Suatu hari di Museum Affandi

Hari ini aku berkunjung ke Museum Affandi (akhirnya setelah beberapa tahun tinggal di Jogja aku menginjakkan kakiku di tempat itu). Sebenarnya sejak kecil aku sudah mengagumi beliau. Aku tahu beliau adalah seniman, pelukis yang terkenal. Dulu, setiap pergi ke Jogja, dalam hati aku berharap bisa melihat lukisan beliau. Dan sekarang, belasan tahun kemudian, akhirnya aku benar-benar berada di sana dan melihat lukisan demi lukisan yang pernah dilukis oleh beliau. Waktu kecil aku memang suka melukis sih, jadi wajar saja kalau dulu aku ingin jadi pelukis di kemudian hari kelak.

Selain karya-karya Affandi yang sangat terkenal, hari ini aku belajar sisi lain dari seorang Affandi. Mengunjungi museum nya, dan melihat karya-karya yang dipamerkan itu, sedikit banyak membuatku mengenal proses kehidupan yang pernah dilalui oleh beliau. Lukisan-lukisan di awal masa karir beliau berupa lukisan keluarganya dan dirinya sendiri. Menurut penuturan guide yang mengatarku, saat itu Affandi tidak mampu mencari (membayar) model sehingga beliau melukis dirinya dan keluarganya, istrinya, ibunya dan anaknya. Lukisan demi lukisan beliau yang menggambarkan momen demi momen kehidupan yang beliau alami, membawaku menyelami kehidupan beliau jauh ke belakang.

Bagi seorang seniman, karya seni adalah sebagian dari jiwa yang dituangkan dalam bentuk lain. Sama halnya ketika aku menuliskan pemikiranku dalam tulisan ini. Dalam lukisannya, Affandi juga membagikan secuil kisah hidupnya. Ok, to the point aja, setelah mengamati lukisan demi lukisan, aku mendapatkan kesan bahwa di awal karir nya sebagai pelukis, Affandi mengalami banyak kesulitan dan tantangan. Penolakan pun tak jarang beliau alami saat hendak mengajukan diri mengikuti pameran lukisan. Namun, saat itu beliau tidak menyerah. Jika saat itu beliau menyerah dan berhenti menjadi pelukis, mungkin sekarang ini nama beliau sudah hilang ditelan waktu.

Selain lukisan beliau yang menggambarkan beratnya perjuangan dan perjalanan yang beliau alami saat itu, aku juga belajar tentang kedewasaan dalam berkarya. Affandi memiliki gaya lukisan yang sangat berbeda di awal karirnya dibandingkan saat menjelang akhir hidupnya. Semakin ke belakang, lukisan beliau semakin abstrak (menurutku sih karena aku nggak ngerti lukisan). Meskipun begitu, aku tahu benar bahwa nilai lukisan beliau tentu semakin mahal. Kurasa, tak mudah bagi seseorang untuk mengubah gaya hidupnya, apalagi jika dia sudah merasa nyaman dengan apa yang selama ini ada padanya. Tetapi, seorang Affandi berani mengambil resiko mengubah gaya lukisan beliau.

Aku tak tahu apa yang ada dalam pikiran beliau ketika beliau mengubah gaya lukisannya. Bisa jadi saat itu memang tren seni sedang berubah. Tetapi dalam setiap perubahan, pasti ada resiko yang harus diambil. Yang sempat kupikirkan adalah bagaimana jika orang lain tidak menyukai lukisan beliau yang semakin abstrak? Aku tak tahu apakah pemikiran itu pernah terlintas dalam benak seorang Affandi, tetapi kenyataan membuktikan bahwa nama Affandi semakin tenar dan dia semakin terkenal. Perjuangan beliau, kegigihan beliau dalam melukis dan membuktikan dirinya bisa menjadi pelukis kenamaan di Indonesia telah terbayar.

Aku menulis ini pure dari apa yang aku lihat, dengar dan pikirkan saat mengunjungi Museum Affandi. Jika mungkin ada yang berbeda dengan data-data biografi beliau (aku belum pernah membaca biografi beliau sih), harap dimaklumi. Pada akhirnya, rencanaku untuk melihat-lihat lukisan beliau berakhir dengan kegagalan, karena aku lebih mengagumi jalan kehidupan beliau daripada lukisan-lukisan beliau.

