Wanita itu #4

Wanita itu pasti orang ga bener. Itulah yang terlintas dalam pikiranku saat pertama kali melihat wanita itu di kereta. Penampilannya benar-benar urakan. Bajunya sangat pendek dan terbuka. Celana jeans yang digunakannya pun sobek-sobek di bagian kaki. Sepintas penampilannya seperti wanita liar. Aku pun tak memperhatikan apa yang dilakukan wanita itu. Bukankah sudah kubilang penilaianku kepada wanita itu sangat buruk.

Kereta terus melaju dan aku asyik dengan lamunanku dan pemikiran yang kadang terlintas di kepalaku. Sama sekali aku tidak menghiraukan wanita itu, meskipun dia duduk tak jauh di seberangku. Perjalanan ku hampir usai ketika kereta berhenti di stasiun bandara, satu stasiun sebelum stasiun yang kutuju. Para penumpang mulai berdiri dan bergegas untuk turun. Sebagian penumpang yang tadinya tidak mendapat tempat duduk pun segera berebut menduduki kursi-kursi kosong yang ditinggalkan pemilik sebelumnya.

Aku melihat wanita itu berdiri dan kupikir dia akan turun di stasiun itu. Ternyata aku salah. Wanita itu menghampiri ibu paruh baya yang duduk di sebelahku dan meminta sebuah kantung plastik untuk diberikan kepada cucu ibu itu yang duduk bersama sang suami. Memang ibu itu dan keluarganya duduk terpisah. Anak kecil, cucu ibu itu nampak pucat, sepertinya dia mabuk. Wanita itu pun nampak beberapa kali menghampiri anak kecil itu. Dia meminta tissue kepada penumpang lain dan menyuruh ibu paruh baya yang duduk di sebelahku itu memberikan minyak angin kepada cucunya.

Awalnya kupikir wanita itu adalah ibu dari si anak yang mabuk, tapi aku merasa bingung. Jika dia ibunya, mengapa selama perjalanan dia nampak seperti tidak mengenal keluarga itu. Lagipula sejak aku naik ke kereta ini, wanita itu telah duduk sendiri di sana, sedangkan ibu ini dan keluarganya naik beberapa saat setelah aku duduk di tempatku. Berdasarkan analisaku, mereka tidak bepergian bersama. Aku pun mulai memperhatikan wanita itu. Kini dia berdiri karena tempat yang didudukinya tadi telah berganti pemilik. Ketika dia berdiri untuk mengurus anak kecil yang mabuk itu, seseorang menduduki kursinya. Beberapa menit berlalu sejak wanita itu mulai meminta kantung plastik kepada ibu di sebelahku. Sampai saat itu, aku masih belum bisa memutuskan apakah wanita itu ibu dari si anak kecil. Wanita itu kini telah berdiri dengan tenang dan kembali menunjukkan sikap tidak mengenal keluarga anak kecil itu.

Akhirnya aku pun mengambil keputusan bahwa wanita itu bukanlah ibu dari si anak, karena ketika kereta berhenti, mereka mengambil jalan yang berbeda. Dalam perjalananku dari stasiun menuju ke kosan, aku belajar sesuatu dari wanita itu. Wanita itu mengajarkanku untuk tidak memandang buku dari covernya. Siapa yang mengira wanita yang penampilannya seperti perempuan nggak baik-baik, ternyata memiliki hati yang peduli dan peka terhadap orang lain, sedangkan orang lain yang mungkin penampilannya lebih pantas daripada wanita itu tidak peduli kepada orang di sekitarnya. (Anggap aja orang lain itu aku. Aku nggak ingin menuduh orang lain deh ahahaha….)

