saya tidak iri…

saya tidak iri kepada teman-teman saya meskipun setiap pulang sekolah mereka dijemput naik mobil sedangkan saya hanya dijemput oleh ayah saya naik sepeda, karena yang menjemput adalah ayah saya sendiri, bukan sopir… ‪#‎copiedfromateen‬

i’m not envy to my friends even every day after class ends they going home picked by luxurious cars, so different with me who always picked by my dad and his old bicycle, because it’s my dad who picks me, not a driver… #‎copiedfromateen‬

Advertisements

I think I should say I’m in love

“Boleh aku duduk di sini?” tanya Rama kepada seorang gadis yang sedang duduk sendiri di bangku belakang halaman sekolah. Gadis itu pun menangguk.

“Belum pulang? Gimana ulangan fisika tadi? Rama mencoba berbasa-basi, sekedar membuka percakapan.

“Aku masih nunggu jemputan,” jawab remaja itu. “Dan soal ulangannya, cukup sulit sih, semoga nilaiku bagus,” harapnya sambil tersenyum kepada Rama. “Kamu sendiri, kok belum pulang?”

“Emm, lagi belum pengin pulang aja,” jawab Rama sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal. Jelas dia berbohong. Sebenarnya Rama berniat pulang tapi dia mengurungkan niatnya saat dilihatnya sesosok makhluk rupawan sedang duduk sendiri di taman belakang sekolah.

“Ada yang mau kamu bicarakan?” tanya remaja putri itu sambil menatap tajam mata Rama. Deg, jantung Rama seakan berhenti berdetak. Pertanyaan to the point yang dilontarkan lawan bicaranya itu benar-benar tepat sasaran.

“Emm, sebenarnya ada yang mau bicarakan, San,” kata Rama lirih, matanya menatap ke arah kucing berbulu putih yang kebetulan lewat di depan mereka.

“Maka bicaralah.”

“Begini San, ee, aa, ee, aa..” Entah mengapa tiba-tiba lidah Rama kelu.

“Sebenarnya apa yang mau kau katakan Ram, jangan ee, aa, ee, aa. Apakah kucing yang baru saja lewat tadi mencuri lidahmu?” tanya remaja itu tak sabar. Kini matanya mengikuti kucing putih yang menghilang di balik semak-semak.

“Aku, aku suka sama kamu, Santi.” Akhirnya meluncur juga kata-kata yang sejak tadi membuat dada Rama dag dig dug tidak karuan. Rama menunduk, tak berani menatap Santi, saat ini dia yakin wajahnya pasti lebih merah daripada tomat di kebun belakang sekolah.

“Ohh…” Hanya kata itu yang meluncur dari mulut Santi, meskipun sebenarnya dari tadi dadanya bergema tak kalah kencang, jika saja Rama dapat mendengar deru dada Santi.

“Ha? Kok cuma ohh?” tanya Rama sambil mengangkat kepalanya, untuk beberapa detik mata mereka bertemu.

“Apa aku harus bilang Wow gitu terus guling-guling?” tanya Santi sambil tertawa renyah. Dalam hati dia heran mengapa dirinya bisa sesantai itu menghadapi seorang Rama, cowok yang entah sejak kapan mulai mencuri perhatiannya itu.

“Ya enggak sih,” jawab Rama singkat.

“Lalu?” tanya Santi lagi.

“Lalu apa?”

“Kok ditanya malah balik nanya.” Santi mulai gemas melihat sikap Rama. Kamu tuh cowok Rama, teriak Santi dalam hati.

Rama kembali menggaruk kepalanya yang masih juga tak gatal. “Aku cuma mau bilang itu saja ke kamu.”

