Cerita di balik selembar foto…

Screenshot_2015-03-28-13-56-46

Mungkin kalian tertawa saat melihat gambar ini. Saya juga kok. Memang menggelikan sih, tetapi apa yang tertulis di situ memang benar adanya. Jawaban-jawaban itu adalah jawaban dari anak yang tidak mampu mengenyam pendidikan seperti kita. Coba kalian perhatikan tulisan yang agak kabur di sebelah kiri bawah. Di situ tertera tulisan ‘aping anit’. Seorang teman menceritakan bahwa bahwa itu adalah tempat di mana dia pernah memberikan les kepada anak-anak yang tidak mampu di daerah Jogja. Lokasinya terletak di Pingit, daerah perkampungan kumuh di Jogja. Rata-rata yang tinggal di situ adalah para pemulung, pengamen dan orang-orang yang nggak genah. Apalagi anak-anak yang belajar di situ, sungguh sangat mengenaskan.

Sebutkan hewan herbivora, jawaban mereka: gajah, kebo, kambing, bojone kebo, kebo wedok, anake kebo…

Kata teman saya. Memang sekilas terdengar lucu. Akan tetapi menjadi tidak lucu lagi jika kita pernah berpikir akan seperti apa anak-anak itu di masa depan? Akan seperti apa generasi muda bangsa ini, jika wajah pendidikan mereka saat ini seperti itu? Saya tidak tahu apakah mereka memang tidak serius belajar, atau memang seperti itulah kemampuan mereka. Jika tebakan saya yang pertama benar maka sungguh menyedihkan karena anak-anak itu tidak menganggap pendidikan adalah hal yang penting. Namun jika tebakan saya yang kedua benar maka lebih menyedihkan lagi. Saya tidak sanggup membayangkan akan menjadi apa anak-anak itu di masa depan. Well, untuk masalah itu saya tidak berniat membahas lebih jauh.

Poin yang ingin saya bahas adalah saya merasa menyesal dan bersalah setelah membaca penjelasan dari teman saya itu. Seringkali banyak hal-hal yang menurut kita lucu dan menggelikan. Tapi kita tidak pernah tahu apa yang sebenarnya terjadi, atau muatan yang terkandung di dalam peristiwa itu. Sama halnya seperti saat kita menonton reality show yang mengerjain orang. Lucu memang melihat reaksi korban yang dikerjain, tapi pernahkan anda membayangkan bagaimana rasanya ketika berada di posisi si korban dan dikerjain habis-habisan. Saya yakin pasti saat itu rasanya sungguh amat sangat tidak menyenangkan sekali.

Dari selembar foto itu, saya belajar untuk berempati pada orang lain. Memang sih itu nggak mudah, tetapi semuanya bisa dipelajari. Saya termasuk tipe orang yang suka guyonan, dan well, saya sadar kok sebenarnya masih banyak hal-hal lain yang lebih penting daripada menertawakan fenomena di sekitar kita, terutama yang menyangkut orang lain. My point is beware with your humor. Tanpa kita sadari bukan tidak mungkin kita sedang tertawa di atas penderitaan orang lain. Dan itu nggak lucu sama sekali kan…

When God answer the pray 10

Day 1

God where are You? I have a problem. It’s very big. God, You know the man working in my company, the newbie. My boss hired him few weeks ago. Oh God, it is a disaster. I find that he is a thief, a hacker. And I think he is on the way to steal any secret information about the company.

Day 3

God, why are You keep silent? It has been some days since he hacked my server. I had said to my boss, but he didn’t believe me. What should I do?

God, please answer me. Oh, don’t keep silent. Please do something God, please…

Day 6

Oh God, why don’t You do something? You know, this morning I heard that the man, the thief, the hacker, he would get promotion. It’s not right God. Please do something, don’t let it happened.

Day 7

God, where are you? It has been a week, and there is nothing changed. You did nothing so I decided to do something. I will make it sure that everyone knows his true face. He is a wolf in a sheep form.

Day 10

God! Why don’t You help me? You know I did it for good sake, but my boss still didn’t believe me. Instead of got reward, my boss blamed me. I even got punishment for my good intention. It’s not fair God. And You, You God, You did nothing! You didn’t help me even once. Please answer me, speak to me God…

God, You keep silent. You did nothing even you know it is not right. He is a wicked man. He is a thief, but you let him got success in his evil way. God I can’t believe You. Why do You let it happened…

Day 13

God, You don’t answer me even a single word. You had left me alone. You care not me anymore. Tomorrow he will be promoted. And I can’t do anything to prevent it. It is You who let the wicked one get everything he wants. I don’t want to speak with You anymore.

Day 14

God, sorry for misunderstanding You. Sorry for blaming You. Now I know that You are God who do not leave me even for a second. God, You had known that my boss knew everything about him, and he pretended to believe him, hadn’t You? I’m sorry God. I knew nothing, but thought that I knew everything. Moreover, I didn’t believe You and thought that You blessed the wicked one, instead of punished him. Please God, I’m sorry.

Dear Son, I was silent didn’t mean I did nothing. I just want you keep believe in Me. I have my own way to deal with him. Doubt not, but believe in Me. Am I not the God who blesses the good men and curse the wicked ones?

God, I’m sorry. Please forgive me…

I do, but promise Me that you will trust Me in all condition. Can you do it?

I’ll try God… I’ll try. I’m promise…

Three seconds – tiga detik

“Kamu habis ngomong sama siapa sih Lol?” tanya seorang anak perempuan kepada temannya saat mereka berjalan beriringan menuju ke kelas. Kawat gigi yang terpasang rapi terlihat jelas di giginya saat dia membuka mulutnya.

“Oh, nggak tahu,” jawab temannya yang bernama Lola. Gadis berkacamata itu menaikkan kacamatanya yang agak turun dengan jari tengah tangan kanannya. Sedangkan tangan kirinya memegang buku ‘Harry Potter and The Sorcerer Stone’.

