Suatu hari di Museum Affandi

Hari ini aku berkunjung ke Museum Affandi (akhirnya setelah beberapa tahun tinggal di Jogja aku menginjakkan kakiku di tempat itu). Sebenarnya sejak kecil aku sudah mengagumi beliau. Aku tahu beliau adalah seniman, pelukis yang terkenal. Dulu, setiap pergi ke Jogja, dalam hati aku berharap bisa melihat lukisan beliau. Dan sekarang, belasan tahun kemudian, akhirnya aku benar-benar berada di sana dan melihat lukisan demi lukisan yang pernah dilukis oleh beliau. Waktu kecil aku memang suka melukis sih, jadi wajar saja kalau dulu aku ingin jadi pelukis di kemudian hari kelak.

Selain karya-karya Affandi yang sangat terkenal, hari ini aku belajar sisi lain dari seorang Affandi. Mengunjungi museum nya, dan melihat karya-karya yang dipamerkan itu, sedikit banyak membuatku mengenal proses kehidupan yang pernah dilalui oleh beliau. Lukisan-lukisan di awal masa karir beliau berupa lukisan keluarganya dan dirinya sendiri. Menurut penuturan guide yang mengatarku, saat itu Affandi tidak mampu mencari (membayar) model sehingga beliau melukis dirinya dan keluarganya, istrinya, ibunya dan anaknya. Lukisan demi lukisan beliau yang menggambarkan momen demi momen kehidupan yang beliau alami, membawaku menyelami kehidupan beliau jauh ke belakang.

Bagi seorang seniman, karya seni adalah sebagian dari jiwa yang dituangkan dalam bentuk lain. Sama halnya ketika aku menuliskan pemikiranku dalam tulisan ini. Dalam lukisannya, Affandi juga membagikan secuil kisah hidupnya. Ok, to the point aja, setelah mengamati lukisan demi lukisan, aku mendapatkan kesan bahwa di awal karir nya sebagai pelukis, Affandi mengalami banyak kesulitan dan tantangan. Penolakan pun tak jarang beliau alami saat hendak mengajukan diri mengikuti pameran lukisan. Namun, saat itu beliau tidak menyerah. Jika saat itu beliau menyerah dan berhenti menjadi pelukis, mungkin sekarang ini nama beliau sudah hilang ditelan waktu.

Selain lukisan beliau yang menggambarkan beratnya perjuangan dan perjalanan yang beliau alami saat itu, aku juga belajar tentang kedewasaan dalam berkarya. Affandi memiliki gaya lukisan yang sangat berbeda di awal karirnya dibandingkan saat menjelang akhir hidupnya. Semakin ke belakang, lukisan beliau semakin abstrak (menurutku sih karena aku nggak ngerti lukisan). Meskipun begitu, aku tahu benar bahwa nilai lukisan beliau tentu semakin mahal. Kurasa, tak mudah bagi seseorang untuk mengubah gaya hidupnya, apalagi jika dia sudah merasa nyaman dengan apa yang selama ini ada padanya. Tetapi, seorang Affandi berani mengambil resiko mengubah gaya lukisan beliau.

Aku tak tahu apa yang ada dalam pikiran beliau ketika beliau mengubah gaya lukisannya. Bisa jadi saat itu memang tren seni sedang berubah. Tetapi dalam setiap perubahan, pasti ada resiko yang harus diambil. Yang sempat kupikirkan adalah bagaimana jika orang lain tidak menyukai lukisan beliau yang semakin abstrak? Aku tak tahu apakah pemikiran itu pernah terlintas dalam benak seorang Affandi, tetapi kenyataan membuktikan bahwa nama Affandi semakin tenar dan dia semakin terkenal. Perjuangan beliau, kegigihan beliau dalam melukis dan membuktikan dirinya bisa menjadi pelukis kenamaan di Indonesia telah terbayar.

Aku menulis ini pure dari apa yang aku lihat, dengar dan pikirkan saat mengunjungi Museum Affandi. Jika mungkin ada yang berbeda dengan data-data biografi beliau (aku belum pernah membaca biografi beliau sih), harap dimaklumi. Pada akhirnya, rencanaku untuk melihat-lihat lukisan beliau berakhir dengan kegagalan, karena aku lebih mengagumi jalan kehidupan beliau daripada lukisan-lukisan beliau.

DSCN2685

Three seconds – tiga detik

“Kamu habis ngomong sama siapa sih Lol?” tanya seorang anak perempuan kepada temannya saat mereka berjalan beriringan menuju ke kelas. Kawat gigi yang terpasang rapi terlihat jelas di giginya saat dia membuka mulutnya.

