The presesnt…

One day, a success and rich businessman asked the wiseman, “Pardon Sir, let me ask you. At my neighborhood, I am known as the miser.  Actually, I had said that I will give my wealth to the poor, widows and orphans.

The wiseman smiled and asked the businessman, “When will you die?”

“I don’t know…”

“Fine, for answering your question, I will tell you the story of pig and cow. People don’t like pig as much as they like cow, because pig has an ugly face, bad odor, and my stall always dirty. In the other hand many people like cow so much.

One day, pig said to the cow, “Cow, people always praise your beautiful body, your bright eyes. They think you’re so kind because each day you give them your milk. But look at me, I have given everything I had, I let my life go for nothing, people kill me, take my pork for many foods and eat them. Instead of thanking to me, they still don’t like me…”

The cow answer, “Pig… I think it’s because I gave what I have when I’m still alive, but you had given the one after you died.”

The businessman was silent for a moment before smile. The most important one is not the past or the future, but it’s the present… I remember a quote ‘… it’s called present because it is a present (refers to gift)’

Advertisements

Gift

Rich is not about how much you have, but how much you give. Somehow when you give you’ll be happier…
The one who gathered much did not have too much, and the one who gathered little did not have too little. – 2 Corinthians 8:15

Kakek

Salut untuk KAKEK ini, tidak pernah meminta tetapi selalu berusaha. Di usia senjanya masih membanting tulang walau hari sudah tengah malam. Setiap hari beliau berangkat berjalan kaki sekitar 30 menit sampai 1 jam dari rumahnya menuju ke tempat di mana beliau berjualan. Kakek berusia 90 tahun ini menjual kacang sangrai dan kacang rebus dengan seharga Rp 1000,- per bungkus kecil dan Rp 2000,- per bungkus besar.

Beliau berjualan dari jam 7 malam sampai jam 12 malam (bahkan mungkin lebih malam lagi dari itu). Pernah juga di kala hujan deras kakek itu duduk beralaskan plastik dan hanya ditemani oleh sebuah payung kecil sebagai teman berteduh. Meskipun kacang yang dijualnya cukup murah tetapi barang dagangannya tidak pernah habis terjual, hanya terjual beberapa bungkus dalam sehari.

Kakek ini berjualan di sebelah barat RS. BRAYAT sebelum jalan ke arah pasar burung DEPOK, tepat di bawah pohon besar yang sedikit gelap.

Bagi teman-teman di SOLO yang mungkin lewat di daerah itu tolong pelankan laju kendaraan kalian dan sempatkan untuk membeli kacang rebus dan kacang sangrainya.

Jadilah berkat bagi sesama.

Just share from my cousin. Today i learn untuk selalu bersyukur dan jangan mudah mengeluh coz masih banyak orang yang hidupnya tidak seberuntung kita. Always give thanks and stop grumbling coz somewhere outside there are much people live less fortunate than us. Be a bless.

Kamu tetap adikku…

Aku pulang dengan wajah kusut. Kubiarkan Bobby, adikku, berjalan mendahuluiku masuk dan mengucapkan salam. Aku malas membuka mulutku yang kutekuk ke bawah. Aku melenggang masuk ke kamarku melewati Mama yang hanya diam memperhatikanku. Tak kupedulikan teriakan Mama yang menyuruhku keluar untuk makan siang. Aku hanya berbaring telentang di atas kasur, seragam putih biruku saja belum kulepas. Air mataku mengalir membasahi pipiku. Aku marah. Aku marah, kepada anak-anak di depan sekolah yang mengataiku dan adikku, aku marah kepada Bobby karena dia yang menyebabkan anak-anak itu mengataiku, aku marah kepada diriku sendiri yang tak bisa merima Bobby, aku marah kepada Mama dan Papa, aku marah kepada semua orang.

Kudengar ketukan lembut di pintu kamarku. Beberapa menit kemudian Mama muncul membuka pintu yang memang tidak kukunci. Dari raut wajahnya, aku bisa melihat kekhawatiran, kecemasan dan kesedihannya. Sebagai seorang ibu tentu saja Mama menyayangi anak-anaknya, aku dan Bobby.

“Bella, kamu kenapa?” Mama duduk di kasurku memulai pembicaraan, tangannya mengelus lembut kepalaku. “Sayang, kamu sakit?” tanyanya masih dengan suara lembut.