“Lho kok? Kamu ngobrol sama orang yang nggak kamu kenal gitu aja?” tanya anak perempuan dengan kawat gigi itu.

“Iya,” jawab Lola singkat. “Aku lupa tanya siapa namanya,” lanjutnya lagi.

“Ya ampun Lola…” anak perempuan berkawat gigi itu mengacak-acak rambutnya yang pendek.

“Sudah nggak usah dipikirin Rin,” jawab Lola. Kini mereka sudah tiba di depan pintu kelas mereka. “Nanti sore aku batal ke rumahmu. Ayah ulang tahun, dan Bunda berencana bikin makan malam special.”

“Ooo…” Rini membulatkan mulutnya. “Ya sudah lain kali saja…”

Lola meletakkan buku nya di antara barisan buku seri Harry Potter lainnya. Dia tersenyum simpul mengingat pertemuannya siang tadi di sekolah dengan seorang kakak yang dia bahkan tak tahu siapa namanya. Sepertinya kakak itu juga suka membaca, batin Lola dalam hati sambil jari tengahnya menaikkan bingkai kacamatanya yang merosot.

“Lola, kalau sudah ganti baju ayo cepat bantu Bunda!” teriak Bunda dari dapur. Suara Bunda terdengar sangat nyaring.

“Iya Bun, sebentar!” sahut Lola tak kalah nyaringnya. Gadis berambut panjang itu segera menanggalkan seragam putih abu-abunya. Tak lama kemudian Lola sudah muncul di dapur dengan kaos berwarna pink polos dan celana kolor sepaha yang juga berwarna pink lengkap dengan celemek yang masih juga berwarna pink. Hari itu adalah hari ulang tahun Ayah, dan Lola berencana memasak pai apel kesukaan Ayah.

“Bahan-bahannya sudah lengkap, ada di kulkas,” kata Bunda memberitahu. Bunda sendiri sedang sibuk menyiapkan nasi tumpeng beserta lauk pauknya. “Kamu bisa masak sendiri kan.”

“Iya Bun,” jawab Lola. Sebelumnya dia pernah memasak pai bersama Nenek. Tidak sulit sebenarnya, hanya saja harus berhati-hati saat membuat pinggiran pai nya supaya tidak rusak. Bagian itulah yang paling sulit, dan juga yang paling disukai Ayah.

Pertama-tama Lola harus membuat pinggiran pai itu terlebih dahulu. Dengan cekatan Lola mulai mengocok telur, kemudian mencampur tepung untuk membuat adonan. Setelah jadi, Lola memasukkan adonan pinggiran pai itu ke dalam lemari es. Adonan itu memang harus didinginkan dahulu selama kurang lebih 30 menit. Sembari menunggu adonan kulit pai, Lola mulai membuat bagian isinya. Dia memotong apel, mencampurkannya dengan margarine dan bahan-bahan lain kemudian mengaduknya hingga kental. Menit demi menit berlalu, hingga akhirnya Lola mengeluarkan adonan kulit pai dan memasukkannya ke oven. Lola mengusap peluh yang membasahi keningnya. Membuat pai cukup merepotkan juga, batin Lola.

Bunyi oven yang berdentang membuat Lola kembali ke dapur setelah beristirahat sejenak di ruang depan. Lola mengeluarkan pai apel yang masih setengah jadi itu dari oven. Pinggiran pai nya terlihat sempurna, bentuknya bagus dan tidak pecah. Kini Lola mulai melanjutkan mengisi bagian tengah pai sebelum memasukkan pai itu kembali ke oven. Lola melirik jam dinding yang tergantung di atas kulkas. Sudah jam empat lebih lima belas menit. Tak lama lagi Ayah akan segera pulang. Bunda sudah selesai memasak dan mulai menata makanan di meja makan.

Beberapa menit menunggu, akhirnya oven kembali berdentang. Pai apel Lola sudah matang. Dengan hati-hati Lola mengeluarkan pai yang masih panas itu. Bau nya yang harum menggelitik hidung Lola.

“Harus sekali baunya Lola! Tercium dari sini lho!” seru Bunda dari ruang makan.

“Iya Bun,” sahut Lola. Pai ini pasti lezat. Lola meletakkan pai nya itu di atas meja, kemudian dia berbalik mencari potongan-potongan apel untuk menghiasi bagian atas pai. Di sana rupanya. Lola melihat beberapa potongan apel di atas meja.

Dan tiba-tiba kejadian itu terjadi. Detik pertama, Lola menaikkan kacamata dengan jari tengah tangan kanannya, yang lagi-lagi entah untuk yang keberapa kalinya merosot turun. Kemudian dia berusaha meraih potongan apel yang ada di sebelah kanannya itu dengan tangan kanannya. Tiba-tiba saja tangan kiri Lola tanpa sadar menyenggol pai apel yang ada di atas meja. Detik selanjutnya terdengarlah suara gaduh di dapur diiringi teriakan histeris Lola. Semuanya itu terjadi begitu cepat, hanya dalam waktu tiga detik.

“Lola, ada apa?” tanya Bunda yang segera berlari menuju ke dapur begitu mendengar keributan itu. Bunda menutup mulutnya dengan kedua tangannya saat melihat pai apel buatan Lola telah ada di atas lantai. Sebagian isinya berceceran di atas lantai. Sedangkan Lola hanya bisa berdiri terisak memandangi pai buatannya yang kini sudah hancur berantakan.

“Aku menghancurkan semuanya…” ujar Lola lirih sambil menangis. Tangisan Lola semakin keras, dan dia pun jatuh terduduk lemas. Kedua kakinya tak mampu menahan tubuh kecil Lola yang tiba-tiba terasa begitu berat.

“Sayang…” Bunda menghampiri Lola lalu memeluk gadis kecil itu. Tangis Lola tak kunjung berhenti.

