Menggoreng kerupuk

Hari ini saya berencana menggoreng kerupuk, kebetulan saya masih memiliki beberapa kerupuk mentah yang tengah menanti untuk digoreng. Saya sudah memanaskan minyak ketika menyadari bahwa kerupuk-kerupuk itu lembab. Alhasil saya mematikan  kompor dan terpaksa menjemur kerupuk-kerupuk itu terlebih dahulu. Sialnya lagi, matahari hanya sebentar memancarkan sinarnya, selebihnya awan gelap menggantungi langit. Belum ada satu jam, akhirnya saya memutuskan untuk menghentikan usaha menjemur kerupuk itu, menurut saya hal itu sama seperti menjaring angin. Saya pikir sudah cukup, kerupuk-kerupuk itu tidak lagi lembab, meskipun juga tidak terasa panas.

Segera saya kembali ke dapur, menyalakan kompor melanjutkan memanaskan minyak yang kini telah dingin. Beberapa kerupuk yang saya goreng pertama hasilnya sangat bagus. Kerupuk-kerupuk itu mengembang. Akan tetapi tidak demikian dengan kerupuk-kerupuk yang selanjutnya masuk ke dalam wajan. Semua kerupuk-kerupuk itu tidak mengembang. Mereka hanya mengeras dan menghitam. Rupanya kerupuk-kerupuk itu belum siap digoreng. Seharusnya saya menjemur mereka lebih lama lagi. Seharusnya saya tidak memaksa untuk menggoreng kerupuk yang masih lembab itu. Tidak ada panas seharusnya bukan menjadi alasan bagi saya untuk tetap memaksa menggoreng kerupuk. Permasalahan sebenarnya terletak pada diri saya sendiri yang tidak mau bersabar menanti hingga kerupuk-kerupuk itu siap untuk digoreng. Alhasil, saya mendapatkan kerupuk yang hancur.

Bukankah hal yang demikian juga sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari? Banyak orang yang tidak mau bersabar dan menginginkan semuanya serba cepat. Proses yang memerlukan waktu pun diusahakan untuk diperpendek seminimal mungkin. Maka jangan salahkan siapa pun jika hasil yang didapatkan juga sangat minim. Tidak ada barang bagus yang didapat tanpa pengorbanan. Semua membutuhkan usaha, proses, waktu dan kesabaran. Jika mungkin hari ini anda sedang in progress, bersabarlah. Saya tetap yakin bahwa usaha, kerja keras dan kesabaran itu akan beroleh hasil yang sebanding. Memang mungkin ada jalan pintas yang tersedia di kiri kanan, tapi kita juga tidak pernah tahu apa yang menunggu di sana, dan berapa harga yang harus dibayar untuk melewatinya. Jangan pernah tergoda untuk menyimpang, stay on the line =)

Advertisements

Two hours – dua jam

Sandra membuka matanya. Sudah berapa lama dia tertidur? Kereta yang dinaikinya sama sekali tidak berjalan. Dia melirik jam tangannya. Jam sembilan lewat tiga puluh menit. Seharusnya dia sudah setengah perjalanan sekarang. Sandra menyilakan rambut pendeknya lalu melayangkan pandangannya ke luar jendela. Matanya mencoba menangkap sesuatu yang bisa dikenalinya. Nihil. Hanya kegelapan yang ada di luar sana.

“Keretanya trouble Mbak,” sahut seorang wanita muda yang duduk di sebelah Sandra.

Sandra memandang wanita itu sejenak. Sebelumnya dia tidak terlalu memperhatikan wanita muda yang duduk di sebelahnya itu. Sepertinya dia seorang wanita karir, nampak dari busana formal yang dikenakannya. Rambutnya yang panjang sebahu juga nampak rapi. Wajahnya nampak menyiratkan kelelahan, make up nya sedikit pudar, tetapi tidak memudarkan kecantikannya. Menilik usianya, sepertinya mereka hanya selisih beberapa tahun. “Kenapa ya Mbak?” tanya Sandra.

