KISAH RAJA DAN PELAYANNYA

Ada seorang Raja yang mempunyai seorang pelayan, yang dalam setiap kesempatan selalu berkata kepada sang Raja: “Yang Mulia, jangan khawatir, karena segala sesuatu yang dikerjakan Allah adalah sempurna, Ia tak pernah salah.”

Suatu hari, mereka pergi berburu, pada saat mana seekor binatang buas menyerang sang Raja. Si pelayan berhasil membunuh binatang tersebut, namun tidak bisa mencegah Rajanya dari kehilangan sebuah jari tangan.

Geram dengan apa yang dialaminya, tanpa merasa berterima kasih, sang Raja berkata, “Kalau Allah itu baik, saya tidak akan diserang oleh binatang buas dan kehilangan satu jari saya..!”

Pelayan tersebut menjawab, “Apapun yang telah terjadi kepada Yang Mulia, percayalah bahwa Allah itu baik dan apapun yang dikerjakanNya adalah sempurna, Ia tak pernah salah.”

Merasa sangat tersinggung oleh respon pelayannya, sekembalinya ke istana, sang Raja memerintahkan para pengawalnya untuk memenjarakan si pelayan. Sementara dibawa ke penjara, pelayan tersebut masih saja mengulangi perkataannya: “Allah adalah baik dan sempurna adanya.”

Dalam suatu kesempatan lain, sang Raja pergi berburu sendirian, dan karena pergi terlalu jauh ia ditangkap oleh orang-orang primitif yang biasa menggunakan manusia sebagai korban.

Diatas altar persembahan, orang-orang primitif tersebut menemukan bahwa sang Raja tidak memiliki jari yang lengkap. Mereka kemudian melepaskan Raja tersebut karena dianggap tidak sempurna untuk dipersembahkan kepada dewa mereka.

Sekembalinya ke istana, sang Raja memerintahkan para pengawal untuk mengeluarkan si pelayan dari tahanan, dan Raja itu berkata: “Temanku.. Allah sungguh baik kepadaku. Aku hampir saja dibunuh oleh orang primitif, namun karena jariku tidak lengkap, mereka melepaskanku.”
Tapi aku punya sebuah pertanyaan untukmu. “Kalau Allah itu baik, mengapa Ia membiarkan aku memenjarakanmu ?

Sang pelayan menjawab: “Yang Mulia, kalau saja baginda tidak memenjarakan saya, baginda pasti sudah mengajak saya pergi berburu, dan saya pasti sudah dijadikan korban oleh orang-orang primitif sebab semua anggota tubuh saya masih lengkap.”

Semua yang dikerjakan Allah adalah sempurna, Ia tak pernah salah. Seringkali kita mengeluh mengenai hidup kita, dan pikiran negatif pun membunuh pikiran kita yang positif

Marilah berpikir positif dan percayalah akan kebaikan Allah setiap saat.

Selamat berbaik sangka kepada Allah, atas sgala kejadian & keadaan hidup kita..

On the way to Banyuwangi

Banyuwangi, 18 Des 13

Hari ini aku belajar banyak dari seorang supir angkot. Well, ceritanya aku sedang dalam perjalanan dinas ke Banyuwangi. Ketika turun dari stasiun, seorang sopir angkot menghampiri, poin pertama yang kupelajari adalah dia menjemput penumpang. Mungkin itu hal yang kelihatannya sederhana, tapi itu merupakan bentuk dari usahanya. Sepanjang jalan sopir itu menghampiri pintu-pintu kedatangan pelabuhan di sepanjang jalan. Tak jarang dia turun untuk membujuk calon penumpangnya.

Hal itu cukup menarik bagiku. Kenapa? Karena tak sedikit orang yang tidak mau berusaha, mereka cenderung menunggu tapi tidak melakukan apa-apa untuk mewujudkan kehendaknya. Hehehe, itu salah satu koreksi bagi diriku juga sih.

Selanjutnya sopir itu bercerita singkat tentang dirinya saat kami menunggu di depan pelabuhan. “Hidup itu harus sabar,” katanya singkat tapi meninggalkan kesan yang mendalam. Apalagi kata-kata itu terlontar dari seorang yang hidupnya tidak bisa dikatakan nyaman menurut ukuran kacamataku. Kulirik tumpukan uang yang ada di dasbor mobilnya. Ada beberapa lembar 2000 dan 5000 an. Aku tak bisa membayangkan berapa penghasilannya setiap harinya. Apalagi Banyuwangi itu kecil, tak banyak orang yang menggunakan jasa angkutan umum.

Sekali lagi aku dikoreksi oleh perkataan yang keluar dari mulutnya. Aku bukanlah orang yang mudah bersabar. Tali kesabaranku itu sangat pendek, mungkin tak sampai semeter panjangnya. Saat meghadapi situasi dan kondisi yang tak menyenangkan, aku biasanya mengomel, menggerutu, bahkan marah-marah.