“Aku menghancurkan semuanya… Bunda… aku menghancurkan pai untuk Ayah…” ujar Lola di sela-sela isakannya. “Aku nggak bisa bikin lagi… waktunya nggak cukup… bahannya juga sudah habis…”

Bunda mengamati sejenak pai yang telah jatuh itu. “Sayang, nggak apa-apa. Tanpa pai itu, Ayah tetap ulang tahun kok,” ujarnya sambil memandang Lola dengan penuh kasih. Bunda mengapus air mata yang membanjiri wajah Lola dengan kedua tangannya. “Tenanglah. Pai mu nggak hancur semua. Masih ada yang bisa kita berikan untuk Ayah.” Pelan-pelan Bunda membimbing Lola untuk bangkit berdiri, kemudian Bunda menghampiri pai yang masih dalam cetakan itu. Sebagian isinya masih berada dalam cetakan, tapi sudah berantakan. Kulit pai nya sudah rusak semua.

“Ini masih ada sedikit,” ujar Bunda. Bunda meletakkan sisa pai itu di atas meja, kemudian mengambil mangkuk dan sendok. Bunda menyendok sedikit pai yang masih tersisa itu lalu memasukkan ke dalam mulut. “Lola sayang, ini enak kok. Enak sekali,” hibur Bunda.

“Tapi kulit painya sudah rusak. Ayah paling suka kulit pai nya…” isak Lola.

“Sayang, nggak masalah pai mu itu nggak ada pinggirannya. Kamu tahu, meskipun tanpa pinggiran, Bunda yakin Ayah akan tetap menyukai pai mu itu.” Bunda meletakkan mangkuk itu di samping sisa pai Lola, lalu berdiri menghap Lola. “Karena pai itu adalah buatan Lola, yang dibuat Lola dengan penuh cinta kasih untuk Ayah,” ujar Bunda kembali menghapus air mata Lola yang masih tersisa di wajah gadis  kecil itu. “Sekarang, Lola bisa memilih untuk terus menangis, atau Lola ambil sisa pai yang masih ada lalu Lola taruh di atas mangkuk. Lola tetap ingin Ayah merasakan pai apel di hari ulang tahunnya kan?”

Perlahan Lola mulai bergerak mendekati meja, lalu memindahkan isi cetakan pai itu ke dalam mangkuk. Lola juga menaruh beberapa keping pinggiran kulit pai yang masih bisa diselamatkan. Sesekali Lola terisak, tapi kemudian disekanya air matanya dengan kedua tangannya. Sementara itu, Bunda mulai membersihkan ceceran pai yang mengotori lantai dapur.

Malam itu mereka merayakan ulang tahun Ayah dengan makan malam sederhana. “Lola, ini enak sekali,” ujar Ayah saat menyantap sisa pai apel buatan Lola.

“Maafin Lola, Yah. Lola merusak semuanya. Seharusnya Lola nggak ngejatuhin pai itu.” Wajah Lola masih diselimuti kesedihan.

“Lola, kamu tahu? Pai ini enak sekali. Dan Ayah bangga sama kamu. Kamu sudah berusaha membuatkan Ayah pai apel. Meskipun ada hal-hal yang terjadi dan itu tidak kita inginkan, tapi kamu tetap berusaha menyajikan pai ini untuk Ayah. Ini adalah pai yang paling enak, tentunya setelah buatan Nenek…” ujar Ayah jenaka. Seulas senyum tipis menghiasi bibir Lola.

“Itu semua juga karena Bunda. Terima kasih ya Bun. Bunda terus nyemangatin Lola,” ujar Lola menatap Bunda lalu berganti menatap Ayah. “Dan terima kasih Ayah. Lola tahu pai Lola nggak seenak buatan Nenek. Lola senang Ayah suka pai apel Lola, meskipun tanpa pinggiran yang renyah…”

“Lola, Sayang, bukan hanya pinggiran yang membuat pai ini lezat, tapi karena cinta kasih Lola untuk Ayah, dan ditambah lagi semangat Lola dalam membuatkan pai untuk Ayah. Pai ini terasa benar-benar lezat…” Ayah menguatkan Lola. “Terima kasih ya Sayang, puteri Ayah…”

Inspired from Audrey MasterChef Jr 2

Saat nasi telah menjadi bubur, kau bisa memilih untuk menyesalinya lalu membuangnya

Atau menambahkan ayam hingga bubur itu menjadi bubur ayam special

Jangan pernah menyerah dalam keadaan apa pun, selalu ada cara untuk memperbaikinya

Yang kau butuhkan hanyalah semangat untuk terus berjuang dan cinta untuk orang-orang yang kau kasihi

nasi telah menjadi bubur

Two hours – dua jam

Sandra membuka matanya. Sudah berapa lama dia tertidur? Kereta yang dinaikinya sama sekali tidak berjalan. Dia melirik jam tangannya. Jam sembilan lewat tiga puluh menit. Seharusnya dia sudah setengah perjalanan sekarang. Sandra menyilakan rambut pendeknya lalu melayangkan pandangannya ke luar jendela. Matanya mencoba menangkap sesuatu yang bisa dikenalinya. Nihil. Hanya kegelapan yang ada di luar sana.

“Keretanya trouble Mbak,” sahut seorang wanita muda yang duduk di sebelah Sandra.

Sandra memandang wanita itu sejenak. Sebelumnya dia tidak terlalu memperhatikan wanita muda yang duduk di sebelahnya itu. Sepertinya dia seorang wanita karir, nampak dari busana formal yang dikenakannya. Rambutnya yang panjang sebahu juga nampak rapi. Wajahnya nampak menyiratkan kelelahan, make up nya sedikit pudar, tetapi tidak memudarkan kecantikannya. Menilik usianya, sepertinya mereka hanya selisih beberapa tahun. “Kenapa ya Mbak?” tanya Sandra.