“Kurang tahu Mbak. Saya juga dengernya gitu dari beberapa penumpang lain. Sudah hampir setengah jam Mbak, mogoknya…”

“Oh…” hanya itu yang dapat terlontar dari mulut Sandra. Menit demi menit selanjutnya Sandra mulai sibuk dengan gadgetnya. Sementara wanita yang duduk di depannya asyik mengobrol dengan pasangan paruh baya yang duduk di depan mereka. Kereta Sriwedari yang dinaiki Sandra ini memang diatur sehingga tempat duduk penumpang saling berhadapan.

“Sial, habis baterai,” omel Sandra tiba-tiba saat layar gadget miliknya itu tak lagi menampilkan apa pun. Sandra menghempaskan punggungnya ke sandaran kursi. Menunggu adalah hal yang paling dibencinya. Dia kembali melirik jam tangannya. Sembilan lewat empat puluh lima menit.

“Lama sekali ya Mbak,” katanya dengan nada tinggi. Kesabarannya mulai terkikis.

“Oh, mungkin sebentar lagi Mbak,” sahut wanita yang duduk di sebelah Sandra agak terkejut. “Ratna…” kata wanita itu memperkenalkan diri.

“Sandra…” jawab Sandra malas. Sandra memang terkenal atas ketidakramahannya. “Ini sudah sampai mana ya?” lanjutnya lagi dengan nada tak acuh.

“Sudah setengah perjalanan Mbak Sandra…” jawab wanita yang bernama Ratna itu ramah.

“Sandra aja, nggak usah pakai Mbak,” sahut Sandra jutek.

“Ok Sandra,” Ratna masih tetap bersikap ramah. Sepertinya wanita itu harus siap menghadapi pedasnya mulut Sandra selama beberapa waktu ke depan.

“Lama banget sih. Ini sopirnya ngapain aja sih? Tahu nggak sih orang bête nunggu. Gimana coba sama orang-orang yang dikejar waktu. Dari tadi nggak jalan-jalan. Mau nunggu sampai berapa lama lagi?” Sandra mulai mengungkapkan kekesalannya. Harap maklum, Sandra sedang mengalami hari yang buruk. Hari ini KHS (kartu hasil studi) semesterannya keluar dan nilainya memang seperti yang telah ditebak Sandra. IP nya berkilo-kilo meter jauhnya dari angka 4. Mendung yang menyelimuti hati Sandra berubah menjadi hujan badai saat dia bertengkar dengan Bimo, cowok yang menyandang status sebagai pacarnya selama dua tahun terakhir. Sebenanya sih hanya karena masalah sepele. Saat Sandra menceritakan nasib naas yang menimpanya itu, sebagai pacar yang baik Bimo berusaha menasehatinya untuk kuliah dengan sungguh-sungguh dan berusaha semaksimal mungkin. Namun mungkin karena Sandra sedang bad mood, akhirnya mereka bertengkar. Sandra merasa Bimo terlalu mencampuri kehidupan pribadinya.

“Ya mungkin lagi ada masalah teknis San. Kalau terus dijalanin bisa-bisa nanti keretanya kecelakaan. Pak masinis tahu yang terbaik kok. Percaya saja…” Ratna berusaha menenangkan Sandra sekaligus mengkoreksi istilah yang digunakan Sandra untuk menyebut pengemudi kereta api.

“Sebentar lagi juga jalan,” kali ini bapak tua yang duduk di depan Sandra ikut menanggapi. Mau tak mau Sandra memasang seulas senyum yang sangat jelas terlihat bahwa senyuman itu dipaksakan.