Aku hanya mengeleng lemah. “Nggak ada apa-apa Ma…” Aku tidak mau memberitahu Mama apa yang terjadi hari ini. Aku tidak mau membuat Mama sedih. Aku ingin menghapus suara anak-anak brengsek itu dari kepalaku, tapi suara mereka telah terekam dalam otakku.

Bagaimana aku bisa tak kudengarkan suara-suara mereka, hinaan-hinaan mereka, aku tidak tuli, telingaku masih bisa mendengar dengan jelas teriakan mereka saat mereka meneriaki kami. “Pincang, pincang!!!” Sebuah kata-kata yang tentunya ditujukan kepada Bobby, adikku. Ah, seandainya saja dulu Bobby tidak mengalami kecelakaan yang mengakibatkan kakinya menjadi pincang. Seandainya saja dia tidak mencuri-curi mengendarai sepeda motor di jalan raya padahal dia masih belum lancar, seandainya saja waktu itu Mama menyimpan kunci motor di tempat tersembunyi tentunya kaki Bobby masih normal dan aku tidak perlu malu berjalan bersamanya. Sebenarnya Bobby cukup tampan dan gagah, tentu saja aku kakaknya juga berwajah cantik, sayang kakinya yang pincang merusak semuanya. Sekarang kalian tahu kan mengapa aku sangat marah kepada Bobby, dan aku juga marah kepada diriku sendiri, karena seharusnya sebagai kakak aku tidak boleh berpikiran demikian, aku harus bisa menerima Bobby apa adanya, termasuk kakinya yang tidak sempurna.

“Bella sayang, makan yuk. Bobby sudah selesai makan, sekarang giliran kamu.” Mama membujukku untuk keluar kamar. Aku hanya mengangguk pelan. Aku tidak mau membuat Mama sedih. Tentu saja kondisi Bobby sudah cukup membuat Mama sedih, apalagi kalau ditambah lagi dengan penolakanku terhadapnya, pasti Mama akan sangat sedih sekali. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan Mama. Sebagai seorang ibu yang mengandung anaknya selama sembilan bulan, lalu melahirkan dengan penuh perjuangan, bangga karena anaknya lahir dengan selamat, merawat dan menjaganya sehingga tumbuh sehat, namun sekarang anaknya cacat. Hati ibu mana yang tidak terluka, barangkali Mama juga menyesali kejaidan yang menimpa Bobby, tapi tak pernah sekalipun kulihat Mama marah kepada Bobby, bahkan ketika Bobby mengalami kecelakaan itu Mama tidak memarahinya, malahan Mama menangis mengkhawatirkan keadaan Bobby. Ketika Mama tahu kaki Bobby cacat, Mama juga tidak menyalahkan Bobby, Mama malah memberi Bobby semangat untuk menghadapi hari-harinya. Oh Mama, seandainya saja aku bisa seperti dirimu, namun maafkan kau karena aku tidak bisa, setidaknya aku belum bisa.

“Ma, besok Bobby pulang sendiri saja. Kak Bella nggak usah jemput Bobby….” kata Bobby saat kami sedang nonton TV bersama.

“Lho kenapa Bob?” tanya Mama sambil mengarahkan pandangannya kepadaku. Aku berani bertaruh pasti Mama berpikir aku melakukan sesuatu yang membuat Bobby mengatakan kalimat itu. Tapi benar kok aku tidak melakukan apa-apa, sepanjang perjalanan pulang tadi mulutku terkunci rapat karena aku menahan panasnya amarah dalam hatiku. Jujur dalam hati aku senang karena Bobby yang mengatakannya. Memang sih jarak SMAku dan SMPnya tidak terlalu jauh, hanya saja aku harus sedikit berjalan memutar untuk menuju ke SMPnya, mantan SMPku.

“Nggak ada apa-apa Ma, biar aku nggak perlu ngunggu Kak Bella dan Kak Bella bisa langsung pulang. Jadi kami bisa lebih cepat sampai di rumah.” Bobby memang anak yang cerdas dan alasan yang dikemukakannya sangat masuk akal, dalam hati aku membeli nilai seratus untuk alasannya. “Lagipula aku bisa pulang bareng Iwan, kan rumahnya di depan sana, dan Kak Bella bisa pulang bareng Sinta, anaknya Tante Santi itu.”

“Hmmm, baiklah kalau itu maumu. Yakin kalian nggak sedang berantem?” Mama masih memandangiku sekan-akan berusaha menyelidiki ada apa antara aku dan Bobby.