“Kurang tahu Mbak. Saya juga dengernya gitu dari beberapa penumpang lain. Sudah hampir setengah jam Mbak, mogoknya…”

“Oh…” hanya itu yang dapat terlontar dari mulut Sandra. Menit demi menit selanjutnya Sandra mulai sibuk dengan gadgetnya. Sementara wanita yang duduk di depannya asyik mengobrol dengan pasangan paruh baya yang duduk di depan mereka. Kereta Sriwedari yang dinaiki Sandra ini memang diatur sehingga tempat duduk penumpang saling berhadapan.

“Sial, habis baterai,” omel Sandra tiba-tiba saat layar gadget miliknya itu tak lagi menampilkan apa pun. Sandra menghempaskan punggungnya ke sandaran kursi. Menunggu adalah hal yang paling dibencinya. Dia kembali melirik jam tangannya. Sembilan lewat empat puluh lima menit.

“Lama sekali ya Mbak,” katanya dengan nada tinggi. Kesabarannya mulai terkikis.

“Oh, mungkin sebentar lagi Mbak,” sahut wanita yang duduk di sebelah Sandra agak terkejut. “Ratna…” kata wanita itu memperkenalkan diri.

“Sandra…” jawab Sandra malas. Sandra memang terkenal atas ketidakramahannya. “Ini sudah sampai mana ya?” lanjutnya lagi dengan nada tak acuh.

“Sudah setengah perjalanan Mbak Sandra…” jawab wanita yang bernama Ratna itu ramah.

“Sandra aja, nggak usah pakai Mbak,” sahut Sandra jutek.

“Ok Sandra,” Ratna masih tetap bersikap ramah. Sepertinya wanita itu harus siap menghadapi pedasnya mulut Sandra selama beberapa waktu ke depan.

“Lama banget sih. Ini sopirnya ngapain aja sih? Tahu nggak sih orang bête nunggu. Gimana coba sama orang-orang yang dikejar waktu. Dari tadi nggak jalan-jalan. Mau nunggu sampai berapa lama lagi?” Sandra mulai mengungkapkan kekesalannya. Harap maklum, Sandra sedang mengalami hari yang buruk. Hari ini KHS (kartu hasil studi) semesterannya keluar dan nilainya memang seperti yang telah ditebak Sandra. IP nya berkilo-kilo meter jauhnya dari angka 4. Mendung yang menyelimuti hati Sandra berubah menjadi hujan badai saat dia bertengkar dengan Bimo, cowok yang menyandang status sebagai pacarnya selama dua tahun terakhir. Sebenanya sih hanya karena masalah sepele. Saat Sandra menceritakan nasib naas yang menimpanya itu, sebagai pacar yang baik Bimo berusaha menasehatinya untuk kuliah dengan sungguh-sungguh dan berusaha semaksimal mungkin. Namun mungkin karena Sandra sedang bad mood, akhirnya mereka bertengkar. Sandra merasa Bimo terlalu mencampuri kehidupan pribadinya.

“Ya mungkin lagi ada masalah teknis San. Kalau terus dijalanin bisa-bisa nanti keretanya kecelakaan. Pak masinis tahu yang terbaik kok. Percaya saja…” Ratna berusaha menenangkan Sandra sekaligus mengkoreksi istilah yang digunakan Sandra untuk menyebut pengemudi kereta api.

“Sebentar lagi juga jalan,” kali ini bapak tua yang duduk di depan Sandra ikut menanggapi. Mau tak mau Sandra memasang seulas senyum yang sangat jelas terlihat bahwa senyuman itu dipaksakan.

“Sampe mana tadi? O ya sampe Alif…” Bapak tua itu kembali melanjutkan obrolannya dengan Ratna. Sandra mengamati sejenak pasangan paruh baya yang duduk di hadapannya itu. Seorang bapak tua dan isterinya. Mungkin usia mereka sekitar 60 tahun. Kerutan di wajah mereka menandakan banyaknya usia yang telah dilalui bersama. Bapak itu menggunakan kacamata dan berpeci, sedangkan istrinya mengenakan pakaian tertutup dan berhijab. Karena tak ada hal lain yang bisa dikerjakannya, mau tak mau Sandra ikut mendengarkan. “Alif itu kerjanya di kontraktor bangunan. Jadi site manager, mungkin semacam mandor gitu mungkin ya. Bapak juga ndak ngerti kerjanya kaya apa. Alhamdulilah gajinya gede. Setiap bulan pasti ngirimi Bapak sama Ibu.”

“Iya kaya kemarin Bapaknya sakit, harus operasi kaki. Alif yang nanggung biaya operasi. Padahal Ibu tu sudah bilang, Lif kakak-kakak mu juga sudah urunan bayari operasi Bapak. Sudah, simpen aja uangnya buat kamu. Gaji kamu itu ditabung buat kamu besok. Ndak usah dikasih ke Bapak sama Ibu. Wong kamu juga harus mikir masa depan. Tapi ya anak saya itu si Alif, bilangnya ndak papa Bu. Wong Alif kerja juga buat Bapak sama Ibu. Alif ndak pengen Ibu dibilang miskin, orang ndak punya sama tetangga, sama saudara-saudara,” istri Bapak itu turut menimpali. Sandra mulai tergelitik untuk mengetahui lebih banyak lagi tentang keluarga suami istri itu.

“Mungkin Alif ingat dulu waktu kecil kami susah. Saya aja buat sekolahnya anak-anak minjem uang dari saudara-saudara. Kakak-kakaknya Alif cuma lulus SMP. Mereka ndak mau sekolah SMA. Mau kerja aja, buat bantu Bapak sama Ibu. Si Alif, saya suruh sekolah SMA. Biarpun kami susah, tapi kami tetep pengen anak-anak itu sekolahnya tinggi, biar nasibnya bisa lebih baik dari orang tuanya,” timpal Ibu itu lagi.

“Tapi kan sekolah nggak menjamin orang itu akan sukses nanti…” kali ini Sandra membuka mulutnya.