“Kamu nggak lagi nembak aku kan? Kalau kamu lagi nembak aku, ini acara nembak paling geje yang pernah aku alami.” Santi merasa ada yang salah dalam ucapannya karena dia belum pernah sekali pun ditembak cowok, jadi sebenarnya ini pertama kalinya dia ditembak dan dia merasa cara Rama itu sama sekali tidak jelas. Sepertinya Santi harus mengarahkan alur pembicaraan mereka ke jalur yang benar. “Apa kamu mau minta aku jadi pacarmu?” tanya tanpa malu-malu, meskipun dalam hati dia berteriak memaki-maki dirinya yang tak tahu malu, seharusnya Rama yang mengatakannya, memintanya menjadi pacar cowok itu.

“Bukan itu maksudku.”

“Lalu?” Kali ini Santi merasa pembicaraan mereka benar-benar tidak jelas arahnya. Dia sudah berusaha mengarahkan ke jalur yang menurutnya tepat tapi Rama kembali lagi membanting stir keluar dari jalur. Apa sih maunya Rama ini, batin Santi.

“Aku nggak bermaksud membuatmu bingung. Maaf kalau aku tiba-tiba membuatmu bingung. Aku hanya ingin kamu tahu kalau aku suka kamu. Itu saja. Aku nggak berniat pacaran dulu, belum.”

“Oke, aku mengerti,” tukas Santi. Dalam hati dia lega karena Rama tidak memintanya menjadi pacar cowok itu. Santi juga bingung harus menjawab apa seandainya Rama benar-benar menembaknya. Percakapan dengan kakaknya telah memantapkan Santi untuk tidak menjalin hubungan dengan lawan jenis untuk saat ini.

“Sungguh, kamu orang yang istimewa, kamu yang terbaik, hanya saja aku belum berniat pacaran. Aku bingung, tapi kupikir aku harus mengatakannya. Aku hanya ingin mengatakan isi hatiku. Semoga kamu tidak tersinggung.”

“Sama sekali tidak. Kan sudah kubilang aku mengerti. Jujur aku juga suka kamu,” kata Santi dengan wajah merona. Kini dia benar-benar akan memaki-maki dirinya, bagaimana mungkin dia mengatakan hal itu. “Tapi aku sudah memutuskan untuk nggak pacaran dulu. Tadi pagi aku membahas hal ini dengan kakakku dan aku merasa kita, aku, belum siap,” lanjut Santi cepat.

“Kemarin aku juga ngobrol dengan papaku,” Rama menengadahkan kepalanya ke atas, melihat langit biru yang cerah.  “Aku juga merasa kita masih terlalu muda. Masih ada banyak hal yang ingin kukerjakan. Aku ingin menjadi dokter. Kupikir saat ini aku harus lebih memikirkan masalah itu.”

“Aku ingin jadi presiden,” kata Santi mengikuti jejak Rama, memandang langit biru.

“Ha?” Rama menoleh ke arah Santi.

“Kenapa? Bukankah Ibu Mega pernah menjadi presiden. Kurasa wanita juga bisa menjadi presiden.” Ujar Santi Sambil terus memperhatikan setitik awan putih di tengah langit yang biru.

“Hanya saja, aku tak bisa membayangkan bagaimana kalau kau menjadi presiden. Dan bagaimana aku menjadi suami seorang presiden?” Upps, Rama merasa kalimatnya konyol sekali. Dia cepat-cepat membuang pandangannya kembali ke langit biru.

“Hahaha… tak usah dipikirkan. Kakakku benar, kita masih belum cukup dewasa untuk menjalani hubungan yang serius. Membayangkannya saja aku juga tidak tahu. Kita jalani saja apa yang ada sekarang. Kita masih SMA, banyak hal yang ingin dicapai bukan? Aku senang bisa ngobrol denganmu.”

“Aku juga,” ujar Rama.

“Rama dan Santi, kurasa sedikit kurang cocok. Seharusnya Rama dan Sinta. Tapi kita bisa menjadi teman baik.”

“Iya, teman baik.” Rama tersenyum saat mengatakannya. “Sekarang kita menjadi teman baik.”