“Oh, nggak tahu,” jawab temannya yang bernama Lola. Gadis berkacamata itu menaikkan kacamatanya yang agak turun dengan jari tengah tangan kanannya. Sedangkan tangan kirinya memegang buku ‘Harry Potter and The Sorcerer Stone’.

“Lho kok? Kamu ngobrol sama orang yang nggak kamu kenal gitu aja?” tanya anak perempuan dengan kawat gigi itu.

“Iya,” jawab Lola singkat. “Aku lupa tanya siapa namanya,” lanjutnya lagi.

“Ya ampun Lola…” anak perempuan berkawat gigi itu mengacak-acak rambutnya yang pendek.

“Sudah nggak usah dipikirin Rin,” jawab Lola. Kini mereka sudah tiba di depan pintu kelas mereka. “Nanti sore aku batal ke rumahmu. Ayah ulang tahun, dan Bunda berencana bikin makan malam special.”

“Ooo…” Rini membulatkan mulutnya. “Ya sudah lain kali saja…”

Lola meletakkan buku nya di antara barisan buku seri Harry Potter lainnya. Dia tersenyum simpul mengingat pertemuannya siang tadi di sekolah dengan seorang kakak yang dia bahkan tak tahu siapa namanya. Sepertinya kakak itu juga suka membaca, batin Lola dalam hati sambil jari tengahnya menaikkan bingkai kacamatanya yang merosot.

“Lola, kalau sudah ganti baju ayo cepat bantu Bunda!” teriak Bunda dari dapur. Suara Bunda terdengar sangat nyaring.

“Iya Bun, sebentar!” sahut Lola tak kalah nyaringnya. Gadis berambut panjang itu segera menanggalkan seragam putih abu-abunya. Tak lama kemudian Lola sudah muncul di dapur dengan kaos berwarna pink polos dan celana kolor sepaha yang juga berwarna pink lengkap dengan celemek yang masih juga berwarna pink. Hari itu adalah hari ulang tahun Ayah, dan Lola berencana memasak pai apel kesukaan Ayah.

“Bahan-bahannya sudah lengkap, ada di kulkas,” kata Bunda memberitahu. Bunda sendiri sedang sibuk menyiapkan nasi tumpeng beserta lauk pauknya. “Kamu bisa masak sendiri kan.”

“Iya Bun,” jawab Lola. Sebelumnya dia pernah memasak pai bersama Nenek. Tidak sulit sebenarnya, hanya saja harus berhati-hati saat membuat pinggiran pai nya supaya tidak rusak. Bagian itulah yang paling sulit, dan juga yang paling disukai Ayah.

Pertama-tama Lola harus membuat pinggiran pai itu terlebih dahulu. Dengan cekatan Lola mulai mengocok telur, kemudian mencampur tepung untuk membuat adonan. Setelah jadi, Lola memasukkan adonan pinggiran pai itu ke dalam lemari es. Adonan itu memang harus didinginkan dahulu selama kurang lebih 30 menit. Sembari menunggu adonan kulit pai, Lola mulai membuat bagian isinya. Dia memotong apel, mencampurkannya dengan margarine dan bahan-bahan lain kemudian mengaduknya hingga kental. Menit demi menit berlalu, hingga akhirnya Lola mengeluarkan adonan kulit pai dan memasukkannya ke oven. Lola mengusap peluh yang membasahi keningnya. Membuat pai cukup merepotkan juga, batin Lola.

Bunyi oven yang berdentang membuat Lola kembali ke dapur setelah beristirahat sejenak di ruang depan. Lola mengeluarkan pai apel yang masih setengah jadi itu dari oven. Pinggiran pai nya terlihat sempurna, bentuknya bagus dan tidak pecah. Kini Lola mulai melanjutkan mengisi bagian tengah pai sebelum memasukkan pai itu kembali ke oven. Lola melirik jam dinding yang tergantung di atas kulkas. Sudah jam empat lebih lima belas menit. Tak lama lagi Ayah akan segera pulang. Bunda sudah selesai memasak dan mulai menata makanan di meja makan.

Beberapa menit menunggu, akhirnya oven kembali berdentang. Pai apel Lola sudah matang. Dengan hati-hati Lola mengeluarkan pai yang masih panas itu. Bau nya yang harum menggelitik hidung Lola.

“Harus sekali baunya Lola! Tercium dari sini lho!” seru Bunda dari ruang makan.

“Iya Bun,” sahut Lola. Pai ini pasti lezat. Lola meletakkan pai nya itu di atas meja, kemudian dia berbalik mencari potongan-potongan apel untuk menghiasi bagian atas pai. Di sana rupanya. Lola melihat beberapa potongan apel di atas meja.