DSCN2685

Advertisements

Tentang orang tua…

Hari ini aku mengikuti pertemuan untuk pengajar Kali Code. Sedikit sharing, kondisi anak-anak yang kami ajar di sana benar-benar jauh dari sempurna. Kali Code adalah daerah yang terkenal dengan tingkat kekumuhan dan kemiskinan yang tinggi. Dengan kondisi yang seperti itu, bisa ditebak bahwa anak-anak yang tinggal di daerah itu seperti apa. Hidup mereka jauh dari kelimpahan dan kecukupan menurut ukuran kita. Hal yang terlihat jelas dari setiap pertemuan dengan anak-anak itu adalah sikap mereka yang menurut kami susah diatur, tidak mau belajar, hanya mau bermain dan suka bikin onar, bahkan beberapa diantara mereka ada yang kemampuannya kurang. Selama ini hanya hal-hal itu yang menjadi identitas para anak-anak di Kali Code.

Namun hari ini aku belajar hal yang lain, melalui cerita seorang teman, aku memandang anak-anak itu dari sisi yang berbeda. Temanku itu bercerita bahwa dia melihat seorang anak didiknya mengemis, bahkan di jam sekolah. Ketika ditanya, orang tuanya yang menyuruh dia mengemis. Sungguh menyedihkan ketika mendengarnya. Orang tua yang seharusnya mengusahakan masa depan anak malah mengeksploitasi anak-anak mereka bahkan membuat masa depan mereka menjadi suram. Memang sih kondisi mereka kurang mampu, tetapi tidak seharusnya orang tuanya melakukan hal itu. Kasarannya, kalau menurutku sih kalau kamu orang tua tidak bisa memelihara anakmu dengan baik, JANGAN pernah jadi orang tua, JANGAN pernah melahirkan anak-anak jika tak mampu mengurus mereka!! Well, soal peran orang tua biarlah itu menjadi bahasan lain, aku hanya ingin membahas mengenai anak-anak mereka dan dampak perlakuan orang tua terhadap mereka.

Di balik sikap mereka yang liar, ternyata sebagian besar dari mereka tumbuh tanpa pengawasan dan didikan dari orang tuanya. Memang ada orang tua yang tidak mengeksploitasi anaknya dan menyuruh anak-anak mereka belajar, akan tetapi karena kesibukan orang tua mencari uang, si anak menjadi tidak mendapat waktu dan perhatian yang cukup. Sering saat kami datang ke sana, kami hanya menjumpai anak-anak saja, orang tuanya bekerja entah apa yang dilakukan dan baru pulang malam hari. Jika demikian, kapan orang tua mereka punya waktu untuk memperhatikan anaknya, padahal anak butuh figur orang tuanya. Sungguh memperihatinkan bukan. Selama ini aku tidak menyadari bahwa keadaan anak-anak itu ternyata sudah segawat itu. Karena latar belakang keluarga dan lingkungan mereka itulah yang membentuk mereka jadi seperti itu, liar dan tak terkendali.

Well, akhirnya sampailah di poin yang ingin aku bagikan. Aku merasa bersyukur memiliki orang tua yang memarahi, memaksa untuk belajar, menyekolahkan dan memaksa untuk ikut les. Belajar tentunya merampas kebahagiaan dan waktu untuk bermain, tetapi hal itu sangat penting bagi masa depan kita. aku sadar betul bahwa saat ini aku tidak akan menjadi aku yang sekarang jika sewaktu kecil dulu orang tuaku tidak mendidikku dengan cara yang demikian. Ketika disuruh belajar dan mengerjakan PR rasanya pasti sebal. Ketika dimarahi karena mendapat nilai jelek rasanya pasti tidak enak. Tapi itu semua dilakukan demi kebaikan kita, karena orang tua ingin supaya kita menjadi orang yang lebih baik daripada mereka dan masa depan kita lebih cemerlang daripada mereka.

