Tentang orang tua…

Hari ini aku mengikuti pertemuan untuk pengajar Kali Code. Sedikit sharing, kondisi anak-anak yang kami ajar di sana benar-benar jauh dari sempurna. Kali Code adalah daerah yang terkenal dengan tingkat kekumuhan dan kemiskinan yang tinggi. Dengan kondisi yang seperti itu, bisa ditebak bahwa anak-anak yang tinggal di daerah itu seperti apa. Hidup mereka jauh dari kelimpahan dan kecukupan menurut ukuran kita. Hal yang terlihat jelas dari setiap pertemuan dengan anak-anak itu adalah sikap mereka yang menurut kami susah diatur, tidak mau belajar, hanya mau bermain dan suka bikin onar, bahkan beberapa diantara mereka ada yang kemampuannya kurang. Selama ini hanya hal-hal itu yang menjadi identitas para anak-anak di Kali Code.

Namun hari ini aku belajar hal yang lain, melalui cerita seorang teman, aku memandang anak-anak itu dari sisi yang berbeda. Temanku itu bercerita bahwa dia melihat seorang anak didiknya mengemis, bahkan di jam sekolah. Ketika ditanya, orang tuanya yang menyuruh dia mengemis. Sungguh menyedihkan ketika mendengarnya. Orang tua yang seharusnya mengusahakan masa depan anak malah mengeksploitasi anak-anak mereka bahkan membuat masa depan mereka menjadi suram. Memang sih kondisi mereka kurang mampu, tetapi tidak seharusnya orang tuanya melakukan hal itu. Kasarannya, kalau menurutku sih kalau kamu orang tua tidak bisa memelihara anakmu dengan baik, JANGAN pernah jadi orang tua, JANGAN pernah melahirkan anak-anak jika tak mampu mengurus mereka!! Well, soal peran orang tua biarlah itu menjadi bahasan lain, aku hanya ingin membahas mengenai anak-anak mereka dan dampak perlakuan orang tua terhadap mereka.

Di balik sikap mereka yang liar, ternyata sebagian besar dari mereka tumbuh tanpa pengawasan dan didikan dari orang tuanya. Memang ada orang tua yang tidak mengeksploitasi anaknya dan menyuruh anak-anak mereka belajar, akan tetapi karena kesibukan orang tua mencari uang, si anak menjadi tidak mendapat waktu dan perhatian yang cukup. Sering saat kami datang ke sana, kami hanya menjumpai anak-anak saja, orang tuanya bekerja entah apa yang dilakukan dan baru pulang malam hari. Jika demikian, kapan orang tua mereka punya waktu untuk memperhatikan anaknya, padahal anak butuh figur orang tuanya. Sungguh memperihatinkan bukan. Selama ini aku tidak menyadari bahwa keadaan anak-anak itu ternyata sudah segawat itu. Karena latar belakang keluarga dan lingkungan mereka itulah yang membentuk mereka jadi seperti itu, liar dan tak terkendali.

Well, akhirnya sampailah di poin yang ingin aku bagikan. Aku merasa bersyukur memiliki orang tua yang memarahi, memaksa untuk belajar, menyekolahkan dan memaksa untuk ikut les. Belajar tentunya merampas kebahagiaan dan waktu untuk bermain, tetapi hal itu sangat penting bagi masa depan kita. aku sadar betul bahwa saat ini aku tidak akan menjadi aku yang sekarang jika sewaktu kecil dulu orang tuaku tidak mendidikku dengan cara yang demikian. Ketika disuruh belajar dan mengerjakan PR rasanya pasti sebal. Ketika dimarahi karena mendapat nilai jelek rasanya pasti tidak enak. Tapi itu semua dilakukan demi kebaikan kita, karena orang tua ingin supaya kita menjadi orang yang lebih baik daripada mereka dan masa depan kita lebih cemerlang daripada mereka.