“Bukankah memang dari dulu kita berteman?”

“Iya sih. Dulu dan sekarang, tapi kita tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Semoga kita terus menjadi teman baik, dan semakin baik.” Kata-kata Rama membuat wajah Santi merona.

Tiba-tiba HP Santi berdering. Ada panggilan dari kakaknya, sepertinya sudah waktunya Santi meninggalkan tempat itu dan mengakhiri pembicaraan mereka.

“Ram, aku pulang dulu ya. Jemputan sudah datang,” pamit Santi sambil bangkit berdiri. “Oh ya, kakakku berpesan hati-hati kalau naik motor, kalau sampai kau kenapa-kenapa besok kita tak lagi menjadi teman baik, dan tak akan pernah bisa semakin baik,” ujar Santi, meniru ucapan Rama. Rama menggaruk-garuk kepalanya yang masih juga tak gatal sambil tersenyum malu.

Santi mulai melangkahkan kakinya dan mendekatkan HP nya ke telinganya. Sebelum dia menempelkan barang itu di telinganya, dia masih sempat mendengar ucapan Rama, “Hati-hati San, sampai ketemu besok. Dan aku rasa Rama nggak harus sama Sinta. Kalau adanya Santi gimana? Rama dan Santi boleh juga kok…” 

I think I’m in love with him…

Pagi itu wajah Santi nampak tak secerah biasanya, barangkali wajahnya turut mengikuti cuaca pagi itu yang memang mendung. Dia memandang lurus ke depan, memasang wajah datar tanpa ekspresi, meskipun suasana hatinya tidak sedatar wajahnya. Ada sesuatu dalam hatinya yang bergejolak, dan hal itulah yang membuat wajahnya tampak mendung. Bukan karena ulangan fisika yang akan dihadapinya hari ini, semalam dia telah belajar dan berlatih mengerjakan soal demi soal, persiapannya lebih dari cukup untuk menghadapi ulangan itu, tapi karena soal lain, suatu soal yang tak dapat dikerjakannya, bahkan Santi tak tahu bagaimana harus menjawab soal itu. Soal itu adalah ‘apakah aku menyukai Rama?’

Santi tak dapat menemukan jawaban soal itu, meskipun dia telah membolak-balik lembar demi lembar buku pelajarannya. Tak ada yang dapat memberinya contekan untuk menjawab soal itu, karena tak ada yang tahu jawabannya, dan jika ada satu-satunya orang yang tahu, maka Santilah orang itu. Tapi kini Santi belum berhasil mengetahui jawabannya, meskipun dia telah mencarinya ke mana-mana, bahkan sampai bertanya kepada Mbah Google. Tetap saja jawabannya nihil. Dan nihil bukanlah jawaban yang benar untuk menjawab soal itu.

“Kenapa San, dari tadi Mbak perhatikan kamu murung terus?” tanya Mbak Laras, kakak perempuan Santi yang tengah menyetir mobil. Seperti pagi-pagi sebelumnya, Mbak Laras selalu mengantar Santi ke sekolah sebelum dia menuju ke kampusnya, meskipun tujuan mereka tidak searah, tapi toh jam masuk kuliah lebih siang daripada jam masuk sekolah. Dan gadis cantik berkacamata itu tak keberatan mengantar adiknya setiap hari.

“Ah enggak Mbak, nggak ada apa-apa kok,” tukas Santi cepat sambil menoleh ke arah kakaknya.

“Sudah, ngomong saja. Mbak tahu pasti ada apa-apa, Mbak ini sudah enam belas tahun jadi kakakmu, sudah tahu kamu itu seperti apa. Atau biar Mbak tebak deh… pasti masalah cowok!” Tebakan Mbak Laras sepertinya benar, terbukti dari mata Santi yang membulat saat memandang kakaknya itu, sayang yang dipandang tengah sibuk berkonsentrasi terhadap jalanan di depannya sehingga dia tak sempat melihat wajah adiknya itu. “Mbak benar kan?” tanya gadis berkacamata itu lagi, masih sibuk dengan jalan di depannya, kali ini dia tengah berusaha mendahului mobil di depannya dan dalam beberapa menit kemudian dia sukses meninggalkan mobil itu. Meskipun perempuan, tapi kehalian mengemudi Mbak Laras dapat disetarakan dengan laki-laki.