“Sampe mana tadi? O ya sampe Alif…” Bapak tua itu kembali melanjutkan obrolannya dengan Ratna. Sandra mengamati sejenak pasangan paruh baya yang duduk di hadapannya itu. Seorang bapak tua dan isterinya. Mungkin usia mereka sekitar 60 tahun. Kerutan di wajah mereka menandakan banyaknya usia yang telah dilalui bersama. Bapak itu menggunakan kacamata dan berpeci, sedangkan istrinya mengenakan pakaian tertutup dan berhijab. Karena tak ada hal lain yang bisa dikerjakannya, mau tak mau Sandra ikut mendengarkan. “Alif itu kerjanya di kontraktor bangunan. Jadi site manager, mungkin semacam mandor gitu mungkin ya. Bapak juga ndak ngerti kerjanya kaya apa. Alhamdulilah gajinya gede. Setiap bulan pasti ngirimi Bapak sama Ibu.”

“Iya kaya kemarin Bapaknya sakit, harus operasi kaki. Alif yang nanggung biaya operasi. Padahal Ibu tu sudah bilang, Lif kakak-kakak mu juga sudah urunan bayari operasi Bapak. Sudah, simpen aja uangnya buat kamu. Gaji kamu itu ditabung buat kamu besok. Ndak usah dikasih ke Bapak sama Ibu. Wong kamu juga harus mikir masa depan. Tapi ya anak saya itu si Alif, bilangnya ndak papa Bu. Wong Alif kerja juga buat Bapak sama Ibu. Alif ndak pengen Ibu dibilang miskin, orang ndak punya sama tetangga, sama saudara-saudara,” istri Bapak itu turut menimpali. Sandra mulai tergelitik untuk mengetahui lebih banyak lagi tentang keluarga suami istri itu.

“Mungkin Alif ingat dulu waktu kecil kami susah. Saya aja buat sekolahnya anak-anak minjem uang dari saudara-saudara. Kakak-kakaknya Alif cuma lulus SMP. Mereka ndak mau sekolah SMA. Mau kerja aja, buat bantu Bapak sama Ibu. Si Alif, saya suruh sekolah SMA. Biarpun kami susah, tapi kami tetep pengen anak-anak itu sekolahnya tinggi, biar nasibnya bisa lebih baik dari orang tuanya,” timpal Ibu itu lagi.

“Tapi kan sekolah nggak menjamin orang itu akan sukses nanti…” kali ini Sandra membuka mulutnya.

“Iya nak. Kita memang ndak tahu jalannya orang gimana. Tapi pendidikan itu penting. Kalo orang pintar, dia bisa kerja di mana-mana. Kalau orang bodoh kaya kami, ndak bisa apa-apa. Ndak bisa usaha. Bisanya cuma buka warung,” Bapak itu menjelaskan tanpa bermaksud menentang pendapat Sandra.  Dalam hati Sandra mengakui ada kebenaran yang terkandung dalam kata-kata bapak itu. Tepat saat itu kereta mulai berjalan. Sandra melirik jam tangannya. Jam sepuluh lewat lima menit.

“Ibu bersyukur sama Allah. Meskipun kami orang ndak punya, tapi anak-anak kami mau ngerti sama orang tuanya. Mereka ndak minta macem-macem. Sekolah juga sungguh-sungguh. Alhamduliah sekarang anak-anak kami hidupnya lebih baik dari orang tuanya. Apalagi si Alif, sudah mapan kerjanya,” kata ibu yang duduk di depannya. Rona kebahagiaan memancar dari wajah yang penuh dengan kerutan itu. Sandra sempat berpikir, apakah orang tuanya juga akan mengatakan hal yang sama tentangnya? Apakah dia sudah mengerti keadaan orang tuanya? Rasanya tidak. Apa yang Sandra minta pasti diberikan oleh orang tuanya. Tapi sama sekali dia tidak pernah memikirkan bagaimana usaha orang tuanya bekerja. Sandra merasa tertampar oleh kisah keluarga pasangan paruh baya yang ada di hadapannya itu. Dia merasa bahwa hidupnya jauh lebih beruntung daripada pasangan itu tapi sangat jarang sekali dia bersyukur.