“Iya nak. Kita memang ndak tahu jalannya orang gimana. Tapi pendidikan itu penting. Kalo orang pintar, dia bisa kerja di mana-mana. Kalau orang bodoh kaya kami, ndak bisa apa-apa. Ndak bisa usaha. Bisanya cuma buka warung,” Bapak itu menjelaskan tanpa bermaksud menentang pendapat Sandra.  Dalam hati Sandra mengakui ada kebenaran yang terkandung dalam kata-kata bapak itu. Tepat saat itu kereta mulai berjalan. Sandra melirik jam tangannya. Jam sepuluh lewat lima menit.

“Ibu bersyukur sama Allah. Meskipun kami orang ndak punya, tapi anak-anak kami mau ngerti sama orang tuanya. Mereka ndak minta macem-macem. Sekolah juga sungguh-sungguh. Alhamduliah sekarang anak-anak kami hidupnya lebih baik dari orang tuanya. Apalagi si Alif, sudah mapan kerjanya,” kata ibu yang duduk di depannya. Rona kebahagiaan memancar dari wajah yang penuh dengan kerutan itu. Sandra sempat berpikir, apakah orang tuanya juga akan mengatakan hal yang sama tentangnya? Apakah dia sudah mengerti keadaan orang tuanya? Rasanya tidak. Apa yang Sandra minta pasti diberikan oleh orang tuanya. Tapi sama sekali dia tidak pernah memikirkan bagaimana usaha orang tuanya bekerja. Sandra merasa tertampar oleh kisah keluarga pasangan paruh baya yang ada di hadapannya itu. Dia merasa bahwa hidupnya jauh lebih beruntung daripada pasangan itu tapi sangat jarang sekali dia bersyukur.

“Ibu cuma pengen si Alif nikah. Ibu sering bilang, mbok kamu cari istri yang baik le, yang bisa ngurus kamu, sayang sama kamu, nasehati kamu, ngingeti kamu sholat juga. Soalnya si Alif, anak saya itu sering lupa sholat, terutama sholat subuh…” lanjut ibu itu. Mendengar kata-kata ibu itu tiba-tiba Sandra teringat kepada Bimo. Bimo juga sangat perhatian. Dia sering mengirimkan BBM mengingatkan Sandra untuk makan, cowok itu memang hafal betul tabiat Sandra yang sering lupa waktu kalau sudah terlanjur asyik dengan dunianya. Ratna, yang duduk di sebelah Sandra juga sepertinya sengaja membuang muka, mengalihkan pandangannya ke arah penumpang yang duduk di seberangnya. Untuk beberapa menit mereka terdiam.

Pasangan paruh baya itu nampak sibuk berbicara satu sama lain untuk menghubungi anak mereka. Sepertinya mereka akan turun di stasiun selanjutnya. Si bapak nampak berbicara melalui HP dengan salah satu anaknya, meminta dijemput.

“Itu HP dari si Alif,” kata si ibu. “Biar Alif gampang kalau mau telpon Ibu sama Bapak, katanya waktu ngasih HP itu. Padahal sungguh, Ibu sama Bapak ndak perlu barang kaya gitu. Tapi si Alif maksa, sudah dibelikan buat Ibu sama Bapak, katanya.” Dengan nada gembira ibu itu menceritakan tentang HP yang digunakan suaminya.

Tak lama kemudian kereta tiba di Stasiun Klaten. Benar saja, ketika kereta berhenti bapak dan ibu itu minta diri. Kembali Sandra melirik jam tangannya. Jam sepuluh lewat dua puluh.

Sepeninggalan pasangan itu, kereta mendadak hening. Sandra sibuk berkutat dengan pikirannya, mencerna apa yang dibicarakan oleh pasangan tua itu. Apa yang telah diberikannya untuk orang tuanya? Alih-alih memberikan HP, nilai yang baik saja dia tidak mampu mempersembahkan. Bimo memang benar. Dia seharusnya berusaha lebih keras.

“Ngomong-ngomong Sandra ada urusan apa ke Solo?” tanya Ratna memecah keheningan, berusaha mencari topik pembicaraan.

“Mau pulang. Aku kuliahnya di Jogja. Rumah di Solo,” jawab Sandra singkat. Tak terdengar lagi kesan jutek dalam nada bicaranya.

“O… di sana ngekos?”

“Iya.”

“Ngomong-ngomong sebentar lagi sampe Solo nih rasanya. Kamu dijemput? Sudah kasih tahu?” selidik Ratna karena Sandra sama sekali tidak mengeluarkan HP nya dari dalam tasnya, padahal tadi dia sempat berkutat cukup lama dengan benda itu.

“Iya… belum… HP ku mati…” jawab Sandra singkat. Sudah hampir jam sebelas. Tadi Sandra sudah memberi tahu papanya kalau kereta yang ditumpanginya mogok dan baterai HP nya akan habis. Saat ini dia tak tahu apakah papanya masih menunggu kabar darinya. Semoga papa tidak cemas, batin Sandra.

“Mau pinjam HP ku? Sudah malam, nggak baik kalau perempuan pulang sendirian. Yang jemput pasti juga bingung kamu nggak ngabarin…” ujar Ratna sambil menyodorkan HP nya. “Hapal nomornya kan?”

Sandra mengangguk pelan saat menerima HP itu, “Terima kasih.” Kemudian dia memencet nomor rumahnya, berbicara dengan sang papa yang ternyata masih menunggu kepulangan anak sulungnya itu.

“Lama ya, Jogja Solo hampir dua jam,” kata Ratna saat Sandra mengembalikan HP nya. “Biasanya satu jam lebih sedikit.” Entah dia mengelurkan uneg-uneg yang tersimpan di dalam hatinya atau sengaja mengatakan hal itu mendahului Sandra sebelum dia mengomel lagi.

Sandra mengangguk mengiyakan ucapan Ratna. Kereta pun berhenti di Stasiun Purwosari. “Sandra turun mana?” tanya Ratna saat bersiap-siap hendak turun.

“Balapan,” jawab Sandra.

