Indonesia dalam penjajahan BBM

211032_antrian-bbm-di-spbu-menjelang-kenaikan-harga_663_382

Mungkin kalimat saya tersebut terdengar lebai, alay, atau terlalu puitis malah, tapi sesungguhnya saya hanya mengutip pernyataan Bapak Dahlan Iskan dalam kuliah beliau di kampus saya. Mencermati kondisi kelangkaan BBM akhir-akhir ini, dan sesungguhnya tidak hanya akhir-akhir ini tapi menurut saya kelangkaan BBM telah menjadi masalah klasik yang terus menerus terulang, mau tak mau saya menyetujui pernyataan tersebut. Kelangkaan BBM yang terus terjadi, saya tidak tahu bagaimana persisnya hal itu bisa terjadi. Ada yang mengatakan konsumsi BBM bersubsidi terlalu tinggi, ada juga yang mengatakan harga minyak internasional melambung tinggi sehingga membuat subsidi membengkak, sampai ada pula yang mengatakan sebagai ulah mafia migas.

Konsumsi BBM bersubsidi terlalu tinggi, ya saya menyetujuinya. Dalam jangka waktu selama sepuluh tahun ini, perkembangan pengguna kendaraan bermotor naik luar biasa banyaknya. Jumlah motor dan mobil berkembang pesat. Saya masih ingat ketika saya sekolah dulu, setiap hari bus kota dipenuhi oleh para penumpang, sehingga tak jarang saya harus menunggu dua tiga bus lagi untuk dapat naik bus. Tapi kini, orang-orang yang dulunya ada di dalam bus itu telah berpindah turun ke jalan dengan menaiki bebek roda dua maupun kendaraan roda empat. Hal ini tentunya tidak dapat lepas dari perkembangan industri otomotif, apalagi teman-teman saya yang bekerja sebagai marketing baik motor maupun mobil mengaku dikejar target penjualan. Masalahnya seiring dengan perkembangan kendaraan bermotor, apakah jumlah BBM dan luas jalan ikut meningkat, tentu jawabannya tidak bukan. Saya rasa pelaku industri otomotif tidak memperhitungkan hal tersebut, yang penting target penjualan mereka tercukupi dan kebutuhan perut mereka terpenuhi. Apakah salah? Saya tidak bisa mengatakan hal itu sebagai suatu kesalahan karena mereka juga berjuang untuk hidupnya, meskipun menimbulkan masalah sosial baru. Lalu, bagaimana cara mengatasinya? Apakah lantas menutup industri otomotif? Mungkin bisa saja hal itu dilakukan sebagai salah satu opsi untuk menghemat konsumsi BBM, tapi hal itu tidak menyelesaikan masalah jumlah BBM yang memang semakin lama semakin menyusut. Lagipula, apakah kita semua siap dengan kehidupan tanpa transportasi?

Terkait dengankonsumsi BBM pula, ketika saya tinggal di Jakarta, kondisi jalan yang macet tentunya ikut andil dalam membakar bensin kita. Kemacetan mengakibatkan mobil-mobil berhenti namun mesin tetap menyala sehingga pembakaran terus terjadi. Meskipun belum ada survey yang jelas, saya yakin bahwa peringkat konsumsi BBM paling tinggi ditempati oleh Jakarta. Sama halnya ketika saya tinggal di Bali, kemacetan yang terjadi juga berperan dalam memakan bensin kita. Hal yang uni di Bali adalah masyarakat local menyediakan persewaan motor dan mobil, dan tentu saja para penyewanya mayoritas adalah turis-turis asing. Oleh karena itu saya menyimpulkan bahwa BBM di Indonesia turut menjadi konsumsi orang asing.

Kenaikan harga minyak internasional tentunya berpengaruh pada besarnya subsidi BBM. Ketika biaya yang dikeluarkan untuk subsidi BBM tetap maka kuota BBM akan menjadi lebih sedikit daripada sebelumnya. Saya pernah menengar pembicaraan tukang ojek dan orang-orang yang dapat dikategorikan sebagai masyarakat lapisan bawah. Mereka berpendapat bahwa lebih baik harga BBM dinaikkan saja daripada mereka harus antri seperti itu. Mendengarkan pendapat mereka, saya rasa semua orang sudah tahu bahwa memang kenyataannya kenaikan harga BBM tidak dapat terhindarkan, tapi mereka memilih untuk tidak mau tahu, mereka hanya ingin agar kebutuhan hidup mereka terpenuhi. Kembali lagi apakah hal ini salah? Tidak juga, karena saya yakin anda dan saya juga demikian. Menolak kenyataan. Parahnya lagi, kondisi tersebut ditumpangi oleh kepentingan politis yang mengatas namakan kesejahteraan rakyat tapi sesungguhnya hanya mengutamakan kepentingan segelintir elit politik tertentu.