“Ibu cuma pengen si Alif nikah. Ibu sering bilang, mbok kamu cari istri yang baik le, yang bisa ngurus kamu, sayang sama kamu, nasehati kamu, ngingeti kamu sholat juga. Soalnya si Alif, anak saya itu sering lupa sholat, terutama sholat subuh…” lanjut ibu itu. Mendengar kata-kata ibu itu tiba-tiba Sandra teringat kepada Bimo. Bimo juga sangat perhatian. Dia sering mengirimkan BBM mengingatkan Sandra untuk makan, cowok itu memang hafal betul tabiat Sandra yang sering lupa waktu kalau sudah terlanjur asyik dengan dunianya. Ratna, yang duduk di sebelah Sandra juga sepertinya sengaja membuang muka, mengalihkan pandangannya ke arah penumpang yang duduk di seberangnya. Untuk beberapa menit mereka terdiam.

Pasangan paruh baya itu nampak sibuk berbicara satu sama lain untuk menghubungi anak mereka. Sepertinya mereka akan turun di stasiun selanjutnya. Si bapak nampak berbicara melalui HP dengan salah satu anaknya, meminta dijemput.

“Itu HP dari si Alif,” kata si ibu. “Biar Alif gampang kalau mau telpon Ibu sama Bapak, katanya waktu ngasih HP itu. Padahal sungguh, Ibu sama Bapak ndak perlu barang kaya gitu. Tapi si Alif maksa, sudah dibelikan buat Ibu sama Bapak, katanya.” Dengan nada gembira ibu itu menceritakan tentang HP yang digunakan suaminya.

Tak lama kemudian kereta tiba di Stasiun Klaten. Benar saja, ketika kereta berhenti bapak dan ibu itu minta diri. Kembali Sandra melirik jam tangannya. Jam sepuluh lewat dua puluh.

Sepeninggalan pasangan itu, kereta mendadak hening. Sandra sibuk berkutat dengan pikirannya, mencerna apa yang dibicarakan oleh pasangan tua itu. Apa yang telah diberikannya untuk orang tuanya? Alih-alih memberikan HP, nilai yang baik saja dia tidak mampu mempersembahkan. Bimo memang benar. Dia seharusnya berusaha lebih keras.

“Ngomong-ngomong Sandra ada urusan apa ke Solo?” tanya Ratna memecah keheningan, berusaha mencari topik pembicaraan.

“Mau pulang. Aku kuliahnya di Jogja. Rumah di Solo,” jawab Sandra singkat. Tak terdengar lagi kesan jutek dalam nada bicaranya.

“O… di sana ngekos?”

“Iya.”

“Ngomong-ngomong sebentar lagi sampe Solo nih rasanya. Kamu dijemput? Sudah kasih tahu?” selidik Ratna karena Sandra sama sekali tidak mengeluarkan HP nya dari dalam tasnya, padahal tadi dia sempat berkutat cukup lama dengan benda itu.

“Iya… belum… HP ku mati…” jawab Sandra singkat. Sudah hampir jam sebelas. Tadi Sandra sudah memberi tahu papanya kalau kereta yang ditumpanginya mogok dan baterai HP nya akan habis. Saat ini dia tak tahu apakah papanya masih menunggu kabar darinya. Semoga papa tidak cemas, batin Sandra.

“Mau pinjam HP ku? Sudah malam, nggak baik kalau perempuan pulang sendirian. Yang jemput pasti juga bingung kamu nggak ngabarin…” ujar Ratna sambil menyodorkan HP nya. “Hapal nomornya kan?”

Sandra mengangguk pelan saat menerima HP itu, “Terima kasih.” Kemudian dia memencet nomor rumahnya, berbicara dengan sang papa yang ternyata masih menunggu kepulangan anak sulungnya itu.