“Oh, kalau gitu aku turun dulu ya. Sampai jumpa…” Ratna tersenyum ramah lalu menghilang di bersama orang-orang yang juga turun. Iya, dua jam perjalanan dari Jogja ke Solo ini memang terasa lama, batin Sandra. Tetapi selama dua jam ini aku belajar cukup banyak. Aku belajar untuk bersyukur atas segala yang kumiliki, orang tua yang menyayangiku, kehidupan yang nyaman, juga pacar yang memperhatikanku. Aku juga belajar bahwa masih ada orang baik seperti Ratna yang ramah dan peduli terhadap orang lain.

Tiba-tiba pandangan mata Sandra tertuju pada selembar kertas yang tertinggal di kursi Ratna. Dia ingin berteriak memanggil nama mantan teman sebangkunya itu. Tetapi mulutnya seakan menjadi kaku saat dia membaca tulisan yang tertera di atas kertas itu…

IMG_20150319_170448

Keren…

“Keren, keren banget umi. Saya dalam situasi yang keren.”

Barangkali ada yang masih ingat ucapan anak BW saat menyaksikan sang ayah dijemput oleh pihak berwenang beberapa waktu lalu. Well, saya tidak hendak membahas soal BW, namun kali ini saya tertarik membahas celoteh anaknya itu.

Saya tergelitik untuk memikirkan ucapan anak tersebut saat menyaksikan BW dalam acara di kampus saya, ketika beliau menceritakan kisah penangkapannya dan celotehan sang anak yang tidak lazim. Bagaimana tidak? Jika seorang anak melihat ayahnya ditangkap, atau dijemput paksa maka hampir dipastikan dia akan terguncang mentalnya. Si anak pasti akan merasa ketakutan dan mengalami trauma.

Tapi tidak dengan anak yang satu ini. Alih-alih takut, dia malah mengatakan penangkapan ayahnya itu keren. Menurut anak itu, tidak semua ayah bisa mengalami kejadian yang sama seperti ayahnya. Well, memang benar sih. Ayahnya dijemput oleh polisi, dikawal dan dimasukkan ke mobil patrol. Memang sih tidak semua orang berkesempatan menikmati kehormatan tersebut. Dan anak BW menanggap hal itu adalah suatu hal yang langka, fantastis dan hanya satu-satunya. Karena itulah dia mengungkapkan kata ‘keren’ itu.

Lantas, selanjutnya saya berpikir, bagaimana dengan kita saat menghadapi hal-hal yang tak terduga? Bagaimana saat kita diperhadapkan dengan kejadian-kejadian yang menurut kita tidak menyenangkan sama sekali? Apa komentar kita? Apakah kita mengeluh, meratapi nasib, dan khawatir berkepanjangan alih-alih menganggap bahwa apa yang terjadi dalam hidup kita adalah sesuatu yang keren? Saya percaya ketika suatu ketidaknyamanan diijinkan terjadi dalam hidup ini, pasti sepaket dengan hikmah yang menyertainya. Tidak semua orang berkesempatan menghadapi situasi-situasi yang menyakitkan, apalagi berhasil melaluinya.

Saya jadi teringat percakapan dengan seorang teman beberapa waktu yang lalu, ketika dia bertanya kabar saya sekarang dan apa yang sedang saya kerjakan. Saya jawab apa adanya. Sedang S2 dan bantuin orang tua. Dan dia membalas dengan satu kata ‘awesome’. Awesome apanya, batin saya. Secara saya nggak ada keren-kerennya. Tapi dari situ saya belajar untuk melihat dunia dari sudut pandang yang berbeda.

Belajar dari seorang anak kecil yang memandang dunia sebagai hal yang keren, sudahkan anda memandang hidup anda keren, kejadian-kejadian yang anda alami adalah hal-hal yang keren, dan anda sendiri adalah pribadi yang keren?

One day – suatu hari

Siska meremas kertas yang ada di depannya lalu melemparkan kertas tak bersalah itu yang kini telah menjadi sebuah bola tak beraturan ke keranjang sampah di samping mejanya, menambah satu lagi bola kertas yang menghuni keranjang itu. Gadis berkamata itu menyembunyikan wajahnya di atas meja. “Kenapa sulit sekali…” ujarnya lirih.

“Sedang apa kamu Sis?” seorang gadis lain berambut pendek muncul dari balik pintu kamar kos Siska yang memang dibiarkan terbuka.

“Stress…” jawab Siska asal tanpa mengangkat kepalanya. Dia malah sengaja menarik ikat rambutnya sehingga rambutnya yang panjang terurai berantakan di atas meja.

“Oh, lagi nulis?” tebak gadis yang baru saja muncul itu setelah melirik keranjang sampah yang dipenuhi bola-bola kertas. “Siska Siska, aku heran deh jaman sekarang orang kalau nulis sudah pakai laptop, sedangkan kamu masih nulis di atas kertas pakai bolpoin lagi…” sindir gadis berambut pendek itu beranjak duduk di atas kasur Siska.

“Kamu diam aja San!” ujar Siska tegas. “Kalau nggak ada yang mau diomongin keluar sana!”

Sandra, gadis berambut pendek itu seperti tidak menghiraukan kata-kata Siska. Dia malah asyik berbaring di atas kasur Siska sambil membuka beberapa bola-bola kertas yang diambilnya dari keranjang sampah Siska. Mereka berdua, Siska dan Sandra adalah sepasang sahabat karib. Persahabatan mereka telah terjalin sejak mereka masih duduk di bangku SMP.

“Kenapa? Cerpen kamu ditolak lagi?” tanya Sandra setelah matanya menelusuri isi kertas-kertas korban kekejaman Siska. Sandra terlalu mengenal Siska hingga dia merasa perlu untuk tak mendengarkan kata-kata yang baru saja terlontar dari mulut pedas Siska.

