What money can’t buy

Money can buy beds but not sleep

Money can buy cosmetics but not beauty

Money can buy food but not appetite

Money can buy houses but not homes

Money can buy information but not wisdom

Money can buy insurance but not safety

Money can buy luxuries but not culture

Money can buy medicine but not health

Money can buy position but not respect

Money can buy religion but not salvation

Money can buy sex but not love

Money can buy silence but not peace

Money can buy beds but not sleep

Money can buy ticket to anywhere in the world but not to heaven

When i speak to myself

I’m fool…

I think I know everything, but in reality I know nothing…

I even don’t know how to make the others happy…

I pretend to be clever and know everything but I’m not…

I’m just nothing, I can’t do anything, I’m nobody..

I don’t know how to make myself realize who am I..

Who am I?

Who am I?

 I even don’t get the answer..

I feel empty…

What can I do?

How can I be?

What should I be?

Why I’m exist?

What is the meaning of my existence?

Am I something, or nothing?

So many things that I can’t answer..

 

So who are you exactly?

Do you have the answers?

 

Yes I do.

Follow me and I will show you the way, the way that you’re looking for.

 

Fear of God is the beginning of wisdom…

It’ll open the door to wisdom…

 

Believe Me…

Trust Me…

And you’ll see…

When You say ‘no’

When You say ‘no’ my heart is broken

When You say ‘no’ I’m getting angry

When You say ‘no’ I hate You fully

And ask why You say ‘no’

 

Teach me to realize when You say ‘no’

it doesn’t mean You don’t love me

it doesn’t mean You want me unhappy

Just it means You love me so much

 

When You say ‘no’ You have to lose Your heart

When You say ‘no’ You’re ready for my rage

When You say ‘no’ You still love me more

That’s why You say ‘no’

 

Teach me to realize when You say ‘no’

it means You have the more beautiful one

it means You want me pleased more

Just it means You love me so much

 

That’s why You say ‘no’

Coz you have another ‘yes’ for me

Sore hari bersama Tuhan

Sore itu Bobby kecil tampak sekali. Dia berencana pergi untuk bertemu dengan Tuhan. Setelah menyiapkan bekal, Bobby menenteng tasnya dan berpamitan pada mamanya yang sedang memasak di dapur, “Ma. Bobby mau pergi dulu ya. Bobby ingin bertemu dengan Tuhan.” Mamanya hanya tersenyum melihat tingkah anaknya yang masih berusia 10 tahun itu samb il berkata, “Pergilah, tetapi jangan pulang malam-malam ya…”

 

Setelah berjalan cukup lama akhirnya tibalah Bobby di taman kota. Karena capek dia membuka tasnya dan mengeluarkan bekal makanannya. Dia membuka sekaleng biskuit kemudian memakannya dengan lahap. Beberapa saat kemudian barulah dia menyadari kalau ternyata ada seorang nenek yang duduk di sebelahnya. Tanpa pikir panjang Bobby pun menyodorkan kaleng biskuitnya itu kepada si nenek dan nenek itu tersenyum sambil mengambil sebuah biskuit dan memakannya. Bobby yang merasa senang melihat senyuman nenek itu kembali menyodorkan kaleng biskuitnya, dan si nenek kembali mengambil biskuit sambil tersenyum. Mereka makan biskuit di taman sambil tersenyum samapi biskuit itu habis dan hari sudah mulai gelap. Bobby pun berpamitan kepada nenek itu dan kembali si nenek tersenyum dan hal itu membuat Bobby sangat senang.

 

Sesampainya di rumah mama Bobby sudah menunggu anaknya dengan cemas, “Bagaimana Bob perjalananmu untuk bertemu dengan Tuhan?” “Ya ma, aku bertemu dengan Tuhan di taman dan dia memiliki senyuman yang paling indah.”

 

Di rumah si nenek, anaknya sudah menunggu kepulangan si nenek, “Bu ibu dari mana saja? Kenapa lama sekali baru pulang?” Si nenek hanya tersenyum sambil menjawab, “Sore ini aku bertemu dengan Tuhan, dan tahukah kau dia tampak sangat muda?”