Berkaca dari pengalaman selama ini, pada kenyataannya memang kita harus mengurangi konsumsi BBM, tapi masalahnya apakah kita bersedia. Telah banyak wacana untuk mengubah konsumsi BBM ke BBG, tapi banyak juga kendala untuk mewujudkan hal itu. Sebenarnya masalahnya bukan kepada kebersediaan kita atau tidak, tapi mau tidak mau toh suatu ketika BBM akan habis karena BBM bukanlah sumber daya alam terbarukan. Masalahnya mau sampai kapan kita menutup mata terhadap kenyataan tersebut. Kelangkaan BBM, konsumsi bahan bakar, masalah kendaraan bermotor hanyalah percikan-percikan yang timbul atas suatu masalah pokok, yaitu keterbatasan BBM sebagai SDA tidak terbarukan. Satu-satunya jawaban dari masalah ini memang mau tak mau harus dicari bahan bakar lain untuk menggantikan BBM.

Pertanyaan selanjutnya, apakah kita semua bersedia memerdekakan diri dari jeratan konsumsi BBM???

Advertisements

Penghapusan agama dalam KTP

Beberapa hari lalu twitter saya sempat ramai membicarakan tentang penghapusan agama dalam KTP. Cukup menarik juga membaca twit para netizen, tentunya ada yang pro maupun kontra.  Pendapat saya secara pribadi, well menurut saya agama itu merupakan identitas seseorang. Jadi wajar saja kalau agama dicantumkan dalam KTP, bukankah fungsi KTP sebagai kartu identitas juga? Tapi hal yang tidak saya setujui adalah ketika agama yang tercantum dalam KTP digunakan sebagai alat diskriminasi oleh pihak-pihak yang memiliki kepentingan tertentu.

Apapun agamanya selama orang itu menganut salah satu dari sekian agama yang diakui oleh republik ini seharusnya tidak perlu dipermasalahkan. Yang kemudian menjadi masalah adalah adanya kepentingan-kepentingan sekelompok orang yang berbenturan dengan kelompok lain dan menggunakan agama sebagai salah satu alat untuk memuluskan kepentingan mereka. Saya rasa dari situlah asal muasalnya timbul wacana penghapusan agama dari KTP.

Saya analogikan jika sesoerang memiliki kepentingan untuk menjaga berat tubuhnya tetap terjaga apakah lantas dia membuang semua makanan dan mengharamkan semua makanan. Tentu tidak bukan. Orang itulah yang harus mengatur pola makanannya dan mengontrol dirinya agar tidak melanggar batas ketentuan berat badan yang diinginkan.

Demikian juga dengan wacana penghapusan agama dalam KTP. Bukan tulisan agamanya yang salah, tetapi pola pikir mayarakat yang perlu dibenahi. Saya masih ingat ketika saya masih kanak-kanak, saya tidak membedakan dengan siapa saya bermain. Saya tidak memandang apa agama anak tetangga yang saya ajak main setiap hari. Saya juga tidak mempermasalahkan apa suku teman-teman sekelas saya. Lingkunganlah yang telah membentuk manusia, mencemari pola pikir manusia dengan konten-konten negatif sehingga pola pikir yang murni berubah menjadi penuh prasangka dan pertikaian.