“Lama ya, Jogja Solo hampir dua jam,” kata Ratna saat Sandra mengembalikan HP nya. “Biasanya satu jam lebih sedikit.” Entah dia mengelurkan uneg-uneg yang tersimpan di dalam hatinya atau sengaja mengatakan hal itu mendahului Sandra sebelum dia mengomel lagi.

Sandra mengangguk mengiyakan ucapan Ratna. Kereta pun berhenti di Stasiun Purwosari. “Sandra turun mana?” tanya Ratna saat bersiap-siap hendak turun.

“Balapan,” jawab Sandra.

“Oh, kalau gitu aku turun dulu ya. Sampai jumpa…” Ratna tersenyum ramah lalu menghilang di bersama orang-orang yang juga turun. Iya, dua jam perjalanan dari Jogja ke Solo ini memang terasa lama, batin Sandra. Tetapi selama dua jam ini aku belajar cukup banyak. Aku belajar untuk bersyukur atas segala yang kumiliki, orang tua yang menyayangiku, kehidupan yang nyaman, juga pacar yang memperhatikanku. Aku juga belajar bahwa masih ada orang baik seperti Ratna yang ramah dan peduli terhadap orang lain.

Tiba-tiba pandangan mata Sandra tertuju pada selembar kertas yang tertinggal di kursi Ratna. Dia ingin berteriak memanggil nama mantan teman sebangkunya itu. Tetapi mulutnya seakan menjadi kaku saat dia membaca tulisan yang tertera di atas kertas itu…

IMG_20150319_170448

On the way to Banyuwangi

Banyuwangi, 18 Des 13

Hari ini aku belajar banyak dari seorang supir angkot. Well, ceritanya aku sedang dalam perjalanan dinas ke Banyuwangi. Ketika turun dari stasiun, seorang sopir angkot menghampiri, poin pertama yang kupelajari adalah dia menjemput penumpang. Mungkin itu hal yang kelihatannya sederhana, tapi itu merupakan bentuk dari usahanya. Sepanjang jalan sopir itu menghampiri pintu-pintu kedatangan pelabuhan di sepanjang jalan. Tak jarang dia turun untuk membujuk calon penumpangnya.

Hal itu cukup menarik bagiku. Kenapa? Karena tak sedikit orang yang tidak mau berusaha, mereka cenderung menunggu tapi tidak melakukan apa-apa untuk mewujudkan kehendaknya. Hehehe, itu salah satu koreksi bagi diriku juga sih.

Selanjutnya sopir itu bercerita singkat tentang dirinya saat kami menunggu di depan pelabuhan. “Hidup itu harus sabar,” katanya singkat tapi meninggalkan kesan yang mendalam. Apalagi kata-kata itu terlontar dari seorang yang hidupnya tidak bisa dikatakan nyaman menurut ukuran kacamataku. Kulirik tumpukan uang yang ada di dasbor mobilnya. Ada beberapa lembar 2000 dan 5000 an. Aku tak bisa membayangkan berapa penghasilannya setiap harinya. Apalagi Banyuwangi itu kecil, tak banyak orang yang menggunakan jasa angkutan umum.

Sekali lagi aku dikoreksi oleh perkataan yang keluar dari mulutnya. Aku bukanlah orang yang mudah bersabar. Tali kesabaranku itu sangat pendek, mungkin tak sampai semeter panjangnya. Saat meghadapi situasi dan kondisi yang tak menyenangkan, aku biasanya mengomel, menggerutu, bahkan marah-marah.

“Kita harus bersyukur,” sekali lagi ucapannya bagai menumpahkan bara di atas hatiku. Memang sih aku menuliskan ‘Bersyukur selalu…’ di atas kertas yang kutempel di kamarku, tapi pada prakteknya… Aku lebih banyak protes kepada Tuhan daripada mengucapkan terima kasih.