Dan tiba-tiba kejadian itu terjadi. Detik pertama, Lola menaikkan kacamata dengan jari tengah tangan kanannya, yang lagi-lagi entah untuk yang keberapa kalinya merosot turun. Kemudian dia berusaha meraih potongan apel yang ada di sebelah kanannya itu dengan tangan kanannya. Tiba-tiba saja tangan kiri Lola tanpa sadar menyenggol pai apel yang ada di atas meja. Detik selanjutnya terdengarlah suara gaduh di dapur diiringi teriakan histeris Lola. Semuanya itu terjadi begitu cepat, hanya dalam waktu tiga detik.

“Lola, ada apa?” tanya Bunda yang segera berlari menuju ke dapur begitu mendengar keributan itu. Bunda menutup mulutnya dengan kedua tangannya saat melihat pai apel buatan Lola telah ada di atas lantai. Sebagian isinya berceceran di atas lantai. Sedangkan Lola hanya bisa berdiri terisak memandangi pai buatannya yang kini sudah hancur berantakan.

“Aku menghancurkan semuanya…” ujar Lola lirih sambil menangis. Tangisan Lola semakin keras, dan dia pun jatuh terduduk lemas. Kedua kakinya tak mampu menahan tubuh kecil Lola yang tiba-tiba terasa begitu berat.

“Sayang…” Bunda menghampiri Lola lalu memeluk gadis kecil itu. Tangis Lola tak kunjung berhenti.

“Aku menghancurkan semuanya… Bunda… aku menghancurkan pai untuk Ayah…” ujar Lola di sela-sela isakannya. “Aku nggak bisa bikin lagi… waktunya nggak cukup… bahannya juga sudah habis…”

Bunda mengamati sejenak pai yang telah jatuh itu. “Sayang, nggak apa-apa. Tanpa pai itu, Ayah tetap ulang tahun kok,” ujarnya sambil memandang Lola dengan penuh kasih. Bunda mengapus air mata yang membanjiri wajah Lola dengan kedua tangannya. “Tenanglah. Pai mu nggak hancur semua. Masih ada yang bisa kita berikan untuk Ayah.” Pelan-pelan Bunda membimbing Lola untuk bangkit berdiri, kemudian Bunda menghampiri pai yang masih dalam cetakan itu. Sebagian isinya masih berada dalam cetakan, tapi sudah berantakan. Kulit pai nya sudah rusak semua.

“Ini masih ada sedikit,” ujar Bunda. Bunda meletakkan sisa pai itu di atas meja, kemudian mengambil mangkuk dan sendok. Bunda menyendok sedikit pai yang masih tersisa itu lalu memasukkan ke dalam mulut. “Lola sayang, ini enak kok. Enak sekali,” hibur Bunda.

“Tapi kulit painya sudah rusak. Ayah paling suka kulit pai nya…” isak Lola.

“Sayang, nggak masalah pai mu itu nggak ada pinggirannya. Kamu tahu, meskipun tanpa pinggiran, Bunda yakin Ayah akan tetap menyukai pai mu itu.” Bunda meletakkan mangkuk itu di samping sisa pai Lola, lalu berdiri menghap Lola. “Karena pai itu adalah buatan Lola, yang dibuat Lola dengan penuh cinta kasih untuk Ayah,” ujar Bunda kembali menghapus air mata Lola yang masih tersisa di wajah gadis  kecil itu. “Sekarang, Lola bisa memilih untuk terus menangis, atau Lola ambil sisa pai yang masih ada lalu Lola taruh di atas mangkuk. Lola tetap ingin Ayah merasakan pai apel di hari ulang tahunnya kan?”

Perlahan Lola mulai bergerak mendekati meja, lalu memindahkan isi cetakan pai itu ke dalam mangkuk. Lola juga menaruh beberapa keping pinggiran kulit pai yang masih bisa diselamatkan. Sesekali Lola terisak, tapi kemudian disekanya air matanya dengan kedua tangannya. Sementara itu, Bunda mulai membersihkan ceceran pai yang mengotori lantai dapur.

Malam itu mereka merayakan ulang tahun Ayah dengan makan malam sederhana. “Lola, ini enak sekali,” ujar Ayah saat menyantap sisa pai apel buatan Lola.

“Maafin Lola, Yah. Lola merusak semuanya. Seharusnya Lola nggak ngejatuhin pai itu.” Wajah Lola masih diselimuti kesedihan.

“Lola, kamu tahu? Pai ini enak sekali. Dan Ayah bangga sama kamu. Kamu sudah berusaha membuatkan Ayah pai apel. Meskipun ada hal-hal yang terjadi dan itu tidak kita inginkan, tapi kamu tetap berusaha menyajikan pai ini untuk Ayah. Ini adalah pai yang paling enak, tentunya setelah buatan Nenek…” ujar Ayah jenaka. Seulas senyum tipis menghiasi bibir Lola.