“Nggak kok Ma.” Jawabku cepat sambil mengacak-acak rambut Bobby. Aku paling suka mengacak-acak rambut adikku itu karena setelah itu pasti Bobby berteriak dan berusaha memukul tanganku. “Kalau sekarang kami benar-benar berantem…” kataku sambil melarikan diri sebelum Bobby bisa membalasku. Sekilas kulirik Mama yang hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kelakuan anak-anaknya yang sudah remaja tapi masih seperti anak kecil saja.

Sudah beberapa hari ini aku tidak lagi menjalankan tugasku menjemput Bobby sepulang sekolah. Sebenarnya Mamalah yang memberikanku tugas itu, sejak kecil kami memang selalu berangkat dan pulang sekolah bersama, apalagi setelah Bobby mengalami kecelakaan, Mama jadi sedikit lebih khawatir sehingga memaksaku untuk menjaganya baik-baik, memangnya aku babby siternya. Kadang aku menyempatkan diri berjalan memutar mampir ke sekolahnya untuk memastikan dia baik-baik saja. Beberapa kali kulihat dia berjalan bersama Iwan, menunggu angkot bersama. Kadang aku sedikit mencemaskannya karena dia sering bercanda dengan Iwan, bagaimana kalau saat menyeberang jalan mereka bercanda lalu kurang memperhatikan keadaan, bukankah sekarang ini banyak pengendara kendaraan beroda empat maupun dua yang tidak tahu bagaimana caranya berlalu lintas.

Tak terasa sebulan sudah aku dan Bobby tidak lagi pulang bersama. Hari ini hujan turun dengan derasnya. Sudah lama kutunggu tapi hujan tak kunjung reda. Sinta ada pelajaran tambahan jadi aku memutuskan pulang sendiri. Tiba-tiba pikiranku tertuju kepada Bobby, aku jadi ingin melewati sekolahnya, meskipun hujan masih deras. Tanpa menunggu lebih lama lagi kubuka payungku dan aku melangkah maju menerjang jutaan titik-titik air yang turun membasahi bumi.

Hmmm, tidak ada orang di sini, pasti Bobby sudah pulang bersama Iwan. Aku melangkah menuju ke bawah pohon sambil menunggu angkot yang lewat. Tunggu, kulihat di sebelah sana seseorang berjalan menembus hujan, sendirian, tanpa payung, dan caranya berjalan tidak sempurna. Aku segera mengenalinya sebagai adikku. Mengapa dia berjalan sendiri, di mana Iwan, di mana payungnya? Aku bergegas berlari menghampirinya.

“Bob, kamu kok sendirian, hujan-hujan lagi. Mana Iwan, mana payung kamu?” tanyaku begitu aku tiba di dekatnya dan menempatkan payungku untuk melindungi kami berdua dari serangan hujan yang tampaknya masih belum menunjukkan tanda-tanda akan berhenti.

Bobby nampak terkejut mendapatiku yang berada di sampingnya. “Iwan tadi dijemput kakaknya naik motor, aku lupa bawa payung.” Jawabnya polos sambil menggigil kedinginan.

“Yuk kita pulang!” ajakku sambil menggandeng tangannya berjalan menuju ke bawah pohon untuk menunggu angkot yang lewat. “Mulai besok kamu pulangnya bareng Kakak lagi!” kataku tegas, tak kupedulikan tatapan aneh orang-orang yang lalu lalang, aku juga pura-pura tak melihat mereka yang berbisik-bisik sambil menatap kami.

“Bener Kak, Kakak mau jalan bareng aku? Apa Kakak nggak malu?” tanyanya polos.

“Bobby, mereka itu hanya orang lain, tapi kamu adalah adikku, bagaimanapun juga kamu tetap adikku.” Bisa kulihat mata Bobby berbinar saat dia mendengar kata-kataku dan kurasakan tangannya semakin erat menggegam tanganku.

**

Sebuah cerita yang pernah kubaca sewaktu aku masih kecil, kutulis ulang dengan sedikit modifikasi, tentu saja aku tak ingat detail ceritanya dan siapa pengarangnya, yang jelas bukan aku. Hanya saja pesan cerita yang disampaikan masih tersimpan jelas di kepalaku. Karena itulah cerita ini kutulis kembali. 

Hari Kartini

Hari ini peringatan hari Kartini, 21 April 2013. Menilik peringatan hari Kartini, rasanya tidak ada yang spesial. Dulu sewaktu aku masih kecil, di sekolah sering diadakan lomba putra-putri Kartini, anak-anak memakai pakaian adat pada hari itu. Hanya itu sih hal yang berkesan bagiku saat peringatan hari Karini.