“Dari mana Mbak tahu?” tanya Santi dengan polosnya. Apakah kakaknya itu dapat membaca pikirannya?

“Santi, Santi, ya tentu saja Mbak tahu, Mbak kan pernah jadi ABG juga…” jawab gadis itu sambil terkekeh.

“Santi bingung Mbak. Santi nggak tahu gimana ngomongnya… Ada cowok yang akhir-akhir ini mendekati Santi. Hampir setiap hari dia selalu SMS, nanyain ada PR apa, besok ulangan apa, ya gitu-gitu deh Mbak. Terus kalau di kelas dia sering curi-curi pandang ke Santi.” Akhirnya Santi tak tahan untuk mengeluarkan isi hatinya.

“Hmmm, Mbak pikir wajar sih kalau nanyain PR, besok ulangan apa. Terus kok kamu tahu kalau dia sering curi-curi pandang ke kamu, jangan-jangan kamu juga sering curi-curi pandang ke dia ya…” tebak Mbak Laras lagi, sepertinya dia benar-benar senang menggoda adiknya itu. Jika saja dia tak sedang tak mengendarai mobil, pasti dia senang sekali melihat wajah Santi yang merona kemerah-merahan.

“Ah, Mbak bisa saja…” tukas Santi cepat.

“Terus kamunya gimana? Kamu juga suka sama cowok itu?”

“Aku nggak tahu Mbak. Aku nggak yakin. Aku bingung…”

“San, Mbak pernah cerita kan waktu Mbak pacaran sama Mas Dion waktu kelas satu SMA, terus waktu Mbak pacaran sama Mas Indra waktu kelas tiga SMA, lalu sama Mas Bagas waktu semester satu kemarin…” Mbak Laras nampak mengabsen nama-nama mantan pacarnya. Santi mengakui kecantikan kakaknya itu membuat banyak pemuda yang jatuh hati, dan kakaknya pun nampaknya memiliki catatan percintaan yang panjang. Sebenarnya Santi tahu beberapa nama lain yang tak berstatus pacar kakaknya namun memiliki kedekatan khusus dengan gadis itu. Tapi saat ini kakaknya sedang jomblo, sudah lima bulan dia putus dengan Mas Hendra, pacar terakhirnya yang dipacari selama setengah tahun. Yang membuat Santi heran, Mbak Laras belum mendapatkan pengganti Mas Hendra. Biasanya tak butuh waktu lama bagi kakaknya itu untuk mendapatkan pacar baru. “Sebenarnya Mbak sedikit menyesal berhubungan dengan mereka. Jika waktu dapat diputar kembali, Mbak nggak akan memilih untuk pacaran dulu. Itulah sebabnya setelah Mbak putus dari Mas Indra Mbak memilih menjomblo.”

“Kok gitu Mbak?” tanya Santi heran, padahal sebenarnya dia kagum pada kakaknya yang populer di mata cowok-cowok.

“Waktu itu Mbak pacaran hanya untuk senang-senang saja, ya biar ada yang nemenin jalan, ada yang ngajak nonton, ada yang nraktir makan. Dari Mas Indra lah Mbak belajar tentang pacaran yang serius dan Mbak sadar bahwa Mbak belum siap untuk menjalani hubungan yang serius. Itulah kenapa Mbak putus dengan Mas Indra dan memilih tetap jomblo sampai sekarang,” jelas Mbak Laras tanpa mengalihkan pandangannya dari jalan, kini dia sedang berusaha mengenyahkan seorang pengendara motor yang menyetir seenaknya sendiri. Dilihat dari celana abu-abu yang dikenakannya sepertinya dia masih pelajar SMA.

