafas panjang sebelum membuka mulutnya, “Aku sudah pisah kok…”

“Ha??? Kok bisa Na? Gimana ceritanya?” tanya Desi spontan. Wanita berambut ikal itu menghentikan urusannya dengan piring dan sendok-garpunya lalu menatap tajam Ratna, sementara Roy masih tetap tenang meneguk teh manisnya. Roy memang sudah pernah mendengar hal itu dari Ratna saat mereka berbincang via BBM beberapa saat lalu.

“Yah memang mungkin lebih baik begini. Kami sudah nggak cocok. Sekarang hubungan kami sebagai teman jauh lebih baik daripada saat kami menikah,” jawab Ratna diplomatis.

“Kalian sudah menikah empat tahun kan?” kali ini Roy yang membuka mulutnya. “Apa nggak bisa dipertahanin?”

“Iya. Aku aja sampe kaget denger kamu merit Na,” sahut Desi. “Lulus kuliah kamu langsung merit. Muda banget. Aku aja sampai sekarang belum rencana merit.”

“Ya mungkin dulu aku terlalu cepat mengambil keputusan. Suamiku sering berbuat kasar,” jawab Ratna. “Dia suka memukulku saat kami bertengkar. Dia posesif dan suka mengekangku. Bayangin aja, kalau keluar sama teman, misalnya nih seperti sekarang saat aku jalan sama kalian, dia sering menelpon menanyakan aku sedang apa, dengan siapa, di mana, bahkan dia selalu minta bukti. Kadang aku sampai minta tolong temenku ngomong sama dia, untuk membuktikan kalau aku bener-bener jalan sama mereka. Dan nggak cuma berhenti sampai di situ saja, dia juga selalu ingin tahu apa yang aku omongin. Dia sampai minta aku cerita apa yang aku obrolin. Parah banget kan? Aku sampai malu sama temenku,” curhat Ratna panjang lebar.

“Ya ampun Na, kok bisa sih suamimu seperti itu?” tanya Desi singkat. Kali ini dia tidak mampu melontarkan kalimat yang panjang.

“Memangnya waktu kalian pacaran kamu nggak tahu kalau dia seperti itu?” selidik Roy.

“Ya aku tahu sih dia temperamental. Tapi selama kami pacaran, dua tahun kami pacaran, dia sama sekali nggak pernah mukul aku. Setelah menikah baru aku tahu kalau dia seperti itu. Dia itu selain suka mukul juga males banget. Pernah aku sakit dia sama sekali nggak mau nganter aku ke dokter. Akhirnya aku sampai berangkat sendiri. Katanya dia capek pulang kerja…” Ratna bercerita sambil mengingat masa lalunya.

“Ya ampun Na, sedih banget ceritamu. Kenapa kamu nggak langsung pisah aja sih kalau tahu dia nya seperti itu?” Desi menatap Ratna sedih.

“Ya, awalnya aku berharap dia akan berubah. Dua tahun setelah menikah, aku cerita ke orangtuaku, dan mereka pernah marahin dia. Setelah itu dia nggak pernah mukul aku lagi, tapi setiap kali dia marah dia masih saja ngancam aku. Bukannya aku nggak ingin pisah, tapi dia nggak mau. Aku selalu bilang kalau hubungan kita seperti ini lebih baik kita pisah saja, tapi dia berjanji mau memperbaiki diri. Tapi ya sama sekali nggak ada perubahan. Sampai akhirnya tahun keempat dia sendiri yang minta pisah. Itu pun aku yang ngurus semuanya. Bahkan aku yang keluar uang. Dia sama sekali nggak mau keluar uang. Katanya uangku lebih banyak. Gajiku lebih besar daripada dia…”

“Hebat ya Rat, kamu bisa bertahan sampai empat tahun…” hanya itu yang bisa keluar dari mulut Roy.

“Ya mau gimana lagi? Aku harus kuat ngejalanin semuanya itu…” jawab Ratna sambil tersenyum.

“Ya ampun Na, kalau aku jadi kamu, aku sudah minta pisah langsung!” kata Desi tegas.

“Tapi kamu nggak ada pikiran gimana gitu, pisah dari suami, jadi janda?” tanya Roy lagi.

“Ya ada sih. Aku juga mikir gimana nanti kalau aku pisah. Jadi janda pasti aku akan dicap negatif. Tapi ya ini hidupku. Aku yang ngejalanin, bukan orang lain. Selama empat tahun hidup sama suamiku aku belajar banyak, hingga aku berani mutusin untuk pisah. Terserah orang mau ngomong apa, mereka nggak tahu apa yang aku jalanin. Mereka nggak tahu rasanya jadi aku.” Ratna meneguk jus jeruknya. “Yang penting aku bahagia dengan hidupku sekarang dan aku nggak ngerugiin orang lain.”