Suatu hari di Museum Affandi

Hari ini aku berkunjung ke Museum Affandi (akhirnya setelah beberapa tahun tinggal di Jogja aku menginjakkan kakiku di tempat itu). Sebenarnya sejak kecil aku sudah mengagumi beliau. Aku tahu beliau adalah seniman, pelukis yang terkenal. Dulu, setiap pergi ke Jogja, dalam hati aku berharap bisa melihat lukisan beliau. Dan sekarang, belasan tahun kemudian, akhirnya aku benar-benar berada di sana dan melihat lukisan demi lukisan yang pernah dilukis oleh beliau. Waktu kecil aku memang suka melukis sih, jadi wajar saja kalau dulu aku ingin jadi pelukis di kemudian hari kelak.

Selain karya-karya Affandi yang sangat terkenal, hari ini aku belajar sisi lain dari seorang Affandi. Mengunjungi museum nya, dan melihat karya-karya yang dipamerkan itu, sedikit banyak membuatku mengenal proses kehidupan yang pernah dilalui oleh beliau. Lukisan-lukisan di awal masa karir beliau berupa lukisan keluarganya dan dirinya sendiri. Menurut penuturan guide yang mengatarku, saat itu Affandi tidak mampu mencari (membayar) model sehingga beliau melukis dirinya dan keluarganya, istrinya, ibunya dan anaknya. Lukisan demi lukisan beliau yang menggambarkan momen demi momen kehidupan yang beliau alami, membawaku menyelami kehidupan beliau jauh ke belakang.

Bagi seorang seniman, karya seni adalah sebagian dari jiwa yang dituangkan dalam bentuk lain. Sama halnya ketika aku menuliskan pemikiranku dalam tulisan ini. Dalam lukisannya, Affandi juga membagikan secuil kisah hidupnya. Ok, to the point aja, setelah mengamati lukisan demi lukisan, aku mendapatkan kesan bahwa di awal karir nya sebagai pelukis, Affandi mengalami banyak kesulitan dan tantangan. Penolakan pun tak jarang beliau alami saat hendak mengajukan diri mengikuti pameran lukisan. Namun, saat itu beliau tidak menyerah. Jika saat itu beliau menyerah dan berhenti menjadi pelukis, mungkin sekarang ini nama beliau sudah hilang ditelan waktu.

Selain lukisan beliau yang menggambarkan beratnya perjuangan dan perjalanan yang beliau alami saat itu, aku juga belajar tentang kedewasaan dalam berkarya. Affandi memiliki gaya lukisan yang sangat berbeda di awal karirnya dibandingkan saat menjelang akhir hidupnya. Semakin ke belakang, lukisan beliau semakin abstrak (menurutku sih karena aku nggak ngerti lukisan). Meskipun begitu, aku tahu benar bahwa nilai lukisan beliau tentu semakin mahal. Kurasa, tak mudah bagi seseorang untuk mengubah gaya hidupnya, apalagi jika dia sudah merasa nyaman dengan apa yang selama ini ada padanya. Tetapi, seorang Affandi berani mengambil resiko mengubah gaya lukisan beliau.

Aku tak tahu apa yang ada dalam pikiran beliau ketika beliau mengubah gaya lukisannya. Bisa jadi saat itu memang tren seni sedang berubah. Tetapi dalam setiap perubahan, pasti ada resiko yang harus diambil. Yang sempat kupikirkan adalah bagaimana jika orang lain tidak menyukai lukisan beliau yang semakin abstrak? Aku tak tahu apakah pemikiran itu pernah terlintas dalam benak seorang Affandi, tetapi kenyataan membuktikan bahwa nama Affandi semakin tenar dan dia semakin terkenal. Perjuangan beliau, kegigihan beliau dalam melukis dan membuktikan dirinya bisa menjadi pelukis kenamaan di Indonesia telah terbayar.

Aku menulis ini pure dari apa yang aku lihat, dengar dan pikirkan saat mengunjungi Museum Affandi. Jika mungkin ada yang berbeda dengan data-data biografi beliau (aku belum pernah membaca biografi beliau sih), harap dimaklumi. Pada akhirnya, rencanaku untuk melihat-lihat lukisan beliau berakhir dengan kegagalan, karena aku lebih mengagumi jalan kehidupan beliau daripada lukisan-lukisan beliau.

DSCN2685