 

Taken from Chicken Soup…

 

Kisah yang cukup sederhana tapi mengingatkan bahwa kehadiran Tuhan dapat dirasakan melalui ciptaanNya. Banyak orang bingung mencari-cari Tuhan dan merasa tidak menemukanNya, tetapi lihatlah sekelilingmu dan rasakan kehadirannNya melalui kasih orang-orang di sekitarmu. Setiap ciptaan menunjukkan siapa penciptanya… 

Pola pada kain

Seorang anak sedang sibuk mengamati ibunya bekerja. Sang ibu adalah seorang penjahit, dia memotong kain dalam pola-pola tertentu lalu menjahitnya sehingga menjadi pakaian yang indah. Melihat kesibukan ibunya, anak itu ingin menolong namun dia tidak tahu harus melakukan apa. Dia hanya mengamati bagaimana ibunya membuat gambar pola-pola pakaian pada kain dan diam-diam mempelajari bagaimana ibunya menggambarkan pola-pola tersebut.

 

Pada suatu hari ketika sang ibu sedang pergi, si anak yang merasa bosan bermain sendiri melihat tumpukan kain yang belum selesai digambar oleh ibunya. Karena merasa bosan dan ingin membantu ibunya maka ank itu menhampiri kain itu dan dengan cermat melanjutkan menggambarkan pola-pola seperti yang telah dipelajarinya selama ini. Setelah beberapa jam menggambar akhirnya seluruh kain telah selesai digambar dan anak itu tersenyum puas.

 

Namun ketika sang ibu pulang dan mendapati kain yang telah tergambar pola-pola pakaian dia merasa terkejut. Ternyata anak itu menggambar pada sisi kain yang salah sehingga kain menjadi rusak dan tidak bisa lagi dibentuk menjadi pakaian yang bagus sesuai harapan sang ibu. Si anak yang mendengar ibunya mengomel merasa ketakutan. Dalam pikirannya sempat timbul niat untuk diam saja dan tidak mengaku, namun akhirnya dia mengakui apa yang telah dilakukannya kepada ibunya dengan penuh ketakutan.

 

Sang ibu yang mendengarkan pengakuan anaknya hanya tersenyum sambil berkata, “Tidak apa-apa…. Sudah bagus kamu berniat membantu ibu….. nanti malam ibu akan memeriksa semuanya dan memperbaikinya. Pergilah bermain saja dan tidak usah kamu pikirkan lagi.”

 

Si anak yang terkejut merasa senang karena tidak dimarahi dan dia pun semakin berusaha untuk taat kepada ibunya dan mengikuti apa yang ibunya perintahkan dengan senang hati.

 

Pada awalnya tentu saja aku berharap ibunya akan memaafkan kesalahan anaknya karena anaknya berniat membantu, namun tetap saja ada kesalahan yang telah diperbuat oleh si anak. Dan tentu saja ibunya memaafkan tetapi hal itu tidak membuat kesalahan yang dilakukan oleh si anak hilang begitu saja. Kesalahannya tetap diperhitungkan dan pola-pola kain yang tergamabar salah tidak bisa dianggap benar begitu saja hanya karena si anak berniat membantu ibunya.

Namun hal yang cukup menarik adalah sang ibu sendiri yang memperbaiki kesalahan anaknya. Kesalahan itu tetap ada meskipun ibu sudah meaafkan dan konsekuensinya dari kesalahan itu tetap ada, namun di sini yang menanggung dan harus memperbaiki adalah sang ibu, bukan si anak.

Sama halnya dengan sang ibu yang memperbaiki pola-pola kain yang telah digambar anaknya, Yesus mati di kayu salib menanggung dosa manusia sehingga kita tidak lagi harus menanggung upah dosa. Tentu saja dosa itu tidak bisa dianggap hilang begitu saja meskipun manusia sudah bertobat. Dan sama seperti si anak yang tidak harus menanggung kesalahannya, kita juga tidak lagi harus menerima maut karena Yesus telah menanggungnya bagi kita. Sudahkah kita bersyukur dan menghargai karyanya dalam hidup kita?

Baik atau buruk?