Hari ini aku belajar sedikit lagi pelajaran kehidupan yang kudapatkan di kota kecil Banyuwangi, jika masih bisa dikatakan kota =P

Belajar bersabar…

Hari ini aku belajar tentang kesabaran. Tidak mudah menjaga kesabaran dan menahan emosi. Aku belajar sabar saat menghadapi anak penjaga mess ku yang masih kelas 4 SD, ketika dia minta diajari mengerjakan PR matematika. Rasanya susah sekali membuat anak itu mengerti, dan jujur saja aku bingung bagaimana menerangkan cara untuk mengerjakan soal-soal pembagian tersebut. Well, step by step, pelan-pelan aku mengajarinya untuk mencoba satu per satu, mencari jawaban dengan mengalikan berbagai angka supaya dia bis menemukan jawabannya sendiri. Tentunya jauh lebih mudah jika aku langsung saja membimbingnya, segera mengatakan jawabannya, tidak perlu menyuruhnya berputar-putar dulu untuk mencari jawabannya sendiri, dan tentunya hal itu lebih memakan sdikit waktu dan tidak menguras emosi, seperti yang sudah kukatakan aku harus menahan diri, menahan kesabaranku. That’s the first point.

The second point is rasanya susah sekali mengajarkan anak kecil dengan pemikirannya yang terbatas menggunakan cara kita, soal-soal itu terasa sangat mudah dan dalam hitungan detik tentunya aku dapat menemukan jawabannya. Tapi aku harus menurunkan cara berpikirku dan mengikuti cara berpikirnya. It’s so hard. Aku harus memutar otak agar dia dapat mengerti apa yang kumaksudkan, dengan kemampuan berpikirnya yang masih kecil. Well, aku tidak memiliki kemampuan untuk menghadapi anak kecil, aku amat sangat tidak bisa bersabar. It’ true. Dan rasanya hari ini aku belajar ekstra keras untuk sabar. Fiuhhh… membuang nafas panjang….

When I think bout it, the first one gets well with this one. Melihat dari sudut pandang Tuhan, aku mengagumi bagaimana Tuhan bisa sabar menghadapi anak-anak manusia yang kerdil baik dalam iman maupun cara hidupnya. Well, setiap hari selalu ada hal yang kukeluhkan, aku protes ini dan itu dan terlebih lagi hidupku yang masih bergelimang dosa ha5… Kurasa Tuhan pasti memiliki kesabaran yang sangat panjang dan tak ada habis-habisnya, setidaknya belum, untuk menghadapi manusia macam aku ini. I can’t imagine how He can make it, and not get tired by me. Bersabar itu tidak mudah, apalagi jika tidak dianggap. Jika orang itu masih menganggapi dan mengikuti apa yang kita katakan dan menghargai tindakan kita, tentunya kita masih merasa dihargai dan kurasa kita masih bisa bersabar sedikit lebih lama lagi. Tapi bagaimana jika orang itu tidak menganggap kita sama sekali dan semua apa yang kita lakukan bagi dia sama sekali tidak dianggapnya. Rasanya buat apa bersabar menghadapi orang semacam itu. Wellm kurasa orang semacam itu sanga identik dengan diriku, atau kita, yang masih merasa diri sebagai manusia berdosa, yang masih terus melakukan dosa tanpa kenal lelah, meskipun tahu bahwa hal itu mendukakan hati Tuhan, tapi dengan semangat 45 tetap saja kita masih hidup bersama dosa-dosa kita dan semakin lama semakin nyama dan semakin mencintainya. Well, itu kutujukan pada diriku, mohon maaf jika ada yang tersinggung.

