6 Pertanyaan

  1. “Apakah yang PALING TAJAM di dunia ini ?”

 

Ada yang menjawab : “Pedang.”

 

Jawab Tuhan: Yang paling tajam adalah “lidah manusia”.

 

Karena melalui lidah, manusia dengan mudah memfitnah orang, menyakiti hati, melukai perasaan orang, dll.

 

  1. Apa yang PALING JAUH dari diri kita di dunia ini?

 

Ada yang menjawab: “Antariksa, bulan, matahari.”

 

Jawab Tuhan : Yang paling jauh adalah “masa lalu”.

 

Siapa pun kita, bagaimanapun dan betapapun kayanya kita, tetap TIDAK bisa kembali ke masa lalu. Sebab itu kita harus menjaga hari ini dan hari-hari mendatang.

 

  1. Apa yang PALING BESAR di dunia ini?

 

Ada yang menjawab : “Gunung, bumi, matahari.”

 

Jawab Tuhan: Yang paling besar di dunia ini adalah “nafsu”.

 

Banyak manusia celaka karena menuruti hawa nafsunya. Segala cara dihalalkan demi mewujudkan impian nafsu duniawi. Karena itu hati-hati dengan hawa nafsu!

 

  1. “Apa yang PALING BERAT di dunia ini?”

 

Ada yang menjawab: “Baja, besi, gajah.”

 

Jawab Tuhan: Yang paling berat “janji”.

 

Hal yang gampang diucapkan tapi sulit dilakukan.

 

  1. “Apa yang PALING RINGAN di dunia ini?”

 

Ada yang menjawab: “Kapas, angin, debu, daun-daun kering.”

 

Jawab Tuhan : Yang paling ringan di dunia ini adalah “Melupakan AKU dan Meninggalkan AKU”.

 

Lihatlah banyak orang yang karena harta, tahta, wanita, jabatan, dengan mudahnya meninggalkan AKU.

 

  1. Apa yang PALING DEKAT dengan diri kita di dunia ini?

 

Ada yang menjawab : “Orang tua, sahabat, teman, kerabatnya.”

 

Jawab Tuhan : Yang paling dekat dengan kita adalah “KEMATIAN”.

 

Sebab kematian adalah PASTI adanya dan bisa terjadi se-waktu-waktu.

 

Dan terakhir pertanyaan bonus dari Tuhan : “Apakah yang paling gampang di dunia ini?”

 

Mereka menjawab : “Makan, tidur, nongkrong, dll.”

 

Jawab Tuhan:

Yang paling gampang adalah “MEMBAGIKAN RENUNGAN INI” maka akan menjadi bahan renungan yang bermanfaat bagi yang lain!

Meragukan Tuhan?

Screenshot_2016-01-08-20-23-22 copy

Sungguh kebetulan saat melihat update status bbm dari dua orang yang berbeda tetapi jika dilihat seakan-akan seperti saling menanggapi. Aku tidak tahu mengapa bisa terjadi demikian. Namun, itulah yang terlintas di pikiranku saat melihat update status tersebut.

Dilihat dari konten yang dituliskan, maksudku membaca status mereka seperti membaca status update pada umumnya, dari bawah ke atas, status temanku yang kedua seakan-akan seperti mempertanyakan status teman pertama. Dilihat secara keseluruhan, hal yang dapat ditangkap adalah sebuah pernyataan meragukan tentang kebaikan Tuhan. Mungkin saja anda geli ketika melihat status tersebut, tetapi bukankah hal itu yang sering kali terjadi dalam hidup ini?

Kita sering meragukan kuasa Tuhan dalam segalanya dan memilih untuk mengambil jalan sendiri, jalan yang kita anggap lebih baik. Bahkan ketika ada orang lain yang mengemukakan pernyataan imannya, tak jarang kita menjadi sarkastik. Bukannya mendukung, justru mungkin kita melakukan hal yang sebaliknya, mempertanyakan iman orang itu dan kemahakuasaan Tuhan.

Kiranya melalui kisah status kedua temanku itu kita semakin memperbaiki diri dalam bersikap dan bertumbuh dalam iman.

KISAH RAJA DAN PELAYANNYA

Ada seorang Raja yang mempunyai seorang pelayan, yang dalam setiap kesempatan selalu berkata kepada sang Raja: “Yang Mulia, jangan khawatir, karena segala sesuatu yang dikerjakan Allah adalah sempurna, Ia tak pernah salah.”