“Itu semua juga karena Bunda. Terima kasih ya Bun. Bunda terus nyemangatin Lola,” ujar Lola menatap Bunda lalu berganti menatap Ayah. “Dan terima kasih Ayah. Lola tahu pai Lola nggak seenak buatan Nenek. Lola senang Ayah suka pai apel Lola, meskipun tanpa pinggiran yang renyah…”

“Lola, Sayang, bukan hanya pinggiran yang membuat pai ini lezat, tapi karena cinta kasih Lola untuk Ayah, dan ditambah lagi semangat Lola dalam membuatkan pai untuk Ayah. Pai ini terasa benar-benar lezat…” Ayah menguatkan Lola. “Terima kasih ya Sayang, puteri Ayah…”

Inspired from Audrey MasterChef Jr 2

Saat nasi telah menjadi bubur, kau bisa memilih untuk menyesalinya lalu membuangnya

Atau menambahkan ayam hingga bubur itu menjadi bubur ayam special

Jangan pernah menyerah dalam keadaan apa pun, selalu ada cara untuk memperbaikinya

Yang kau butuhkan hanyalah semangat untuk terus berjuang dan cinta untuk orang-orang yang kau kasihi

nasi telah menjadi bubur

One day – suatu hari

Siska meremas kertas yang ada di depannya lalu melemparkan kertas tak bersalah itu yang kini telah menjadi sebuah bola tak beraturan ke keranjang sampah di samping mejanya, menambah satu lagi bola kertas yang menghuni keranjang itu. Gadis berkamata itu menyembunyikan wajahnya di atas meja. “Kenapa sulit sekali…” ujarnya lirih.

“Sedang apa kamu Sis?” seorang gadis lain berambut pendek muncul dari balik pintu kamar kos Siska yang memang dibiarkan terbuka.

“Stress…” jawab Siska asal tanpa mengangkat kepalanya. Dia malah sengaja menarik ikat rambutnya sehingga rambutnya yang panjang terurai berantakan di atas meja.

“Oh, lagi nulis?” tebak gadis yang baru saja muncul itu setelah melirik keranjang sampah yang dipenuhi bola-bola kertas. “Siska Siska, aku heran deh jaman sekarang orang kalau nulis sudah pakai laptop, sedangkan kamu masih nulis di atas kertas pakai bolpoin lagi…” sindir gadis berambut pendek itu beranjak duduk di atas kasur Siska.

“Kamu diam aja San!” ujar Siska tegas. “Kalau nggak ada yang mau diomongin keluar sana!”

Sandra, gadis berambut pendek itu seperti tidak menghiraukan kata-kata Siska. Dia malah asyik berbaring di atas kasur Siska sambil membuka beberapa bola-bola kertas yang diambilnya dari keranjang sampah Siska. Mereka berdua, Siska dan Sandra adalah sepasang sahabat karib. Persahabatan mereka telah terjalin sejak mereka masih duduk di bangku SMP.

“Kenapa? Cerpen kamu ditolak lagi?” tanya Sandra setelah matanya menelusuri isi kertas-kertas korban kekejaman Siska. Sandra terlalu mengenal Siska hingga dia merasa perlu untuk tak mendengarkan kata-kata yang baru saja terlontar dari mulut pedas Siska.

“Ini sudah yang ke 20 kalinya cerpenku ditolak!” teriak Siska frustasi saat membalikkan badannya. Mata bulat di balik kacamata berbingkai merah itu menampilkan tatapan penuh kebencian kepada Sandra seakan-akan dialah satu-satunya orang yang harus bertanggung jawab atas kegagalan yang dideritanya. “Kamu tahu gimana rasanya? Gagal dan gagal lagi!”

“Ceileh baru 20 kali, belum 2000 kali juga. Santai saja. Tinggal nulis lagi kan…” jawab Sandra santai. Dia kembali meremas kertas yang barusaja dibacanya lalu melemparkannya ke keranjang sampah. Sekali lempar, bola kertas itu segera mendarat cantik di dalam keranjang bersama bola-bola kertas lainnya. “Lagipula kan kamu sendiri yang mutusin kuliah sastra, nggak mau ikut aku masuk ekonomi…”

“Kamu itu temen aku bukan sih? Temennya lagi susah, nggak ngasih semangat…” nada suara Siska sedikit melunak.

“Hahaha… besok aku mau ke SMA, kamu mau ikut nggak?” bukannya menjawab pertanyaan Siska, Sandra malah balik bertanya.

“Ngapain?” tanya Siska.