Banyak orang mengatakan hal ini baik dan hal itu buruk… Tetapi apa sebenarnya baik dan buruk itu? Definisi baik dan buruk menurut kamus besar bahasa Indonesia yaitu

 

 ba.ik

[a] elok; patut; teratur (apik, rapi, tidak ada celanya, dsb): karangan bunga itu — sekali; (2) a mujur; beruntung (tt nasib); menguntungkan (tt kedudukan dsb): nasibnya — sekali; mendapat kedudukan yg –; (3) a berguna; manjur (tt obat dsb): buku ini sangat — untuk dibaca; daun kumis kucing — untuk obat penyakit ginjal; (4) a tidak jahat (tt kelakuan, budi pekerti, keturunan, dsb); jujur: anak itu — budi pekertinya; (5) v sembuh; pulih (tt luka, barang yg rusak, dsb): sudah dua minggu dirawat di rumah sakit, ia belum — juga; lukanya sudah –; (6) a selamat (tidak kurang suatu apa): selama ini keadaan kami — saja; (7) a selayaknya; sepatutnya: kami diterima dng –; — orang ini kusuruh pulang sekarang; (8) p (untuk menyatakan) entah … entah …: — di kota maupun di desa, olahraga sepak bola digemari orang; (9) p ya (untuk menyatakan setuju): berangkatlah sekarang! — , Ayah; (10) n kebaikan; kebajikan: kita wajib berbuat — kpd semua orang

 

bu.ruk
[a] (1) rusak atau busuk krn sudah lama: memakai kain –; (2) (tt kelakuan dsb) jahat; tidak menyenangkan: kelakuannya sangat –; (3) tidak cantik, tidak elok, jelek (tt muka, rupa, dsb)

 

Sebenarnya apa definisi orang tentang sesuatu yang baik dan sesuatu yang buruk? Terlepas dari paham relativisme tentunya setiap orang memiliki pemahaman tentang apa yang baik dan apa yang buruk. Semua orang pasti setuju bahwa sehat, bahagia, sukses, kaya adalah hal yang baik, sedangkan sakit, peperangan, bencana, miskin adalah hal yang buruk.

 

Sebenarnya apakah yang menjadi standar tentang kebaikan atau keburukan suatu hal? Jika dilihat lebih dalam bukankah hal-hal yang menyenangkan diri sendiri dan sesuai dengan keinginan pribadi dianggap sebagai hal yang baik dan hal-hal yang merugikan diri sendiri dan tidak sesuai dengan keingingan pribadi adalah yang buruk bukan?

Jika demikian halnya maka yang menjadi standar suatu hal itu baik atau buruk adalah kepentingan pribadi.

 

Disadari atau tidak setiap orang selalu menjudge bahwa hal ini baik dan hal itu buruk meskipun ditambahkan embel-embel ‘ada rencana Tuhan dalam hal-hal tersebut… ‘

Bukankah Tuhan tidak pernah menciptakan sesuatu yang buruk? Segala sesuatu yang diciptakanNya baik adanya. Karena dosa maka manusia sendiri yang membuat segalanya menjadi rusak. Dengan memakan buah dari pohon pengetahuan tentang yan baik dan jahat maka dapat dipahami bahwa manusia mulai mengerti tentang apa yang baik dan buruk bagi dirinya sendiri, tidak lagi dalam konteks kesatuan hubungan manusia dengan Tuhan dan alam ciptaanNya.

 

Tidak salah memang menggunakan kata-kata tersebut, namun yang harus dipahami adalah semuanya baik, tidak ada hal buruk dalam kamus Tuhan, manusia sendirilah yang menciptakan kosakata tersebut sesuai dengan keinginannya. Dengan memandang bahwa Tuhan menjadikan segala sesuatunya baik, terlepas sesuai dengan keinginan pribadi atau tidak maka hal ini akan membuat manusia memandang Tuhan dengan pandangan positif namun sebaliknya, jika manusia sudah mendakwa bahwa apa yang terjadi itu buruk karena tidak sesuai dengan keinginannya maka mereka akan memandang Tuhan dengan cara pandang yang negatif. Dan dengan demikian sebenarnya manusia yang menjadi tuhan atas dirinya sendiri karena manusia menentukan apa yang baik dan buruk bagi mereka dan menghakimi Tuhan karena membiarkan sesuatu yang ‘baik’ dan ‘buruk’ terjadi…..

 

Well, poinnya adalah sebenarnya apa ukuran suatu hal itu dipandang ‘baik’ atau ‘buruk’? Apakah benar jika menguntungkan diri sendiri maka hal itu baik dan jika tidak menguntungkan diri sendiri maka dipandang sebagai hal yang buruk?

Semoga bisa membantu menjawab pertanyaan-pertanyaan yang mempertanyakan kebaikan Tuhan dalam hidup kita semua.