“Barangkali ini terdengar klise, tapi Mbak mau bilang kalau boleh Mbak kasih saran sebaiknya kamu temenan saja dulu sama anak itu. Kalian masih muda, terlalu muda bahkan untuk terlibat dalam cinta-cintaan. Masih labil dan belum dapat mengendalikan diri, seperti anak di depan, bawanya motor ugal-ugalan, belum bisa tenang dan dewasa dalam menyikapi keadaan. Sama-sama ngotot, nggak ada yang mau ngalah. Nanti kalau kamu pacaran, yang terjadi seperti itu, bawaannya ribut terus, ujung-ujungnya menganggu konsentrasi belajar.” Entah Mbak Laras sedang menasehati Santi atau sedang mengatai pengendara motor di depannya yang memang sedang berusaha untuk mendahului mobil di depannya, tapi sepertinya mobil itu tak mau memberikan celah.

Mendengar kata-kata kakaknya Santi turut melengokkan kepalanya, memperhatikan motor di depan mereka, sepertinya Santi kenal motor itu, dan dia juga kenal pemiliknya. Tapi saat ini Santi tak mau berkomentar apa pun tentang motor itu. Dia sedang menimang-nimang perkataan kakaknya. Diakuinya kata-kata kakaknya benar juga. Pernah dia melihat kakaknya menangis semalam karena bertengkar dengan Mas Dion, saat itu menjelang ujian kenaikan  kelas. Hampir saja Mbak Laras nggak naik kelas karena nilainya jeblok, padahal kakaknya itu berotak encer. Santi tak mau mengalami kejadian yang sama dengan kakaknya. Ditambah lagi melihat tingkah pengendara sepeda motor di depannya itu. Memang diakuinya dia masih belum cukup dewasa itu mengenal apa itu cinta.

“Lagipula kami juga bisa mengisi waktumu dengan hal-hal yang lebih berguna, seperti belajar keterampilan-keterampilan lain yang dapat membekali dirimu di masa mendatang. Salah satu penyesalan Mbak adalah Mbak terlalu sibuk ngurusin pacar-pacar Mbak sehingga Mbak nggak punya waktu untuk melakukan hal-hal lain. Mbak iri dengan Siska, temen Mbak yang kuliah dengan biaya sendiri. Sejak masih SMA dia belajar membuat kue dan sekarang sedikit banyak dia bisa menggunakan keterampilannya itu untuk membiayai kuliahnya, sedangkan Mbak hanya minta uang dari Bunda. Bukannya Mbak melarang kamu untuk pacaran, tapi Mbak hanya ngasih saran aja dan berbagi pengalaman. Mbak nggak mau kamu salah pilih dan akhirnya nyesel, seperti Mbak yang sedikit nyesel hahaha…” Mbak Laras tertawa untuk membuat suasana yang nampak tegang sedikit ceria.

“Lalu Mbak, kapan aku boleh, maksudku bisa pacaran? Lalu gimana kalau cowok ini adalah jodohku?”

“Mbak percaya akan tiba waktunya kamu mengalami hal itu, saat kamu sudah siap. Dan saat itu kamu takkan ragu lagi untuk menjawab ‘ya’. Jika memang kamu berjodoh dengan cowok ini, di kemudian hari kalian pasti akan jadian kok. Santai saja. Waktumu masih panjang. Nikmati saja dulu masa-masa SMA mu. ” Kali ini Mbak Laras berkata sambil memandang Santi. Mereka telah tiba di sekolah Santi. Sebenarnya Santi masih mau bercakap-cakap dengan kakak satu-satunya itu, tapi waktu jualah yang membatasi kesempatan mereka. “Sudah sampai.”