Suatu hari, mereka pergi berburu, pada saat mana seekor binatang buas menyerang sang Raja. Si pelayan berhasil membunuh binatang tersebut, namun tidak bisa mencegah Rajanya dari kehilangan sebuah jari tangan.

Geram dengan apa yang dialaminya, tanpa merasa berterima kasih, sang Raja berkata, “Kalau Allah itu baik, saya tidak akan diserang oleh binatang buas dan kehilangan satu jari saya..!”

Pelayan tersebut menjawab, “Apapun yang telah terjadi kepada Yang Mulia, percayalah bahwa Allah itu baik dan apapun yang dikerjakanNya adalah sempurna, Ia tak pernah salah.”

Merasa sangat tersinggung oleh respon pelayannya, sekembalinya ke istana, sang Raja memerintahkan para pengawalnya untuk memenjarakan si pelayan. Sementara dibawa ke penjara, pelayan tersebut masih saja mengulangi perkataannya: “Allah adalah baik dan sempurna adanya.”

Dalam suatu kesempatan lain, sang Raja pergi berburu sendirian, dan karena pergi terlalu jauh ia ditangkap oleh orang-orang primitif yang biasa menggunakan manusia sebagai korban.

Diatas altar persembahan, orang-orang primitif tersebut menemukan bahwa sang Raja tidak memiliki jari yang lengkap. Mereka kemudian melepaskan Raja tersebut karena dianggap tidak sempurna untuk dipersembahkan kepada dewa mereka.

Sekembalinya ke istana, sang Raja memerintahkan para pengawal untuk mengeluarkan si pelayan dari tahanan, dan Raja itu berkata: “Temanku.. Allah sungguh baik kepadaku. Aku hampir saja dibunuh oleh orang primitif, namun karena jariku tidak lengkap, mereka melepaskanku.”
Tapi aku punya sebuah pertanyaan untukmu. “Kalau Allah itu baik, mengapa Ia membiarkan aku memenjarakanmu ?

Sang pelayan menjawab: “Yang Mulia, kalau saja baginda tidak memenjarakan saya, baginda pasti sudah mengajak saya pergi berburu, dan saya pasti sudah dijadikan korban oleh orang-orang primitif sebab semua anggota tubuh saya masih lengkap.”

Semua yang dikerjakan Allah adalah sempurna, Ia tak pernah salah. Seringkali kita mengeluh mengenai hidup kita, dan pikiran negatif pun membunuh pikiran kita yang positif

Marilah berpikir positif dan percayalah akan kebaikan Allah setiap saat.

Selamat berbaik sangka kepada Allah, atas sgala kejadian & keadaan hidup kita..

Jalandar, sebuah potret manusa (dalam serial Mahadewa)

Malam itu aku sedang berkutat di depan TV ketika serial Mahadewa mulai. Aku bukan penggila serial India sih, tetapi berhubung nggak ada tayangan bagus di channel Indo apa boleh buat.

Episode malam itu adalah ketika Jalandar, Raja Iblis yang merupakan esensi Mahadewa mati. Dikisahkan Jalandar adalah esensi Mahadewa yang dibesarkan oleh putri duyung. Ibu Jalandar mati dibunuh oleh dewa Indra. Singkat cerita, Jalandar merasa selama hidupnya dia mendapat perlakuan yang tidak adil, sehingga dia menggugat Mahadewa. Jika dia adalah esensi Mahadewa, mengapa Mahadewa tidak memperhatikannya, sehingga dia mengalami hidup yang berat?

Ketika menonton serial itu, jujur aku setuju dengan Jalandar. Pertanyaan yang sama sering juga kuajukan. Di mana Tuhan saat terjadi ketidakadilan? Mengapa Tuhan membiarkan hal buruk terjadi? Kalau Tuhan mencintaiku, mengapa Tuhan diam saja dan tidak menolong? Kuakui pertanyaan-pertanyaan itu sering kulontarkan dalam hatiku. Dan, mengikuti kisah perjalanan hidup Jalandar aku menjadi penasaran, jawaban macam apa yang diberikan penulis skenario film tersebut.