Tapi hari ini aku mendapat suatu kesan lain. Statement salah seorang anak di acara IMB tadi menyadarkanku bahwa seorang Kartini memiliki dampak yang sangat penting, plak jitak kepala sendiri karena baru benar-benar sadar sekarang =(

Di Indonesia Kartini merupakan pahlawan wanita yang memperjuangkan kesetaraan gender, dengan memberikan pendidikan dan kesempatan kepada kaum perempuan agar dapat berdiri sama derajatnya dengan laki-laki. Bukankah itu suatu hal yang menakjubkan, meningat masih banyak negara lain di belahan dunia ini yang mendiskriminasikan perempuan, mengikat perempuan dengan berbagai macam ketentuan-ketentuan adat yang membuat perempuan tidak bisa menikmati kesetraan hak dan kewajiban dengan laki-laki. Memang perempuan dan laki-laki itu berbeda, tetapi jika atas dasar perbedaan itu lalu dihalalkan untuk merendahkan perempuan, membatasi mereka tentunya hal itu tidak dapat dibenarkan. Laki-laki dan perempuan memang berbeda, tetapi sama-sama manusia yang harus dihargai harkat dan martabatnya, dan jika memang dalam beberapa bidang tertentu perempuan lebih hebat dan lebih baik, bukankah sikap seorang gentlemen adalah mengakui dan menghargainya.

Banyak hal yang telah diperjuangkan oleh Kartini, selain pendidikan bagi perempuan, Kartini membuka jalan dan kesempatan bagi perempuan untuk memperjuangkan nasib mereka sehingga dipandang oleh laki-laki. Jika saja Kartini tidak ada, barangkali perempuan saat ini tidak akan seperti sekarang, tidak akan ada ibu guru, para artis wanita, wanita karir, bahkan presiden wanita di Indonesia, di negara barat saja presiden wanita masih jarang ditemui. Bukankah luar biasa dampak yang diperbuat oleh seorang Kartini. Hal kecil yang dia lakukan berdampak sangat besar, bahkan mengubah kehidupan suatu bangsa dan mengubah hidup banyak orang di masa mendatang.

Jika ditarik kembali ke masa lampau, barangkali saat itu Kartini tidak pernah membayangkan dampak perbuatannya akan seperti sekarang ini. Kartini hanya ingin membuat perbedaan bagi perempuan, yang saat itu hanya dikenal dengan madang, macak, manak (masak, berdandan, melahirkan anak). Well, mengenai visi seorang Kartini aku tidak tahu karena aku belum membaca tulisan-tulisan beliau, semoga saja di kemudian hari aku mendapat kesempatan untuk membaca tulisan-tulisan beliau, sehinga aku bisa lebih mengerti dan memahami apa yang dilakukan Kartini. Hal yang terpikir olehku adalah bagaimana perbuatan sederhana yang dilakukan oleh seorang Kartini bisa berdampak sangat besar, bahkan setelah beliau meninggal sekalipun. Bagiku itulah jiwa seorang pemimpin yang sejati, seseorang yang berjiwa visioner, mampu memberikan dampak dan mempengaruhi dunia bahkan setelah orang tersebut meninggal.

Membayangkan hidup Kartini dan keberhasilannya tentunya hal itu tidak diraihnya dalam waktu singkat dan dengan mudah. Aku yakin, pasti saat itu beliau mengalami banyak tantangan dan rintangan, apalagi yang hal yang dilakukannya adalah sesuatu yang dianggap tabu saat itu, memberikan pendidikan bagi perempuan, sesuatu yang dianggap menentang adat, tata krama dan aturan yang berlaku di masyarakat. Tentunya Kartini mendapat banyak perlawanan, bahkan barangkali orang-orang terdekat beliau juga tidak sependapat dengan konsep tersebut.

Tapi Kartini tidak mudah menyerah, bayangkan jika seandainya beliau menyerah saat itu, tentunya wajah Indonesia saat ini tidak akan seperti ini. Keberanian Kartini melawan arus dan memperjuangkan visi pada akhirnya membuahkan hasil, secara pribadi aku tidak tahu apa yang membuat Kartini begitu getol memperjuangkan pendidikan bagi perempuan, tapi satu hal yang aku yakini Kartini tahu benar apa yang beliau lakukan dan beliau yakin melakukan suatu hal yang benar.