Jangan salahkan apa pun atau siapa pun, karena sesungguhnya manusia, kita sendirilah yang menyebabkan segala sesuatunya terjadi…

On the way 4

Dalam suatu perjalanan meeting, biasa namanya juga karyawan sok sibuk, meeting ke sana ke mari hehehe. Ceritanya waktu itu aku lagi duduk manis di KRL, bagi yang nggak tahu KRL tu kereta commuter line yang baru tersedia di JABODETABEK. Maklum namanya juga karyawan, buruh, nggak sanggup kalau nyicil motor gede, jadi ke mana-mana cukup naik angkutan umum. Nah di KRL itu aku mendengar dan melihat sesuatu yang agak unik. Seorang anak kecil yang kebetulan duduk di depanku sedang makan permen dan membuang bungkusnya ke lantai. Melihat hal itu, seorang ibu paruh baya yang duduk di sebelahku menegur anak itu agar mengambil bungkus permennya dan membuangnya nanti di tempat sampah, jika sudah turun dari KRL. Anak itu dengan patuh, dan dengan wajah nggak enak memungut kembali bungkus permennya dan menggenggamnya erat-erat. Beberapa menit kemudian, beberapa sobekan bungkus itu terjatuh dan ketika anak itu berniat memungut kembali, ibunya, ibu si anak itu berkata, “Sudah biarkan saja!”

Ironis bukan, justru orang tua si anak itu mengajarkan anaknya untuk tidak melakukan hal yang benar, sementara orang lain yang mengajarkan apa yang benar, eh malah oleh orang tuanya sendiri ajaran itu dipatahkan. Yah itu adalah salah satu bentuk wajah di negeri ini, yang aku yakin dimiliki oleh hampir semua orang.

Kemudian perhatianku beralih ke telingaku, aku mendengarkan, untuk dicatat ya mendengarkan bukan menguping, meskipun sebenarnya sama saja sih intinya hahaha… Aku mendengarkan ibu paruh baya yang menegur anak itu berbincang-bincang dengan ibu yang duduk di sebelahnya. Ibu itu menjelaskan bahwa dia suka mengajar anak kecil, dan bahwa pendidikan anak itu harus dimulai sedini mungkin supaya ketika mereka dewasa, mereka menjadi orang yang benar.

Kedua ibu itu melanjutkan perbincangan mereka dengan mengambil contoh orang Indonesia ketika berada di Singapura, orang itu bisa taat hukum, mereka menyeberang di zebra cross yang disediakan, tidak seperti di negaranya sendiri, menyeberang seenaknya saja, melanggar rambu-rambu lalu lintas. Ibu itu mengatakan dia bisa tahu bahwa mereka adalah orang Indonesia karena mereka bercakap-cakap dalam bahasa Indonesia. Mereka menyimpulkan bahwa orang itu patuh kepada hukum, karena di luar negeri hukum diberlakukan dengan tegas, tidak seperti di Indonesia. Tragis bukan, itulah salah satu wajah negeri ini yang dikenakan oleh hampir seluruh penghuni negeri ini.

Rainy day…

Aku berdiri di emperan ruko yang sudah tutup, tubuhku mengigil kedinginan. Malam ini hujan turun deras sekali. Sejak tadi aku berlari ke sana kemari mencoba mencari tempat berteduh, akhirnya aku berhasil mendapatkan tempat ini. Aku berharap kali ini aku tidak diusir, seperti tempat-tempat yang barusan kudatangi. Aku selalu mendapatkan bentakan dan usiran. Aku hanya ingin berteduh, apakah orang-orang itu tak tahu. Aku bukan maling, aku tidak berniat mencuri dari toko mereka. Barangkali mereka menganggap kehadiranku menganggu, menganggu calon pembeli yang akan datang. Memang aku hanya anak jalanan, yang berpakaian kumal. Tapi aku juga manusia sama seperti mereka.

 Aku duduk menekuk kakiku, kupeluk lututku berharap mendapatkan sedikit kehangatan. Dari balik pintu besi ruko ini kudengar suara-suara tawa ceria. Aku iri. Aku ingin merasakan kehangatan, kehangatan keluarga. Kutendang pintu besi ruko itu keras-keras beberapa kali, melampiaskan kekesalanku. Tapi rupanya tindakanku ini menganggu pemiliknya. Pintu itu terbuka. Kuharap aku akan mendapat sedikit belas kasihan. Namun apa yang kudapati, yang kudapati hanyalah tatapan mata tajam seorang ibu paruh baya. Kemudian dia menutup pintu itu dengan kasar.

Apa salahku? Apakah aku salah mengharapkan segelas susu hangat untuk menghangatkan tubuhku yang mengigil kedinginan. Sejak tadi pagi aku belum makan, perutku keroncongan, bahkan kini tubuhku menggigil karena kehujanan. Kembali kutendang pintu ruko itu. Aku ingin berteriak, beriakan aku sedikit makanan. Aku lapar, aku kedinginan, tidakkah kalian peduli kepadaku.