Dikisahkan bahwa Mahadewa hadir melalui orang-orang yang ada di sekitar Jalandar. Melalui ibunya, sang putrid duyung yang mencurahkan kasih sayang, melalui gurunya yang membimbing Jalandar hingga menjadi Raja Iblis dan melalui istrinya yang begitu mengasihinya. Namun, ketidakpuasan Jalandar lah yang menyeretnya menuju kehancuran.

Merefleksikan kisah itu, mungkin memang benar ketidakadilan, kajahatan dan hal-hal yang tidak kita inginkan terjadi di dalam dunia ini. Di manakah Tuhan? Tuhan bukannya diam saja, tetapi Tuhan juga hadir melalui orang-ornag di sekitar kita. Orang-orang yang menyayangi dan mendukung kita. Keluarga, sahabat, teman-teman. Semua orang yang ada di sekitar kita. Kegagalan kita menemukan Tuhan ketika kita menolak semua bentuk kehadiran Tuhan tersebut. Kita menutup diri dan tidak mau berusaha melihat kasihNya. Ketika manusia memandang hanya ke dalam dirinya sendiri dan tidak menghiraukan orang-orang di sekitarnya maka dia gagal merasakan kehadiran orang lain. Demikian halnya dengan yang aku alami. Aku mempertanyakan ini dan itu karena aku terus berkutat dengan diriku sendiri. Aku menganggap masalahku sangat besar sehingga menutupi kehadiran Tuhan dalam hidupku. Terlalu memfokuskan diri pada suatu hal membuat hal yang lain menjadi tidak kelihatan. Manusia, sama halnya seperti Jalandar memiliki pilihan untuk menerima kenyataan dan menjalankan hidupnya dengan sebaik mungkin, atau sebaliknya menolak kenyataan dan berusaha menggugat Sang Pencipta. Jalandar memilih pilihan terakhir, sehingga selama hidupnya dia tidak mendapatkan kedamaian dan berakhir mengenaskan.

Sulit memang berusaha menerima hal yang tidak kita pahami dan tidak kita ingini. Tapi aku berusaha percaya dan menerima apa pun yang terjadi dalam hidup ini semuanya tidak terlepas dari rencana Tuhan. It’s called faith. Selamat meneruskan hidup…

Kebaikan Tuhan dalam tragedi 9/11

Hari ini tanggal 11 September 2014, tepat 13 tahun sejak kejadian 9/11 yang mengguncang dunia. Perisitwa pembajakan pesawat terbang yang berujung pada terorisme internasional dan menggoreskan luka yang mendalam bagi sejarah umat manusia.

Mengenai peristiwa 9/11 saya ingat seorang adik Maba di kelompok tutorial pernah bertanya ‘jika Tuhan baik mangapa Dia membiarkan peristiwa mengenaskan itu terjadi’. Pertanyaan yang bagus sih sampai saya mikir juga jawabnya, maklum saat itu masih tergolong mahasiswa muda. Saat itu saya menjawab bahwa rencana Tuhan tidak dapat dimengerti oleh manusia. Manusia bisa saja hanya memandang satu sisi dari sebuah kejadian, sehingga dia mengasumsikan opininya terkait dengan sisi yang dipandangnya itu, tapi Tuhan sebagai Sang Pencipta tentu memandang berbagai aspek, termasuk sisi-sisi yang tidak dapat dipandang oleh kacamata manusia, sehingga dengan otoritasNya Dia tetap mengijinkan hal itu terjadi demi kebaikan manusia. Dan dengan iman, saya percaya bahwa peristiwa apa pun itu meskipun dipandang tidak baik oleh manusia, jika diijinkan terjadi oleh Tuhan pasti mendatangkan kebaikan.

Terkait dengan pertanyaan adik Maba tersebut, pemahaman tentang ‘kebaikan Tuhan’ lah yang sering kali menjadi tolok ukura kita dalam memandang sesuatu. Seringkali Tuhan dipandang baik jika Dia berada di pihak kita dan bila Dia berseberangan dengan kita maka Dia menjadi Tuhan yang jahat. Masalahnya apakah kita berdiri di atas kebenaran dan pemahaman kita tentang apa yang baik itu sejalan dengan pemahaman Tuhan?

Saya mencoba memandang kebaikan Tuhan dari sudut pandang yang lain. Ketika ada seseorang yang merancangkan kejahatan dan ada orang lain yang berusaha menggagalkan rancangan kejahatan tersebut meskipun pada akhirnya dia gagal, bukankah orang tersebut tetap bisa dikatakan sebagai orang baik. Seringkali yang menjadi sudut pandang kita adalah orang baik yang dianggap membiarkan kejahatan merajalela, tetapi sebenarnya yang menjadi masalah bukanlah orang baik itu tidak melakukan kebaikan, tetapi orang jahatlah yang terus menerus melakukan kejahatan.