Keberanian dan keyakinan itulah yang menurutku melatarbelakangi Kartini untuk terus berjuang menghadapi segala tantangan dan kesulitan. Barangkali pernah dalam satu fase kehidupan seorang Kartini, beliau ingin menyerah, bukankah hal itu manusiawi mengingat tidak ada manusia yang sempurna, hebat, super, namun sampai pada akhir hidupnya, beliau berhasil konsisten mengusung visi yang diperjuangkannya. Hal-hal yang diperjuangkan dengan penuh keyakinan dan kekonsistenan pada akhirnya membuahkan hasil yang indah, terbukti dengan kaum perempuan yang dapat bergerak maju di barisan depan, sejajar dengan kaum laki-laki bahkan melampaui kami.

Well, setidaknya itulah pendapatku tentang seorang Kartini, aku harap setelah mendapat kesempatan membaca tulisan-tulisan beliau aku dapat mengenalnya lebih dalam lagi dan menambah kekagumanku terhadap pahlawan yang satu ini. Aku berharap aku juga dapat berdampak bagi orang lain, dan dapat melakukan sesuatu yang mengubah hidup setidaknya satu orang saja…

But I believe apa yang kita lakukan itu memberi pengaruh bagi orang lain, aku harap aku bisa memberikan pengaruh positif, bukan negatif, dan menjadi agen of change…

Selamat hari Kartini dan selamat malam…

Up and down…

Life turns around. Itulah yang terlintas di kepalaku hari ini, saat aku mulai berpikir bahwa besok aku harus meninggalkan rumah kontrakan dari kantor dan kembali ke ngekos, karena harga sewa rumah yang naik sehingga diputuskan bahwa rumah ini akan dikembalikan saja ke pemiliknya. Well I think cukup fair sih, lagipula toh rumah ini bukan milikku, aku hanya diberi kesempatan untuk menggunakannya barang sebentar. It’s ok.

Sesuatu yang menganggu pikiranku adalah bahwa hidup ini seperti roda yang terus berputar, ada saatnya orang berada di bawah, lalu di atas, lalu di bawah lagi, kembali di atas dan seterusnya, tidak akan pernah berhenti, meskipun aku pernah berdoa dan berharap rodanya hidupku macet dan rusak saat aku sedang berada di atas sehingga aku tidak perlu mengalami saat-saat berada di bawah =).

Kadang aku ingin hidup ini seperti kisah-kisah dalam dongeng pengantar tidur yang sering kubaca ketika aku masih kecil. Aku heran mengapa semua dongeng itu diakhiri dengan kalimat they live happily ever after – mereka hidup bahagia selamanya. The end… Aku ingin menggugat pengarangnya, sayang mereka sudah lama meninggal, hmmm aku jadi berpikir apakah dalam saat-saat terkahir hidup mereka mereka mengalami live happily ever after ya, karena menurutku dongeng-dongeng itu belum tamat. Menurutku masih ada kisah selanjutnya di mana realitanya hidup mereka akan mengalami banyak masalah di kemudian hari, setidaknya itulah yang senantiasa dialami oleh manusia selama dia hidup.

Kadang aku berpikir hidup ini tidak adil, mengapa realita begitu kejam, mengapa orang harus menghadapi saat-saat berada di bawah, kok nggak terus aja berada di atas, and life happily ever after, seperti kisah-kisah di dalam dongeng. Aku sering bertanya mengapa dan mengapa. I think itu manusiawi dan aku masih tetap manusia bukan? So wajar saja bertanya kepada Sang Pencipta. Tapi aku masih percaya pada keadilan Tuhan, meskipun aku sendiri tidak dapat mengerti keadilanNya dan jalan pikiranNya tak dapat kumengerti.

Sometimes on the top but sometimes on the bottom. That’s a life. Justru dengan adanya saat-saat orang merasakan pengalaman berada di bawah, dia jadi bisa menghargai dan memaknai saat keberadaannya di puncak dan tidak takabur. Seringkali orang lupa ketika berada di puncak saking asyiknya sehingga lupa pada keadaan di bawahnya, sehingga akhirnya mau tidak mau Tuhan memaksanya untuk turun ke bawah. Saat berada di bawah juga itulah yang memberikan makna pada perjuangan untuk menuju ke puncak. Sok bijak banget sih gua padahal gua sendiri belum bisa memaknai perjuangan menuju puncak, kayak theme song nya AFI, Menuju Puncak, jadi kangen tahun 2000an…