“Aku salut sama kamu Na,” sahut Desi.

“Terus langkah kamu ke depan gimana?” tanya Roy. “Kamu masih mau balik ke Singapur?”

“Nggak. Aku mau ke Eropa. Aku mau sekolah lagi dan kerja di sana. Aku mau berusaha mengejar mimpiku. Aku punya mimpi untuk bisa sukses. Aku pernah berlibur ke sana, waktu aku stress dengan pernikahanku, dan aku punya beberapa teman yang baik. Di sana orang dihargai sesuai dengan kemampuannya, dan aku ingin membuktikan diriku, kalau aku bisa sukses.”

“Wow, kamu hebat Rat. Semoga kamu bisa sukses ya. Aku cabut dulu ya, mau balik kantor,” pamit Roy setelah melihat jam tangannya.

“Oh ya sudah. Aku juga masih ada urusan kok,” jawab Ratna. “Semoga kita bisa ketemu lagi dan ngobrol-ngobrol di lain waktu.” Dengan langkah tegap Ratna berjalan meninggalkan kafe, berpisah dengan sahabat-sahabatnya. Ya, ini hidupnya dan dia merasa senang dengan apa yang dijalaninya hari ini, termasuk bercengkrama dengan kedua sahabatnya. Jalan di depannya masih panjang dan dia harus terus melanjutkan hidupnya, menebus waktu empat tahun yang telah dihabiskannya bersama suaminya dan yang telah memberikannya pelajaran untuk menjadi wanita yang kuat, dirinya sendiri. Karena masa depannya ada di tangannya, dan dia sendiri yang memilih jalan mana yang akan ditempuhnya.

Inspired from true story of my friend…

dont-judge-me-for-my-choices-when-you-dont-understand-my-reasons

Jalandar, sebuah potret manusa (dalam serial Mahadewa)

Malam itu aku sedang berkutat di depan TV ketika serial Mahadewa mulai. Aku bukan penggila serial India sih, tetapi berhubung nggak ada tayangan bagus di channel Indo apa boleh buat.

Episode malam itu adalah ketika Jalandar, Raja Iblis yang merupakan esensi Mahadewa mati. Dikisahkan Jalandar adalah esensi Mahadewa yang dibesarkan oleh putri duyung. Ibu Jalandar mati dibunuh oleh dewa Indra. Singkat cerita, Jalandar merasa selama hidupnya dia mendapat perlakuan yang tidak adil, sehingga dia menggugat Mahadewa. Jika dia adalah esensi Mahadewa, mengapa Mahadewa tidak memperhatikannya, sehingga dia mengalami hidup yang berat?

Ketika menonton serial itu, jujur aku setuju dengan Jalandar. Pertanyaan yang sama sering juga kuajukan. Di mana Tuhan saat terjadi ketidakadilan? Mengapa Tuhan membiarkan hal buruk terjadi? Kalau Tuhan mencintaiku, mengapa Tuhan diam saja dan tidak menolong? Kuakui pertanyaan-pertanyaan itu sering kulontarkan dalam hatiku. Dan, mengikuti kisah perjalanan hidup Jalandar aku menjadi penasaran, jawaban macam apa yang diberikan penulis skenario film tersebut.

Dikisahkan bahwa Mahadewa hadir melalui orang-orang yang ada di sekitar Jalandar. Melalui ibunya, sang putrid duyung yang mencurahkan kasih sayang, melalui gurunya yang membimbing Jalandar hingga menjadi Raja Iblis dan melalui istrinya yang begitu mengasihinya. Namun, ketidakpuasan Jalandar lah yang menyeretnya menuju kehancuran.

