17 Agustus 2015

Hingar bingar 17 Agustus telah berlalu, tetapi 17 Agustus kali ini menyisakan kisah yang sedikit berbeda. Tersebutlah pembawa bendera yang menjadi buah bibir karena tidak umum dan tidak pernah seseorang seperti dia menjadi seorang pembawa bendera sebelumnya. Orang yang berasal dari kaum minoritas menjadi pembawa bendera. Well, mengenai kata minoritas, saya jadi teringat statemen dosen saya, minoritas dan mayoritas seharusnya hanya menjadi sebuah kata yang dipakai untuk menyebutkan data, tidak lebih dan tidak kurang.

Kembali kepada topik 17 Agustus, beberapa hari lalu saya mendengarkan siaran radio yang intinya membicarakan bagaimana seseorang itu bergaul dalam lingkungannya. Sang penyiar berkata bahwa tidak baik jika orang itu hidup dalam lingkungan yang homogen. Lingkungan tersebut tidak akan membuat dia belajar apa-apa. Sebaliknya jika orang itu bergaul dalam lingkungan yang heterogen, dia akan tumbuh dan berkembang menjadi orang yang berpikiran terbuka, dan menghargai perbedaan sebagai sesuatu yang unik.

For me, sempat agak terkena culture shock juga ketika bergaul dengan teman-teman yang berbeda latar belakang selepas sekolah, kuliah dan bekerja. Memiliki teman yang berasal dari daerah yang berbeda dengan kultur dan kepercayaan yang berbeda sedikit banyak membuat saya berpikir bahwa berbeda itu tidak selalu buruk. Orang yang berbeda tidak berarti dia jahat, hanya saja kita tidak sama. That’s all.

Justru dengan bergaul dengan mereka yang berbeda membuat saya semakin mengagumi kemaha-kreativan Sang Pencipta. Bagaimana satu orang mampu menciptakan ribuan bahkan jutaan keanekaragaman dan semua itu sama baiknya. Sebagai seorang arsitek, untuk saya tidak mundah membuat alternatif desain, apalagi desain yang berbeda sama sekali dan sama baiknya. Bahkan untuk membuat 3 atau 5 alternatif, it’s not easy.

Well, dari momen tersebut saya belajar untuk menghargai keanekaragaman yang masih ada di bangsa ini, Indonesia yang kaya dan beraneka ragam dari Sabang sampai Merauke, bangsa yang besar dan sangat potensial untuk bertumbuh jika semua rakyatnya bersedia bekerja bersama membangun bangsa ini dengan memberdayakan segala potensi, sumber daya yang telah dikaruniakan.

Indonesia

Indonesia kah kita ketika setiap hari duduk di gerai fast food menikmati lezatnya junk food

Tak pernah mengenal apa itu tiwul, klepon, oncom, dan para sahabatnya

Indonesia kah kita ketika lebih fasih melontarkan kalimat dalam bahasa Inggris

Namun merasa kesulitan ketika mendengar orang tua berbicara bahasa daerah

Indonesia kah kita saat lihai memainkan piano, organ, drum, biola, saxophone

Tetapi belum pernah sekalipun menyentuh gamelan, kenong, gong, kulintang

Indonesia kah kita saat dengan bangga menenteng tas impor saat melenggang di mall

Sementara banyak barang made in Indonesia melancong ke benua lain

Siapakah kita, siapakah orang Indonesia

Apakah karena kita lahir di Indonesia menjadikan kita orang Indonesia

Masihkah kita menjadi orang Indonesia ketika menutup telinga terhadap keluhan saudara di Papua

Layakkah kita disebut orang Indonesia saat mengurangi angka nol di lembaran pajak

Pantaskah kita mengaku orang Indonesia saat mempergunakan kekuasaan untuk menindas tetangga

Jika dengan lantang kita menyebut diri orang Indonesia

Apakah yang telah kita lakukan bagi Indonesia

Jangan-jangan kita bukannya berkarya mengisi kemerdekaan

Tetapi malah menginjak-injak semangat kemerdekaan, persatuan, nasionalisme

Yang diperjuangkan dengan darah dan keringat 70 tahun lalu

Hanya untuk satu harapan, kemerdekaan bagi semua rakyat Indonesia

Bukan kelompok 17, suku 8, atau geng 45

Dirgahayu Indonesia

Kebenaran

Apakah kebenaran itu? Mengapa hal itu dapat dianggap sebagai kebenaran? Bagaimanakah suatu hal dapat dinyatakan benar? Mungkin pertanyaan itu pernah terlintas dalam benak semua orang.