Saatnya Santi turun. “Mbak, terima kasih ya…” kata Santi sambil tersenyum. “Hati-hati di jalan!” kata Santi saat hendak menutup pintu mobil.

“Sama-sama. Eh, kalau ketemu sama anak yang tadi bawa motor, bilangin yang sabar di jalan, jangan ngebut. Tadi Mbak lihat dia msuk ke sekolahmu, sepertinya dia anak sini,” pesan Mbak Laras. Santi hanya tersenyum sambil mengacungkan ibu jarinya. Wajahnya tak lagi mendung, karena langit di atas sana mulai cerah, sang fajar telah menampakkan dirinya dari balik awan. Kini dia sudah tahu jawaban soal yang menganggunya itu, dan dia telah siap menjawabnya.

I think I’m in love with him, but not now…

I think I’m in love with her…

Sore itu Rama nampak gelisah. Dia sedang berusaha belajar, memindahkan rumus-rumus fisika dari buku catatan ke dalam otaknya. Tapi setiap kali dia mencoba untuk menghafal rumus-rumus itu, sebuah rumus lain menari-nari di otaknya. Bukan rumus s=vo.t yang menunjukkan jarak tempuh sama dengan kecepatan dikalikan waktu tempuh, maupun vt2=vo2+2as yang menunjukkan kecepatan akhir sama dengan akar kecepatan awal dikuadratkan lalu ditambahkan dua kali percepatan dan jarak tempuh yang mengendap di otaknya melainkan Rama+Santi=love, sebuah rumus yang tak ada dalam buku catatan maupun buku pelajaran fisika manapun.

Rama mengacak-ngacak rambutnya, mencoba mengenyahkan rumus yang diciptakannya sendiri itu. diletakannya buku catatannya di atas kasur, tepat di samping pantatnya. Dia bergeser sejenak, memperbaiki cara duduknya, mencoba mencari posisi duduk yang lebih nyaman di atas kasur. Dia harus belajar untuk menghadapi ulangan fisika besok, tapi sudah hampir satu jam dia membolak-balik lembar demi lembar buku catatannya tak ada satu rumus pun yang tertanam di otaknya, justru rumus asing itu yang terus menerus mengetuk-ngetuk otaknya, mencoba untuk masuk.

“Kenapa Ram? Ada yang nggak kamu mengerti? Barangkali Papa bisa bantu?” Suara Papanya membuat perhatian Rama teralih dari rumus aneh yang berdiri di depan pintu otaknya. Untuk sementara dia membiarkan rumus itu berdiam diri, menunggu dengan setia di depan pintu otaknya. Kini dia menoleh ke arah pintu kamarnya yang terbuka lebar, sepertinya tadi dia telah menutup pintu kamarnya. Tanpa menunggu jawaban putera sulungnya, lelaki paruh baya itu melangkah memasuki kamar berukuran tiga kali tiga meter itu. Tak dipedulikannya sticker bertuliskan “Masuk=Mati” yang menempel di pintu kamar itu. Satu lagi rumus yang tak ada dalam mata pelajaran mana pun.

“Emmm, nggak kok Pa, Rama lagi belajar aja. Tapi dari tadi nggak ada yang bisa masuk,” ujar Rama cemberut. Papa Rama tersenyum melihat tingkah puteranya itu. Meskipun sudah kelas X SMA, tapi kadang sikapnya msih seperti anak kecil. Ah, tak peduli berapa pun usia Rama sekarang, di mata laki-laki itu, Rama tetaplah putera kecilnya. “Kalau belajar nggak masuk-masuk berarti ada yang harus dikeluarkan dulu. Barangkali otakmu sudah penuh.” Lelaki itu mengusap rambut puteranya lembut.