Merefleksikan kisah itu, mungkin memang benar ketidakadilan, kajahatan dan hal-hal yang tidak kita inginkan terjadi di dalam dunia ini. Di manakah Tuhan? Tuhan bukannya diam saja, tetapi Tuhan juga hadir melalui orang-ornag di sekitar kita. Orang-orang yang menyayangi dan mendukung kita. Keluarga, sahabat, teman-teman. Semua orang yang ada di sekitar kita. Kegagalan kita menemukan Tuhan ketika kita menolak semua bentuk kehadiran Tuhan tersebut. Kita menutup diri dan tidak mau berusaha melihat kasihNya. Ketika manusia memandang hanya ke dalam dirinya sendiri dan tidak menghiraukan orang-orang di sekitarnya maka dia gagal merasakan kehadiran orang lain. Demikian halnya dengan yang aku alami. Aku mempertanyakan ini dan itu karena aku terus berkutat dengan diriku sendiri. Aku menganggap masalahku sangat besar sehingga menutupi kehadiran Tuhan dalam hidupku. Terlalu memfokuskan diri pada suatu hal membuat hal yang lain menjadi tidak kelihatan. Manusia, sama halnya seperti Jalandar memiliki pilihan untuk menerima kenyataan dan menjalankan hidupnya dengan sebaik mungkin, atau sebaliknya menolak kenyataan dan berusaha menggugat Sang Pencipta. Jalandar memilih pilihan terakhir, sehingga selama hidupnya dia tidak mendapatkan kedamaian dan berakhir mengenaskan.

Sulit memang berusaha menerima hal yang tidak kita pahami dan tidak kita ingini. Tapi aku berusaha percaya dan menerima apa pun yang terjadi dalam hidup ini semuanya tidak terlepas dari rencana Tuhan. It’s called faith. Selamat meneruskan hidup…

Sepanjang jalan

Jam sudah menunjukkan pukul tujuh kurang sepuluh menit, dan aku masih berjuang berlari menuju ke kampus. Sial benar hari ini. Tadi pagi aku baru menyadari kalau ban motorku bocor dan sudah kempes total. Karena bingung dan tak tahu harus bagaimana akhirnya aku memutuskan naik kendaraan umum menuju ke kampus dan kutinggalkan motorku untuk beristirahat hari ini. Untuk menuju ke kampus aku harus berganti angkot sekali. Angkot yang lewat di depan kos ku berhenti di ujung gang sehingga aku harus berganti menaiki angkot yang membawaku dari ujung gang menuju ke gedung kampusku. Sudah lima belas menit aku menunggu, tapi angkot yang kutunggu tak juga datang. Kulirik beberapa tukang ojek yang mangkal di bawah pohon. Aku mulai berpikir untuk menggunakan jasa mereka, tapi di lain pihak aku malu kalau naik ojek ke kampus. Apa kata teman-temanku nanti? Kalau naik angkot aku masih bisa berhenti di warung yang berjarak beberapa meter dari kampus, kemudian berjalan kaki sampai ke kampus.  

Akhirnya kuputuskan untuk tak menunggu angkot lagi. Aku mulai berjalan, toh jaraknya tidak terlalu jauh, sekitar satu kilo. Semakin lama aku berjalan semakin cepat. Hingga kulirik jam tanganku dan kulihat jarum panjangnya yang mulai beranjak dari angka 10. Akhirnya kuputuskan untuk menyerah. Percuma sudah, dengan kecepatanku berjalan kaki aku takkan sampai di kelas tepat waktu. Kini aku hanya bisa berdoa semoga dosenku masih memperbolehkan aku masuk kelas. Memang dosen yang satu ini terkenal tidak mentolerir keterlambatan.

Aku mulai memperlambat langkah kakiku dan mengatur nafasku yang agak tersenggal-senggal. Seandainya saja aku tidak mengutamakan gengsiku dan memutuskan naik ojek tadi pasti sekarang aku sudah duduk manis di kelas yang berAC. Kuseka dahiku yang berpeluh. Bajuku juga mulai basah oleh keringat. Kini aku merasa konyol dan bodoh. Hanya untuk menjaga gengsi aku merugikan diriku sendiri. Padahal belum tentu juga teman-temanku peduli aku naik motor atau aku naik ojek atau aku jalan kaki. Betapa bodohnya aku.

**

Seringkali dalam hidup ini Tuhan telah menyediakan sarana transportasi yang memang telah disiapkanNya untuk mengantar kita sampai ke tujuan. Tapi yang namanya manusia sepertinya tidak pernah puas kalau tidak berusaha sendiri dan memilih mengerjakan jalannya sendiri, tidak mau memberdayagunakan sarana yang telah Tuhan siapkan. Manusia memilih jalannya sendiri dengan berbagai alasan yang melatar belakangi pilihannya itu, tidak berpasrah diri dan mengikuti apa yang Tuhan mau.

Akibatnya? Pilihan-pilihan manusia yang tidak tepat seringkali berdampak merugikan dirinya sendiri. Ada jalan yang lebih cepat dan nyaman, tapi nama ego manusia memilih jalan yang sulit dan sukar. Menurutku itu bukanlah pilihan yang bijak dan tidak membuktikan bahwa manusia itu kuat dan mampu berjuang sendiri, justru manusia itu bodoh karena memilih untuk merepotkan dirinya sendiri. Well, memang poin utama yang harus dikalahkan adalah ego dan ke-aku-an, barulah kita bisa menaklukan diri di bawah kaki Tuhan. 