Well, mengutip ucapan professor saya, beliau mengatakan bahwa ada lima macam kebenaran:

  1. Kebenaran empiris, adalah kebenaran yang paling sederhana. Kebenaran ini dinyatakan benar melalui panca indera kita. Contohnya, si A terjatuh. Kita mengetahui bahwa hal itu benar dan si A benar terjatuh karena kita melihat sendiri bahwa si A terjatuh. Atau si B sakit adalah benar karena kita melihat si B berbaring lemah di atas kasur dan saat kita meraba dahinya terasa panas.
  2. Kebenaran epistemologis, adalah kebenaran yang didapatkan dengan cara atau metode tertentu. Contohnya si A melakukan penelitian tentang tingkat kepuasan masyarakat terhadap suatu produk. Hasil penelitian tersebut dinyatakan benar karena si A menggunakan metode dan cara tertentu sehingga didapatkan hasil yang demikian. Hasil penelitian si A dapat dinyatakan salah jika ada orang lain yang menyatakan hasil berbeda setelah diuji dengan metode lain yang dianggap lebih sempurna daripada metode yang diterapkan si A.
  3. Kebenaran yuridis, adalah kebenaran yang diperoleh melalui putusan pengadilan setelah melewati consensus. Contohnya si B dinyatakan tidak bersalah oleh hakim setelah melihat bukti-bukti dan para saksi yang dihadirkan. Kebenaran ini (si B tidak bersalah) bisa saja dibatalkan jika ternyata di kemudian hari ditemukan bukti lain yang membuat hakim menjatuhkan putusan sebaliknya.
  4. Kebenaran sosiologis, adalah kebenaran adat yang ditetapkan sejak jaman nenek moyang. Contohnya, suku C di pedalaman menganggap membunuh orang dan memakannya adalah hal yang benar karena adat mereka berkata demikian. Atau suku D yang tinggal di daerah tertentu menganggap bahwa ayam adalah hewan suci dan tidak boleh dibunuh apalagi dimakan. Kebenaran-kebenaran tersebut dapat dihapuskan secara adat juga, misalnya karena perkembangan jaman dan ilmu pengetahuan, maka tetua suku C pada akhirnya menyatakan bahwa membunuh orang adalah hal yang salah, atau pemimpin suku D mengijinkan rakyatnya memakan ayam. Tentunya perubahan kebenaran ini tidak terjadi begitu saja dan membutuhkan waktu yang lama.
  5. Kebenaran wahyu, adalah kebenaran yang dinyatakan oleh Tuhan dan satu-satunya kebenaran yang absolut. Tetapi kebenaran ini pun tidak bisa diterima begitu saja, melainkan harus diuji, sebab bisa saja seseorang berbohong bahwa dia telah menerima wahyu. Contohnya, si F mengatakan bahwa dia menerima wahyu bahwa besok dunia akan berakhir. Tentunya hal tersebut tidak dapat diterima begitu saja. Salah satu cara menguji kebenaran itu adalah dengan nurani dan melihat buah tindakan tersebut. suatu hal yang benar tidak akan membawa kehancuran atau berakibat tidak benar, bertentangan dengan nilai-nilai moral yang dinyatakan nurani.

Demikian lah penjelasan professor saya. Satu hal yang saya dapatkan adalah suatu kebenaran harus diuji dulu sehingga bisa dinyatakan benar dan tidak bisa serta merta dinyatakan benar. Tetapi juga tidak berarti kita menjadi orang yang tidak percaya terhadap segala sesuatu. Jadilah orang yang berhikmat bukan orang yang bodoh.

10423844_10153522159986757_6671207645176053512_n

Read it until finish – don’t stop

Today was absolutely worst day ever

And don’t try to convince me that

There’s something good in every day

Because, when you take a closer look,

This world is a pretty evil place.

Even if

Some goodness does shine through once in a while

Satisfaction and happiness don’t last.

And it’s not true that

It’s all in the mind and heart

Because

True happiness can be obtained

Only if one’s surrounding are good

It’s not true that good exist

I’m sure you can agree that

The reality

Creates

My attitude

It’s all beyond my control

And you’ll never in a million years hear me say that

Today was a good day

Now read from bottom to top

Reading this text makes me think that most of us want to do or want to get something quickly. In order to do it, it’s not just once or twice times we stop in the half way. When reading the text up there, I thought not to read it until finish because I thought that I have got the message. But I was totally wrong. When I read the last sentence, I just started to really understand what it wanted to tell me. What would happen if I ended reading in the middle of the text? I wouldn’t get the message, maybe I would get the wrong one.

I think it’s similar with our daily life. Some people decide to quit doing something when they think that they have known everything and its situation is not support them or they find something different from their imagine, while the other keep faithful in doing something they believe will bring good to them, even the chance is very little and it seems to be impossible.

What I want to say is all of us have a choice to stop in the middle of our work when we think it is hopeless, or we rather choose to go forward and keep believe even we haven’t seen the ending yet. Maybe when we get there, we will find some surprise. Maybe after we get the finish line, we will understand what have we did and why we have to did it, even actually it was not what we want.

Once again, it’s your choice to quit or go forward. Please choose wisely…