“Emmm, gitu ya Pa?” Rama memandang wajah Papanya. Meskipun sudah berusia empat puluh tahun, wajah Papanya masih sama seperti wajah lelaki di dalam foto yang menggendongnya saat masih bayi. Tidak, wajah itu tak lagi sama, semakin Rama memperhatikannya, dia menemukan beberapa kerutan samar di dahi laki-laki itu. Kerutan yang menunjukkan kerja keras dan kebijaksanaannya sebagai seorang ayah.

“Lalu, apakah kamu akan membiarkan Papa menunggu?” Rama menunduk sebentar, seperti berpikir keras, apakah dia harus menceritakan rumus aneh yang kini menunggu di depan pintu otaknya. Barangkali Papanya memiliki penyelesaian bagaimana cara menggunakan rumus itu, karena tak ada soal manapun dalam pelajaran fisika yang dapat dijawab menggunakan rumus itu. “Ram, ada kalanya dua orang laki-laki melakukan pembicaraan antara dua orang laki-laki.” Papa Rama sepertinya tahu ada masalah yang menganggu puteranya, sepertinya puteranya itu masih enggan untuk menceritakan masalah apa itu, “Atau antara ayah dan anak…”

“Emmm, oke lah kalau begitu. Tapi janji ya Pa, antara dua orang laki-laki, atau antara ayah dan anak, sama sajalah…” Ucapan Rama membuat Papanya terkekeh pelan.

“Pa, sepertinya aku naksir cewek…” Pelan sekali kata-kata itu meluncur dari mulutnya, hampir saja Papanya tak bisa mendengar suara puteranya itu.

“Lalu…”

“Lalu aku nggak yakin sama perasaanku, tapi setiap kali aku melihatnya, aku merasa berdebar…”

“Terus…”

“Terus aku merasa nyaman dekat dia, aku ingin terus ada di dekatnya. Aku bingung, nggak tahu harus gimana…”

“Ooo…”

Mendengar Papanya yang hanya berkomentar ‘lalu’, ‘terus’ dan menutup nya dengan ‘o’ panjang Rama semakin cemberut. Dia menekuk wajahnya kesal. Papa Rama kembali tersenyum melihat tingkah puteranya.

“Rama, Papa sudah menduga akan tiba saatnya kamu menghadapi hal itu. Papa senang dapat menjalankan tugas sebagai seorang ayah, mendampingi puteranya saat menghadapi masa-masa, meminjam istilah anak muda jaman sekarang, galau,” Papa Rama menghela nafas sejenak sambil duduk di sebelah puteranya. Rama menggeser pantatnya, memberika ruang bagi Papanya, toh kasur itu masih luas untuk diduduki dua orang.

“Dulu Papa juga pernah mengalami apa yang kamu alami saat ini. Jika boleh Papa memberi saran, sebaiknya untuk saat ini kamu fokus dengan sekolahmu dulu. Jalanmu masih panjang. Usiamu masih terlalu belia untuk mengenal apa itu cinta. Percayalah kepada Papa, di kemudian hari akan tiba waktunya cinta itu datang, ketika kamu sudah lebih dewasa dan lebih mengenal dunia. Untuk saat ini, bertemanlah dengan siapa saja, baik dengan laki-laki maupun perempuan.” Papa Rama memandang dalam-dalam mata puteranya yang nampak mendengarkan kata-katanya dengan seksama.

“Dengan menutuskan menjalin hubungan dengan seorang gadis, akan membuatmu membatasi pergaulan dengan gadis-gadis lainnya. Padahal masa SMA adalah masa remaja yang menyenangkan, di mana kamu bisa berteman dengan siapa saja, menikmati masa remajamu, bukannya merasa galau. Jika kamu mengisi masa SMA mu dengan kegalauan, kamu akan kehilangan masa-masa yang menyenangkan itu. Dan masa-masa itu tak akan dapat diulang kembali,” Papa Rama mengalihkan pandangannya ke foto-foto Rama bersama teman-temannya yang berderet rapi di atas meja belajar.

“Lalu bagaimana dengan cewek yang aku taksir?”