Mungkin hari ini masih ada yang memendam kepahitan kepada orang tua nya karena waktu kecil pernah dimarahin munkin juga dipukul karena tidak mau belajar atau bermasalah dengan pendidikan. Orang tua kita, mereka juga tidak sempurna. Kadang mereka tidak tahu bagaimana memperlakukan anaknya. Tidak ada sekolah menjadi orang tua bukan. Tapi aku percaya bahwa orang tua, sebagian besar, pasti menginginkan, mengharapkan dan mendoakan anaknya menjadi orang yang sukses. Hanya saja, mungkin mereka tidak tahu bagaimana caranya membawa anak mereka ke arah sana, seperti orang tua di Kali Code. Aku tidak bisa menghakimi cara mereka mengeksploitasi anaknya, karena aku tidak berada di posisi mereka. Tapi ada hal yang masih aku syukuri dan pandang baik dari mereka. Setidaknya mereka masih menyuruh anak-anak mereka untuk datang mengikuti pelajaran tambahan yang kami adakan meski waktunya di malam hari.

Kiranya sekian dulu tulisanku malam ini. jangan lupa bersyukur atas orang tuamu dan marilah kita mengingat hal ini untuk menjadi orang tua yang lebih baik bagi anak-anak kita, saat ini atau di kemudian hari.

Sebuah pelajaran dari Jakarta

Hari ini seorang teman bercerita tentang pengalamannya selama dua hari di Jakarta. Singkat cerita, teman saya itu sangat takut sekali pergi ke Jakarta, apalagi seorang diri di kota megapolitan itu. Namun, selama dua hari di sana, dia merasakan bagaimana penyertaan Tuhan melalui orang-orang tak dikenal yang membantunya selama di sana, lalu bagaimana ibu kota yang katanya lebih kejam daripada ibu tiri itu menyambutnya, Tuhan masih menjaga teman saya.

Mendengar ceritanya, saya jadi ingat dua tahun lalu, saat saya berniat menginjakkan kaki di Jakarta. Saat itu saya juga kalut dan takut, bagaimana saya seorang diri di sana nantinya. Jakarta, yang terkenal dengan tingkat kriminalitas yang tinggi, kehidupan sosial yang individual, dan ritme hidup yang keras. Namun, sekarang semuanya itu telah berhasil saya lalui. Banyak pengalaman dan pelajaran yang saya dapatkan selama berada di bawah langit ibu kota. Bahkan sekarang pun saat saya tidak lagi berada di sana, Jakarta masih tetap mengingatkan saya untuk mensyukuri hidup saya, terlebih lagi selama saya hidup di sana, menghadapi Jakarta yang keras.

Hari ini saya belajar, banyak hal-hal sederhana yang menurut kita sudah biasa kita jalani setiap hari, akan tetapi bagi orang lain bisa saja hal itu sangat luar biasa dan merupakan sesuatu yang sangat sulit untuk dilakukan. Mungkin karena kita menganggap hidup ini dipenuhi oleh rutinitas, hal-hal yang biasa kita lakukan sehari-hari sehingga kita tidak memandang hidup ini sebagai sesuatu yang luar biasa. Padahal, banyak hal sederhana yang sebetulnya sangat luar biasa dan patut disyukuri, contohnya ketika pagi hari kita masih diberi kesempatan untuk membuka mata, sementara ada orang lain yang tidak mendapatkan kesempatan tersebut; atau saat kita masih memiliki rumah untuk pulang setelah seharian bekerja, sementara saudara-saudara kita yang berada di Sinabung harus hidup di pengungsian, dan saya yakin masih ada jutaan atau milyaran hal-hal kecil yang jika dirinci satu per satu akan sangat panjang dan banyak sekali, bahkan mungkin jauh lebih banyak daripada list masalah yang setiap saat kita keluhkan.

Anyway, jika hari ini anda belum sempat bersyukur, sekarang juga pikirkan satu hal yang patut disyukuri. Saya masih percaya bersyukur akan membuat hidup terasa lebih indah.