Born this way…

Waktu kecil aku berharap memiliki orang tua yang kaya…

Yang setiap hari mengantarku berangkat ke sekolah dan menjemputku dengan mobil mewah, seperti teman-temanku…

Tapi kenyataannya tidak demikian, aku selalu berangkat sekolah dan pulang naik bus kota…

Aku ingin memiliki kakak laki-laki atau perempuan, rasanya menyenangkan punya seseorang untuk dimintai nasehat…

Tapi aku hanya memiliki adik laki-laki dan perempuan, yang kadang menyita waktuku…

Saat aku remaja aku ingin menjadi anak populer, yang jago berolahraga dan disukai lawan jenis…

Tapi kenyatannya aku hanyalah si kutu buku yang berotak biasa-biasa saja…

Waktu aku mengalami cinta pertama, aku ingin merasakan bagaimana rasanya pacaran…

Tapi sebelum itu terjadi, kusadari cintaku bertepuk sebelah tangan…

Saat aku kuliah aku ingin menjadi mahasiswa yang santai, punya part time job, juga berkencan, memulai sebuah relasi…

Tapi semua waktuku kuhabiskan untuk berkencan dengan tugas-tugas kuliahku…

Tamat kuliah aku mengingkan pekerjaan yang membuatku nyaman, tentunya dengan penghasilan yang tinggi…

Tapi yang kudapatkan adalah pekerjaan yang super sibuk, menguras pikiran dan tenaga, hingga membuatku terkapar setelah seharian bekerja…

Meskipun sampai sekarang tak semuanya berjalan seperti harapanku…

Jika aku bisa memilih dilahirkan kembali, aku tidak ingin mengubah apa pun…

I prefer born this way once again…

Si Tulang Malas

Ada seorang pemuda yang sangat malas, kerjanya setiap hari hanya bermalas-malasan. Orang-orang di kampungnya menjulukinya Si Tulang Malas, karena dia sangat malas. Karena dia tidak bekerja da hanya bermalas-malasan, dia dan keluarganya hidup dalam kemiskinan. “Nanti pada saatnya kita akan kaya,” kata Si Tulang Malas setiap kali istrinya menyuruhnya bekerja. Akhirnya sang istri pun hanya mampu mengelus dada melihat ulah suaminya (heran juga ya kenapa dulu istrinya bersedia menikahi suami seperti itu). Hingga pada suatu hari istrinya tak tahan lagi hidup bersama suaminya dan mengusir Si Tulang Malas. Si Tulang Malas pun memutuskan pergi mencari petapa yang tinggal di gunung sebelah untuk menanyakan cara agar dia menjadi kaya tanpa perlu bekerja dengan susah payah.

Dalam perjalanannya, Si Tulang Malas bertemu dengan seekor serigala. “Siapa kau dan mau apa kau memasuki wilayah kekuasaanku?” tanya serigala itu. Dengan takut Si Tulang Malas bercerita bahwa dia sedang dalam perjalanan mencari petapa untuk meminta nasehat agar menjadi kaya. “Apakah kau bersedia menolongku?” tanya serigala itu. “Jika kau bertemu dengan petapa itu, tolong tanyakan mengapa perutku sakit sekali, dan sudah satu bulan aku tidak bisa makan.” Si Tulang Malas pun menyanggupi permintaan serigala itu dan berjanji menyampaikan pertanyaannya kepada sang petapa.

Tak berapa lama kemudian Si Tulang Malas tiba di sungai, ketika dia hendak minum dilihatnya seekor ikan besar sedang menampakkan wajahnya dari dalam air. ‘Tuang, aku dengar kau sedang dalam perjalanan mencari petapa di gunung sebelah, apakah kau tak keberatan jika aku meminta tolong untuk menanyakan mengapa tenggorokanku sakit setiap kali aku menelan makanan?” Si Tulang Malas berjanji untuk menyampaikan pertanyaan ikan itu kepada petapa.

Sampai di kaki gunung, Si Tulang Malas merasa lelah dan dia berisitirahat di bawah pohon besar. “Tuan, apakah benar kau sedang mencari petapa yang tinggal di atas gunung?” tanya pohon itu. “Bersediakah kau menolongku untuk menanyakan kepada petapa itu mengapa daun-daunku selalu cepat gugur begitu mereka muncul?” Si Tulang Malas kembali berjanji kepada pohon itu untuk menyampaikan pertanyaannya kepada petapa.