“Jika memang kalian berjodoh, di kemudian hari kalian akan bertemu kembali, jika kalian sudah benar-benar siap untuk menjalin sebuah hubungan.” Papa Rama menjawab bijak. Rama mengangguk-anggukan kepalanya, berusaha mencerna nasehat Papanya. “Boleh aku tanya sama Papa?” kali ini Rama mengajukan sebuah pertanyaan.

“Apakah Papa juga harus minta ijin untuk menjawab pertanyaanmu? Silakan saja kamu tanya apa saja, Papa akan menjawabnya meskipun tanpa ijin darimu.”

“Apa sebelum bertemu Mama, Papa pernah mencintai perempuan lain?”

“Tentu saja. Mamamu bukanlah perempuan pertama dalam hidup Papa.” Mendengar jawaban Papanya Rama semakin tertarik. “Sebelum Mamamu ada seorang perempuan yang sangat Papa sayangi, dia adalah Mamaku, nenekmu.” Papa Rama tersenyum saat mengatakan itu, apalagi saat dia memandang puteranya yang nampak tak puas mendengar kata-katanya.

“Saat itu sangat berbeda dengan jaman sekarang. Jaman dulu orangtua suka menjodohkan anak-anak mereka. Papa adalah salah satu korbannya. Papa dijodohkan dengan Mamamu. Tapi Papa tak menyesal menerima perjodohan itu, karena Mamamu adalah wanita yang hebat. Semakin Papa mengenalnya semakin Papa menyadari bahwa Papa mencintainya.” Rama mendengarkan kata-kata Papanya dengan takjub. “Cinta seperti itulah yang mampu bertahan. Bukan cinta monyet yang menimbulkan kegalauan sesaat.” Papa Rama mengakhiri kata-katanya.

“Lalu Rama harus gimana?” Rama masih belum bisa mengerti maksud perkataan Papanya.

“Jalani saja dulu hari-harimu. Jangan membuat keputusan hanya karena terbawa perasaan. Berteman dulu dengannya. Barangkali seiring dengan berjalannya waktu kamu akan bertemu gadis lain yang lebih menarik perhatianmu.”

“Oke Pa, Rama akan menuruti kata-kata Papa.” Rama tersenyum sambil mengacungkan ibu jarinya.

“Sekaran boleh Papa tanya?”

“Apakah Rama juga harus minta ijin untuk menjawab pertanyaan Papa? Silakan saja Papa tanya apa saja, Rama akan menjawabnya meskipun tanpa ijin dari Papa.” Rama meniru ucapak Papanya, membuat laki-laki itu menatap puteranya gemas.

“Siapa nama gadis itu?”

“Itu rahasia. Yang jelas bukan Mama…” Rama menjawab sambil mencibir, nampak rona merah pada wajahnya.

“Tadi katanya kamu mau jawab semua pertanyaan Papa.” Papa Rama menggoda puteranya itu.

“Kan sudah aku jawab. Jawabannya rahasia. Sekarang Papa keluar dulu, Rama mau belajar.” Rama mendorong Papanya agar berdiri dan meninggalkan kamarnya. Laki-laki itu menuruti kemauan puteranya. Dia berjalan keluar kamar. “Jangan lupa tutup pintunya.” Rama berkata sambil meringis.

“Baik Tuan Muda.” Papa Rama menjawab lalu menutup pintu pelan, tak ingin menggangu puteranya yang melanjutkan acara belajarnya. Sekilas matanya menangkap stiker yang bertuliskan “Masuk=Mati”.

Di dalam kamar, Rama sudah memegang kembali buku catatannya. Rumus aneh yang tadi menunggu di depan pintu otaknya pergi entah ke mana, barangkali dia tidak sabar karena menunggu terlalu lama. Sudahlah, yang penting kini rumus demi rumus fisika berjalan memasuki otak Rama satu per satu.

I think I’m in love with her… maybe yes maybe no… gumam Rama.