Menggoreng kerupuk

Hari ini saya berencana menggoreng kerupuk, kebetulan saya masih memiliki beberapa kerupuk mentah yang tengah menanti untuk digoreng. Saya sudah memanaskan minyak ketika menyadari bahwa kerupuk-kerupuk itu lembab. Alhasil saya mematikan  kompor dan terpaksa menjemur kerupuk-kerupuk itu terlebih dahulu. Sialnya lagi, matahari hanya sebentar memancarkan sinarnya, selebihnya awan gelap menggantungi langit. Belum ada satu jam, akhirnya saya memutuskan untuk menghentikan usaha menjemur kerupuk itu, menurut saya hal itu sama seperti menjaring angin. Saya pikir sudah cukup, kerupuk-kerupuk itu tidak lagi lembab, meskipun juga tidak terasa panas.

Segera saya kembali ke dapur, menyalakan kompor melanjutkan memanaskan minyak yang kini telah dingin. Beberapa kerupuk yang saya goreng pertama hasilnya sangat bagus. Kerupuk-kerupuk itu mengembang. Akan tetapi tidak demikian dengan kerupuk-kerupuk yang selanjutnya masuk ke dalam wajan. Semua kerupuk-kerupuk itu tidak mengembang. Mereka hanya mengeras dan menghitam. Rupanya kerupuk-kerupuk itu belum siap digoreng. Seharusnya saya menjemur mereka lebih lama lagi. Seharusnya saya tidak memaksa untuk menggoreng kerupuk yang masih lembab itu. Tidak ada panas seharusnya bukan menjadi alasan bagi saya untuk tetap memaksa menggoreng kerupuk. Permasalahan sebenarnya terletak pada diri saya sendiri yang tidak mau bersabar menanti hingga kerupuk-kerupuk itu siap untuk digoreng. Alhasil, saya mendapatkan kerupuk yang hancur.

Bukankah hal yang demikian juga sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari? Banyak orang yang tidak mau bersabar dan menginginkan semuanya serba cepat. Proses yang memerlukan waktu pun diusahakan untuk diperpendek seminimal mungkin. Maka jangan salahkan siapa pun jika hasil yang didapatkan juga sangat minim. Tidak ada barang bagus yang didapat tanpa pengorbanan. Semua membutuhkan usaha, proses, waktu dan kesabaran. Jika mungkin hari ini anda sedang in progress, bersabarlah. Saya tetap yakin bahwa usaha, kerja keras dan kesabaran itu akan beroleh hasil yang sebanding. Memang mungkin ada jalan pintas yang tersedia di kiri kanan, tapi kita juga tidak pernah tahu apa yang menunggu di sana, dan berapa harga yang harus dibayar untuk melewatinya. Jangan pernah tergoda untuk menyimpang, stay on the line =)

@ Domino Pizza

Kali ini aku berniat menceritakan sedikit pengalamanku saat menikmati Pizza Domino, bukan bermaksud promosi sih, tapi memang aku kagum dengan konsep service yang mereka terapkan. Domino Pizza menerapkan konsep self service. Setelah memesan, pengunjung harus mengambil sendiri pesanannya di counter lalu membawanya ke meja yang tersedia, jika mereka berniat makan di tempat itu. Sama sekali tak ada waiter yang melayani kami. Mereka hanya berdiam di counter, sama sekali tak ada yang membersihkan meja atau memberi kami piring. Rasanya seperti dicuekin. Setelah selesai makan, kami pun wajib membersihkan makanan kami, termasuk juga mejayang kami pakai, dan membuang kotak-kotak pizza itu di tempat sampah yang telah disediakan, anyway tempat sampahnya besar juga sih.

Image

Well, aku cukup amaze dengan konsep itu. Paling tidak, konsep pelayanan mereka mengajarkan pengunjung untuk tidak hanya dilayani, tapi melayani diri sendiri dan bertanggung jawab terhadap makanannya. Biasanya kan orang yang datang ke restoran itu minta dilayani, dan setelah makan meninggalkan piring-piringnya di meja begitu saja.