Mungkin hari ini masih ada yang memendam kepahitan kepada orang tua nya karena waktu kecil pernah dimarahin munkin juga dipukul karena tidak mau belajar atau bermasalah dengan pendidikan. Orang tua kita, mereka juga tidak sempurna. Kadang mereka tidak tahu bagaimana memperlakukan anaknya. Tidak ada sekolah menjadi orang tua bukan. Tapi aku percaya bahwa orang tua, sebagian besar, pasti menginginkan, mengharapkan dan mendoakan anaknya menjadi orang yang sukses. Hanya saja, mungkin mereka tidak tahu bagaimana caranya membawa anak mereka ke arah sana, seperti orang tua di Kali Code. Aku tidak bisa menghakimi cara mereka mengeksploitasi anaknya, karena aku tidak berada di posisi mereka. Tapi ada hal yang masih aku syukuri dan pandang baik dari mereka. Setidaknya mereka masih menyuruh anak-anak mereka untuk datang mengikuti pelajaran tambahan yang kami adakan meski waktunya di malam hari.

Kiranya sekian dulu tulisanku malam ini. jangan lupa bersyukur atas orang tuamu dan marilah kita mengingat hal ini untuk menjadi orang tua yang lebih baik bagi anak-anak kita, saat ini atau di kemudian hari.

Sebuah pelajaran dari Jakarta

Hari ini seorang teman bercerita tentang pengalamannya selama dua hari di Jakarta. Singkat cerita, teman saya itu sangat takut sekali pergi ke Jakarta, apalagi seorang diri di kota megapolitan itu. Namun, selama dua hari di sana, dia merasakan bagaimana penyertaan Tuhan melalui orang-orang tak dikenal yang membantunya selama di sana, lalu bagaimana ibu kota yang katanya lebih kejam daripada ibu tiri itu menyambutnya, Tuhan masih menjaga teman saya.

Mendengar ceritanya, saya jadi ingat dua tahun lalu, saat saya berniat menginjakkan kaki di Jakarta. Saat itu saya juga kalut dan takut, bagaimana saya seorang diri di sana nantinya. Jakarta, yang terkenal dengan tingkat kriminalitas yang tinggi, kehidupan sosial yang individual, dan ritme hidup yang keras. Namun, sekarang semuanya itu telah berhasil saya lalui. Banyak pengalaman dan pelajaran yang saya dapatkan selama berada di bawah langit ibu kota. Bahkan sekarang pun saat saya tidak lagi berada di sana, Jakarta masih tetap mengingatkan saya untuk mensyukuri hidup saya, terlebih lagi selama saya hidup di sana, menghadapi Jakarta yang keras.

Hari ini saya belajar, banyak hal-hal sederhana yang menurut kita sudah biasa kita jalani setiap hari, akan tetapi bagi orang lain bisa saja hal itu sangat luar biasa dan merupakan sesuatu yang sangat sulit untuk dilakukan. Mungkin karena kita menganggap hidup ini dipenuhi oleh rutinitas, hal-hal yang biasa kita lakukan sehari-hari sehingga kita tidak memandang hidup ini sebagai sesuatu yang luar biasa. Padahal, banyak hal sederhana yang sebetulnya sangat luar biasa dan patut disyukuri, contohnya ketika pagi hari kita masih diberi kesempatan untuk membuka mata, sementara ada orang lain yang tidak mendapatkan kesempatan tersebut; atau saat kita masih memiliki rumah untuk pulang setelah seharian bekerja, sementara saudara-saudara kita yang berada di Sinabung harus hidup di pengungsian, dan saya yakin masih ada jutaan atau milyaran hal-hal kecil yang jika dirinci satu per satu akan sangat panjang dan banyak sekali, bahkan mungkin jauh lebih banyak daripada list masalah yang setiap saat kita keluhkan.

Anyway, jika hari ini anda belum sempat bersyukur, sekarang juga pikirkan satu hal yang patut disyukuri. Saya masih percaya bersyukur akan membuat hidup terasa lebih indah.

Menggoreng kerupuk

Hari ini saya berencana menggoreng kerupuk, kebetulan saya masih memiliki beberapa kerupuk mentah yang tengah menanti untuk digoreng. Saya sudah memanaskan minyak ketika menyadari bahwa kerupuk-kerupuk itu lembab. Alhasil saya mematikan  kompor dan terpaksa menjemur kerupuk-kerupuk itu terlebih dahulu. Sialnya lagi, matahari hanya sebentar memancarkan sinarnya, selebihnya awan gelap menggantungi langit. Belum ada satu jam, akhirnya saya memutuskan untuk menghentikan usaha menjemur kerupuk itu, menurut saya hal itu sama seperti menjaring angin. Saya pikir sudah cukup, kerupuk-kerupuk itu tidak lagi lembab, meskipun juga tidak terasa panas.