Kembali kepada tragedy 9/11 tersebut, dengan menggunakan sudut pandang yang saya kemukan di atas, maka saya berani mengatakan Tuhan tetap baik karena di kemudian hari saya mengetahui bahwa sebenarnya Tuhan telah menggagalkan rancangan terorisme tersebut. Pesawat ketiga, yang seharusnya ditergetkan menghancurkan White House dan Washington gagal melaksanakan tugasnya karena para penumpang pesawat melakukan perlawanan. Menurut saya White House memiliki arti yang jauh lebih penting daripada Pentagon baik dari sisi politik maupun sosial ekonomi. Apa jadinya jika White House dan Washington sebagai pusat pemerintahan Amerika benar-benar hancur? Bisa jadi Amerika tumbang dan dunia akan bergejolak. Jika tanpa campur tangan Tuhan, saya percaya hal itu tidak akan terjadi. Rencana matang yang telah disusun oleh manusia brilliant (mereka berhasil membajak tiga pesawat secara bersamaan dan sukses menerbangkannya, bahkan dua diantaranya berhasil mewujudkan misinya) berhasil digagalkan oleh sekelompok orang yang tidak terorganisir dan berpengalaman militer.

Saya tetap tidak tahu mengapa Tuhan mengijinkan peristiwa itu terjadi dan Tuhan membiarkan kedua pesawat pertama menyelesaikan misinya, biarlah itu menjadi misteri otoritas Tuhan, tapi sekali lagi dengan kacamata iman saya tetap memandang bahwa dalam tragedy 9/11 ada kebaikan dan belas kasih Tuhan yang peduli terhadap manusia.

Ketika saat ini anda menghadapi saat-saat sulit cobalah untuk memandang dari sisi yang berbeda. Bisa jadi ketika anda memandang dari sisi yang berbeda maka anda akan mendapati hal-hal yang tidak anda temukan sebelumnya.

Jakarta dan banjir

Jakarta banjir. Itulah headline news yang merajai saluran televisi hari-hari ini. Semua orang sudah tahu bahwa Jakarta selalu kebanjiran saat musim hujan. Berbagai upaya telah dilakukan untuk mengatasi masalah banjir, mulai dari mengeruk sungai, membuat pintu-pintu air bahkan yang terakhir menggunakan rekayasa hujan. Tapi apa hasilnya? Nihil. Jakarta tetap saja banjir. Well, aku tidak berniat membahas mengenai banjir dan siapa yang harus bertanggung jawab. Menurutku sih itu semua tanggung jawab kita sebagai manusia. Ketika manusia tidak mengelola alam dengan baik maka yang didapatkannya dalah bencana. Hukum tabur tuai itu berlaku.

Hal yang menarik di sini adalah upaya dan usaha yang dilakukan untuk menaklukkan alam. Ketika memikirkan tentang usaha rekayasa hujan, yang menggunakan garam dan memakan biaya 28M; fantastis bukan, aku berpikir bahwa usaha itu sia-sia. Buktinya Jakarta tetap saja hujan dan kebanjiran. Hal ini membuktikan bahwa usaha manusia tidak mampu menaklukkan alam. Alam masih lebih berkuasa. Dia yang mengatur alam lebih berkuasa dari manusia.

Marilah kita berpikir sejenak. Bukankah dalam setiap segi kehidupan, manusia seakan-akan bertindak sebagai pengatur, penakluk, penguasa. Memang sih manusia diciptakan untuk menguasai dan mengolah alam, tapi bagaimana tindak tanduk manusia? Manusia bertindak seakan-akan menjadi Tuhan, dan lupa bahwa Tuhanlah yang maha mengatur. Perilaku manusia inilah yang membuat manusia kehilangan kesadaran akan tanggung jawabnya kepada Sang Pemilik alam ini. Manusia bukanlah pemilik alam, manusia hanya orang yang diberikan kesempatan untuk mengusahakan alam ini. Tapi kenyataannya kita sebagai manusia melupakan kodrat kita, sehingga pada akhirnya alam tidak lagi menjadi teman kita tapi malah menjadi musuh kita.