Menurutku hal ini sebenarnya cukup simpel dan sederhana, tapi memiliki nilai pembelajaran yang dalam. Setidaknya buat aku, hal itu menampar aku, karena aku selalu memegang prinsip pembeli adalah raja =p

learning

Today I chatted with my sister about her colledge study and her activities. She told me it was hard for her to maintain her study and her activities. It’s ok, I said. When I adviced her, I remembered my TOEFL study. It’s hard for me too. My English is not good enough, I doubt if I can get the enough score for TOEFL test. But I noticed that it is a process. Learning is a process from don’t know and don’t understand become an experts. Learning doesn’t mean we made no mistake. It’s OK for me to make mistakes. But the important one is how I make mistakes, so I can learn them, correct my self and manage my mistakes in the future. If I get no mistake, so what’s the point of study? Just need not to sudy…

Tukang semir sepatu

Hari ini aku bertemu tukang semir sepatu di stasiun. Melihat orang itu, kasihan rasanya. Bapak itu meminta supaya sepatuku disemir olehnya. Memang sih sepatuku kotor banget. Awalnya sih aku menolak, toh kupikir nanti bakal kotor lagi, wong kerja di proyek debu tok isine. Tapi bapak itu tak kenal menyerah, dia terus mengikutiku dan meminta supaya sepatuku bisa disemir olehnya.

 “Pak, semir pak sepatunya, kotor itu. Saya butuh uang buat makan,” katanya.

Karena kasihan awalnya aku mau kasih aja uang langsung, tapi kupikir lagi, bapak ini bukan mengemis. Dia tidak ingin mengemis. Dia mau bekerja, meski cuma menyemir sepatu. Dengan membiarkan dia menyemir sepatuku berarti aku memberikan kesempatan kepadanya untuk melakukan sesuatu bagi orang lain. Kalo cuma memberi uang, bapak itu tidak dapat melakukan sesuatu bagi orang lain.

Akhirnya kubiarkan dia menyemir sepatuku. Dia kelihatan sangat senang, dia memberikan sandalnya untuk kupakai lalu dia duduk di lantai dan menyemir sepatuku. Dia menyemir dengan sangat bersemangat dan terlihat gembira. Sedih rasanya melihat bapak itu bekerja, mungkin dia memang hanya bekerja menyemir sepatu, namun dia melakukannya dengan senang hati. Sedih sekali melihat masih ada orang yang hidupnya di bawah standar kemiskinan. Mereka harus hidup dengan penghasilan yang tidak jelas. Bagaimana mereka harus hidup?

Ya Tuhan, mengapa ada orang-orang yang harus bekerja keras dan tetap hidup dalam kemiskinan, sedangkan ada orang-orang yang hidup dalam kekayaan yang melimpah sampai tidak menghargai orang lain. Mengapa Kaubiarkan hal itu terjadi ya Tuhan?

Banyak orang yang lalu lalang di stasiun itu dan bapak itu terus menawarkan untuk menyemir sepatu mereka. Banyak yang melihat dengan pandangan aneh. Biarin, pikirku. Memang aku memberi sepatuku untuk disemir.

Bapak itu menyemir dengan sangat lama dan bersungguh-sungguh, sampai aku bosan menunggu. Tetapi melihat semangatnya aku menjadi kagum, sedih dan kasihan. Bapak itu tidak terlihat susah, tetapi dia terlihat gembira. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana hidup yang harus dijalaninya. Hidup kekurangan, untuk makan saja mungkin tidak bisa, tetapi menjalani hidup dengan sukacita. Sangat berbeda dengan aku yang hidup berkecukupan tetapi kurang bersyukur dan selalu mengeluh.

Tuhan, apa yang isa kulakukan untuk mereka yang membutuhkan? Ajarku supaya selalu bersyukur dan kaya dalam memberi. Akhirnya bapak itu selesai juga dan saat kutanya berapa dia minta dibayar, dia hanya minta 5000, tapi kukasih 10000. Dia lebih membutuhkan uang itu daripada aku.