“Kita harus bersyukur,” sekali lagi ucapannya bagai menumpahkan bara di atas hatiku. Memang sih aku menuliskan ‘Bersyukur selalu…’ di atas kertas yang kutempel di kamarku, tapi pada prakteknya… Aku lebih banyak protes kepada Tuhan daripada mengucapkan terima kasih.

Hari ini aku belajar sedikit lagi pelajaran kehidupan yang kudapatkan di kota kecil Banyuwangi, jika masih bisa dikatakan kota =P

The fair unfair life

I think this life is unfair. Look at the surrounding of yours. There are so many people starving while the others are having abundant food. There are so many people homeless, who sleep under the dark sky, when the others buy the gold dog house for their dogs. Even there are so many righteous people who suffer while the wicked ones are sitting on the thrones and laughing for the ridiculus of goodness.

But when I think again, somehow I believe this unfair life is fair enough for us. God was created us diferently and each of us is unique. I believe He created the condition that support us, even it’s the opposite of what we want, but somehow He support us with strenght for overpowering it. I can’t imagine the poor people that don’t have house, they sleep under the bridge, in the darkness of city shadow, but yet, they still survive. I think if it’s me, I won’t make it, I can’t stand for it.

I can’t understand how can the poor survive. I think my life is hard enough, but their is harder than mine. But yet, God keeps them and feeds them. He’s taking care of them. God’s providing their life. My mind can’t accept it, it’s out of my mind, but my heart keep it. That’s why I said He gives us the unfair life that fair enough for each of us.

I enjoy watching the television program that show the live of poor people. In one episode, it showed widow with a mental illnes son. They were poor, and their life was hard, even harder because of the son. But the mother said, it’s because her son, she keep her spirit of life burnt. Somehow, her unperfect son gave her a life purpose. It was very awesome. I thought somehow God was fair to them, even their life was hard, but God made them could continue their life. I can’t explain my feeling but that’s what I think, and what I feel.

It’s seems like the master who gave his money to his servants, each one was given different sum of money, each one is different, according to their ability. Think bout it, it seems that it’s not fair, because the master gave different sum of money to them, but in the other way, it’s fair enough because each of them was given according to their ability. Problem appreared when we thought it’s unfair and we complained, then we did not do anything for the money. It was ourselves that set our life horrible. Take a look the poor people who were simply grateful bout their simple life, they lived happily even they lacked for money, food and comfortable life. At least, it was what we think, but maybe it’s not what they think. In spite of complaining bout their life and wanting abother life, they simply enjoyed their simple life.

I know maybe this can’t be accepted. I said before, it’s out of my mind. But somehow my heart told me for believing in this life, the perfect unperfect life that  He created, this fair unfair live we face. Still, try to enjoy your unfair life. It feels a bit beautiful when we smile this life.

today’s learning

Tergelitik untuk melemaskan jari-jari di atas keyboard, setelah seharian meeting & terjebak macet – kapan ya Jakarta bebas macet =(

Well, anyway, hari ini sehabis meeting sempat cerita-cerita dengan klien yang berasal dari Padang. Kata beliau, di Padang itu sudah biasa gempa bumi, katanya gempa Jogja tahun 2006, kalau nggak salah soale waktu itu aku abis ujian akhir SMA, nggak ada apa-apanya dibanding gempa yang terjadi di Padang. Memang sih sempat denger gempa di Nias, Mentawai dll. Beliau bercerita kalau gempa itu orang naik motor pasti jatuh, terus pak naik mobil kaya dibanting-banting gitu, badan sampe kebentur kiri-kanan. Terus katanya lagi di sana itu orang meninggal sudah biasa, si A meninggal karena gempa, si B hari ini masih ketemu terus besok nggak ada karena gempa itu sudah biasa. Ngeri y to dengere.

Terus satu hal lagi katanya sehabis gempa orang-orang yang notabene korban gempa itu dioperasi tanpa dibius lha wong RS e ya kena gempa, katae obat-obat bisu itu juga berantakan. Yang paling buat aku ngeri pas beliau bercerita ada seorang petugas PLN yang sampe menggergaji kakinya sendiri saat tertimpa reruntuhan tiang saat lagi bertugas coz takut kena tsunami. Ga bisa bayangin gimana gergaji kaki sendiri, ngeri abis. Kaya film saw gitu, wis pokoke ngono lah. Bayangin ae aku males. Sekarang itu yang ditakuti tsunami, bukan gempa lagi Pak, katanya, karena gempa sudah biasa, seperti makanan sehari-hari.

Kata beliau orang-orang di Mentawai terancam tersapu oleh tsunami. Tsunami yang pernah terjadi di Padang diperkirakan lebih dahsyat daripada yang terjadi di Aceh. Tambah ngeri bayangine. Katanya setiap 200 tahun akan ada tsunami besar dan jika tsunami itu terjadi, yang diperkirakan terjadi tahun 2033 maka kepulauan Mentawai akan hilang. Terus kenapa orang-orang di situ nggak mencari tempat yang lebih aman? Kata beliau orang-orang itu nggak punya pilihan. Mau ke mana coba, secara mata pencaharian dan kehidupan mereka di situ.