Satu hal lagi yang tiba-tiba muncul di kepalaku saat mengingat AFI dan tahun 2000an, roda hidup yang berputar juga mengajarkan manusia untuk menghargai waktu dan kesempatan, ada saatnya manusia mendapatkan kesempatan saat dia sedang berada di atas, kesempatan terbuka lebar, namun seringkali hal itu tidak dimanfaatkan dengan baik sehingga penyesalan datang setelah turun dari puncak dan kembali berada di lembah. Sekarang aku pakai istilah puncak dan lembah sebagai substitusi atas dan bawah, soalnya aku rasa lebih memberikan kesan tempat gitu, dan tentunya saat membayangkan berada di puncak ruang imajiku melayang tinggi ke puncak, meskipun aku sendiri belum pernah ke Puncak, semoga suatu saat aku bisa ke sana, demikian juga dengan kata lembah yang aku gunakan, daripada hanya sekadar atas dan bawah.

Oh ya, aku ingat satu lagi. Seringkali ulah dan perbuatan orang itu sendirilah yang membuatnya harus terjun bebas ke lembah, karena terlalu lama berada di puncak sehingga tidak dapat membedakan mana jalan yang aman untuk dilalui dan mana jalan yang berujung di jurang, barangkali matanya sudah silau karena terus menatap ke atas. So, pilihan manusia juga memiliki peranan dalam menentukan jalan hidup yang dialaminya, bukan berarti Tuhan yang bertanggung jawab penuh atas hidup manusia sehingga Dia yang patut disalahkan atas terjun bebasnya manusia dari puncak, meskipun Tuhan mengijinkan hal itu terjadi, tentunya atas dasar untuk kebaikan manusia itu sendiri. Sembilan dari sepuluh orang pasti menyalahkan Tuhan, aku yakin itu, karena aku termasuk salah satu dari sembilan orang tersebut =). Sekaligus menjadi koreksi bagi diriku sendiri agar aku lebih bertanggung jawab atas hidupku dan pilihan yang aku buat, agar aku tidak terus mencari kambing hitam dan menyalahkan orang lain sebagai pembenaran atas diriku sendiri.

Banyak sih pelajaran hidup yang bisa didapatkan khususnya saat orang sedang mengalami masa-masa berada di lembah, apalagi lembah yang kelam, soalnya kalau di puncak terus pasti orang jadi lupa daratan dan tidak ingin turun lagi. Momen ketika berada di lembah itulah yang memberikan kesempatan untuk merefleksikan lagi apa yang telah terjadi, bagaimana menempatkan diri saat berada di puncak, bagaimana menghargai saat-saat itu, dan yang terpenting apa yang harus dilakukan agar dapat bangkit lagi.

Aku tahu selama masih hidup orang akan terus mengalami roda kehidupan yang senantiasa berputar. Jika rodanya berhenti tentunya itu berarti orang tersebut sudah meninggal. Masalah dan masalah akan datang silih berganti, dan aku harap momen-momen ketika berada di puncak tidak membuat kita lupa daratan namun menghargainya, mensyukurinya dan memanfaatkan kesempatan yang ada sebaik mungkin, karena selama ada siang tentunya akan datang malam juga, bukankah hidup ini penuh kumuplan paradoks yang indah, dan saat berada di lembah akan menjadi momen bagi kita untuk berefleksi dan berusaha untuk bangkit kembali.

Lebih daripada semuanya itu, tidak perlu berkecil hati dan putus asa saat sedang berada di lembah kelam, karena pagi akan datang, hanya saja kita perlu menyiapkan diri untuk menyambut sang fajar saat dia merekah nantinya, jangan sampai keasyikan tidur sehingga lupa bahwa fajar sudah terbit dan justru terbangun saat dia sudah kembali ke paraduaannya. Karena hidup itu lebih penting daripada pakaian, makanan, rumah, mobil, BB, dll. Bukankah yang penting itu adalah hidup manusia, bukan fasilitas penunjang kehidupan, toh tanpa semuanya itu orang juga masih bisa tetap hidup, meskipun kurang nyaman. Jaman dulu sebelum ada semuanya itu orang juga bisa hidup dengan baik dan tidak mengeluh. Bukankah kalau dipikir-pikir sebenarnya semua akar permasalahan adalah karena manusia tidak puas dengan hidupnya dan selalu menuntut lebih. So, bersyukurlah atas hidupmu hari ini, karena masih ada miliaran orang di muka bumi ini yang hidupnya tidak seberuntung dirimu…

Panjang juga ya tulisanku kali ini, bersyukur juga tanganku masih lincah menari-nari di atas keyboard. Heran deh sebuah kalimat yang tadi sore kupikir bisa jadi seribu kata lebih. Proud for my self =) jitak kepala sendiri…