Satu penyesalanku adalah aku tidak bertanya lebih jauh tentang kehidupan pribadinya. Seandainya aku bertanya mungkin aka nada kesempatan untuk membagikan kasih Kristus lebih jauh lagi. Ya Tuhan, aku bukan orang yang baik ternyata. Aku tidak cukup baik untuk membagikan kasih-Mu. Aku hanya sebatas memberi uang, padahal ada hal-hal lain yang tidak dapat diukur dengan uang. 

15_12_2011

Belajar bersabar…

Hari ini aku belajar tentang kesabaran. Tidak mudah menjaga kesabaran dan menahan emosi. Aku belajar sabar saat menghadapi anak penjaga mess ku yang masih kelas 4 SD, ketika dia minta diajari mengerjakan PR matematika. Rasanya susah sekali membuat anak itu mengerti, dan jujur saja aku bingung bagaimana menerangkan cara untuk mengerjakan soal-soal pembagian tersebut. Well, step by step, pelan-pelan aku mengajarinya untuk mencoba satu per satu, mencari jawaban dengan mengalikan berbagai angka supaya dia bis menemukan jawabannya sendiri. Tentunya jauh lebih mudah jika aku langsung saja membimbingnya, segera mengatakan jawabannya, tidak perlu menyuruhnya berputar-putar dulu untuk mencari jawabannya sendiri, dan tentunya hal itu lebih memakan sdikit waktu dan tidak menguras emosi, seperti yang sudah kukatakan aku harus menahan diri, menahan kesabaranku. That’s the first point.

The second point is rasanya susah sekali mengajarkan anak kecil dengan pemikirannya yang terbatas menggunakan cara kita, soal-soal itu terasa sangat mudah dan dalam hitungan detik tentunya aku dapat menemukan jawabannya. Tapi aku harus menurunkan cara berpikirku dan mengikuti cara berpikirnya. It’s so hard. Aku harus memutar otak agar dia dapat mengerti apa yang kumaksudkan, dengan kemampuan berpikirnya yang masih kecil. Well, aku tidak memiliki kemampuan untuk menghadapi anak kecil, aku amat sangat tidak bisa bersabar. It’ true. Dan rasanya hari ini aku belajar ekstra keras untuk sabar. Fiuhhh… membuang nafas panjang….

When I think bout it, the first one gets well with this one. Melihat dari sudut pandang Tuhan, aku mengagumi bagaimana Tuhan bisa sabar menghadapi anak-anak manusia yang kerdil baik dalam iman maupun cara hidupnya. Well, setiap hari selalu ada hal yang kukeluhkan, aku protes ini dan itu dan terlebih lagi hidupku yang masih bergelimang dosa ha5… Kurasa Tuhan pasti memiliki kesabaran yang sangat panjang dan tak ada habis-habisnya, setidaknya belum, untuk menghadapi manusia macam aku ini. I can’t imagine how He can make it, and not get tired by me. Bersabar itu tidak mudah, apalagi jika tidak dianggap. Jika orang itu masih menganggapi dan mengikuti apa yang kita katakan dan menghargai tindakan kita, tentunya kita masih merasa dihargai dan kurasa kita masih bisa bersabar sedikit lebih lama lagi. Tapi bagaimana jika orang itu tidak menganggap kita sama sekali dan semua apa yang kita lakukan bagi dia sama sekali tidak dianggapnya. Rasanya buat apa bersabar menghadapi orang semacam itu. Wellm kurasa orang semacam itu sanga identik dengan diriku, atau kita, yang masih merasa diri sebagai manusia berdosa, yang masih terus melakukan dosa tanpa kenal lelah, meskipun tahu bahwa hal itu mendukakan hati Tuhan, tapi dengan semangat 45 tetap saja kita masih hidup bersama dosa-dosa kita dan semakin lama semakin nyama dan semakin mencintainya. Well, itu kutujukan pada diriku, mohon maaf jika ada yang tersinggung.