Poin berikutnya adalah kurasa Tuhan harus berpikir ekstra keras untuk membuat manusia mengerti apa maksudNya. Manusia dengan pemikirannya yang terbatas tentunya tak bisa menangkap maksud Tuhan dan tak akan pernah bisa memahami Dia yang tak terbatas. Oleh karena Tuhan pasti bekerja keras agar Dia dapat mengatakan maksudNya melalui cara yang kita dapat pahami. Well, meksipun demikian aku masih merasa Tuhan gagal, karena masih banyak manusia yang tetap saja tidak bisa mengerti maksud Tuhan, salah satunya aku ha5. Seperti caraku untuk membuat anak penjaga mess itu mengerti dan dapat belajar sendiri maka aku mengajarkan dia untuk mencoba sendiri, memang dia harus menemukan cara yang tepat by herself, so she can learn to learn by herself. Jika aku langsung mengatakan jawabannya maka dia tidak akan belajar sesuatu dan bukannya menjadi pintar tapi makin menjadi bodoh.

Demikian halnya dengan belajar tentang kehidupan. Tuhan tentunya ingin agar kita menjadi semakin dewasa dan dapat bertahan hidup menghadapi segala masalah, oleh karena itu Tuhan memberikan banyak persoalan hidup untuk kita pecahkan. Tentunya Tuhan tidak bermaksud agar kita bisa berdiri sendiri, dalam artian mengandalkan diri sendiri, terpisah dari Tuhan. Absolutely not. Melalui persoalan demi persoalan hidup, kita belajar semakin dewasa dan justru semakin bergantung padaNya, karena tidak semua persoalan hidup dapat kita selesaikan sendiri. Tuhan lah yang memberikan soal maka Tuhan juga yang memegang kunci jawabannya. Tapi tentuNya Dia tidak ingin memberikannya begitu saja kepada kita. Kalau Dia langsung memberikan kunci jawabanNya, lalu untuk apa Dia memberikan soal-soal itu. Bukankah kita malah merasa dipermainkan.

Oleh karena itu Tuhan mengajarkan kita untuk belajar dan memecahkan persoalan demi persoalan sehingga kita semakin dewasa dan makin bijak. Dan juga semakin mengerti maksud dan pimpinan Tuhan dalam hidup ini. Kadang kita harus mencoba berputar-putar sebelum menemukan jawaban yang tepat, well bagiku itu tidak masalah. Itulah yang namanya proses belajar. Untuk menemukan apa yang benar kita harus tahu dulu mana yang salah. Tapi tentunya jika sudah tahu itu salah maka jangan gunakan kesalahan itu untuk menjawab, gunakanlah jawaban yang benar.

Lalu bagaiman jika sudah diajari tapi tidak mengerti-mengerti? Maka Tuhan akan memberikan banyak soal-soal dan melatih kita agar kita bisa mengerti. Barangkali seperti itulah orang yang mengahadapi banyak masalah dalam hidupnya. Ada orang yang tidak mau dipimpin kepada kebenaran sehingga terus berjalan menuju arah yang salah. Tentunya Tuhan tidak ingin membiarakan hal itu dan Dia memberikan banyak masalah agar orang itu dapat mengerti jawaban dan arah yang benar. Well, kurasa di sinilah sekali lagai kesabaran Tuhan yang tak habis-habisnya itu berperan. Tapi aku juga memiliki pola pikir lain, jika Tuhan memberikan banyak masalah itu berarti Tuhan masih ingin kita belajar lebih banyak karena kita dianggap kurang pandai dan Tuhan masih ingin melatih kita agar kita semakin pandai, karena Dia tahu sampai di mana batas kita untuk bertahan. Tidak selalu jika kita menghadapi kesulitan itu berarti kita berlawanan arah dengan Nya, bisa jadi memang kita sudah berjalan pada jalannya, hanya saja kita berjalan amat sangat lambat dan Dia ingin kita berlari jauh lebih cepat, oleh karena itu Dia sengaja menaruh anjing galak di belakang kita untuk membuat kita takut, anjing itu menggonggong dan mengejar kita sehingga kita berlari dan tiba di tujuan lebih cepat.

Well, itulah sedikit pemikiranku, belajar untuk bersabar hari ini….