Itulah sekilas pemikiran yang berkelibat di otakku saat melihat tetes-tetes air yang menyerbu dalam perjalan pulang meeting. 

Hidup itu bukan matematika

“Hidup itu bukan matematika,” kata rekan kerjaku setiap kali aku mengeluh atau menelurkan statement yang menurutnya terlalu idealis ha5…

Pernah dalam suatu perjalanan untuk meeting pernah kami terjebak macet berjam-jam, yah namanya juga Jakarta, so paste macet itu makanan sehari-hari. Ketika aku mengeluhkan kemacetan itu dan betapa kami sudah merencanakan berangkat berjam-jam sebelumnya dan sekarang kenyataan yang ada di depan mata adalah kami sudah pasti terlambat. Rasanya konyol, sudah berangkat dua jam lebih awal tapi sampai di sana satu jam lewat dari jadwal yang dijanjikan. Pada lain kesempatan, pernah kami berangkat dengan estimasi waktu yang sama, ternyata sampai di sana malah hampir satu jam sebelum jadwal. “Hidup itu bukan matematika Pak,” kata rekan kerjaku saat aku mengeluhkan hal itu.

Sama halnya dengan pekerjaan. Banyak masalah-masalah yang terjadi, mulai dari gambar yang tidak dapat diterapkan di lapangan karena satu dan lain hal, perubahan desain yang terjadi karena permintaan owner, sampai gambar-gambar yang tidak cocok satu sama lain, kalau yang ini memang human eror sih ha5… Well, padahal kita sudah berusaha semaksimal mungkin dan menghindari adanya kesalahan. Tapi yah itulah hidup. Tak ada yang sempurna dan tak bercacat cela. Saat aku pusing dan mengacak-acak rambutku, kembali lagi rekanku itu mengucapkan kalimat yang sama, “Hidup itu bukan matematika Pak.”

Lalu pada waktu kami makan seusai meeting, rekanku itu bertanya “Kapan mau merit, sudah punya pacar belum?” Memang sih dia sudah merit. -Just for info, for me itu pertanyaan paling menjengkelkan- Kujawab saja, “Nantilah Pak, masih lama, masih banyak yang mau direncanakan dan dikerjakan. Investasinya kelamaan nanti ha5… =p” Lagi-lagi dia melontarkan kalimat yang sama, “Hidup itu bukan matematika Pak.”

Rasanya perlahan kalimat itu mulai meracuni otakku. Sewaktu temanku, ini teman yang lain, teman kuliah dulu, menceritakan rencananya untuk mencoba melamar kerja di luar negeri, lalu menceritakan tentang penghasilan, berapa lembar dolar yang akan masuk ke kantungnya, lalu berapa rupiah yang akan didapatnya setelah melalui proses money exchange, aku hanya tersenyum dan melontarkan kalimat itu, “Hidup itu bukan matematika.”

Menurutku, kalimat itu memang benar, sudah dilumpuhkan oleh racunnya soalnya jadi sudah terpolusi dan terkontaminasi, maksudnya I think dalam hidup ini tidak ada hal yang pasti, selain kematian yang menunggu di penghujung jalan kehidupan ha5… Kalau matematikan itu kan ilmu pasti, my dad selalu ngomong gitu sih. Tapi dalam hidup, tidak ada jaminan bahwa 1 + 1 = 2. Bisa saja 1 + 1 = 0 atau 1 + 1 = 11. Sebaik-baiknya orang merencanakan dan berusaha memastikan bahwa segala sesuatunya berjalan sesuai dengan rencananya, there is always an invisible hand that interfered our plans. That’s way aku memaknai hidup ini sebagai sebuah intervensi Tuhan.

Kupikir itulah hidup, setidaknya hidupku penuh intervensi Nya. Banyak hal-hal yang kurencanakan, aku merencanakan A, tapi pada kenyataannya terjadi sesuatu, atau rencanaku itu tidak berjalan lancar sehingga yang terjadi adalah B. Nggak semua sih tapi sebagian hidupku penuh dengan kejadian seperti itu. I think it’s same with you. Karena itulah aku sependapat dengan statement rekanku tersebut. Hidup ini bukan matematika, coz there is no guarantee that 1 + 1 = 2, but there is always His hand that lead me to walk in His way, and I think His way is far beautiful enough better than the way I choosed.