Kembali pintu itu terbuka, aku bergegas mendekat, berharap akan mendapatkan setidaknya sedikit makanan, biarpun mereka melemparnya aku akan tetap memakannya seperti seekor anjing yang kelaparan. Aku memang kelaparan, dan kedinginan. Tapi apa yang kudapati, kali ini ibu itu tak sendirian, di sampingnya muncul sesosok laki-laki paruh baya, kuduga dia adalah suami ibu itu, dan di tangan laki-laki itu ada sebuah balok kayu. Apakah orang ini berniat memukulku? Aku sudah pernah merasakan pukulan dan aku tidak mau merasakannya lagi. Kulihat ibu itu tampak berusaha menahan suaminya yang menggenggam kayu itu erat. Sepertinya aku sudah bisa me nduga apa yang akan terjadi. Tanpa pikir panjang aku segera berlari meninggalkan tempat itu.

Kini aku tahu aku takkan pernah mendapatkan belas kasihan. Tak ada yang namanya belas kasihan di dunia ini. Tak ada manusia yang masih memiliki hati. Aku benar-benar diperlakukan seperti binatang. Kehadiranku tak diinginkan, bahkan aku hampir saja dipukul. Cara mereka mengusirku sama seperti mengusir anjing, atau kucing, bukan seorang anak manusia. Aku tak tahu harus ke mana lagi. Aku tak punya tempat untuk dituju. Aku hanya berlari menerobos hujan dengan tubuh mengigil kedingina dan perut kelaparan, tanpa menyadari sepasang mata sedang mengawasiku dari balik pintu besi yang dingin…

Salahkah aku…

Salahkah aku jika aku tak memiliki tempat untuk kusebut ‘rumah’, bagiku bangunan yang mereka sebut rumahku adalah medan pertempuran ayah dan ibu…

Salahkah aku jika laki-laki yang kupanggil ‘ayah’ mencari daun muda karena daun yang bertahun-tahun menemaninya tidak sehijau saat pertama kali dipetik…

Salahkah aku jika perempuan yang mereka bilang melahirkanku rela meninggalkanku demi emas dan berlian buah tangan dia yang bernama ‘ketenaran’… 

Salahkah aku jika otakku telah tewas dalam rumah medan pertempuran yang senantiasa kuhadapi sehingga tinta semerah darah mengucur membasahi kertas-kertas ujianku…

Salahkah aku jika guru-guruku memberikan alamat palsu kepadaku sehingga tiap kali kucari mereka yang kutemui hanyalah kursi kosong di ruang guru…

Salahkah aku jika sekumpulan orang-orang yang menyebut diri mereka ‘teman’ hanyalah orang-orang yang bermulut manis namun berhati pahit…

Salahkah aku jika dia yang kau katakan sahabatku ternyata tak ubahnya manusia bermuka dua yang mengirisku tipis-tipis di belakangku…

Salahkah aku jika orang yang bersamanya aku berharap untuk menghabiskan sisa hidupku mencampakkanku begitu saja karena aku belum siap menghadapi orangtuanya…

Salahkah aku jika aku menikmati perhatian yang kudapatkan di luar gerbang sekolah dari mereka yang kau sebut gembel, anak jalanan…

Salahkah aku jika sebatang rokok menjadi teman yang setia di kala suka dan duka, selalu menghiburku lewat kesunyian yang kunikmati…

Salahkah aku saat kukembalikan dompet yang kutemukan di jalan namun ibu pemiliknya malah meneriakiku ‘maling’ dan hampir saja aku mampus di tangan sekelompok orang yang mengatasnamakan hukum demi memuaskan hasrat mereka menghajar tubuh kurusku…

Salahkah aku saat kutemukan sebuah dompet namun tak kukembalikan meskipun identitas pemiliknya masih tertinggal di sana karena aku tak ingin bernasib naas seperti waktu itu…

Salahkah aku karena aku memilih menikmati hidup yang kujalani sekarang, bebas, lepas, tak peduli pada mereka yang bernama ‘norma’ dan ‘hukum’…

Katakan kepadaku apakah salahku sehingga kau memandangku seolah-olah aku adalah pelaku kejahatan kelas kakap, padahal aku hanyalah seorang korban…

Aku adalah satu dari sekian banyak korban situasi yang tak bersahabat, keluarga yang tak harmonis, dan kehidupan yang kejam…