“Ini sudah yang ke 20 kalinya cerpenku ditolak!” teriak Siska frustasi saat membalikkan badannya. Mata bulat di balik kacamata berbingkai merah itu menampilkan tatapan penuh kebencian kepada Sandra seakan-akan dialah satu-satunya orang yang harus bertanggung jawab atas kegagalan yang dideritanya. “Kamu tahu gimana rasanya? Gagal dan gagal lagi!”

“Ceileh baru 20 kali, belum 2000 kali juga. Santai saja. Tinggal nulis lagi kan…” jawab Sandra santai. Dia kembali meremas kertas yang barusaja dibacanya lalu melemparkannya ke keranjang sampah. Sekali lempar, bola kertas itu segera mendarat cantik di dalam keranjang bersama bola-bola kertas lainnya. “Lagipula kan kamu sendiri yang mutusin kuliah sastra, nggak mau ikut aku masuk ekonomi…”

“Kamu itu temen aku bukan sih? Temennya lagi susah, nggak ngasih semangat…” nada suara Siska sedikit melunak.

“Hahaha… besok aku mau ke SMA, kamu mau ikut nggak?” bukannya menjawab pertanyaan Siska, Sandra malah balik bertanya.

“Ngapain?” tanya Siska.

“Biasa, Tania bikin masalah lagi di sekolah. Aku dipanggil Pak Budi…” ujar Sandra sambil beralih posisi dari telentang menjadi tengkurap, masih di atas kasur Siska.

“Wali kelasnya Tania Pak Budi?” tanya Siska. Mata bulatnya berputar saat menyebutkan nama mantan guru mereka. Pak Budi bukanlah guru yang menyenangkan, meskipun murid-murid juga tidak membenci guru matematika yang satu itu.

“Kalau mau ikut jam sembilan kita berangkat. Kamu nggak ada kuliah kan besok. Kalau telat aku tinggal,” ujar Sandra tegas lalu bangkit berdiri dan berjalan dengan cantik keluar dari kamar Siska, tanpa maju mundur tentunya.

“O… ke…” jawab Siska meskipun dia yakin Sandra sama sekali tidak mendengarkan satu-satunya kata yang keluar dari mulutnya itu. Harus diakui, dibandingkan dengan Siska, Sandra memang lebih kejam dalam memperlakukan segala sesuatu yang ada di sekitarnya.

Jam sembilan lebih tiga puluh menit Siska dan Sandra telah berdiri di depan gedung bercat putih yang pernah menjadi saksi perjuangan mereka selama tiga tahun menuntut ilmu dalam balutan seragam putih abu-abu.

“Aku ke ruangannya Pak Budi dulu ya, kamu terserah mau ngapain. Nanti kalau sudah selesai aku calling kamu.” Tanpa menunggu jawaban dari Siska, Sandra melangkahkan kakinya menuju ke kantor guru diiringi bunyi medu sepatu high heels warna hitamnya yang beradu dengan lantai. Siska hanya bisa menatap punggung Sandra yang mulai menjauh. Apakah dia mengajakku ke sini hanya untuk ditelantarkan, batin Siska.

Berjalan tanpa tujuan, Siska mulai menelusuri koridor menuju ke kantin. Namun, langkah kakinya terhenti saat matanya menemukan anak-anak SMA yang memenuhi meja-meja taman di depan kantin, sepertinya sedang berdiskusi dalam kelompok.  Hal yang menarik perhatian gadis berambut panjang itu adalah seorang anak perempuan berkacamata yang duduk sendirian di meja paling ujung.

“Halo, sedang pelajaran apa?” tanya Siska sambil duduk di seberang anak itu. Tentunya setelah memastikan tak ada guru yang mengawasi kelas tidak jelas ini.

“Oh…” anak itu nampak terkejut melihat kehadiran Siska. Dengan jari telunjuknya dia menaikkan bingkai kacamatanya yang merosot. “Bahasa Indonesia, Bu Marni…” dengan sopan dia menjawab pertanyaan yang dilontarkan Siska.

“Bu Marninya mana?” tanya Siska. Matanya mulai menyapu setiap sudut taman yang memang difungsikan sebagai ruang diskusi outdoor itu, tetapi wanita bertubuh kurus yang pernah diingatnya itu tidak menampakkan batang hidungnya.

“Nggak masuk. Sakit katanya. Kami dikasih tugas…” ujar anak perempuan itu melenyapkan keingintahuan Siska.

“Kamu suka baca buku ini?” tanya Siska tiba-tiba saat melihat sebuah buku tebal di atas meja. Matanya menangkap tulisan Harry Potter and The Sorcerer Stone yang tertera di cover buku itu.

“Iya Kak…” jawab anak itu sekilas sambil melirik buku tebal itu. “Buku lama sih, tapi bagus kok isinya. Aku suka baca buku itu, makanya aku pakai buku itu untuk tugas bikin sinopsis buku…” jelas anak itu.

“Ooo…” Siska membulatkan mulutnya. Buku Harry Potter seri pertama itu kini berada di tangannya. Dia mulai membuka lembar demi lembar. Siska ingat saat pertama kali dia membaca buku itu, belasan tahun silam. Buku Harry Potter yang begitu fenomenal, bahkan sampai diangkat ke layar kaca itu sukses merebut perhatiannya. Sejak pertama kali membaca buku itu, Siskalangsung jatuh cinta kepada sosok Harry Potter, dan dia tak pernah melewatkan seri-seri berikutnya. Siska lebih suka membaca buku daripada menonton film, karena dengan membaca buku dia dapat menciptakan dunia Harry Potter sesuai imajinasinya. Bisa dikatakan Harry Potter adalah salah satu alasan di balik sepak terjang Siska di dunia tulis menulis.

“Suatu hari nanti, aku akan menjadi seorang penulis terkenal…” jawab anak itu antusias. Siska bisa melihat matanya yang berbinar meskipun berada dibalik kacamata. “Seperti JK Rowling. Lalu aku akan menulis buku yang bagus juga…” lanjutnya lagi menyebut nama penulis buku Harry Potter itu.