“Biasa, Tania bikin masalah lagi di sekolah. Aku dipanggil Pak Budi…” ujar Sandra sambil beralih posisi dari telentang menjadi tengkurap, masih di atas kasur Siska.

“Wali kelasnya Tania Pak Budi?” tanya Siska. Mata bulatnya berputar saat menyebutkan nama mantan guru mereka. Pak Budi bukanlah guru yang menyenangkan, meskipun murid-murid juga tidak membenci guru matematika yang satu itu.

“Kalau mau ikut jam sembilan kita berangkat. Kamu nggak ada kuliah kan besok. Kalau telat aku tinggal,” ujar Sandra tegas lalu bangkit berdiri dan berjalan dengan cantik keluar dari kamar Siska, tanpa maju mundur tentunya.

“O… ke…” jawab Siska meskipun dia yakin Sandra sama sekali tidak mendengarkan satu-satunya kata yang keluar dari mulutnya itu. Harus diakui, dibandingkan dengan Siska, Sandra memang lebih kejam dalam memperlakukan segala sesuatu yang ada di sekitarnya.

Jam sembilan lebih tiga puluh menit Siska dan Sandra telah berdiri di depan gedung bercat putih yang pernah menjadi saksi perjuangan mereka selama tiga tahun menuntut ilmu dalam balutan seragam putih abu-abu.

“Aku ke ruangannya Pak Budi dulu ya, kamu terserah mau ngapain. Nanti kalau sudah selesai aku calling kamu.” Tanpa menunggu jawaban dari Siska, Sandra melangkahkan kakinya menuju ke kantor guru diiringi bunyi medu sepatu high heels warna hitamnya yang beradu dengan lantai. Siska hanya bisa menatap punggung Sandra yang mulai menjauh. Apakah dia mengajakku ke sini hanya untuk ditelantarkan, batin Siska.

Berjalan tanpa tujuan, Siska mulai menelusuri koridor menuju ke kantin. Namun, langkah kakinya terhenti saat matanya menemukan anak-anak SMA yang memenuhi meja-meja taman di depan kantin, sepertinya sedang berdiskusi dalam kelompok.  Hal yang menarik perhatian gadis berambut panjang itu adalah seorang anak perempuan berkacamata yang duduk sendirian di meja paling ujung.

“Halo, sedang pelajaran apa?” tanya Siska sambil duduk di seberang anak itu. Tentunya setelah memastikan tak ada guru yang mengawasi kelas tidak jelas ini.

“Oh…” anak itu nampak terkejut melihat kehadiran Siska. Dengan jari telunjuknya dia menaikkan bingkai kacamatanya yang merosot. “Bahasa Indonesia, Bu Marni…” dengan sopan dia menjawab pertanyaan yang dilontarkan Siska.

“Bu Marninya mana?” tanya Siska. Matanya mulai menyapu setiap sudut taman yang memang difungsikan sebagai ruang diskusi outdoor itu, tetapi wanita bertubuh kurus yang pernah diingatnya itu tidak menampakkan batang hidungnya.

“Nggak masuk. Sakit katanya. Kami dikasih tugas…” ujar anak perempuan itu melenyapkan keingintahuan Siska.

“Kamu suka baca buku ini?” tanya Siska tiba-tiba saat melihat sebuah buku tebal di atas meja. Matanya menangkap tulisan Harry Potter and The Sorcerer Stone yang tertera di cover buku itu.

“Iya Kak…” jawab anak itu sekilas sambil melirik buku tebal itu. “Buku lama sih, tapi bagus kok isinya. Aku suka baca buku itu, makanya aku pakai buku itu untuk tugas bikin sinopsis buku…” jelas anak itu.

“Ooo…” Siska membulatkan mulutnya. Buku Harry Potter seri pertama itu kini berada di tangannya. Dia mulai membuka lembar demi lembar. Siska ingat saat pertama kali dia membaca buku itu, belasan tahun silam. Buku Harry Potter yang begitu fenomenal, bahkan sampai diangkat ke layar kaca itu sukses merebut perhatiannya. Sejak pertama kali membaca buku itu, Siskalangsung jatuh cinta kepada sosok Harry Potter, dan dia tak pernah melewatkan seri-seri berikutnya. Siska lebih suka membaca buku daripada menonton film, karena dengan membaca buku dia dapat menciptakan dunia Harry Potter sesuai imajinasinya. Bisa dikatakan Harry Potter adalah salah satu alasan di balik sepak terjang Siska di dunia tulis menulis.

“Suatu hari nanti, aku akan menjadi seorang penulis terkenal…” jawab anak itu antusias. Siska bisa melihat matanya yang berbinar meskipun berada dibalik kacamata. “Seperti JK Rowling. Lalu aku akan menulis buku yang bagus juga…” lanjutnya lagi menyebut nama penulis buku Harry Potter itu.