Poin berikutnya adalah kurasa Tuhan harus berpikir ekstra keras untuk membuat manusia mengerti apa maksudNya. Manusia dengan pemikirannya yang terbatas tentunya tak bisa menangkap maksud Tuhan dan tak akan pernah bisa memahami Dia yang tak terbatas. Oleh karena Tuhan pasti bekerja keras agar Dia dapat mengatakan maksudNya melalui cara yang kita dapat pahami. Well, meksipun demikian aku masih merasa Tuhan gagal, karena masih banyak manusia yang tetap saja tidak bisa mengerti maksud Tuhan, salah satunya aku ha5. Seperti caraku untuk membuat anak penjaga mess itu mengerti dan dapat belajar sendiri maka aku mengajarkan dia untuk mencoba sendiri, memang dia harus menemukan cara yang tepat by herself, so she can learn to learn by herself. Jika aku langsung mengatakan jawabannya maka dia tidak akan belajar sesuatu dan bukannya menjadi pintar tapi makin menjadi bodoh.

Demikian halnya dengan belajar tentang kehidupan. Tuhan tentunya ingin agar kita menjadi semakin dewasa dan dapat bertahan hidup menghadapi segala masalah, oleh karena itu Tuhan memberikan banyak persoalan hidup untuk kita pecahkan. Tentunya Tuhan tidak bermaksud agar kita bisa berdiri sendiri, dalam artian mengandalkan diri sendiri, terpisah dari Tuhan. Absolutely not. Melalui persoalan demi persoalan hidup, kita belajar semakin dewasa dan justru semakin bergantung padaNya, karena tidak semua persoalan hidup dapat kita selesaikan sendiri. Tuhan lah yang memberikan soal maka Tuhan juga yang memegang kunci jawabannya. Tapi tentuNya Dia tidak ingin memberikannya begitu saja kepada kita. Kalau Dia langsung memberikan kunci jawabanNya, lalu untuk apa Dia memberikan soal-soal itu. Bukankah kita malah merasa dipermainkan.

Oleh karena itu Tuhan mengajarkan kita untuk belajar dan memecahkan persoalan demi persoalan sehingga kita semakin dewasa dan makin bijak. Dan juga semakin mengerti maksud dan pimpinan Tuhan dalam hidup ini. Kadang kita harus mencoba berputar-putar sebelum menemukan jawaban yang tepat, well bagiku itu tidak masalah. Itulah yang namanya proses belajar. Untuk menemukan apa yang benar kita harus tahu dulu mana yang salah. Tapi tentunya jika sudah tahu itu salah maka jangan gunakan kesalahan itu untuk menjawab, gunakanlah jawaban yang benar.

Lalu bagaiman jika sudah diajari tapi tidak mengerti-mengerti? Maka Tuhan akan memberikan banyak soal-soal dan melatih kita agar kita bisa mengerti. Barangkali seperti itulah orang yang mengahadapi banyak masalah dalam hidupnya. Ada orang yang tidak mau dipimpin kepada kebenaran sehingga terus berjalan menuju arah yang salah. Tentunya Tuhan tidak ingin membiarakan hal itu dan Dia memberikan banyak masalah agar orang itu dapat mengerti jawaban dan arah yang benar. Well, kurasa di sinilah sekali lagai kesabaran Tuhan yang tak habis-habisnya itu berperan. Tapi aku juga memiliki pola pikir lain, jika Tuhan memberikan banyak masalah itu berarti Tuhan masih ingin kita belajar lebih banyak karena kita dianggap kurang pandai dan Tuhan masih ingin melatih kita agar kita semakin pandai, karena Dia tahu sampai di mana batas kita untuk bertahan. Tidak selalu jika kita menghadapi kesulitan itu berarti kita berlawanan arah dengan Nya, bisa jadi memang kita sudah berjalan pada jalannya, hanya saja kita berjalan amat sangat lambat dan Dia ingin kita berlari jauh lebih cepat, oleh karena itu Dia sengaja menaruh anjing galak di belakang kita untuk membuat kita takut, anjing itu menggonggong dan mengejar kita sehingga kita berlari dan tiba di tujuan lebih cepat.

Well, itulah sedikit pemikiranku, belajar untuk bersabar hari ini….