Mendengar kata-kata anak itu, ingatan Siska kembali melayang jauh ke tahun-tahun yang telah lampau, ketika dia masih menggunakan seragam putih abu-abu.

“Suatu hari nanti, aku akan jadi seorang penulis terkenal…” kata Siska remaja kepada teman-temannya saat mereka duduk di taman, “Aku akan nulis banyak buku dan ratusan cerita yang bisa menginspirasi orang lain.” Sandra yang kala itu nampak lebih muda dan teman-temannya yang lain hanya mengangguk-anggukan kepala mereka sambil mengunyah jajanan yang mereka beli dari kantin. Pada jam istirahat Siska dan teman-temannya biasanya berkumpul di kantin meskipun mereka berasal dari kelas yang berbeda.

Siska memandangi teman-temannya satu per satu yang nampaknya tak menganggap serius tekadnya. “Beneran!” tegasnya lagi.

“Kamu yakin?” tanya Tata. Suaranya yang renyah sama sekali tidak menunjukkan nada meremehkan. Siska memandang gadis remaja bertubuh kurus dengan wajah lonjong itu dan menganggukkan kepala.

“Kalau aku pilih kerja kantoran aja. Lebih keren. Pakai baju rapi, kerja di kantor ber AC…” tukas Silvia cepat. “Tiap bulan dapet gaji gede. Kalau jadi penulis, terus bukunya nggak laku, dapet duitnya dari mana?”

Siska hanya mengangkat bahu mendengar celoteh gadis berwajah pucat itu. Silvia memang selalu berbicara apa adanya, ceplas ceplos. “Makanya, aku harus bisa nulis buku yang bagus supaya orang-orang suka. Kalau aku nulis cerita yang bagus, pasti buku ku laku.” Tekad Siska semakin bulat.

“Semoga suatu hari nanti impianmu terwujud,” kata Sandra lengkap dengan nada sinisnya sambil mengibaskan rambut panjangnya.

Siska tertawa menanggapi sahabat karibnya itu. “So pasti. Nanti aku traktir kalian semua kalau buku ku laku keras…” ujarnya sambil memeluk teman-temannya.

Kejadian itu seperti baru saja terjadi kemarin. Dalam hati Siska menertawakan dirinya sendiri. Seorang remaja yang belum mengenal kerasnya kehidupan tetapi berani bermimpi.

“Kakak…” panggilan anak perempuan itu menarik Siska dari lamunannya. Rupanya tanpa sadar buku Harry Potter itu telah berada dalam pelukan Siska.

“Oh,” kata Siska. Segera dia meletakkan buku itu di atas meja. “Kamu yakin mau jadi penulis? Jadi penulis itu nggak gampang lho. Ada saatnya tulisanmu ditolak.”

“Ya tinggal nulis lagi…” jawab anak perempuan itu sambil tersenyum. “JK Rowling juga. Sebelum Harry Potter sukses, dia sering mengalami banyak penolakan. Bahkan dia sempat hidup menggelandang. Aku nggak bisa bayangin gimana rasanya jadi JK Rowling saat itu. Tapi dia nggak nyerah, dan terus berusaha. Andai kala itu dia nyerah, buku ini nggak akan ada,” ujar anak itu panjang lebar sambil menunjuk buku Harry Potter itu. Kembali dia menaikkan kacamata yang agak merosot dengan jari telunjuknya. Siska hanya mengangguk-anggukan kepala menyetujui ucapan anak itu.

“Aku masuk kelas dulu ya Kak, sudah bel.”

“Oh. Ok. Semoga impianmu tercapai,” ujar Siska tulus.

“Terima kasih,” kata anak perempuan itu lalu mulai membereskan peralatannya. Siska terus memandangi anak itu saat dia berlalu dan bergabung dengan teman-teman sekelasnya. Apa yang dikatakan anak itu memang benar. JK Rowling pernah mengalami masa-masa yang sulit sebelum berhasil menelurkan buku Harry Potter. Tapi dia tidak menyerah. Banyak orang-orang sukses lain yang juga mengalami nasib serupa. Hal yang sama adalah mereka tidak menyerah, tetapi terus berjuang dan semakin giat berusaha.

Bukan waktunya untuk menyerah, perjuanganku belum selesai dan aku tak boleh menyerah sebelum aku berhasil. Siska menyemangati dirinya sendiri. Menjadi penulis sudah menjadi cita-citanya sejak dulu. Dia ingin bisa menjadi penulis yang menghasilkan tulisan-tulisan dan berbagai cerita yang berbobot dan menginspirasi orang lain. Saat ini, dia memang belum menjadi siapa-apa. Tak masalah orang lain meragukannya, Siska hanya perlu melakukan satu hal, membuktikan bahwa dia mampu dan akan berhasil. Memang untuk meraih hal itu tidaklah mudah. Namun, justru banyaknya kesulitan yang dialaminya akan membuktikan bahwa dia memang pantas meraih kesuksesan. Suatu hari aku akan menjadi seorang penulis, ujar Siska sekali lagi dalam hati. Ketika orang lain mengingatku sebagai Siska yang tak pernah menyerah meskipun mengalami berbagai kesulitan, saat itu aku tidak hanya berhasil meraih kesuksesan tetapi juga sanggup menginspirasi orang lain.

“Di sini kau rupanya,” tegur Sandra yang tiba-tiba sudah berdiri di belakang Siska. “Aku cari ke mana-mana,” omelnya.

“Maaf, maaf… kamu udah selesai?” tanya Siska.

“Udah, yuk pulang…” Sandra segera berbalik tanpa menunggu Siska.

“Suatu hari nanti, aku akan menjadi seorang penulis terkenal…” kata Siska saat mereka berjalan bersama.

“Semoga suatu hari nanti impianmu terwujud,” kata Sandra masih dengan nada sinisnya.

“Thanks ya San…” Siska tersenyum penuh arti. Dan terima kasih juga adik yang aku tak tahu namanya, katanya dalam hati.

IMG_20150129_163204