Mendengar kata-kata anak itu, ingatan Siska kembali melayang jauh ke tahun-tahun yang telah lampau, ketika dia masih menggunakan seragam putih abu-abu.

“Suatu hari nanti, aku akan jadi seorang penulis terkenal…” kata Siska remaja kepada teman-temannya saat mereka duduk di taman, “Aku akan nulis banyak buku dan ratusan cerita yang bisa menginspirasi orang lain.” Sandra yang kala itu nampak lebih muda dan teman-temannya yang lain hanya mengangguk-anggukan kepala mereka sambil mengunyah jajanan yang mereka beli dari kantin. Pada jam istirahat Siska dan teman-temannya biasanya berkumpul di kantin meskipun mereka berasal dari kelas yang berbeda.

Siska memandangi teman-temannya satu per satu yang nampaknya tak menganggap serius tekadnya. “Beneran!” tegasnya lagi.

“Kamu yakin?” tanya Tata. Suaranya yang renyah sama sekali tidak menunjukkan nada meremehkan. Siska memandang gadis remaja bertubuh kurus dengan wajah lonjong itu dan menganggukkan kepala.

“Kalau aku pilih kerja kantoran aja. Lebih keren. Pakai baju rapi, kerja di kantor ber AC…” tukas Silvia cepat. “Tiap bulan dapet gaji gede. Kalau jadi penulis, terus bukunya nggak laku, dapet duitnya dari mana?”

Siska hanya mengangkat bahu mendengar celoteh gadis berwajah pucat itu. Silvia memang selalu berbicara apa adanya, ceplas ceplos. “Makanya, aku harus bisa nulis buku yang bagus supaya orang-orang suka. Kalau aku nulis cerita yang bagus, pasti buku ku laku.” Tekad Siska semakin bulat.

“Semoga suatu hari nanti impianmu terwujud,” kata Sandra lengkap dengan nada sinisnya sambil mengibaskan rambut panjangnya.

Siska tertawa menanggapi sahabat karibnya itu. “So pasti. Nanti aku traktir kalian semua kalau buku ku laku keras…” ujarnya sambil memeluk teman-temannya.

Kejadian itu seperti baru saja terjadi kemarin. Dalam hati Siska menertawakan dirinya sendiri. Seorang remaja yang belum mengenal kerasnya kehidupan tetapi berani bermimpi.

“Kakak…” panggilan anak perempuan itu menarik Siska dari lamunannya. Rupanya tanpa sadar buku Harry Potter itu telah berada dalam pelukan Siska.

“Oh,” kata Siska. Segera dia meletakkan buku itu di atas meja. “Kamu yakin mau jadi penulis? Jadi penulis itu nggak gampang lho. Ada saatnya tulisanmu ditolak.”

“Ya tinggal nulis lagi…” jawab anak perempuan itu sambil tersenyum. “JK Rowling juga. Sebelum Harry Potter sukses, dia sering mengalami banyak penolakan. Bahkan dia sempat hidup menggelandang. Aku nggak bisa bayangin gimana rasanya jadi JK Rowling saat itu. Tapi dia nggak nyerah, dan terus berusaha. Andai kala itu dia nyerah, buku ini nggak akan ada,” ujar anak itu panjang lebar sambil menunjuk buku Harry Potter itu. Kembali dia menaikkan kacamata yang agak merosot dengan jari telunjuknya. Siska hanya mengangguk-anggukan kepala menyetujui ucapan anak itu.

“Aku masuk kelas dulu ya Kak, sudah bel.”

“Oh. Ok. Semoga impianmu tercapai,” ujar Siska tulus.

“Terima kasih,” kata anak perempuan itu lalu mulai membereskan peralatannya. Siska terus memandangi anak itu saat dia berlalu dan bergabung dengan teman-teman sekelasnya. Apa yang dikatakan anak itu memang benar. JK Rowling pernah mengalami masa-masa yang sulit sebelum berhasil menelurkan buku Harry Potter. Tapi dia tidak menyerah. Banyak orang-orang sukses lain yang juga mengalami nasib serupa. Hal yang sama adalah mereka tidak menyerah, tetapi terus berjuang dan semakin giat berusaha.