Akhirnya, tibalah Si Tulang Malas di tempat kediaman petapa. Tanpa membuang waktu lebih lama lagi, Si Tulang Malas segera bertanya kepada petapa itu bagaimana caranya agar dia menjadi kaya tanpa perlu bersusah payah, tak lupa dia menanyakan pertanyaan serigala, ikan dan pohon. Petapa itu menjawab pertanyaan yang dititipkan kepada Si Tulang Malas. “Lalu bagaimana dengan pertanyaanku?” tanya Si Tulang Malas kepada petapa itu kerena petapa itu sama sekali tidak memberitahunya bagaimana cara menjadi kaya. “Semuanya itu sudah diatur, pulanglah,” jawab petapa itu. Si Tulang Malas pun pulang dengan hati gembira.

“Bagaimana Tuan, apakah engkau sudah bertemu dengan petapa itu?” tanya pohon besar itu ketika dia melihat Si Tulang Malas menuruni gunung.

“Sudah. Petapa itu bilang bahwa di akarmu terdapat sebuah peti berisi koin emas yang sangat banyak, jika kau ingin daunmu tidak gugur, kau harus menyingkirkan peti itu,” jawab Si Tulang Malas.

“Tuang, tolonglah aku, ambillah peti itu dan dengan demikian Tuan juga akan mendapatkan banyak koin emas bukan?”

“Maaf, kau carilah orang lain saja. Aku malas menggali akarmu. Petapa itu bilang kekayaanku sudah diatur, aku tak perlu bersusah payah.” Si Tulang Malas pun meninggalkan pohon itu dan melanjutkan perjalanannya pulang. Ketika dia sampai di sungai, dilihatnya ikan itu sedang menunggunya.

“Tuan, bagaimana, apakah kau sudah menanyakan pertanyaanku kepada petapa?” tanya ikan itu.

“Kata petapa di tenggorokanmu terdapat mutiara yang sangat besar, kau harus mengeluarkannya agar kau dapat makan dengan nyaman.”

“Tuang, tolonglah bantu aku untuk mengeluarkan mutiara itu dan kau dapat memilikinya.”

“Mintalah orang lain saja untuk membantumu. Aku malas. Petapa itu bilang kekayaanku sudah diatur, aku tak perlu bersusah payah.” Si Tulang Malas kembali melanjutkan perjalanannya dan meninggalkan ikan itu.

Ketika Si Tulang Malas sudah hampir sampai di kampungnya, dilihatnya serigala tertidur pulas menunggunya. Si Tulang Malas membangunkan serigala itu. “Kata petapa kau harus makan orang yang paling malas di dunia ini agar perutmu sembuh,” kata Si Tulang Malas.

“Tapi di mana aku dapat menemukannya?” tanya serigala itu.

“Petapa itu tidak mengatakannya.” Kemudian Si Tulang Malas menceritakan perjalannya menemui petapa hingga dia kembali menjumpai serigala itu.

“Akhirnya aku menemukan orang itu. Kini aku tak perlu susah-susah lagi mencari siapa orang paling malas di dunia, orang itu sendirilah yang mendatangiku,” kata serigala riang kemudian dia melahap Si Tulang Malas dan sembuhlah perut serigala itu. Itulah akhir hidup Si Tulang Malas.

**

Sebuah cerita yang pernah kubaca sewaktu aku masih kecil. Masih nyantol sih, coz ceritanya bagus, poin yang terus kuingat adalah jangan jadi orang malas dan haru selalu berusaha. Endingnya bagus. Poin kedua yang baru saja kusadari saat menuliskan cerita ini lagi adalah barangkali benar bahwa nasib Si Tulang Malas memang sudah diatur, tapi tidak berarti dia ditakdirkan untuk dimakan serigala, jika saja dia memilih untuk menolong pohon dan ikan tentunya dia menjadi kaya dan tidak akan berakhir menjadi makan malam serigala. Tapi kembali lagi, Si Tulang Malas sendiri yang menentukan nasibnya, padahal dia memiliki kesempatan untuk mengubah nasibnya, jika saja dia tidak terlalu malas.

Well, kadang orang berpikir bahwa nasibya sudah diatur, memang benar tetapi tanpa disadari sikap dan tindakan, serta pilihan kitalah yang turut berperan serta menentukan nasib hidup kita sendiri. Jangan salahkan takdir, nasib ataupun orang lain atas kemalangan yang menimpa kita, tapi salahkan diri sendiri, koreksi pilihan-pilihan yang membuat kita mengalami hal itu.