Hal yang terpikir olehku saat mendengar cerita itu adalah betapa bersyukurnya aku, kita yang hidup dalam kondisi yang lebih aman dibanding mereka yangh hidupnya setiap hari berhadapan dengan bencana. Masih banyak orang lain yang hidup di tempat yang berbahaya dan setiap hari harus berhadapan dengan bahaya. Kita yang hidupnya lebih enak, nyaman, aman malah sering merasa kurang ini itum, dan nggak bersyukur. Nggak usahlah pakai demo menuntut kenaikan upah demi mencicil motor kawasaki, secara pakai motor bebek juga bisa. Syukuri apa yang ada karena hidup ini anugerah. Mengutip kata-kata yang kudengar saat nonton film, Pena sama pensil itu sama bagusnya, sama-sama bisa dipakai buat nulis.

Nulise asal. Soale wis kesel abis bergelut di Jakarta seharian. Hoamm…

pelayan dan tuannya

Pelayan itu baru saja selesai membersihkan rumah ketika tuannya pulang dengan sepatu yang kotor dan berlumuran lumpur. Melihat hal itu dengan enggan si pelayan mengambil sepatu yang kotor dan meletakkannya di rak sepatu. Keesokan harinya ketika sang tuan hendak berangkat kerja, didapatinya sepatu yang hendak dikenakannya masih kotor. Segeralah dia memanggil pelayannya dan menanyakan mengapa sepatunya masih kotor.

Jawab si pelayan, ”Tuan, pada musim hujan seperti saat ini setiap hari selalu turun hujan dan sepatu tuan pasti kotor. Tak peduli berapa kali saya membersihkannya, sepatu itu pati akan kotor lagi terkena lumpur. Nanti saja tuan, setelah musim hujan berhenti baru saya akan membersihkannya.”

Sambil tersenyum sang tuan pun membalas ucapan pelayannya, “Kalau begitu untuk apa saya memberi kamu makan tiga kali sehari setiap hari, toh setelah makan kamu juga akan lapar lagi. Mungkin sebaiknya saya memberi kamu makan seminggu sekali, atau sebulan sekali.”

Mendengar jawaban sang majikan, segera pelayan itu mengambil kain lap dan membersihkan sepatu tuannya.

**

Sebuah cerita lama yang dulu pernah membuatku tertawa (waktu masih kecil), namun entah kenapa kembali teringat dan membuatku berpikir bahwa seringkali manusia mengeluh dengan keadaan yang dialaminya, dan menganggap dirinya adalah orang yang paling tahu apa yang benar dan baik bagi dirinya sendiri, sehingga tidak mau taat kepada Tuhan. Ingatlah kepada hakekatNya sebagai Tuan dan kita hambaNya. Apa yang terjadi jika Tuhan melakukan hal yang sama kepada kita dan menahan berkat2Nya yang berlimpah? Bersyukur Dia adalah Allah yang mengasihi anak2Nya meskipun kita seringkali menentangNya dan tidak taat.

**

Cerita yang ku post di FB ku 2 tahun lalu… Waktu buka-buka FB menemukan tulisan-tulisan jadul ku he3….

Anak kecil dan sepedanya

Hari ini aku melihat seorang anak kecil menaiki sebuah sepeda besar, maksudku sepeda yang seharusnya dinaiki oleh orang dewasa. Aku melihat anak itu mengayuh dengan sekuat tenaga, dan ketika dia berhenti saat jalan macet, dia turun dari sadel sepeda, berdiri dengan berjinjit karena kakinya tidak sampai. Sepeda yang dinaikinya terlalu tinggi untuknya. Sayang aku tidak sempat mengabadikan momen itu dengan kameraku =(
Kejadian yang kulihat itu mengingatkanku pada cerita papiku. Papi sering bercerita tentang masa kecilnya, bagaimana papiku berjualan makanan dengan menaiki sepeda kebo, istilah orang untuk menyebut sepeda kuno yang warnanya hitam dan tentunya ditujukan untuk dikendarai oleh orang dewasa. Papi sering bercerita bahwa kakinya tidak sampai untuk menaiki sepeda itu, dan bagaimana papiku harus menabrakkan sepedanya agar oleng sehingga dapat turun dari sepeda.
Aku tersenyum, membayangkan bagaimana kehidupan saat itu begitu sulit. Dan somehow aku bersyukur untuk hidupku saat ini. Aku bersyukur ketika aku kecil aku memiliki sepeda seukuranku, dan seingatku aku berganti sepeda tiga kali. Well, ketika kecil aku suka bersepeda. Sekarang pun masih, kadang kalau pulang kampung aku bersepeda ke kampung. Finally momen singkat itu membuatku mengucap syukur atas hidupku, meskipun tidak bergelimang harta, tapi setidaknya aku hidup berkecukupan. That’s enough. Thanks God and Dad for provide a good life for me…