Bukan waktunya untuk menyerah, perjuanganku belum selesai dan aku tak boleh menyerah sebelum aku berhasil. Siska menyemangati dirinya sendiri. Menjadi penulis sudah menjadi cita-citanya sejak dulu. Dia ingin bisa menjadi penulis yang menghasilkan tulisan-tulisan dan berbagai cerita yang berbobot dan menginspirasi orang lain. Saat ini, dia memang belum menjadi siapa-apa. Tak masalah orang lain meragukannya, Siska hanya perlu melakukan satu hal, membuktikan bahwa dia mampu dan akan berhasil. Memang untuk meraih hal itu tidaklah mudah. Namun, justru banyaknya kesulitan yang dialaminya akan membuktikan bahwa dia memang pantas meraih kesuksesan. Suatu hari aku akan menjadi seorang penulis, ujar Siska sekali lagi dalam hati. Ketika orang lain mengingatku sebagai Siska yang tak pernah menyerah meskipun mengalami berbagai kesulitan, saat itu aku tidak hanya berhasil meraih kesuksesan tetapi juga sanggup menginspirasi orang lain.

“Di sini kau rupanya,” tegur Sandra yang tiba-tiba sudah berdiri di belakang Siska. “Aku cari ke mana-mana,” omelnya.

“Maaf, maaf… kamu udah selesai?” tanya Siska.

“Udah, yuk pulang…” Sandra segera berbalik tanpa menunggu Siska.

“Suatu hari nanti, aku akan menjadi seorang penulis terkenal…” kata Siska saat mereka berjalan bersama.

“Semoga suatu hari nanti impianmu terwujud,” kata Sandra masih dengan nada sinisnya.

“Thanks ya San…” Siska tersenyum penuh arti. Dan terima kasih juga adik yang aku tak tahu namanya, katanya dalam hati.

IMG_20150129_163204

Bagaikan kuda dan keledai…

Hari sudah gelap, tapi A Yong masih berdiri di depan kolam ikan dengan wajah murung. dipandanginya ikan-ikan koi yang berenang dalam ketenangan malam. Malam ini adalah malam terakhirnya sebagai koki istana. Dia telah mengantungi ijin untuk meninggalkan istana selama dua hari, meskipun dia berniat meninggalkan istana selamanya. Tekadnya sudah bulat untuk keluar dari istana, kembali ke desanya. A Yong sudah memutuskan untuk mengubur cita-citanya menjadi salah satu koki istana, yang menghidangkan makanan di meja Kaisar. Barangkali menjadi koki istana merupakan angan-angan yang tak bisa dicapainya.

A Yong masih mengingat kejadian sore tadi. Ini sudah kesekian kalinya Koki Kepala memarahinya. Sejak masuk menjadi salah seorang koki istana, tiada satu hari pun telinga A Yong absen mendengarkan kata-kata Koki Kepala yang membuat wajahnya merah. Koki Kepala selalu saja mencari-cari kesalahannya. Hari ini A Yong dicerca karena menghidangkan sup yang menurut Koki Kepala kurang mak nyus, padahal menurutnya rasanya sudah pas, barangkali indera perasa Koki Kepala sudah mulai menurun, seiring usianya yang tak lagi muda. Kemarin dia mengalami masalah dengan daging bebek, menurut Koki Kepala daging bebek yang diirisnya kurang tipis, terlalu tebal, padahal dia sudah memotongnya dengan ketebalan satu senti, sayang saat itu belum ditemukan penggaris sehingga dia tidak dapat membuktikan ukuran ketebalan daging yang itu. Lalu beberapa hari sebelumnya kaldu yang dibuatnya mendapatkan nilai minus. Hambar, rasanya kaldunya tidak terasa sama sekali, tegas Koki Kepala saat itu, untuk kaldu itu barangkali memang Koki Kepala ada benarnya juga karena dia kurang memperhatikan waktu saat merebus daging.

Selain mendapatkan teguran dan kata-kata yang membuat telinga panas, A Yong juga merasa meras diberi pekerjaan lebih berat Shin dan Lee, teman-teman seangkatannya, sesama koki pemula. Pernah Koki Kepala menyuruhnya mengiris daun bawang tipis-tipis, dan jumlahnya dua kali lipat yang dikerjakan oleh kedua temannya. Pernah juga Koki Kepala menyuruhnya membersihkan peralatan dapur sedangkan Shin dan Lee mendapatkan tugas lain yang lebih ringan. Ditambah lagi Shin dan Lee sering meremehkannya karena Koki Kepala selalu memarahinya. Padahal A Yong merasa keahlian memasaknya lebih baik daripada kedua temannya itu, tapi memang dia saja yang bernasib sial karena menjadi karung tinju Koki Kepala, sedangkan kedua temannya hanya tersenyum singkat melihatnya dimarahi. Lengkap sudah penderitannya, Koki Kepala memang pilih kasih.

“Ibu, aku pulang!” A Yong berkata dengan suara keras setengah berteriak saat berada di depan rumahnya. Pintu rumah tampak tertutup rapat, apakah ibunya sedang tidak di rumah.