Segera saya kembali ke dapur, menyalakan kompor melanjutkan memanaskan minyak yang kini telah dingin. Beberapa kerupuk yang saya goreng pertama hasilnya sangat bagus. Kerupuk-kerupuk itu mengembang. Akan tetapi tidak demikian dengan kerupuk-kerupuk yang selanjutnya masuk ke dalam wajan. Semua kerupuk-kerupuk itu tidak mengembang. Mereka hanya mengeras dan menghitam. Rupanya kerupuk-kerupuk itu belum siap digoreng. Seharusnya saya menjemur mereka lebih lama lagi. Seharusnya saya tidak memaksa untuk menggoreng kerupuk yang masih lembab itu. Tidak ada panas seharusnya bukan menjadi alasan bagi saya untuk tetap memaksa menggoreng kerupuk. Permasalahan sebenarnya terletak pada diri saya sendiri yang tidak mau bersabar menanti hingga kerupuk-kerupuk itu siap untuk digoreng. Alhasil, saya mendapatkan kerupuk yang hancur.

Bukankah hal yang demikian juga sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari? Banyak orang yang tidak mau bersabar dan menginginkan semuanya serba cepat. Proses yang memerlukan waktu pun diusahakan untuk diperpendek seminimal mungkin. Maka jangan salahkan siapa pun jika hasil yang didapatkan juga sangat minim. Tidak ada barang bagus yang didapat tanpa pengorbanan. Semua membutuhkan usaha, proses, waktu dan kesabaran. Jika mungkin hari ini anda sedang in progress, bersabarlah. Saya tetap yakin bahwa usaha, kerja keras dan kesabaran itu akan beroleh hasil yang sebanding. Memang mungkin ada jalan pintas yang tersedia di kiri kanan, tapi kita juga tidak pernah tahu apa yang menunggu di sana, dan berapa harga yang harus dibayar untuk melewatinya. Jangan pernah tergoda untuk menyimpang, stay on the line =)

@ Domino Pizza

Kali ini aku berniat menceritakan sedikit pengalamanku saat menikmati Pizza Domino, bukan bermaksud promosi sih, tapi memang aku kagum dengan konsep service yang mereka terapkan. Domino Pizza menerapkan konsep self service. Setelah memesan, pengunjung harus mengambil sendiri pesanannya di counter lalu membawanya ke meja yang tersedia, jika mereka berniat makan di tempat itu. Sama sekali tak ada waiter yang melayani kami. Mereka hanya berdiam di counter, sama sekali tak ada yang membersihkan meja atau memberi kami piring. Rasanya seperti dicuekin. Setelah selesai makan, kami pun wajib membersihkan makanan kami, termasuk juga mejayang kami pakai, dan membuang kotak-kotak pizza itu di tempat sampah yang telah disediakan, anyway tempat sampahnya besar juga sih.

Image

Well, aku cukup amaze dengan konsep itu. Paling tidak, konsep pelayanan mereka mengajarkan pengunjung untuk tidak hanya dilayani, tapi melayani diri sendiri dan bertanggung jawab terhadap makanannya. Biasanya kan orang yang datang ke restoran itu minta dilayani, dan setelah makan meninggalkan piring-piringnya di meja begitu saja.

Menurutku hal ini sebenarnya cukup simpel dan sederhana, tapi memiliki nilai pembelajaran yang dalam. Setidaknya buat aku, hal itu menampar aku, karena aku selalu memegang prinsip pembeli adalah raja =p

learning

Today I chatted with my sister about her colledge study and her activities. She told me it was hard for her to maintain her study and her activities. It’s ok, I said. When I adviced her, I remembered my TOEFL study. It’s hard for me too. My English is not good enough, I doubt if I can get the enough score for TOEFL test. But I noticed that it is a process. Learning is a process from don’t know and don’t understand become an experts. Learning doesn’t mean we made no mistake. It’s OK for me to make mistakes. But the important one is how I make mistakes, so I can learn them, correct my self and manage my mistakes in the future. If I get no mistake, so what’s the point of study? Just need not to sudy…