“Lho Nak, kenapa kok tiba-tiba kamu pulang? Apa kamu dikeluarkan dari istana?” tanya sang ibu yang tergopoh-gopoh membukakan pintu begitu mendengar suara anak yang dikasihinya itu. Menilik celemek yang menutupi bagian depan bajunya, sepertinya Ibu A Yong tengah memasak.

“Aku mau berhenti Bu. Rasanya istana bukan tempatku. Barangkali aku tidak ditakdirkan menjadi koki istana,” kata A Yong saat mereka duduk di atas meja makan, menikmati makan siang mereka. Kemudain A Yong menceritakan perlakuan yang dialaminya, tentang Koki Kepala yang selalu mempersulitnya, memarahinya, memberikan beban pekerjaan yang lebih banyak dibandingkan teman-temannya. “Koki Kepala itu memang pilih kasih. Shin dan Lee hampir tidak pernah dimarahi, bahkan saat mereka berbuat salah, sedangkan aku, salah sedikit saja sudah disembur. Lebih baik aku tidak usah kembali ke tempat itu lagi.” A Yong mengakhiri ceritanya, bertepatan dengan kosongnya mangkuk di hadapannya.

“Nak, kata-katamu memang benar. Koki Kepala memang pilih kasih, tapi dia mengasihimu. Sekarang jawab ibu, jika kau memiliki kuda dan keledai, mana yang akan kau cambuk supaya larinya lebih kencang?” Ibu A Yong yang dari tadi hanya diam mendengarkan cerita puteranya kini membuka mulutnya.

“Tentu saja kuda. Untuk apa aku mencambuk keledai, keledai tidak bisa berlari secepat kuda.”

“Jika begitu, bukankah sama dengan apa yang kau alami, Koki Kepala memarahimu saat kau berbuat salah agar kau tahu apa kesalahanmu dan dapat membuatmu menjadi lebih baik. Tugas-tugas yang diberikannya kepadamu lebih banyak daripada teman-temanmu karena dia tahu kemampuanmu, dan dia tahu kamu dapat mengerjakannya lebih baik daripada mereka. Karena kau lebih baik daripada teman-temanmu maka Koki Kepala mencambukmu, agar kau dapat berlari lebih cepat dan semakin cepat. Seperti yang kau katakan, tak ada gunanya mencambuk keledai.”

Keesokan harinya A Yong menampakkan diri di istana. Kali ini dia siap menghadapi teguran dan kata-kata kasar Koki Kepala. Teman-temannya heran melihat perubahan A Yong. Kini dia selalu menghadapi teguran Koki Kepala dengan senyuman, tak nampak lagi wajah murung yang biasa ditunjukkannya

 “Ada apa denganmu? Biasanya kau selalu memasang wajah murung setelah mendengarkan omelanku, tapi akhir-akhir ini kau malah tersenyum?” tanya Koki Kepala suatu hari. A Yong pun menceritakan kata-kata ibunya kepada koki tua itu.

“Ibumu benar sekali. Aku melihat kau memiliki bakat melebihi teman-temanmu, karena itulah aku berniat mengajarimu menjadi koki yang handal. Aku tahu kau pasti melakukan lebih baik lagi dari apa yang kau lakukan saat ini.”

Kata-kata Koki Kepala menjadi kenyataan. A Yong berhasil menjadi koki yang handal, bahkan Kaisar menyukai masakannya, lebih daripada koki istana lainnya. Akhirnya A Yong berhasil mewujudkan mimpinya menjadi koki istana, bahkan menggantikan Koki Kepala yang telah pensiun, mejadi seorang Koki Kepala yang menghidangkan makanan untuk Kaisar.

**

Salah satu cerpen yang pernah kubaca saat aku kecil dulu. Lupa-lupa ingat jalan ceritanya, tapi perumpamaan yg digunakan masih terpatri jelas. Mengingatkanku untuk terus bertahan saat menghadapi kesulitan dan masalah, bahkan saat kupikir masalahku lebih besar daripada teman-temanku (actually it’s not true, jangan menganggap masalah, atau kesulitan yang kau hadapi lebih besar daripada orang lain, totally wrong, setiap orang memiliki masalahnya masing-masing).

Back to the story, aku belajar dalam setiap kesulitan dan tantangan, ada campur tangan Tuhan yang sedang menempaku, membentukku untuk menjadi lebih baik dan semakin baik. Karena Tuhan mengasihiku maka dia mencambukku agar aku dapat berlari lebih cepat, karena Dia tahu aku bisa melakukannya. Yes, He knows I can do it, even I don’t so He pushes me so I can do it…